Peta Perjalanan Seorang Sufi
Aqabah al-Ilm (Tahapan Ilmu)
Lembah pertama dalam perjalanan spiritual menurut Al- Ghazali adalah Lembah Ilmu Pengetahuan.
Mengapa pengetahuan menjadi langkah pertama?
Karena memang di situlah perjalanan manusia dimulai.
Tidak ada makhluk lain yang mengumpulkan pengetahuan seperti manusia.
Hanya manusia yang membaca.
Yang menulis.
Yang berbicara.
Yang menciptakan bahasa.
Yang menyusun kitab-kitab.
Yang merumuskan teori-teori.
Karena itulah, pengetahuan menjadi gerbang awal perjalanan menuju Tuhan.
Namun justru di sinilah tersembunyi jebakan pertama.
Ketika Pengetahuan Berubah Menjadi Penjara
Ada sisi gelap dari pengetahuan.
Seseorang bisa menjadi sangat berilmu, tetapi justru tersesat karena ilmunya sendiri.
Ia menjadi kecanduan pengetahuan.
Ia lupa mengapa sejak awal ia mencari ilmu.
Lalu yang ia lakukan hanyalah mengumpulkan semakin banyak informasi.
Semakin banyak membaca.
Semakin banyak mengikuti guru.
Semakin banyak menghadiri kajian.
Semakin banyak membeli buku.
Semakin banyak menghafal.
Dan semua itu bisa berlangsung seumur hidup.
Bahkan, menurut bahasa para sufi, seseorang bisa menghabiskan berkali-kali kehidupan hanya untuk mengumpulkan pengetahuan.
Pada akhirnya ia menjadi profesor.
Menjadi ulama.
Menjadi filsuf.
Menjadi pakar.
Menjadi ensiklopedia berjalan.
Tetapi ia belum tentu menjadi orang yang benar-benar mengenal (the knower).
Karena jalan menuju orang yang mengenal sama sekali berbeda dengan jalan menuju orang yang banyak tahu.
Mengetahui dan Yang Mengetahui
Setiap kali pengetahuan muncul, sebenarnya ada dua hal yang selalu hadir.
Yang pertama adalah isi pengetahuan.
Apa yang diketahui.
Fakta.
Teori.
Dalil.
Konsep.
Informasi.
Yang kedua adalah kesadaran yang mengetahui.
Yaitu diri kita sendiri.
Kesadaran yang menyaksikan.
Kesadaran yang menjadi cermin bagi semua pengalaman.
Masalah muncul ketika kita lebih tertarik pada isi pengetahuan daripada kepada kesadaran yang mengetahui.
Kita sibuk memenuhi cermin dengan gambar-gambar.
Tetapi lupa membersihkan cerminnya.
Di situlah seseorang terjebak di lembah pertama.
Inilah yang dimaksud sisi negatif dari pengetahuan.
Semakin Banyak Tahu, Belum Tentu Semakin Dekat pada Kebenaran
Begitu seseorang merasa dirinya sangat berilmu, sebenarnya ia mulai kehilangan arah.
Ia gagal melewati lembah pertama.
Ironisnya, semakin banyak pengetahuan yang ia kumpulkan, semakin besar pula kebingungannya.
Mengapa?
Karena hanya dengan akal, hampir tidak ada ukuran yang benar-benar pasti untuk menentukan mana yang paling benar.
Setiap orang memiliki argumen.
Setiap guru mempunyai penjelasan.
Setiap mazhab memiliki logikanya sendiri.
Hari ini kau mendengar seorang guru.
Penjelasannya terdengar sangat masuk akal.
Besok kau mendengar guru lain.
Pendapatnya berbeda.
Anehnya, penjelasannya juga terdengar benar.
Lalu kau membaca sebuah buku.
Semuanya terasa logis.
Kemudian kau membaca buku lain yang justru membantah buku pertama.
Dan anehnya, buku kedua juga terdengar meyakinkan.
Lalu mana yang benar?
Kalau hanya mengandalkan tumpukan informasi, hampir tidak ada cara untuk memutuskannya.
Akhirnya kita terus mengumpulkan pendapat.
Mengoleksi teori.
Menghafal pandangan.
Sedikit demi sedikit kepala kita dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang saling bertentangan.
Ada jutaan sudut pandang.
Jutaan filsafat.
Jutaan sistem pemikiran.
Dan akhirnya, di dalam diri kita hidup kerumunan suara yang saling berdebat.
Bukannya semakin jernih.
Justru semakin bising.
Bukannya semakin damai.
Justru semakin bingung.
Menurut para sufi, inilah salah satu penghalang terbesar dalam perjalanan spiritual.
Yang Harus Dilatih Bukan Isi Pengetahuan, Melainkan Kesadaran
Karena itu, ketika berada di Lembah Pengetahuan, ada satu hal yang harus selalu dijaga.
Jangan terlalu sibuk mengumpulkan isi pengetahuan.
Latihlah kemampuan untuk mengetahui.
Latih kesadaran.
Latih kehadiran.
Latih kemampuan menyaksikan.
Para sufi menyebutnya sebagai witnessing—menjadi saksi atas segala sesuatu.
Semakin sadar seseorang terhadap dirinya sendiri, semakin ia menjadi orang yang mengenal.
Bukan karena ia mengetahui banyak hal.
Tetapi karena kesadarannya semakin jernih.
Jalan Pengetahuan Bukan Jalan Mengumpulkan Kitab
Jalan pengetahuan yang dimaksud para sufi bukanlah jalan mengumpulkan kitab.
Bukan pula menghafal pendapat.
Bukan mengoleksi keyakinan.
Bukan memperbanyak teori.
Yang dimaksud adalah mengembangkan kemampuan dasar manusia untuk mengetahui.
Di dalam diri setiap orang ada energi kesadaran yang luar biasa.
Itulah yang harus dipelihara.
Fokuslah pada wadahnya.
Jangan hanya sibuk mengisi isinya.
Rawat kesadarannya.
Jangan hanya memenuhi pikirannya.
Jangan Terpaku pada Yang Diketahui, Kenalilah Yang Mengetahui
Pengetahuan selalu memiliki dua arah.
Satu arah menunjuk kepada apa yang diketahui.
Arah yang lain menunjuk kepada siapa yang mengetahui.
Selama perhatian kita hanya tertuju pada objek-objek pengetahuan, kita akan terus berputar-putar di lembah pertama.
Namun ketika perhatian mulai berbalik kepada diri yang mengetahui, kepada kesadaran itu sendiri, perjalanan spiritual benar-benar dimulai.
Saat itulah seseorang berhasil melampaui Lembah Pengetahuan.
Dan ketika lembah pertama berhasil dilewati, lahirlah kegembiraan yang sangat dalam.
Karena untuk pertama kalinya seseorang menemukan sesuatu yang paling mendasar dalam dirinya.
Bukan informasi.
Bukan teori.
Bukan hafalan.
Melainkan kemampuan untuk sadar.
Kemampuan untuk mengetahui.
Kemampuan untuk hadir sepenuhnya.
Itulah harta yang akan tetap bersamanya sampai akhir kehidupan.
Jadi, jika perhatianmu mulai beralih dari apa yang kau ketahui kepada siapa yang mengetahui, berarti engkau telah menggunakan sisi positif dari Lembah Pengetahuan.
Dan saat itulah perjalanan menuju lembah berikutnya benar-benar dimulai.
(Bersambung ....)
