Makna Keempat: Berasal dari Ahl al-Suffah

Ada satu kemungkinan lagi mengenai asal-usul kata Sufi.

Sebagian orang meyakini bahwa kata itu berasal dari istilah Ahl al-Suffah.

Siapakah mereka?

Mereka adalah sekelompok sahabat Nabi Muhammad yang tinggal di serambi Masjid Nabawi di Madinah.

Mereka bukan orang-orang kaya.

Sebagian besar hidup sangat sederhana.

Bahkan ada yang tidak memiliki rumah tetap.

Namun mereka memiliki satu kekayaan yang jauh lebih berharga.

Mereka memilih mengabdikan hidupnya untuk belajar dari Nabi, beribadah, berdzikir, dan mendekat kepada Allah.

Hidup mereka sederhana.

Tetapi hati mereka dipenuhi kerinduan kepada Tuhan.


Hidup yang Berpusat pada Tuhan

Bagi kebanyakan orang, hidup berputar di sekitar pekerjaan, harta, keluarga, dan kedudukan.

Semua itu tentu penting.

Namun bagi Ahl al-Suffah, semua itu bukanlah pusat kehidupan.

Pusat kehidupan mereka hanyalah Tuhan.

Segala sesuatu yang mereka lakukan diarahkan untuk semakin mengenal-Nya.

Mereka tidak mengejar kemasyhuran.

Tidak pula mencari kekuasaan.

Mereka hanya ingin hidup sedekat mungkin dengan Sang Pencipta.


Bukan Kemiskinan yang Dicari

Jangan salah paham.

Para sufi tidak mengagungkan kemiskinan.

Kemiskinan bukan tujuan.

Kesederhanaan juga bukan tujuan.

Semua itu hanyalah akibat dari hati yang tidak lagi diperbudak oleh keinginan.

Seseorang bisa kaya dan tetap menjadi sufi.

Seseorang juga bisa miskin tetapi sama sekali bukan sufi.

Yang menentukan bukan jumlah harta.

Melainkan apakah harta itu menguasai hatimu, atau justru hatimu yang menguasai harta.


Serambi Sebagai Lambang

Kata suffah berarti serambi atau beranda.

Mengapa serambi menjadi simbol yang indah?

Karena serambi bukan ruang utama.

Tetapi juga bukan tempat di luar rumah.

Ia berada di antara keduanya.

Begitulah seorang sufi hidup.

Ia tetap berada di dunia.

Tetapi hatinya tidak terikat pada dunia.

Ia bekerja.

Ia makan.

Ia bergaul.

Ia mencintai keluarganya.

Namun di dalam batinnya selalu ada ruang yang menghadap kepada Tuhan.

Ia tinggal di "serambi" kehidupan.

Satu kaki berpijak di bumi.

Satu hati tertambat ke langit.


Menjadi Murid Seumur Hidup

Ahl al-Suffah mengajarkan satu hal yang sangat penting.

Bahwa perjalanan spiritual dimulai ketika seseorang bersedia menjadi murid.

Bukan murid selama beberapa bulan.

Melainkan murid sepanjang hidup.

Begitu seseorang merasa dirinya sudah tahu segalanya, saat itu juga pintu belajar mulai tertutup.

Namun orang yang rendah hati akan terus bertumbuh.

Ia selalu merasa masih ada yang bisa dipelajari.

Masih ada yang bisa dipahami.

Masih ada yang bisa diperdalam.

Dan justru sikap seperti itulah yang membuat seseorang semakin dekat kepada Tuhan.


Inti dari Semua Makna

Pada akhirnya, apakah kata Sufi berasal dari ṣūf (wol), ṣafā (kemurnian), ṣufiyah (sahabat pilihan Tuhan), atau Ahl al-Suffah, semuanya mengarah kepada satu kenyataan yang sama.

Seorang sufi adalah manusia yang telah melepaskan topeng-topengnya.

Ia hidup dengan hati yang bersih.

Ia mencintai Tuhan, bukan karena takut kepada-Nya, tetapi karena rindu kepada-Nya.

Ia menerima hidup sebagaimana adanya.

Ia tidak lagi diperbudak oleh ego.

Dan di mana pun ia berada, kehadirannya memancarkan kedamaian.

Sufisme bukanlah sekadar ajaran untuk dipelajari.

Ia adalah cara hidup.

Ia adalah cara mencintai.

Ia adalah cara memandang dunia dengan mata yang baru.

Dan yang terpenting, ia adalah perjalanan pulang menuju diri sejati, yang pada akhirnya bermuara kepada Tuhan.



(Bersambung ...)