Saat saya mengatakan Tuhan tidak ada di masjid, bukan berarti demikian adanya.
Kalimat itu hanyalah sebuah mosi panggilan.
Begitu pula saat saya mengusulkan agar sebaiknya bangunan masjid dihancurkan, juga tidak bermakna merusak atau menghancurkan benaran. Itu adalah lukisan. Kiasan. Undangan untuk akal-intelektual Anda.
Sebuah ajakan untuk berpikir.
Sebuah upaya dekonstruksi cara pandang kita, khususnya soal masjid.
Masjid tidak perlu dirobohkan.
Tidak usah dihancurkan.
Tidak mesti!
Yang perlu dirobohkan pertama, adalah tembok-tembok jumud di dalam pikiran kita.
Yang perlu dihancurkan terutama, adalah pemahaman sempit kita yang mengatakan bahwa Tuhan hanya bisa dijumpai dalam bangunan yang kita sebut masjid.
Yang perlu dibongkar adalah anggapan bahwa ibadah hanya terjadi ketika kita berada di atas sajadah di masjid.
Yang perlu diperbaiki sepenuh-penuhnya adalah kesimpulan kita yang meyakini bahwa fungsi dan tujuan masjid hanya untuk salat atau dzikir berjamaah.
Jadi, tentu saja, bangunan masjid tetaplah penting.
Karena, ia adalah simbol.
Ia adalah tempat berkumpul.
Ia adalah ruang untuk belajar, bersujud, dan membangun persaudaraan.
Tetapi simbol tidak boleh menggantikan hakikat.
Bangunan tidak boleh lebih besar daripada kesadaran yang ingin dibangunkan.
Sebab ketika manusia berhasil membangun jiwanya lebih megah daripada bangunan masjidnya, pada saat itulah masjid telah benar-benar hidup, dan Tuhan tidak lagi dicari di satu tempat, melainkan disaksikan dalam seluruh kehidupan.
Dan bukankah pula, pada masa Nabi, masjid bukan hanya ruang ibadah salat dan dzikir semata?
Di sanalah juga orang belajar.
Di sanalah orang berdiskusi.
Di sanalah persoalan masyarakat dirumuskan.
Di sanalah orang miskin dibantu.
Di sanalah strategi membangun kehidupan disusun.
Masjid adalah jantung peradaban.
Bukan sekadar ruang ritual.
Maka sudah waktunya kita melakukan revolusi masjid.
Tapi jangan terjebak.
Bukan revolusi batu.
Bukan revolusi kubah.
Bukan revolusi arsitektur.
Melainkan revolusi fungsi.
Bayangkan sebuah masjid yang aktif sejak pagi hingga malam.
Bukan karena pengeras suaranya keras.
Tetapi karena program-kegiatannya mengalir.
Di pagi hari ada kelas membaca untuk anak-anak.
Siangnya ada pelatihan keterampilan.
Sorenya ada diskusi ekonomi keluarga.
Malamnya ada kajian filsafat dan tasawuf.
Masjid menjadi universitas rakyat.
Tempat siapa pun datang untuk tumbuh.
Sebab agama tidak pernah bertentangan dengan ilmu.
Justru agama memerintahkan manusia untuk membaca kehidupan.
Sayangnya, mimbar masjid sering kali dimonopoli.
Yang berbicara hampir selalu orang yang sama.
Topiknya pun sering berputar di tempat yang sama.
Surga.
Neraka.
Halal.
Haram.
Bid'ah.
Perbedaan mazhab.
Perdebatan yang tidak pernah selesai.
Padahal kehidupan jauh lebih luas daripada itu.
Mengapa mimbar masjid tidak sesekali diberikan kepada seorang dokter?
Bukankah menjaga kesehatan juga bagian dari amanah Tuhan?
Bukankah tubuh ini juga titipan yang harus dipelihara?
Mengapa jamaah tidak diajari bagaimana mencegah penyakit sebelum datang?
Bagaimana pola makan yang sehat.
Bagaimana tidur yang benar.
Bagaimana olahraga menjaga kualitas hidup.
Bagaimana puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menjadi jalan pemulihan tubuh.
Bukankah itu juga dakwah?
Mengapa kita lebih sering membahas azab kubur daripada penyebab diabetes?
Mengapa kita hafal tanda-tanda kiamat, tetapi tidak memahami tanda-tanda stroke?
Bukankah keduanya sama-sama penting untuk diketahui?
Lalu mengapa mimbar tidak sesekali diberikan kepada psikolog atau psikiater?
Lihatlah sekeliling kita.
Banyak orang salat.
Tetapi diam-diam depresi.
Banyak yang rajin mengaji.
Tetapi tidak pernah sembuh dari luka masa kecilnya.
Banyak rumah tangga tampak religius.
Tetapi dipenuhi kekerasan emosional.
Anak-anak tumbuh dengan rasa takut.
Remaja kehilangan arah.
Orang tua memendam kesepian.
Bukankah kesehatan jiwa juga bagian dari agama?
Mengapa kita tidak belajar bagaimana memaafkan trauma?
Bagaimana mendidik anak agar bertumbuh dengan mental yang sehat?
Bagaimana membangun keluarga yang penuh kasih?
Bukankah semua itu juga ibadah?
Lalu mengapa ahli pertanian tidak diberi ruang?
Petani memberi makan seluruh negeri.
Mengapa ilmu mereka tidak dianggap sebagai bagian dari dakwah?
Bayangkan jika di masjid orang belajar membuat pupuk organik.
Belajar menjaga kesuburan tanah.
Belajar menanam tanpa meracuni bumi dengan pestisida berlebihan.
Belajar menjaga air.
Belajar merawat alam.
Bukankah Tuhan berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi?
Kalau begitu, mengapa ilmu menjaga bumi tidak menjadi isi ceramah?
Mengapa pengusaha yang jujur tidak diberi kesempatan berbicara?
Mengapa pedagang yang berhasil membangun usaha dengan integritas tidak diminta berbagi pengalaman?
Bukankah berdagang juga sunnah?
Bukankah kemiskinan tidak cukup diatasi dengan sedekah?
Kemiskinan harus diatasi dengan ilmu.
Dengan keterampilan.
Dengan keberanian.
Dengan kesempatan.
Masjid seharusnya menjadi tempat lahirnya para wirausahawan yang jujur.
Tempat tumbuhnya koperasi.
Tempat masyarakat belajar mengelola keuangan.
Belajar investasi.
Belajar membangun usaha.
Belajar keluar dari ketergantungan.
Sebab tangan yang memberi selalu lebih mulia daripada tangan yang meminta.
Dan semua itu membutuhkan ilmu.
Beri ruang kepada guru.
Kepada ilmuwan.
Kepada seniman.
Kepada arsitek.
Kepada ahli lingkungan.
Kepada programmer.
Kepada siapa saja yang memiliki ilmu yang bermanfaat bagi manusia.
Sebab hikmah tidak memiliki pakaian seragam.
Kebenaran tidak selalu datang memakai sorban.
Kadang ia datang memakai jas laboratorium.
Kadang memakai helm proyek.
Kadang memakai sepatu bot petani.
Kadang memakai celemek seorang koki.
Kadang memakai seragam perawat.
Kadang memakai pakaian sederhana seorang tukang tambal ban.
Yang membuat ilmu menjadi suci bukan pakaian pemiliknya.
Melainkan manfaat yang lahir darinya.
Masjid yang sehat akan melahirkan masyarakat yang sehat.
Masjid yang cerdas akan melahirkan masyarakat yang cerdas.
Masjid yang terbuka akan melahirkan masyarakat yang terbuka.
Sebaliknya, masjid yang hanya mengulang-ulang ketakutan akan melahirkan manusia yang takut berpikir.
Masjid yang hanya sibuk menghakimi akan melahirkan masyarakat yang saling mencurigai.
Padahal Tuhan menciptakan akal bukan untuk diparkir.
Melainkan untuk digunakan. Difungsikan secara total-maksimal.
Agama tidak datang untuk menihilkan pikiran.
Agama datang untuk mencerahkan pikiran.
Agama tidak datang agar manusia berhenti bertanya.
Agama datang agar manusia bertanya lebih dalam.
Bukan hanya, "Apa hukumnya?"
Tetapi juga,
"Mengapa?"
"Bagaimana?"
"Apa manfaatnya bagi kehidupan?"
Masjid harus menjadi pusat lahirnya cara berpikir ilahi.
Cara berpikir yang jernih.
Yang logis.
Yang penuh kasih.
Yang mampu melihat hubungan antara langit dan bumi.
Antara doa dan kerja.
Antara dzikir dan ilmu.
Antara ibadah dan peradaban.
Sebab Tuhan tidak menginginkan kehadiran agama yang terpisah dari kehidupan.
Dia sedang membangun kehidupan yang diterangi inspirasi-Nya melalui agama.
Jika suatu hari masjid hanya ramai ketika waktu salat, tetapi sepi dari ilmu, sepi dari diskusi, sepi dari gagasan, sepi dari solusi, maka mungkin yang berdiri hanyalah bangunannya.
Bangunannya nyata, ada, tapi
Masjidnya sendiri belum benar-benar ada.
Sebab masjid bukan sekadar tempat orang bersujud.
Masjid adalah tempat manusia belajar bagaimana bangkit setelah sujud.
Menjadi individu yang lebih baik. Menjadi lebih bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, dan siapa saja.
So, Apa yang anda pikirkan!
(Bersambung lagi...)
