Peta Perjalanan Seorang Sufi
Aqabah al-'Awarid (Tahapan Rintangan/Musibah)
Setelah berhasil melewati tiga lembah pertama, seorang pejalan memasuki Lembah Keempat.
Inilah lembah yang paling menentukan.
Di sinilah perjalanan berubah menjadi jauh lebih berat.
Mengapa?
Karena untuk pertama kalinya seseorang tidak lagi hanya berhadapan dengan pikirannya yang sadar.
Kini ia mulai memasuki wilayah yang jauh lebih dalam:
alam bawah sadar.
Selama ini ia hidup di wilayah siang.
Segalanya masih cukup terang.
Masih bisa dipahami.
Masih bisa dikendalikan.
Namun sekarang ia memasuki malam.
Wilayah yang gelap.
Sunyi.
Asing.
Semakin tinggi seseorang mendaki gunung spiritual, semakin besar harga yang harus dibayar.
Setiap langkah membawa tanggung jawab yang lebih besar.
Setiap kenaikan membawa risiko jatuh yang lebih dalam.
Karena itu, kesadaran yang lebih halus juga dibutuhkan.
Malam Gelap Jiwa
Para mistikus Kristen menyebut pengalaman ini sebagai The Dark Night of the Soul—malam gelap jiwa.
Ini bukan sekadar kesedihan.
Bukan pula depresi biasa.
Ini adalah pengalaman ketika seluruh pegangan hidup terasa runtuh.
Di balik kesadaran yang selama ini kita kenal ternyata ada dunia lain.
Dunia yang liar.
Aneh.
Misterius.
Sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Menurut Al-Ghazali, sampai lembah ketiga seseorang masih mungkin berjalan sendirian.
Setidaknya secara teori.
Namun mulai lembah keempat, seorang guru pembimbing (Master) menjadi kebutuhan mutlak.
Bukan karena sang guru akan menggantikan perjalanan kita.
Melainkan karena ia telah lebih dahulu melewati malam yang gelap itu.
Ia tahu bahwa kegelapan tersebut bukanlah akhir perjalanan.
Ia tahu jalan keluarnya.
Ia dapat memegang tangan muridnya ketika murid itu kehilangan arah.
Ujian Terbesar: Keraguan Eksistensial
Setiap lembah memiliki jebakan.
Di lembah keempat, jebakan itu bernama keraguan.
Tetapi keraguan yang dimaksud bukan sekadar skeptisisme intelektual.
Kita sering berkata,
"Saya ragu Tuhan itu ada."
Padahal sering kali itu bukan keraguan.
Itu hanya ketidaktahuan.
Atau skeptisisme.
Keraguan sejati jauh lebih dalam.
Misalnya seseorang berkata,
"Aku tidak percaya hantu."
Itu belum disebut keraguan.
Karena ia belum pernah mengalaminya.
Tetapi bayangkan suatu malam ia benar-benar melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Seluruh tubuhnya gemetar.
Pikirannya tidak mampu memutuskan apakah itu nyata atau hanya ilusi.
Di situlah keraguan yang sesungguhnya muncul.
Keraguan eksistensial tidak hanya mengguncang pikiran.
Ia mengguncang seluruh keberadaan kita.
Tubuh.
Pikiran.
Perasaan.
Jiwa.
Semuanya.
Ketika Tuhan Terasa Menghilang
Inilah yang terjadi di Lembah Keempat.
Seseorang memulai perjalanan spiritual dengan harapan menemukan cahaya.
Menemukan kebahagiaan.
Menemukan kedamaian.
Menemukan pencerahan.
Namun yang datang justru kebalikannya.
Gelap.
Sepi.
Hampa.
Semua pengalaman indah yang dulu pernah dirasakan seolah lenyap.
Keyakinan-keyakinan yang dulu begitu kokoh mulai runtuh.
Yang dulu terasa pasti kini menjadi samar.
Tanah tempat berpijak seperti menghilang.
Seolah-olah kita sedang tenggelam.
Saat itulah muncul pertanyaan-pertanyaan yang sangat menakutkan.
"Jangan-jangan semua ini salah."
"Jangan-jangan Tuhan memang tidak ada."
"Jangan-jangan aku hanya sedang menipu diriku sendiri."
"Mengapa aku meninggalkan semua kenikmatan dunia kalau akhirnya hanya menemukan kegelapan?"
"Bukankah lebih mudah hidup seperti orang lain?"
"Aku telah kehilangan banyak hal... tetapi apa yang sebenarnya kudapat?"
Menurut para sufi, hampir semua pencari yang sungguh-sungguh akan melewati fase ini.
Jangan Melawan Kegelapan
Ketika kegelapan datang, naluri pertama manusia adalah melawan.
Kita ingin segera keluar.
Kita ingin segera kembali merasa nyaman.
Kita membangun benteng pertahanan.
Menolak pengalaman itu.
Tetapi justru di situlah kesalahan terbesar.
Karena jika kita melawan, kita akan terpental kembali ke lembah sebelumnya.
Padahal kegelapan ini bukan musuh.
Ia adalah gerbang.
Cahaya memang indah.
Tetapi kegelapan memiliki kedalaman yang jauh lebih besar.
Cahaya memperlihatkan permukaan.
Kegelapan mengajak kita memasuki kedalaman.
Karena itu, orang yang tidak mampu menerima kegelapan juga tidak akan mampu menerima kematian.
Kegelapan Itu Bukan Kegelapan
Para guru spiritual mengatakan bahwa pengalaman itu sebenarnya bukanlah gelap.
Kita hanya mengira demikian.
Mengapa?
Karena cahaya yang kita hadapi terlalu besar.
Bayangkan menatap matahari selama beberapa detik.
Sesudahnya, ketika masuk ke dalam rumah, semuanya tampak gelap.
Padahal rumah itu tidak berubah.
Yang berubah adalah mata kita.
Begitu pula ketika seseorang mulai mendekati Tuhan.
Cahaya Ilahi terlalu dahsyat.
Kesadaran kita belum siap menerimanya.
Maka pengalaman itu diterjemahkan sebagai kegelapan.
Padahal bukan Tuhan yang gelap.
Melainkan mata batin kita yang belum mampu menanggung terang-Nya.
Di sinilah peran seorang guru menjadi sangat penting.
Ia berkata kepada muridnya,
"Jangan takut."
"Ini memang tampak gelap."
"Tetapi sebenarnya engkau sedang berada lebih dekat kepada Tuhan daripada sebelumnya."
Tidur, Kematian, dan Samadhi
Ada tiga pengalaman besar dalam hidup manusia.
Yang pertama adalah tidur.
Tidur adalah kematian kecil.
Setiap malam kita menghilang ke dalam kegelapan.
Yang kedua adalah kematian fisik.
Tubuh lenyap.
Tetapi pikiran masih ada.
Karena itu kehidupan berlanjut.
Yang ketiga adalah samadhi.
Inilah kematian yang paling sempurna.
Tubuh lenyap.
Pikiran pun lenyap.
Yang tersisa hanyalah kesadaran murni.
Tidak ada lagi "aku."
Hanya Ada.
Lembah Keempat memberi kita pengalaman pertama menuju kematian yang terakhir ini.
Karena itu banyak orang ketakutan.
Jika ia menolak pengalaman tersebut, ia akan kembali ke lembah ketiga.
Dan sering kali ia tidak berani mencoba lagi.
Mengapa Banyak Orang Takut Masuk Lebih Dalam?
Ada orang-orang yang secara batin tampak selalu takut mendekat.
Takut mencintai terlalu dalam.
Takut berserah.
Takut berdoa dengan sepenuh hati.
Takut mengalami orgasme.
Takut membuka hati dalam persahabatan.
Takut menjadi murid.
Takut memasuki hubungan yang benar-benar intim.
Mungkin mereka sendiri tidak tahu penyebabnya.
Namun bisa jadi, jauh di dalam jiwanya, mereka pernah mencicipi lembah keempat lalu mundur karena ketakutan.
Sejak saat itu mereka menghindari segala sesuatu yang dapat membawa mereka kembali ke kedalaman.
Jembatan Menuju Dunia yang Baru
Lembah Keempat berada tepat di tengah perjalanan.
Ada tiga lembah di belakang.
Masih ada tiga lembah lagi di depan.
Karena itulah lembah ini menjadi jembatan.
Jembatan antara yang dikenal dan yang tidak dikenal.
Antara yang terbatas dan yang tak terbatas.
Antara kehidupan biasa dan kehidupan yang benar-benar spiritual.
Kunci Melewati Lembah Ini: Percaya dan Berserah
Jika sisi negatif lembah ini adalah keraguan dan pertahanan diri, maka sisi positifnya adalah kepercayaan dan kepasrahan.
Inilah sebabnya para guru spiritual selalu mengajarkan kepercayaan sejak awal perjalanan.
Banyak orang bertanya,
"Mengapa aku harus belajar berserah sekarang?"
"Bukankah aku masih bisa bermeditasi, belajar, dan berkembang tanpa menyerahkan diri?"
Jawabannya sederhana.
Karena persiapan harus dilakukan sebelum badai datang.
Orang tidak menggali sumur ketika rumahnya sudah terbakar.
Sumur harus digali jauh sebelumnya.
Begitu pula kepasrahan.
Ia tidak bisa dipelajari secara mendadak ketika malam gelap jiwa telah tiba.
Ia harus menjadi kebiasaan.
Menjadi iklim batin.
Menjadi cara hidup.
Karena ketika Lembah Keempat benar-benar datang, hanya hati yang telah belajar percaya dan berserah yang mampu melaluinya.
Dan justru melalui jembatan inilah seorang pencari mulai meninggalkan dirinya yang lama untuk memasuki kehidupan yang sama sekali baru.
(Bersambung ... )
