Peta Perjalanan Seorang Sufi

Aqabah al-Ba'its (Tahapan Pendorong)


Setelah berhasil melewati Lembah Keempat, perjalanan memasuki tahap yang jauh lebih dalam lagi.

Inilah Lembah Kelima, yang oleh para sufi disebut Lembah Gemuruh.

Mengapa disebut demikian?

Karena di sinilah seluruh keberadaan kita mulai berguncang.

Jika pada lembah keempat kita memasuki malam gelap jiwa, maka pada lembah kelima kita memasuki sesuatu yang lebih dahsyat lagi:

kematian batin.

Pada lembah keempat seseorang memasuki alam bawah sadar pribadi (personal unconscious).

Sedangkan pada lembah kelima ia mulai memasuki alam bawah sadar kolektif (collective unconscious).

Artinya, batas-batas kepribadian mulai menghilang.

Yang selama ini kita sebut sebagai "aku" perlahan-lahan mulai larut ke dalam lautan kehidupan yang jauh lebih besar.


Ketika "Aku" Mulai Menghilang

Di lembah keempat, kita memang kehilangan cahaya.

Kita memasuki kegelapan.

Tetapi setidaknya masih ada perasaan,

"Aku masih ada."

Kini semuanya berubah.

Bukan hanya cahaya yang menghilang.

Perasaan sebagai pribadi yang terpisah pun mulai memudar.

Rasa,

"Aku adalah pusat dari segala sesuatu,"

semakin kabur.

Semakin samar.

Seolah-olah diri kita sedang meleleh.

Sedang larut.

Sedang kehilangan bentuk.

Dan pengalaman ini sangat menakutkan.

Karena selama hidup kita selalu merasa bahwa "aku" adalah sesuatu yang harus dipertahankan.


Ketakutan Terbesar Seorang Pencari

Memasuki lembah ini berarti memasuki kematian ego.

Di sinilah muncul ketakutan terbesar yang mungkin pernah dialami manusia.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi,

"Apakah Tuhan ada?"

Tetapi,

"Apakah aku masih akan ada?"

Seluruh diri kita menolak untuk lenyap.

Ada dorongan kuat untuk kembali.

Kembali ke lembah keempat.

Kembali kepada identitas lama.

Kembali menjadi seseorang.

Karena meskipun lembah keempat terasa gelap, setidaknya di sana kita masih merasa memiliki diri.

Sekarang bahkan diri itu sendiri mulai menghilang.

Sebentar lagi mungkin tidak ada lagi jejak "aku" yang tersisa.


Jebakan Terbesar: Mempertahankan Ego

Sisi negatif dari lembah ini adalah berpegang erat pada diri sendiri.

Terus mempertahankan identitas.

Terus mempertahankan ego.

Terus ingin menjadi seseorang.

Karena itulah para guru besar seperti Buddha maupun Jalaluddin Rumi terus mengingatkan tentang pentingnya melepaskan diri.

Buddha menyebutnya anatta, yaitu tanpa diri.

Para sufi menyebutnya fana.

Lenyapnya ego.

Bukan lenyapnya kesadaran.

Bukan pula lenyapnya kehidupan.

Yang lenyap hanyalah ilusi tentang "aku" yang terpisah.

Dan justru untuk itulah seorang pencari harus mempersiapkan dirinya.

Bukan sekadar siap.

Tetapi menyambutnya dengan rela.

Dengan sukacita.

Karena yang akan mati hanyalah sumber penderitaan.


Ego Adalah Neraka

Mengapa fana membawa kebahagiaan?

Karena seluruh penderitaan manusia sesungguhnya berakar pada ego.

Selama ada pikiran,

"Aku."

"Milikku."

"Diriku."

"Aku harus diakui."

"Aku harus dihormati."

"Aku harus lebih baik daripada yang lain."

Selama itu pula akan ada kecemasan.

Ketakutan.

Kekecewaan.

Kemarahan.

Persaingan.

Rasa terluka.

Filsuf Prancis Jean-Paul Sartre pernah berkata,

"Neraka adalah orang lain."

Namun menurut para sufi, yang lebih tepat adalah:

Neraka adalah ego kita sendiri.

Mengapa orang lain terasa menyakitkan?

Karena mereka terus-menerus menyentuh luka ego kita.

Kita merasa tersinggung.

Merasa diremehkan.

Merasa tidak dihargai.

Merasa diabaikan.

Semua itu terjadi karena ada keyakinan tersembunyi bahwa diri kita adalah seseorang yang istimewa dan harus diperlakukan secara istimewa.

Ketika dunia tidak memenuhi harapan itu, kita menderita.

Padahal yang terluka bukanlah diri sejati.

Yang terluka hanyalah ego.


Menjadi Orang Biasa

Tradisi Zen memiliki ungkapan yang sangat indah.

"Jadilah orang biasa."

Bukan berarti menjadi orang yang tidak berkualitas.

Melainkan berhenti merasa diri sebagai pusat alam semesta.

Berhenti merasa harus lebih penting daripada yang lain.

Berhenti mengejar keistimewaan.

Ketika seseorang benar-benar menjadi "bukan siapa-siapa", lembah ini dapat dilalui dengan mudah.

Karena tidak ada lagi yang harus dipertahankan.


Jalan Keluar: Bersantai dalam Kekosongan

Jika sisi negatif lembah ini adalah mempertahankan ego, maka sisi positifnya adalah bersantai di dalam ketiadaan.

Menerima kehampaan.

Menerima bahwa diri yang selama ini kita bela hanyalah sebuah bayangan.

Di sinilah seseorang belajar mati sebelum mati.

Ia rela melepaskan identitasnya.

Ia tidak lagi berjuang mempertahankan citra dirinya.

Ia tidak lagi takut kehilangan.

Karena yang hilang hanyalah sesuatu yang memang tidak pernah benar-benar nyata.

Para sufi menyebut keadaan ini fana.

Bukan kehancuran.

Melainkan pembebasan.

Bukan kehilangan kehidupan.

Melainkan kehilangan penjara yang selama ini membatasi kehidupan.

Orang yang memasuki lembah ini dengan sukarela, dengan gembira, dan tanpa perlawanan, akan menemukan bahwa setelah ego lenyap, yang tersisa bukanlah kehampaan yang menakutkan.

Yang tersisa justru keluasan yang tak berbatas.

Kedamaian yang tidak bergantung pada apa pun.

Dan kehidupan yang untuk pertama kalinya benar-benar bebas.

Karena pada akhirnya, yang mati bukanlah diri sejati.

Yang mati hanyalah ilusi tentang diri.


(Bersambung... )