Peta Perjalanan Seorang Sufi
Aqabah al-Qawadih (Tahapan Perusak Amal)
Sesudah melewati Lembah Kelima, perjalanan berlanjut ke Lembah Keenam.
Lembah Jurang Tanpa Dasar.
Jika di lembah kelima ego mulai larut, maka di lembah keenam ego benar-benar telah lenyap.
Di lembah kelima kita sedang mati.
Di lembah keenam kematian itu telah terjadi.
Yang dahulu kita sebut sebagai "aku" kini tinggal kenangan.
Tidak ada lagi pusat yang bisa dipertahankan.
Tidak ada lagi identitas lama.
Yang ada hanyalah ruang yang sangat luas.
Dan justru karena itulah lembah ini terasa sebagai pengalaman paling menyakitkan.
Bukan karena ada penderitaan fisik.
Tetapi karena tidak ada lagi tempat bagi ego untuk berpijak.
Ketika "Aku" Tidak Lagi Ada
Di lembah ini muncul sebuah paradoks yang sangat sulit dijelaskan.
Di satu sisi kita merasa sudah tidak ada.
Namun di sisi lain masih ada sesuatu yang menyaksikan.
Seolah-olah kita melihat kematian diri kita sendiri.
Tubuh batin yang lama telah mati.
Identitas lama telah runtuh.
Tetapi masih ada kesadaran yang mengetahui semuanya.
Di sinilah seluruh gagasan lama tentang diri menjadi tidak lagi relevan.
Yang lahir bukan lagi ego.
Melainkan kesadaran yang sama sekali baru.
Salib, Samadhi, dan Satori
Pengalaman ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda dalam berbagai tradisi.
Dalam Hindu disebut samadhi.
Dalam Zen disebut satori.
Dalam Islam disebut Makrifat atau Mukasyafah.
Bahasanya berbeda.
Tetapi pengalaman batinnya sama.
Seseorang menjadi kosong.
Benar-benar kosong.
Bukan kosong karena kehilangan.
Melainkan kosong karena tidak ada lagi "aku" yang memenuhi ruang batin.
Ia menjadi seperti langit.
Luas.
Hening.
Tak berbatas.
Ujian Terakhir: Keluhan
Namun bahkan di titik sedalam ini, masih ada satu ujian terakhir.
Yaitu keluhan.
Kita mengambil contoh dari perjalanan Nabi Muhammad ketika pulang dari Thaif.
Beliau datang membawa kasih sayang.
Mengajak manusia mengenal Tuhan.
Namun yang diterima bukanlah pelukan.
Melainkan penolakan.
Cemoohan.
Batu-batu yang dilemparkan hingga tubuh beliau berdarah.
Di hadapan kenyataan itu, manusia biasa mungkin akan berkata,
"Aku sudah melakukan semuanya. Mengapa masih harus begini?"
Sebab bukankah beliau datang membawa kebenaran?
Bukankah beliau tidak mencari kekuasaan?
Bukankah beliau hanya menginginkan manusia menemukan jalan pulang kepada Tuhannya?
Namun langit tetap sunyi.
Penderitaan tidak segera berhenti.
Tidak ada kemenangan yang datang seketika.
Tidak ada jalan yang tiba-tiba terbuka.
Di situlah seorang manusia berdiri di hadapan ujian yang paling sunyi.
Bukan ujian berupa luka.
Melainkan ujian terhadap harapan.
Sebab sering kali yang paling menyakitkan bukanlah penderitaan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kenyataan tidak berjalan sebagaimana yang kita bayangkan.
Keluhan lahir ketika kehendak pribadi masih diam-diam berharap dunia mengikuti rancangannya.
Itulah ujian terakhir.
Dari Keluhan Menuju Kepasrahan
Namun Nabi Muhammad tidak berhenti pada kepedihan.
Di tengah luka dan kesendirian, beliau memanjatkan doa yang sangat dalam.
Bukan doa yang menuntut kemenangan.
Bukan pula doa yang mempersalahkan keadaan.
Beliau mengadu tentang kelemahan dirinya, lalu menyerahkan seluruh urusannya kepada Tuhan.
Seolah berkata,
"Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka semua ini tidaklah mengapa."
Di sinilah seluruh perjalanan mencapai titik baliknya.
Keluhan berubah menjadi keheningan.
Keinginan berubah menjadi kerelaan.
Harapan pribadi melebur ke dalam Kehendak Ilahi.
Di hadapan Tuhan, yang tersisa bukan lagi tuntutan.
Melainkan penyerahan.
Dua Wajah Manusia
Di Thaif, Nabi Muhammad memperlihatkan dua sisi kemanusiaan sekaligus.
Pertama, beliau adalah manusia.
Tubuhnya terluka.
Hatinya pedih.
Beliau merasakan letih, sedih, dan kesunyian.
Semua itu adalah pengalaman yang sangat manusiawi.
Namun sesudah itu, tampak sisi yang lain.
Beliau memilih tetap mendoakan mereka yang menyakitinya.
Beliau tidak meminta kebinasaan.
Tidak pula membalas dengan kebencian.
Beliau menyerahkan semuanya kepada kebijaksanaan Tuhan.
Dalam sekejap, pusat kesadarannya bergeser.
Dari kehendak diri menuju kehendak Ilahi.
Bukan karena keadaan berubah.
Melainkan karena batinnya berubah.
Perubahan itu tampak sederhana.
Hanya perubahan cara memandang.
Namun dari sanalah lahir kekuatan yang mampu mengubah sejarah.
Pada akhirnya kita memahami satu hal: jarak antara manusia dan Tuhan ternyata sangat tipis.
Sering kali hanya sejauh perubahan dari mengeluh menjadi percaya.
Keluhan atau Syukur
Di lembah keenam inilah pilihan terakhir muncul.
Seseorang bisa berkata,
"Aku sudah berjuang sedemikian jauh."
"Aku sudah berkorban."
"Aku sudah melakukan semua yang diperintahkan."
"Mengapa hasilnya seperti ini?"
Keluhan seperti itu akan membuat seseorang tetap terikat pada dirinya sendiri.
Namun jika ia mampu berkata,
"Jika memang inilah kehendak-Mu..."
"Aku menerimanya."
"Aku bersyukur."
"Aku percaya."
Maka seluruh perjalanan selesai.
Tidak ada lagi yang harus dipertahankan.
Tidak ada lagi yang harus dimiliki.
Tidak ada lagi kehendak pribadi.
Yang tersisa hanyalah kehendak Tuhan.
Doa yang Sejati
Di titik ini seseorang tidak lagi sekadar mengucapkan doa.
Ia menjadi doa itu sendiri.
Ia tidak lagi meminta agar Tuhan mengikuti kehendaknya.
Sebaliknya, ia membiarkan seluruh hidupnya mengikuti Kehendak Tuhan.
Ia tidak lagi mempunyai agenda pribadi.
Tidak lagi mempunyai ambisi spiritual.
Tidak lagi ingin menjadi suci.
Tidak lagi ingin menjadi tercerahkan.
Semua keinginan telah gugur.
Yang tersisa hanyalah kepasrahan yang utuh.
Dan di saat itulah manusia benar-benar berhenti menjadi pusat kehidupannya sendiri.
Kehendak pribadinya lenyap.
Yang hidup hanyalah Kehendak Ilahi.
Di sinilah seorang manusia benar-benar "mati" sebagai ego, dan "lahir" sebagai kesadaran yang menyatu dengan Tuhan.
(Bersambung ... )
