: Dirja Wiharja


Barangkali saya akan dianggap gila setelah mengatakan ini.

Tidak apa-apa.

Bukankah hampir semua kebenaran dimulai dengan kegilaan?

Kalau memang demikian, izinkan saya menambah sedikit kegilaan lagi.

Barangkali kita baru akan bisa beribadah di mana saja apabila bangunan masjid diroboh-hancurkan. Barangkali umat Islam baru benar-benar mengerti apa itu masjid apabila seluruh bangunan masjid di muka bumi ini diratakan dengan tanah.

Ya.

Anda tidak salah membaca.

Bisa jadi ketika semua masjid dihancurkan, justru pada saat itulah masjid hakiki ditemukan.

Aneh?

Memang.

Tetapi bukankah selama ini kita juga hidup dalam keanehan?

Bangunan masjid semakin banyak.

Kubah semakin besar.

Menara semakin tinggi.

Pengeras suara semakin canggih.

Namun mengapa manusia semakin gelisah?

Mengapa korupsi tetap merajalela?

Mengapa kebohongan semakin biasa?

Mengapa ketidakadilan tumbuh subur di mana-mana?

Bukankah itu aneh?

Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk membangun masjid, tetapi lupa membangun kesadaran untuk menjadi masjid.

Coba renungkan.

Apa sebenarnya arti masjid?

Masjid berasal dari kata sujud.

Tempat bersujud.

Lalu mengapa kita membatasi sujud hanya pada lantai berkeramik?

Mengapa kita mengurung sujud hanya di dalam bangunan?

Bukankah bumi ini seluruhnya milik Tuhan?

Bukankah langit adalah atap-Nya?

Bukankah setiap jengkal tanah adalah hamparan sajadah-Nya?

Kalau begitu, mengapa kita merasa lebih dekat kepada Tuhan di masjid daripada di tempat kerja?

Mengapa kita merasa lebih religius saat memegang tasbih daripada saat memegang tanggung jawab?

Mengapa kita merasa sedang beribadah saat membaca kitab suci, tetapi tidak saat mengajar anak-anak dengan sabar, mengobati orang sakit dengan tulus, atau membersihkan sampah yang mengotori sungai?

Aneh sekali.

Padahal Tuhan tidak pernah menyuruh kita menyembah bangunan.

Yang Dia minta adalah penghambaan.

Dan penghambaan bisa terjadi di mana saja.

Seorang petani yang menanam dengan jujur sedang bersujud.

Seorang guru yang mengajar dengan sepenuh hati sedang bersujud.

Seorang sopir yang mengantar penumpangnya dengan aman sedang bersujud.

Seorang ibu yang terbangun tengah malam demi anaknya sedang bersujud.

Seorang ayah yang bekerja keras tanpa mengeluh sedang bersujud.

Seorang tukang sapu yang membersihkan jalan dengan ikhlas sedang bersujud.

Sujud tidak selalu berbentuk dahi yang menyentuh lantai.

Kadang sujud berbentuk tanggung jawab yang ditunaikan.

Kadang sujud berbentuk amanah yang dijaga.

Kadang sujud berbentuk kompetensi yang dijalankan dengan penuh cinta.

Sayangnya, banyak orang ingin menjadi ahli sujud ritual, tetapi malas menjadi ahli sujud sosial.

Rajin menekuk badan.

Tetapi enggan melucut kesombongan.

Rajin menghampar sajadah.

Tetapi tidak pernah melempar keserakahan.

Rajin membasahi bibir dengan dzikir.

Tetapi membiarkan hati kering oleh kasih sayang.

Lalu mereka heran mengapa doanya tidak menembus langit.

Barangkali karena Tuhan sedang menunggu mereka turun ke bumi.

Mungkin Tuhan berkata:

"Wahai hamba-Ku, jangan terlalu sibuk mencari-Ku di langit.

Aku titipkan diri-Ku pada pekerjaanmu.

Aku titipkan diri-Ku pada tanggung jawabmu.

Aku titipkan diri-Ku pada tetanggamu.

Aku titipkan diri-Ku pada anak-anakmu.

Aku titipkan diri-Ku pada orang-orang yang membutuhkan pertolonganmu."

Tidakkah itu masuk akal?

Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Tuhan yang tidak terlihat, tetapi membenci manusia yang terlihat?

Bagaimana mungkin seseorang menangis ketika berdoa, tetapi tidak tergerak ketika melihat penderitaan sesamanya?

Bukankah itu lucu?

Atau mungkin tragis?

Selama ini kita mengira masjid adalah bangunan.

Padahal masjid adalah keadaan jiwa.

Masjid adalah kesadaran.

Masjid adalah ruang batin tempat ego bersujud kepada kebenaran.

Dan masjid semacam itu tidak membutuhkan kubah.

Tidak membutuhkan menara.

Tidak membutuhkan karpet impor.

Tidak membutuhkan pendingin ruangan.

Tidak membutuhkan pengeras suara.

Masjid semacam itu hanya membutuhkan hati yang hidup.

Ketika seseorang bekerja dengan profesional, jujur, dan penuh antusiasme, saat itulah masjid sedang dibangun.

Ketika seseorang menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat, saat itulah masjid sedang dibangun.

Ketika seseorang mengurangi penderitaan orang lain, saat itulah masjid sedang dibangun.

Ketika seseorang menolak korupsi meski memiliki kesempatan, saat itulah masjid sedang dibangun.

Dan masjid yang demikian tidak bisa dihancurkan oleh buldoser.

Tidak bisa dibakar.

Tidak bisa diruntuhkan.

Tidak bisa dirampas.

Karena berdiri di dalam ruh manusia.

Barangkali inilah sebabnya para wali tidak terlalu sibuk membesarkan bangunan.

Mereka lebih sibuk membesarkan jiwa.

Karena mereka tahu:

Tuhan tidak membutuhkan rumah.

Yang membutuhkan rumah adalah manusia.

Tuhan tidak membutuhkan masjid.

Yang membutuhkan masjid adalah hati manusia yang tersesat.

Dan ketika hati itu sudah menemukan jalan pulangnya, seluruh alam semesta berubah menjadi masjid.

Seluruh pekerjaan menjadi ibadah.

Seluruh aktivitas menjadi dzikir.

Seluruh kehidupan menjadi sujud.

Lalu pada saat itulah kita mengerti.

Bahwa Tuhan memang tidak ada di masjid.

_____________


Suatu malam, setelah lama merenung tentang masjid, ibadah, dan manusia, saya duduk sendirian di beranda rumah. Langit gelap. Angin berembus pelan. Tidak ada suara selain detak jam dan suara hati yang sedang gaduh.

Entah mengapa, malam itu muncul sebuah niat yang terasa liar sekaligus mengerikan.

Saya membayangkan seluruh bangunan masjid di muka bumi ini dihancurkan.

Tidak ada kubah.

Tidak ada menara.

Tidak ada karpet.

Tidak ada tembok.

Tidak ada mihrab.

Tidak ada satu pun bangunan yang disebut masjid.

Tiba-tiba saya takut pada pikiran saya sendiri.

Lalu saya menunduk dan berbisik kepada Tuhan:

"Ya Allah, ampunilah aku.

Mengapa akhir-akhir ini aku sering berpikir bahwa seluruh bangunan masjid sebaiknya dihancurkan?"

Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba Tuhan mengetuk-ngetuk pintu lathifahku:

"Wahai hamba-Ku, mengapa engkau ingin menghancurkan masjid?"

Aku menjawab:

"Karena aku ingin manusia menemukan-Mu."

Tuhan bertanya:

"Apakah selama ini mereka tidak menemukan-Ku?"

Aku menjawab:

"Sebagian memiliki bangunan-Mu, tetapi kehilangan-Mu.

Sebagian mencium karpet rumah-Mu, tetapi tidak mencium aroma kasih sayang-Mu.

Sebagian mengagumi kubah rumah-Mu, tetapi tidak pernah membangun keluasan jiwa.

Sebagian sibuk menjaga tembok rumah-Mu, tetapi membiarkan hati mereka runtuh."

Lalu Tuhan terdiam.

Atau mungkin akulah yang terlalu diam.

Kemudian Dia berkata:

"Wahai hamba-Ku, engkau keliru apabila ingin menghancurkan masjid."

Aku terkejut.

Bukankah selama ini aku mengira Tuhan akan membenarkan pikiranku?

Namun Dia melanjutkan:

"Yang perlu dihancurkan bukan masjid.

Yang perlu dihancurkan adalah berhala di dalam kepala manusia.

Karena banyak orang menyembah masjid, bukan menyembah-Ku.

Banyak orang memuliakan bangunan, tetapi melupakan tujuan.

Banyak orang menjaga simbol, tetapi meninggalkan makna."

Aku terdiam.

Tuhan melanjutkan:

"Jika seluruh bangunan masjid dihancurkan hari ini, belum tentu manusia menemukan-Ku.

Bisa jadi berhala yang ada di dalam hati dan pikirannya justru akan menjadi semakin kokoh dan megah.

Berhala bernama jabatan.

Berhala bernama uang.

Berhala bernama kelompok.

Berhala bernama kesalehan.

Berhala bernama diri sendiri."

Aku semakin terdiam.

Lalu aku bertanya:

"Kalau begitu, apa yang harus dihancurkan, Ya Rabb?"

Tuhan menjawab:

"Hancurkan kesombonganmu.

Hancurkan kemalasanmu.

Hancurkan kerakusanmu.

Hancurkan kebencianmu.

Hancurkan rasa ingin dipuji.

Hancurkan semua yang membuat-Ku tidak memiliki tempat di hatimu."

Kemudian Tuhan menunjukkan sesuatu kepadaku.

Aku melihat seorang petani sedang menanam padi dengan penuh kesabaran.

Di atas kepalanya berdiri sebuah masjid yang bercahaya.

Aku melihat seorang ibu sedang menyuapi anaknya.

Di atas kepalanya berdiri sebuah masjid yang bercahaya.

Aku melihat seorang guru sedang mengajar.

Di atas kepalanya berdiri sebuah masjid yang bercahaya.

Aku melihat seorang tukang sampah membersihkan selokan.

Di atas kepalanya berdiri sebuah masjid yang bercahaya.

Aku melihat seorang dokter mengobati pasien miskin.

Di atas kepalanya berdiri sebuah masjid yang bercahaya.

Aku heran.

Aku bertanya:

"Ya Allah, mengapa ada begitu banyak masjid yang tidak terlihat manusia?"

Tuhan menjawab:

"Itulah masjid yang sesungguhnya.

Masjid yang dibangun oleh keikhlasan.

Masjid yang dibangun oleh amanah.

Masjid yang dibangun oleh cinta.

Masjid yang dibangun oleh kemanfaatan.

Masjid yang dibangun oleh pengabdian."

Lalu Tuhan berkata lagi:

"Wahai hamba-Ku, Aku tidak membutuhkan bangunan untuk tinggal.

Aku tidak membutuhkan kubah untuk bernaung.

Aku tidak membutuhkan menara dan toa untuk memanggilmu.

Yang Aku butuhkan hanyalah hati yang hidup."

Aku menunduk.

Malu.

Sangat malu.

Dan tepat sebelum percakapan itu berakhir, Tuhan berbisik:

"Tidak perlu repot-repot menghancurkan masjid-masjid yang terbuat dari batu.

Bangunlah masjid-masjid yang terbuat dari jiwa.

Karena bangunan batu dan besi akan runtuh dimakan zaman.

Tetapi masjid yang berdiri di dalam hati akan hidup selama-lamanya."

Lalu malam kembali sunyi.

Dan sejak saat itu aku mulai sedikit mengerti.

Barangkali tugas kita bukan memperbanyak rumah Tuhan.

Melainkan memperbanyak kehadiran Tuhan di dalam rumah-rumah jiwa manusia.

(Bersambung)