Peta Perjalanan Seorang Sufi
Aqabah al-'Awa'iq (Tahapan Hambatan)
Setelah seseorang melewati Lembah Pengetahuan dan Lembah Pertobatan, ia memasuki Lembah Batu Sandungan.
Mengapa disebut demikian?
Karena setelah hati nurani yang sejati lahir, mata batin mulai terbuka.
Kini ia mampu melihat berbagai penghalang yang selama ini tidak pernah disadarinya.
Ia melihat bahwa jalan menuju Tuhan ternyata tidak lurus dan mulus.
Di sepanjang jalan berdiri tembok-tembok.
Ada pintu keluar, tetapi jumlahnya sedikit dan letaknya tidak mudah ditemukan.
Di sinilah seorang pejalan mulai mengenali apa saja yang selama ini menghambat pertumbuhannya.
Menurut Al-Ghazali, ada empat batu sandungan utama.
1. Godaan Dunia
Penghalang pertama adalah dunia dan segala isinya.
Harta.
Rumah.
Jabatan.
Kekuasaan.
Popularitas.
Nama besar.
Semuanya memiliki daya tarik yang luar biasa.
Dari situlah lahir nafsu untuk memiliki.
Mengapa hampir semua tradisi spiritual mengingatkan agar manusia tidak terlalu terikat pada dunia?
Bukan karena dunia itu jahat.
Bukan pula karena harta itu dosa.
Kaum sufi tidak pernah mengatakan bahwa benda-benda dunia itu buruk.
Sebaliknya, mereka mengakui bahwa semua itu pada dasarnya baik.
Masalahnya bukan pada bendanya.
Masalahnya ada pada hati yang melekat.
Energi manusia terbatas.
Jika seluruh energi habis dipakai mengejar dunia, tidak akan ada tenaga yang tersisa untuk mencari Tuhan.
Orang yang seluruh hidupnya dipenuhi keinginan memiliki rumah yang lebih besar, rekening yang lebih tebal, jabatan yang lebih tinggi, dan nama yang lebih terkenal, sebenarnya sedang menginvestasikan seluruh kerinduannya kepada dunia.
Lalu dengan energi apa ia akan merindukan Tuhan?
Para sufi mengatakan bahwa pencari Tuhan membutuhkan seluruh energinya.
Semua keinginan kecil harus menyatu menjadi satu kerinduan besar.
Seperti anak-anak sungai yang akhirnya bertemu dan menjadi Sungai Saddang.
Begitu pula seorang pencari.
Ia tidak lagi memiliki seribu keinginan.
Seluruh keinginannya melebur menjadi satu:
Kerinduan kepada Tuhan.
2. Kelekatan kepada Manusia
Batu sandungan kedua adalah kelekatan kepada orang lain.
Sekali lagi, para sufi tidak mengajarkan agar kita menjauhi manusia.
Mereka justru mengajarkan untuk mencintai manusia.
Tetapi jangan sampai cinta berubah menjadi keterikatan.
Karena keterikatan selalu melahirkan ketakutan.
Takut kehilangan.
Takut ditinggalkan.
Takut berubah.
Padahal hidup selalu berubah.
Hari ini kita bersama pasangan.
Besok salah satu mungkin dipanggil Tuhan.
Hari ini anak-anak tinggal bersama kita.
Besok mereka tumbuh dewasa dan membangun kehidupannya sendiri.
Hari ini kita bersama sahabat.
Besok jalan hidup memisahkan.
Kita semua hanyalah para musafir.
Kebetulan bertemu di satu persimpangan kehidupan.
Kebersamaan ini indah.
Patut disyukuri.
Tetapi tidak akan berlangsung selamanya.
Karena itu, cintailah dengan sepenuh hati.
Temanilah dengan kasih.
Rawatlah dengan belas kasih.
Namun jangan menjadikan siapa pun sebagai milikmu.
Cinta tidak harus berubah menjadi kepemilikan.
3. Setan: Pikiran Lama yang Terus Menggoda
Batu sandungan ketiga disebut Al-Ghazali sebagai Setan.
Namun yang dimaksud bukanlah makhluk bertanduk di luar diri kita.
Yang dimaksud adalah pikiran lama.
Seluruh pola pikir yang telah kita bangun selama bertahun-tahun.
Walaupun kesadaran sudah tumbuh, pikiran lama tidak langsung menghilang.
Ia masih ada.
Ia menunggu.
Mengintai.
Mencari kesempatan untuk mengambil alih kembali.
Selama bertahun-tahun pikiranlah yang menjadi tuan.
Kitalah hambanya.
Sekarang ketika kesadaran mulai mengambil alih, pikiran tentu tidak rela kehilangan kekuasaannya.
Maka ia terus menggoda.
Contohnya seperti kisah ketika Nabi Isa dicobai oleh iblis di padang gurun.
Menurut para sufi, iblis itu bukan sosok di luar.
Melainkan suara dari dalam pikiran.
Pikiran berkata,
"Sekarang kau sudah memiliki kekuatan rohani yang luar biasa."
"Mengapa tidak kau gunakan untuk menguasai dunia?"
"Mengapa masih repot mencari Tuhan?"
"Bukankah sekarang kau bisa memperoleh kekuasaan, uang, dan kehormatan dengan mudah?"
Semua itu adalah suara pikiran.
Ketika Nabi Isa berkata,
"Enyahlah dariku."
Sesungguhnya ia sedang berkata kepada pikirannya sendiri,
"Aku tidak lagi tertarik pada permainanmu."
"Aku sedang menempuh perjalanan yang berbeda."
4. Ego Spiritual
Batu sandungan terakhir adalah yang paling berbahaya.
Yaitu ego spiritual.
Begitu seseorang mulai sadar.
Mulai tenang.
Mulai mengalami pengalaman-pengalaman batin.
Mulai dihormati orang.
Tiba-tiba muncul suara baru.
"Aku bukan orang biasa lagi."
"Aku sudah menjadi orang suci."
"Aku lebih tinggi daripada yang lain."
Yang membuat jebakan ini begitu berbahaya adalah karena sebagian dari suara itu memang benar.
Orang tersebut memang telah berubah.
Kesadarannya memang meningkat.
Ia memang menjadi lebih bijaksana.
Justru karena ada sedikit kebenaran itulah ego memperoleh bahan bakar.
Lalu ia berkata,
"Lihat, aku istimewa."
Begitu seseorang mempercayai suara itu, ia berhenti bertumbuh.
Ia akan selamanya tinggal di lembah ketiga.
Padahal masih ada lembah-lembah lain yang jauh lebih indah.
Bahkan pengalaman-pengalaman spiritual yang luar biasa—yang dalam tradisi Timur disebut siddhi atau kesaktian batin—dapat menjadi jebakan terbesar.
Seseorang bisa jatuh cinta pada pengalaman spiritualnya sendiri, lalu berhenti mencari Tuhan.
Ia lebih mencintai karunia daripada Sang Pemberi Karunia.
Jangan Melawan Batu Sandungan
Lalu apa yang harus dilakukan?
Banyak orang mengira mereka harus memerangi semua godaan itu.
Para sufi justru berkata sebaliknya.
Jangan melawan.
Mengapa?
Karena melawan sering kali hanya berubah menjadi penindasan.
Kita menekan nafsu.
Menekan ego.
Menekan pikiran.
Menekan keinginan.
Tetapi semua yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya bersembunyi.
Cepat atau lambat ia akan muncul kembali.
Orang yang penuh represi tidak akan pernah memasuki lembah berikutnya.
Karena itu, jangan memusuhi dirimu sendiri.
Yang Dibutuhkan Bukan Perlawanan, Melainkan Kesadaran
Cara melewati lembah ini bukan dengan perang.
Melainkan dengan pengamatan.
Perhatikan ego.
Lihat bagaimana ia bekerja.
Perhatikan keinginan.
Lihat bagaimana ia muncul.
Perhatikan pikiran.
Lihat bagaimana ia mempermainkanmu.
Perhatikan keterikatanmu kepada manusia.
Perhatikan bagaimana rasa memiliki itu tumbuh.
Lihat semuanya dengan tenang.
Dengan kepala yang dingin.
Tanpa kebencian.
Tanpa pembenaran.
Begitu kita mulai membenci ego, kita sebenarnya masih terikat padanya.
Begitu kita memanjakannya, kita juga terikat.
Musuh maupun teman sama-sama menciptakan ikatan.
Karena itu para sufi menawarkan jalan ketiga.
Bukan memusuhi.
Bukan memanjakan.
Tetapi menyaksikan.
Jadilah saksi.
Amati semuanya seperti seorang ilmuwan mengamati alam.
Netral.
Jernih.
Tanpa emosi yang berlebihan.
Tanpa memihak.
Tanpa menolak.
Semakin dalam pengamatanmu, semakin jelas mekanisme ego, nafsu, pikiran, dan keterikatan bekerja.
Dan ketika sesuatu dipahami dengan sempurna, ia perlahan kehilangan kekuatannya.
Itulah cara seorang pejalan melampaui Lembah Batu Sandungan.
Bukan dengan peperangan.
Melainkan dengan kesadaran yang bening.
Dan dari kesadaran itulah jalan menuju lembah berikutnya mulai terbuka.
(Bersambung... )
