: Dirja Wiharja
Anda tidak boleh langsung setuju begitu saja.
Tulisan ini hanyalah tawaran saja. Adalah usulan. Adalah ajakan diskusi untuk merenung-pikirkan kembali hakikat dan fungsi masjid dalam Islam.
Kalau Anda termasuk orang yang senang dengan cara berpikir mapan dan cara beragama yang paten, silakan skip tulisan ini. Tulisan ini saya makruhkan untuk Anda konsumsi.
Tapi kalau anda termasuk orang yang suka perubahan dan perbaikan. sila tancap gas!
Sebelumnya, mohon maaf.
Dengan sangat terpaksa saya berpendapat bahwa, kita baru akan paham apa itu ibadah dan akhirnya baru bisa beribadah di mana saja hanya jika bangunan masjid dirobohkan-dihancurkan. Umat Islam baru benar-benar mengerti apa itu masjid apabila seluruh bangunan masjid di muka bumi ini diratakan dengan tanah.
Ya.
Anda tidak salah membaca.
Bisa jadi ketika semua masjid dihancurkan, justru pada saat itulah masjid hakiki ditemukan.
Anda marah?
Tahan dulu. Ini baru usulan. Dan ini hanya ada dalam imajinasi saya.
Aneh?
Memang.
Tetapi bukankah selama ini kita juga sudah-sedang hidup dalam keanehan?
Bangunan masjid kita semakin banyak.
Kubah semakin besar.
Menara semakin tinggi.
Pengeras suara semakin canggih.
Namun mengapa manusianya semakin gelisah?
Mengapa korupsi tetap merajalela?
Mengapa kejahatan justru kian bertambah?
Mengapa kebohongan semakin normal dan biasa?
Mengapa ketidakadilan tumbuh subur di mana-mana?
Bukankah itu konyol?
Inilah yang saya maksud. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk membangun masjid, sampai-sampai lupa membangun kesadaran dan pemahaman tentang esensi dari masjid itu sendiri.
Coba kita renungkan.
Apa sebenarnya arti masjid?
Masjid berasal dari kata sujud. Tempat bersujud.
Lalu apa itu sujud?
Selama ini kita terlalu sibuk bersujud-sujud di masjid, tetapi lupa memahami dan mendalami apa arti dan esensi sujud itu sendiri. Yang kita lakukan saat salat adalah sujud ritual. Ia adalah bentuk ikhtiar dan bahasa tubuh; ia adalah simbol. Yang menjadi tujuan sesungguhnya adalah sujud eksistensial, yaitu keadaan ketika seluruh diri—akal, hati, ego, ambisi, dan kehendak—bersujud menundukkan diri sepenuhnya kepada kebenaran.
Dahi kita yang menyentuh lantai hanyalah lambang bahwa kesombongan telah dijatuhkan ke tanah. Sujud bukan sekadar gerakan beberapa detik dalam salat, melainkan cara hidup. Ia adalah simbol ketundukan, kepasrahan, dan penyerahan diri secara total kepada kehendak Ilahi yang termanifestasi dalam kejujuran, kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, dan pelayanan kepada kehidupan.
Kalau demikian, sujud tidak dimulai ketika takbir diucapkan dan tidak berakhir ketika salam ditolehkan. Sujud itu bukan hanya saat Anda sujud. Salat pun tidak hanya saat Anda melakukan salat. Salat adalah latihan kesadaran, agar setelah keluar dari masjid kita tetap hidup dalam keadaan bersujud. Di mana pun kita berada, apa pun profesi kita, dan apa pun pekerjaan yang sedang kita lakukan, kita membawa kesadaran yang sama.
Ketika kesadaran sujud itu hadir di setiap tarikan napas dan setiap tindakan, batas antara ibadah dan kehidupan pun lenyap. Seluruh pekerjaan menjadi dzikir. Seluruh aktivitas menjadi salat. Seluruh kehidupan menjadi ibadah.
Lalu mengapa kita membatasi sujud hanya pada lantai?
Mengapa kita hanya menganggap beribadah itu saat salat di masjid saja?
Bukankah setiap jengkal tanah adalah hamparan sajadah-Nya?
Kalau begitu, mengapa kita merasa lebih dekat kepada Tuhan di masjid daripada di tempat kerja?
Mengapa kita merasa lebih religius saat memegang tasbih daripada saat memegang tanggung jawab?
Mengapa kita merasa sedang beribadah saat membaca kitab suci, tetapi tidak saat mengajar anak-anak dengan sabar, mengobati orang sakit dengan tulus, atau membersihkan sampah yang mengotori sungai?
Aneh sekali.
Padahal Tuhan tidak pernah menyuruh kita menyembah di bangunan tertentu.
Yang Dia minta adalah penghambaan.
Dan penghambaan bisa terjadi di mana saja.
Seorang petani yang menanam dengan jujur sedang bersujud.
Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati sedang bersujud.
Seorang sopir yang mengantar penumpangnya dengan aman sedang bersujud.
Seorang ibu yang terbangun tengah malam demi anaknya sedang bersujud.
Seorang ayah yang bekerja keras tanpa mengeluh sedang bersujud.
Seorang tukang sapu yang membersihkan jalan dengan ikhlas sedang bersujud.
Sujud tidak selalu berbentuk dahi yang menyentuh lantai.
Kadang sujud berbentuk tanggung jawab yang ditunaikan.
Kadang sujud berbentuk amanah yang dijaga.
Kadang sujud berbentuk kompetensi yang dijalankan dengan penuh cinta.
Itulah sujud eksistensial. Sujud yang esensial.
Sujud yang akan melahirkan banyak sujud-sujud sosial.
Sayangnya, banyak orang ingin menjadi ahli sujud ritual, tetapi tidak mau mengupgradenya menjadi sujud sosial.
Pagi-siang-malam kita kerjanya bersujud.
Tapi kelakuan kita tetap buruk dan absurd.
Lalu heran mengapa doa-doa kita tidak terkabul.
Mungkin Tuhan berkata dan kita tidak mendengar:
"Wahai hamba-Ku, jangan hanya sibuk beribadah di masjid.
Beribadahlah di mana saja. Beribadahlah juga di tempat lain.
Tenang saja! Aku ini maha. Aku Ada di mana-mana.
Aku titipkan diri-Ku pada pekerjaanmu.
Aku titipkan diri-Ku pada tanggung jawabmu.
Aku titipkan diri-Ku pada tetanggamu.
Aku titipkan diri-Ku pada suamimu.
Aku titipkan diri-Ku pada istrimu.
Aku titipkan diri-Ku pada anak-anakmu.
Aku titipkan diri-Ku pada murid-muridmu.
Aku titipkan diri-Ku pada pelangganmu.
Aku titipkan diri-Ku pada orang sakit, orang susah, orang miskin.
Aku titipkan diri-Ku pada orang-orang yang membutuhkan pertolonganmu.
Aku titipkan diri-Ku pada rakyat yang dizhalimi oleh kebijakan pemerintah.
Aku titipkan diriku di setiap makhluk di seluruh tempat di alam semesta ini."
Tidakkah itu masuk akal?
Bukankah itu lucu?
Atau mungkin tragis?
Selama ini kita mengira masjid adalah bangunan.
Padahal masjid adalah keadaan jiwa.
Masjid adalah kesadaran.
Masjid adalah ruang batin tempat ego bersujud kepada kebenaran.
Dan masjid semacam itu tidak membutuhkan kubah.
Tidak membutuhkan menara.
Tidak membutuhkan karpet impor.
Tidak membutuhkan pendingin ruangan.
Tidak membutuhkan pengeras suara.
Masjid semacam itu hanya membutuhkan hati yang hidup.
Ketika seseorang bekerja secara profesional, jujur, dan penuh antusiasme, saat itulah masjid sedang dibangun.
Ketika seseorang menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat, saat itulah masjid sedang dibangun.
Ketika seseorang mengurangi penderitaan orang lain, saat itulah masjid sedang dibangun.
Ketika seseorang menolak korupsi meski memiliki kesempatan, saat itulah masjid sedang dibangun.
Dan masjid yang demikian tidak bisa dihancurkan oleh buldoser.
Tidak bisa dibakar.
Tidak bisa diruntuhkan.
Tidak bisa dirampas.
Karena berdiri di dalam ruh manusia.
Barangkali inilah sebabnya para wali tidak terlalu sibuk membesarkan bangunan.
Mereka lebih sibuk membesarkan jiwa.
Karena mereka tahu:
Tuhan tidak membutuhkan rumah.
Yang membutuhkan rumah adalah manusia.
Tuhan tidak membutuhkan masjid.
Yang membutuhkan masjid adalah hati manusia yang tersesat.
Dan ketika hati dan pikiran manusia bersujud, maka alam semesta berubah menjadi masjid.
Seluruh pekerjaan menjadi ibadah.
Seluruh aktivitas menjadi dzikir.
Seluruh kehidupan menjadi sujud.
Lalu pada saat itulah, sekali lagi kita akan mengerti.
Tuhan tidak ada di masjid.
_____________
(Bersambung)
