Kamis, 07 September 2017

Sesobek perjalanan.


Hidup bagi saya adalah sajadah panjang: perjalanan tubuh, hati dan pikiran yang tak pernah berhenti dan tak pernah selesai. Terus menelusur, mendaki, menapak, memasuki lorong-lorong cahaya dan kegelapan. Tak ada habisnya. Perjalanan yang begitu maha panjang.

Dulu, saya sangat taat beribadah. Karena saya bercita-cita ingin menjadi seorang Muttaqin. Manusia taqwa: tipologi manusia sempurna dalam impian orang-orang saleh. Dan begitu saya beringsut gila baca dan bergeser mendalami Islam secara intelektual, impian saya adalah menjadi seorang Insan Kamil.

Sewaktu mempelajari Filsafat Yunani,
Saya tiba-tiba ingin menjadi seorang filsuf agung. Manusia bijak: sebagai tipologi manusia sempurna pada kota idaman dalam impian Plato.

Dan begitu juga saat membaca Nietzsche
Yang saya inginkan, justru menjadi seorang Ubermensch. Manusia yang terus berjalan tanpa langit suci mengikuti arung dan ekstasi hidupnya tanpa nama dan tanpa perlindungan siapapun.

Dan selanjutnya, sewaktu saya mempelajari sufisme: Mistisme Islam. Saya ingin menjadi seorang sufi. Akhirnya saya berkenalan dengan Bayazid Bustomi, hallaj, assibly, siti Jenar, Hamzah Fansuri, mabuk bersama Ibnu aroby, menari berdansa dengan Rumi hingga mengalami berkali-kali orgasme spiritual melintasi berbagai dimensi alam lain. Sampai kesurupan khawf, roja', fana, baqo' hingga hulul, dan meniada.

Begitulah seterusnya dari masa ke masa

Tapi hasil akhirnya kini
Justru diluar perkiraan saya
Saya tidak menjadi seorang Muttaqin,
Tidak menjadi seorang Insan Kamil,
Tidak menjadi seorang Filsuf,
Tidak menjadi seorang Ubermensch,
Tidak menjadi seorang sufi,
Bahkan tidak menjadi siapapun.
Tapi menjadi seorang jaahil murokkab otentik

(Bapak sinting jaahil murokkab, sutradara film panas: Miyabi naik haji)

Sajak buat anak-anakku


Anak-anakku,
Dengarlah, ambo’mu mau curhat
Mungkin saat kau temukan lembaran bathinku ini
Jasadku sudah tak ada,
tubuhku mungkin sudah membusuk dimakan cacing-cacing tanah
sirna ilang kertaning bumi kata orang jawa
atau boleh jadi,
mayatku menghilang di kuburannya,
entahlah

kalian tidak usah kaget begitu
dan tidak perlu kalian cari tahu dimana aku
ambo’mu tidak pernah kemana-kemana
karena aku ada dimana-mana!
Hahahha....
Bercanda anak-anakku, jangan terlalu serius, santailah!

Anak-anakku,
Saat tiba akalmu sudah mulai bisa bekerja,
Sudah mampu melakukan aktivitas pikir dan dzikir
Sudah bisa menangkap gelombang elektromagnetik ilmu di sekitar kepalamu
Sudah bisa memetik pendaran-pendaran hidayah di atas ubun-ubunmu
Saat itu, kalian akan memiliki berton-ton pertanyaan di hatimu
Kala itu, kalian akan mulai mengerti sedikit perihal kehidupan ini
Maka aku pesankan pada kalian,
Tak usah kalian cari materi fisikku
Jangangmako selidiki bentuk rupa biologisku
Tidak perlu kau cari unsur apiku tanahku airku dan udaraku
Sebab, aku sudah mengembalikan kepada pemiliknya
Dan, kalian pun semua akan mengalami peristiwa aneh itu
Peristiwa innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’un
Waspadalah, anakku

Anak-anakku,
Ingatlah baik-baik! Bapakmu ini Cuma orang biasa
Lahirnya biasa, dan dibesarkan dari keluarga yang biasa saja
Maka cara hidupnya dijalani dengan biasa dan sederhana saja
Jadi, makan-minumnya juga biasa, tidak canggih dan bergaya
Makannya bukan hot-dog, bukan spagety, bukan hamburger, atau ayam kentuki fred ciken
Minumnya juga bukan cocacola, bukan pantat, sprite, mijon, apalagi wiski atau topi miring
Bapakmu makanannya makanan desa ji, masakan kampung;
Pule’ lokami kasi, biasato kaledde’ atau sokko
Nanre sipenne, bale rakko ibolo boka wangi, ipasibawa kaju tettu’,
Massadidu mato bali
Sehat-menyehatkan dan energinya bisa dipakai sholat dan bertani

Kau tahu kenapa begitu nikmat, begitu enak dan lezat?
Rahasianya;
Karena yang memasak adalah ibumu; sayangku cintaku manisku rinduku
Dimasaknya dengan metodology cinta, dengan menggunakan teknologi kasih sayang,
sambil menyanyikan sholawat nabi;
“sholaatullah salaamullah, ‘alaa thoha rasulillah
Sholaatullah salaamullah, ‘alaa yaasiin habiibillah”
Wuiss.. marasa tanta!
Ibumu adalah koki terhebat, chef terjago sepanjang sejarah perkokian,
Tentu saja setelah ibuku

Kue-kuenya juga maknyos, ladziid jiddan, fantastik, emezing, dan wow!
Ada namanya burongko, tape, katirisala, bandangbandang, dokodoko,
sanggara’ talemme’, dan becce’ laung, itu yang ada lagunya;
“beppa-beppa, beppa de’ gollana, engkamo kalukunna, becce’ laung asenna”,
Massambora’!!

Anak-anakku,
Bapakmu ini benar-benar orang biasa! Suerr!!
Maka pekerjaannya biasa ji juga, bukan tong yang berdasi atau bersepatu pentopel mengkilap,
Bukan pekerjaan kantoran, bukan di gedung-gedung bertingkat, ber-ac,
bukan pekerjaan yang kemana-mana bawa mobil plat merah: bukanji mobilnya
Bapakmu bukan artis, bukan orang yang terkenal; Cuma orang biasa
Pekerjaanya sederhana; bertani, beternak, berkebun, mengajar dan mappangaji
Semuanya memang biasa-biasa saja, tapi hidup selalu cukup karena Allah yang maha,
maha mengcukupi kita. Hasbunallah ni’mal wakiil!
“jangan takut miskin nak, kita ini hamba dari Tuhan yang maha kaya”.

Anak-anakku,
Karena ambo’mu ini orang biasa
Maka jangan cari biografi dan riwayat hidupnya di buku-buku sejarah
Sejarah tidak mau mencatat nama orang biasa seperti bapakmu
Dan bapakmu juga tidak mau dicatat dalam sejarah yang penuh dengan manipulasi dan kepalsuan ini
Maka, jangan sekali-kali kalian ajari diri kalian untuk besar kepala, sombong,
bangga diri, apalagi sampai merendahkan orang lain.
Janganki nak begitu!
“Jadilah orang biasa di mata manusia,
Jangan lupa buang sampah pada tempatnya”.

Anak-anakku,
Ketahuilah! Di dunia ini di zamanmu nanti,
Banyak orang jahat yang berpenampilan baik
Banyak orang bejat yang mengajakmu bersahabat
Banya orang alim munafik yang memberimu nasehat,
Banyak pejabat yang orasinya hebat-hebat tapi kelakuan bangsat
Banyak orang yang sekolah tinggi-tinggi, mereka meraih gelar-gelar mulia
tapi tabiat mereka rata-rata keparat,

Biarpun orang-orang di sekitarmu semuanya berprilaku asu,
Kalian jangan ikut-ikutan asu, jangan!
Teruslah bekerja dan berdoa, jangan berharap kepada pemerintah
Teruslah mengabdi, mengabdi hanya kepada Allah dan rasulullah,
Bukan kepada pemerintah!

Anak-anakku,
Saat kalian mulai tahu baca tulis abcd atau alif laam miim,
Kalian akan mengerti, bahwa pengetahuan modern itu tolol-tolol
Mereka tidak mampu membedakan apa pemerintah dan apa negara
Mereka tidak mengerti ilmu tata negara, sebab mereka gagal mempelajari ilmu tata buku
dan apalagi ilmu tata iman.
Rakyat itu adalah raja, sang pemilik rumah
Negara itu rumahnya rakyat, dan pemerintah adalah pembantu dan buruhnya rakyat,
Eh, buruh kok malah menjadi raja? Sundala!

Ketahuilah anak-anakku, hati adalah kuil tuhan
Maka di hati jutaan rakyat yang tertindas, yang kelaparan, yang kesepian,
yang kesakitan, yang hidupnya melarat menyedihkan itu
Ada tuhan bersemayam disitu!
Mereka semua tega menghancurkan kuil tuhan itu!
Mereka benar-benar tidak punya perasaan dan iman!
Lihatlah betapa kurang ajarnya mereka!

Dengan suburnya kekerdilan itu, aku tidak heran
Di zamanmu, bisa jadi alam semesta ini sudah dikuasai,
Diambil alih, dijajah oleh birahi dan tirani
Oleh nafsu, oleh monster, oleh bankir-bankir laknat yahudi zionos dajjal
Bisa jadi negri kelahiranku ini sudah tak bernama indonesia lagi
Bisa jadi kampung halaman ibumu sudah menjadi kota,
Sudah menjadi korban mutilasi keserakahan orang-orang kota.
Rumah-rumah leluhur digusur, sawah dan kebun ditanami hotel-hotel,
Hutan-hutan dipaksa menjadi pabrik, diskotik, alfamart, mall,
rumah bernyanyi, restoran dan atau meeting hall
Sungai-sungai yang dulunya mengalirkan surga, tajrii min tahtihal anhaaru,
Kini berubah menjadi mengalirkan sampah-sampah dan kotoran-kotoran zaman
Pantai-pantai dilukai kecantikannya, didandani dengan bedak semen
dengan gincu beton bermerek tomalasa!
Semua di lakukan atas nama kemajuan zaman yang modern.
Modern ndasmu!

Pepohonan dilecehkan, bebatuan dihancurkan, tambang di jarah,
tanah dimanipulasi, air dikapitalisasi, udara segar dipolusisasi,
Negara di bajak tiada habis-habisnya!
Ini bukan peradaban anakku, ini kebiadaban internasional!
“jangan pernah mengatakan menebang pohon sembarangan itu sepele!
Itu kurang ajar!

Anak-anakku,
Bapakmu Cuma orang biasa, dan ia bersyukur penuh akan hal itu
Ia tidak pernah bercita-cita untuk berkuasa dan menginjak makhluk lain
Ia tak pernah bermimpi menajdi raja dan memperbudak alam seisinya
Maka, renung-pikirkanlah anakku,
Jangan pernah merasa lebih tinggi dari tanah, karena sungguh tanah adalah ibumu,
Jika kalian berlaku sombong kepadanya, maka kalian telah mendurhakainya
Cintailah ibumu, karena surga berada di bawah telapak hatinya,
Cuci dan ciumlah kaki ibu pertiwimu dengan tujuh lapis cahaya sujud
Engkau berasal dari perut ibumu, dan engkau akan kembali ke dalam perut beliau;
Rahim bumi pertiwi.

Anak-anakku,
Jika kaudapati alam ini rusak dan sakit-sakitan,
Itu tugasmu untuk memperbaikinya, itu kewajibanmu untuk menyembuhkannya
Jadilah orang baik, walaupun engkau sendirian!

(“Ambo’, boleh bertanya ini,
Trus kapan saya akan lahir?”

“hahaha.. awwah, sabar-sabarmako dulu,
Ini baru mau dicari mama mu e”)

#sastramaya
#dirjawiharja

[Dibacakan pada acara SABDA ALAM  yang diselenggarakan oleh kawan-kawan BUMI LESTARI PAREPARE]

Selasa, 29 Agustus 2017

Lacaddo' mattutu soal ibadah

"Mari kita hancurkan segala ibadah dan kebaikan kita dengan sering-sering menyebutnya, menceritakannya, membanggakannya, dan yang paling penting adalah meng-selfie-selfie-kannya. Jangan lupa diupload, diposting, dishare ke semua akun-akun medsos; Twitter, Facebook, Instagram, path, telegram, bbm, Line dan sebagainya dan seterusnya dan semuanya dan seluruhnya. Jangan ada yang tersisa. Pokoknya, semua aktivitas dan amal kebajikan mari kita umumkan, let's publish all of them, biar dunia tahu bahwa kita adalah orang baik, orang sholeh, orang berbudi luhur, orang yang akan pasti masuk surga. Mari semuanya ayo. Jangan takut dibilang sombong dan riya'. Mereka cuma iri dan sebenarnya dengki kepada kita. Ayo jangan berhenti. Mari kita musnahkan pahala-pahala kita. Kita tidak butuh sama pahala. Yang kita butuhkan hanyalah eksistensi. Pengakuan demi pengakuan. Kebanggaan demi kebanggaan. kehancuran demi kehancuran. Hahahaha....."

"Apa-apaan kamu caddo'??!! Kamu ngomong atau kumur-kumur? Lakudu' merasa perlu angkat bicara. "Maksud kamu apa? Mau menyindir, menyenggol, atau menceramahi saya? Kalau mau ceramah, sana ke masjid, jangan disini..!! Ibadah kok dihancurkan. Ah, ngawur kamu..."

"Hahahahah...." seperti biasa, lacaddo' hanya tertawa.

"Lha, malah ketawa cengengesan. Jangan-jangan kamu sudah majnun alias gila?"

"Huaaahahahahahahahah..." volume tawa lacaddo' semakin meningkat.

"Setiap ibadah kan memang harus dirayakan, setiap kebaikan harus disyukuri, dan setiap orang punya cara atau metodenya masing-masing. Minimal selfie...."

"Huaaahahahahahahahah...." lacaddo' tetap not responding. Istiqomah dengan ketawanya, kini volume treble dan bass-nya yang dinaikkan.

"Sudahlah, kamu jangan usil. Kamu jangan buat statemen-statemen yang semakin membebani rakyat. Jangan ciptakan kalimat-kalimat yang justru bisa bikin pusing masyarakat. Anggap saja selfie-selfie mereka adalah hiburan atas penjajahan yang semakin tidak kentara ini. Biarlah mereka nikmati. Biarkan saja seperti itu. Tidak usah di utak-atik pikiran mereka. Biarkan mereka merdeka dalam keterjajahan, bahagia meski itu hanya pura-pura....." lakudu' terus berceloteh tanpa henti tapi lacaddo' tetap tidak terpancing sama sekali dengan semua argumentasi bualannya.

"Sudahlah, kamu jangan resek. Setiap orang kan punya maqamnya masing-masing. Punya kapasitas, kualitas, integritas, dan tas-tas-nya masing-masing. Terserah mereka mau memproses hidupnya bagaimana, terserah mereka mau mengapakan dunianya, pokoknya terserah-serah mereka mau membagaimanakan keluar masuknya nafasnya. Kalau berbeda, ya dimaklumi dan dimafhumi saja. Kita hargai pendapatnya. Kita hormati cara hidupnya. Jangan kau ganggu dengan membikin sindiran-sindiran yang aneh-aneh. Teruskan pemikiramu dan biarkan mereka melanjutkan hidup mereka. Damai itu indah..."

"Hahahahahahahahah..... berisik kamu...!!!!" Lacaddo' mulai bereaksi.

"Kamu sendiri yang selalu memancing dunia persilatan lidah, ditanya tak menjawab malah ketawa hahahahahah seperti mengejek", lakudu' membantah.

"Begini bro, kamu diam dulu". Lacaddo' akhirnya merespon. "Resleting kan dulu mulutmu. Sterilkan emosimu. Bagaimana saya bisa bicara kalau kamu tidak mau berdemokrasi untuk berhenti bicara. Dan sekedar kamu tahu, tidak semua pertanyaan harus dijawab. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya. Karena ada pertanyaan yang hadir atau muncul dalam kehidupan kita yang sebenarnya untuk mengajarkan kesabaran. Nah, kayaknya kamu belum lulus disitu. Heheheheh"

"Wah, kamu sok menggurui. Jawab saja pertanyaan ku, apa maksud dari pernyataan kamu tadi? Ibadah kok dihancurkan???!!!"

"Santai bro, saya tidak suka berdebat. Karena berdebat itu bisa mematikan hati. Juga bisa mengurangi ketampanan. heheheh... Saya juga tidak menggurui. De' je' upagguruko, utambaimi accamu. Saya sama sekali tidak mengajarimu, saya cuma menambah kecerdasanmu. Heheheh...."

"Hahahahahahahahah.... tau acu.. " lakudu' mulai mendingin apinya. Tampaknya sudah mulai sedikit paham maksud lacaddo'.

"Tidak ada yang keliru. Semua yang kau omongkan tadi juga ada benarnya. Adapun ungkapan saya tadi itu sebenarnya hanya sekedar mengekspresikan apa yang ada di kepala saya. tidak ada maksud untuk menyindir apalagi ceramah. saya kan bukan ustadz. hehehehe.......Cuma yang harus di stabilo disini, khusus mengenai ibadah dan aktivitas kebaikan yang kita lakukan adalah jangan sampai kita kehilangan niat dan tujuan utama kita. Artinya energi yang kita gunakan jangan sampai tidak menghasilkan gelombang cahaya. Maksud saya, mari kita hancurkan ibadah demi ibadah yang tidak "ilaihi rojiun". Kita tahu dan paham bahwa kita "innaa lillah" tapi gagal memakrifati "ilaihi rojiun" tadi. Heheheheh.

"Maksudnya? Ah, makin bingung saja" lakudu' mulai mengalami gejala spiritualisme penasaran.

"Coba kau ingat-ingat kembali" lacaddo' melanjutkan. "Coba kau telusuri ibadah dan kebaikanmu. Coba renung-fikirkan setiap amalanmu. periksa kembali apa niat dan tujuan sejatimu. Ingat apa ujung pangkal dari setiap niat beribadah kita. Apa niat sholat? Apa niat puasa, zakat, sedekah, menyumbang, menolong orang, menafkahi keluarga, membangun negara, melestarikan alam semesta, menulis, baca puisi, main teater, mengajar, mencari ilmu, memperbaiki laptop, menyapu halaman, menanam bunga, minum kopi, berorganisasi, main Facebook, upload video, naik gunung, selfie, membaca novel, buka warung, menghadiri undangan, dan aktifitas apa saja yang tidak merusak tatanan perdamaian dunia, tolong ingat niatnya. Ujungnya semua adalah "lillahi ta'ala". Hanya untuk Allah. Kenapa? Karena kita selalu punya kesadaran "innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiuun" itu. Heheheheh....

"Trus apa kait-hubungnya dengan menceritakan, membanggakan, atau men-selfie-kan ibadah-kebaikan kita?" Lakudu' semakin bertambah penasarannya.

"Ya, Tidak masalah ji itu. Tapi ibadah yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang disembunyikan. Kebaikan yang sempurna dan disenangi oleh Allah adalah yang dirahasiakan dan dilupakan. Tidak perlu dipertontonkan. Biarlah Allah dan para malaikat-malaikatNya yang menontonnya. Allah sebagai audien sejati kita. Sebab jangan lupa, toh semua ibadah dan kebaikan yang kita lakukan itu pun semuanya berasal dariNya, bersumber dari kasih-sayang Allah. Jangan sampai kebaikan kita bertransformasi menjadi keburukan hanya gara-gara rusaknya niat kita. Akibat beloknya tujuan kita karena adanya gerakan-gerakan tambahan kita. Maka rahasiakanlah kebaikanmu sebagaimana Allah merahasiakan keburukanmu."

"Trus... trus....... " lakudu' kini ketagihan.

"Ya, silahkan teruskan kebaikanmu, lanjutkan ibadahmu. Tapi kalau bisa, berhentilah mengungkit-ungkitnya, tahanlah untuk menceritakannya, puasakanlah untuk membanggakan dan mempublikasikannya. Manusia selalu ingin eksis, padahal hanya Allah yang maha-eksis. Laa mawjuuda illallah. Manusia selalu ingin dipuji, padahal hanya Allah yang pantas dipuji. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Tapi, ya itulah alasannya mengapa kita harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah yang maha melindungi, dari segala tipu daya setan diri kita sendiri. Audzu billahi min asysyaithonirrojiim. Jangan berhenti berdoa karena Allah tidak pernah beristirahat apalagi tidur. Laa ta'khudzuhu sinatun walaa nawmun. Cukuplah Allah sebagai penolong dan sahabat kesedihan kita. Hasbunallah........"

"Subhaanallah......" lakudu' mengalami ketakjuban jiwa sampai-sampai tidak sadar kalau lacaddo' sudah menghilang dari hadapannya.

"Caddo', o... caddo'..... kegako? Kau dimana?"

"Saya lagi di wc ...... beol ka' dulu ces....heheheheh.." [?]

Minggu, 12 Maret 2017

Biografi Orang Kecil

Kami orang biasa dan memilih hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang yang merasa dirinya besar itu senang sekali memanggil kami dengan sebutan orang kecil. Tak mengapa, kami sangat bersyukur dengan sebutan itu, karena kenyataannya kami memang orang kecil dan tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi orang besar. Karena menurut orang langit, hanya orang kerdil yang butuh dengan kebesaran. Bagi kami, menjadi orang kecil, orang biasa, sudah sangat melebihi cukup dan Alhamdulillah. Hasbunallah.

Jadi sebagai orang kecil sejati, kami tidak pernah sekalipun mencari dan mengejar-ngejar yang namanya kebesaran. Bukan karena kami tidak punya kekuatan atau kesanggupan untuk itu, tapi karena kami memang tidak tertarik dan tidak terpesona oleh kebesaran, tidak tergoda oleh keterkenalan. Memang demikianlah kami orang-orang kecil ini. Dan lagi, kami tidak pernah merasa tersinggung dan marah jika dipanggil dengan istilah-istilah yang lain. Terserah mau memanggil kami dengan sebutan apa, entah itu rakyat jelata, masyarakat bawah, gelandangan nusantara, pengemis nasional, orang miskin, orang desa, orang pinggiran, sapi perah, atau apalah. Saya dan kami tidak masalah dengan semua itu. Asal jangan menyebut kami sebagai budak atau hamba, karena kami hanya menghamba, mengabdi dan melayani Tuhan. Tidak kepada selainNya!

Orang kecil tidak suka mengganggu kemerdekaan orang lain. Tidak senang menyerobot ketika antri. Pantang mengambil atau merampas yang bukan haknya. Malah hak kami yang sering dicopet dan dijambret oleh orang-orang besar itu. Tapi tak mengapa, kami tidak marah dan membenci. Kami memiliki hati yang luas untuk memaafkan siapa saja, kami memiliki jiwa yang semesta untuk menampung apa saja. Kami setia mendoakan kebaikan untuk setiap orang sesama makhluk ciptaan Tuhan. Orang kecil seperti kami bahagia dengan kesederhanaan. Kami hanya makan saat perut kami benar-benar lapar dan segera berhenti makan sebelum kenyang. Kami orang kecil juga tidak suka mengambil jatah nasi dan lauk orang lain. Kami hanya mengambil apa yang ada dipiring kami, hanya memakan apa yang telah kami perjuangkan, hanya menikmati apa yang telah Tuhan anugrahkan.

Orang kecil tidak pernah melatih jurus dan tinju pada tangannya, tidak pernah memberikan kursus tendangan pada kakinya. Karena kami orang kecil tidak pernah berniat untuk memukul, menginjak atau menendang orang lain. Tak pernah terlintas dibenak kami untuk menindas orang lain. Kami tidak pernah bermimpi untuk mendirikan kerajaan di ruang dan waktu ini, apalagi untuk mencaplok bumi raya ini. Kami sama sekali tidak bernafsu untuk menguasai siapapun kecuali belajar terus mendidik diri kami sendiri. Orang kecil seperti kami tidak punya ingin untuk menyakiti orang lain. Kami haramkan diri kami untuk hal-hal hina dina dan najis seperti itu. Kami selalu ingat dan mengamalkan nasehat para nabi. Sami'na wa atho'naa, selebihnya kami serah-kembalikan kepada Tuhan yang maha bijaksana.

Kami orang kecil tidak suka berdebat, adu akal, silat mulut apalagi perang pemikiran. Kami tidak punya hobi merasa paling benar, mudah menyalahkan, mengkafir-kafirkan, membid'ah-bid'ahkan atau menyesat-nyesatkan orang lain. Karena kami yakin bahwa hanya Tuhan yang punya data paling lengkap dan akurat mengenai hakikat kebenaran. Olehnya, yang kami lakukan hanyalah bagaimana setiap bertemu orang lain--meski berbeda-- kita bisa saling menyapa, berkenalan, saling menyelamatkan satu sama lain, saling memberi rasa aman, saling bantu, saling hibur, saling bersama dan bermesraan mempererat silaturahmi dan silaturuhani dihadapan Tuhan dan rasulNya. Sehingga, mata kami yang fakir ini selalu kami bersihkan dari kesia-siaan agar tidak buta dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Berusaha merekrut setiap perbuatan menjadi ibadah. Begitulah kami orang kecil ini.

Akhirnya, kami akan tetap seperti ini. Menjaga kekecilan kami agar tidak menjadi besar dan sombong. Kami orang kecil ini akan terus bekerja, yang penting Tuhan setuju dan meridhoi. Pokoknya, asal Tuhan tidak marah, kami tidak peduli. Kami orang kecil akan terus bertani, berkebun, melaut, mengamen, jadi pemulung, tukang batu, mburuh, ngojek, jualan bakso, jajakan koran, atau apa saja yang halal dan thoyyiban lillahi ta'ala. Kami sudah lama berhenti menggantungkan harapan kami pada pemerintah yang terhormat. Karena sepertinya belum ada tanda-tanda Tuhan hadir dan manunggal dalam diri mereka, itu menurut bodoh kami. Tapi kami dan saya, yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan punya skenario dan cara kerja yang sangat indah--meskipun misterius-- untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan sejati para kekasihNya yang tersebar di sela-sela bumi, wabilkhusus di Indonesia. Tanah air ibu Pertiwi. Bumi para Waliyullah. Wallohu a'lam

Jaahil murokkab

Jumat, 03 Juni 2016

Lontara Zaman Akhir

Assalamu alaikum..
Usompa maraja sining karesota
Uporennu madeceng yamanenna pappangolota
Naekiya, paja-pajaini kasi’
Lesso’ no je’ pole kaderamu
Lesse’ ko na idi’ si maju
Ammani idi’ si maupe’ ..

Indonesia, kuru’ sumange’ mu mbo’
de siseggagaje’ ...
yamanammo pole ..
labambang, i wati, lajokosi
degaga karu,

Lopi sebbo memeng kasi
Laokosi sebbo' i
Aga bangkani
toba’ tongengnga’ ko mappakkoi e

Muisseng moga makkada ...
boreng manengngi toriolota
massolo’ wae matanna nenena neneta’
materri maneng walli-wallie
mita maneng ampe kedona ana’ eppona’
Ya maneng..
sesa’ pale'..

makkedai to mallinrungnge ..
engka matu’ siddi wettu
ipatokkong paimeng teppe’na rupa taue
naekiya rimunrinna ro
aja’ muasengngi
natongko’ pettang linoe
de’ siseng gaga tajang peddei mata essoe
abala’ loppo melo jaji
maddunu-dunu dongi e
mapeca’ tanae, taggiling sinapatie
konitu matu’ laipulung maneng tau mapaccingnge
itaro madeceng ipasionroang riwanua rahasiana puangnge

mateni.. mate tongenni, ko makkoai e
tabbere-berre atikku mitai indonesia
melo reppa’ ulukku pikkiriki indonesia
rede-rede ininnawakku
tattunu pappineddikku
masolang parengkalingakku
melo mabbettu lanro aleku
Cedde’pi napolo sumange’ku
Ucapu ucampakko nakku ..
Aja’ muterri ... upasusui ambo’mu
Eh, upakuru sumange’ mu

Kasih sayangku kepada indonesia sungguh teramat luas
Cintaku kepada indonesia sangat sangat mendalam
Tak terkira, tak terhitung jumlah prajurit sel dan atomku
Dalam jasadku Yang berani mati demi indonesia ..
hampir pecah kepalaku karena indonesia
otakku remuk oleh praktek negaranya
darahku mendidih oleh sistem penjajahannya yang samar penuh konspirasi
persaanku terbakar oleh korupsinya yang pintar dan tidak kentara
dadaku mau meledak karena rakyat terus dibodohi dibodohi
Trus dibohongi dibohongi lagi, trus tidak ada habis habisnya ..
We ... Ewaika kasi..
Tolong jauhkan jasadku dari indonesia
Tolong rahasiakan ruhku dari indonesia

Pakanjaki sai ko engka melo mupaddupa
Paressa madecengngi jolo’
Naiya ade'e ipasanre ri sara' e
Sara’ e ipattulekkeng ri ade' e
Angkangului sara' e
Attulappeko ri ade' e
Makessinnitu jokkana tinromu ..
Namo makanja lopinna
Namoje’ makanja bokonna
Namoje’ maega pabbisena
Naekiya ko bangngoi pabbisena
Ciaka’ nalureng iyya’ ..

woe.. attabe’ tabe sako bela
aja’ mupoloi olona tauwe
aja’ mukaremoi kalobenna balibolamu
aja muajjulekkai becci’ e
De gagaje kapang sirina ..
we.. siri e mitu rionroang rilino
ko de’ gaga siri’ mu, ingrekko siri
ko ciako, unu banni pale’ alemu
ko ciako, iyya’pa pale’ gajang sumpangmu ...

de’ nalabu essoe ritengngana bittarae
sangadi dewatae teya, tolinoe massampeyang
nappai usalai jancikku ...

aga sije’tu, toli maddareke, mannau-nau
mannoko-noko
sakkada niga nanoko ..
larica ori bempa
Alla iita ale ..
daripada iko, toli mutappi sanru’ mu ...
burane aga iyye. Burane cappa’ loka
lelaki jantung pisang ...
aja’ naguttu bawang degaga bosi ...

e ... cappo’ ..
attongeng tongekkoje’ ....
itaka’ jolo’ ..
engka dua temmassarang
aja’ lalo mupassarangngi dua e
tannia tu ogi ko de’ nakkawali
naia kawalie sellaonai tauwe
salewangeng nyawae ko tiwikki kawali

kegai kawalimmu?
Pada engka manengmuiga tabawa?
o.. cappo’.. kegai mutaro kawalimmu?
Kegae yaseng kawali?

Engkahe yaseng kawali, akkalengmu ....
Parakaiwi kawalimmu ..
Naseng si kapang iyyaro yawa, kawali kunru...
Watsiyaabaka fathohhir
Paccingi wanuanna kawalimmu
Kega wanuawanna kawalimmu?
Iyyanahe wanuwanna, iyyanae yaseng pake-pake ogi; ati macinnong ...
Aja’ lalo mupassarangngi kawalimmu pole riwanuwanna
jangan coba engkau cabut badikmu dari sarungnya
uppanna-uppanna mucabu’ ...
abala’ tu pole, mau tidak mau
melo tokko tea tokko ga ...
ko tennia dara jinco .. makkanreitu laroca’ mangngaru’ labetta
maccallai labattoa .. ..

o.. peddi aja’ muonro
onro mokko katanu’ assaleng aja mumapeddi ...
itako reso, peddi palaoka, uddani palisuka
adadanna oto trek e ...

yaa ayyuhannaas .....
tanra-tanrana narekko meloni kame’ linoe
gilinni bebe’ maneng tau maccae ..

K-U-D-A aga bacana Nyareng ...
Bagus ....

Selangkah lagi manusia dibumi ini menjadi sampah
Cengeng, manja, sakit-sakitan, tidak punya kepercayaan diri
Alay, cabe-cabeang, banta beleng bengngo, dongo tongko
Tidak punya mental, dan hanya menyembah tai

Fastaghfir in lam yughorgir
Sebelum tiba pada peradaban ghorgoroh
Aku mengurai diri tanahku
Tanah-nuthfah-alaqoh-mudghoh-makhluk-
manusia-abdullah-khalifatullah ....
ubun-ubunku galaksi bima sakti
jidatku samudra cahaya energi
rambutku gelombang elektromagnetik frekuensi
Akalku badik
Mataku arung palakka
Telingaku daeng sutte
Tanganku kahar muzakkar
Hatiku syeikh yusuf
Lathifahku syeikh tosora
Rahasiaku imam lapeo
Bombang pitue imam mahdiku
Lapedde apinna cemme junnu’ku
Madrasahku kuburan wali
Nafsuku lagaligo
Lidahku nene’ mallomo
Pungngungku batara guru
Kelaminku sawerigading
Kakiku lamaddukkeleng
Thariqatku islam
Dadaku baitullah
Sempajakku teppettu
Jenne’ ku tellukka
Muhammad Baca-bacaku
tettokku alipu’
Alipu’ riase’na a
Lameng saddu lepa riase’na laa
Ha dapanna hu .......
Allahu ....

Rabu, 20 Januari 2016

Islam adalah .....

Islam itu keselamatan. Islam itu menyelamatkan. Islam itu tidak mengganggu harta benda orang lain. Islam itu tidak mencuri, tidak mengambil yang bukan haknya. Islam itu memuliakan, tidak menghina, tidak merendahkan martabat orang lain, islam itu saling mengangkat tanpa saling menjatuhkan. Islam itu tidak menyakiti hati tetangga, tidak menyinggung perasaan orang lain, islam itu tidak menceritakan aib sesamanya, tidak berbohong, tidak menipu, islam itu saling menjaga dan saling mengasuh. Islam itu tidak melukai fisik orang lain, apalagi sampai membunuh atau mengambil nyawa orang lain.

Islam itu kelembutan. Islam itu menolong orang yang walaupun orang itu membenci kita. Islam itu menjenguk orang sakit, mendoakan kesembuhannya, islam itu memberi makan orang yang lapar, menyapa orang yang kesepian. Islam itu memberi payung orang yang kehujanan. Islam itu memberi pakaian orang yang telanjang. Islam itu memberi tumpangan orang yang sedang jalan kaki. Islam itu kemaslahatan. Islam saling menghargai, saling memanusiakan dan saling menyenangkan hati. Islam itu kalau ada yang kotor dibersihkan, ada sampah dibuang pada tempatnya. Islam itu kalau ada yang rusak diperbaiki. Islam itu kebersamaan. Islam itu tidak sombong kalau dipuji dan tidak marah kalau tidak dipedulikan.

Islam itu rahmatan lil'alamin. Mencintai siapa saja. Menyayangi binatang dan tumbuhan. Islam itu menerima semua makhluk. Islam itu membantu orang yang kesulitan. Islam itu ada duri dijalan di singkirkan. Islam itu wajahnya semua adalah senyuman. Islam itu ucapannya santun, dan sopan perbuatannya bisa di ikuti orang lain. Islam itu menebarkan keindahan dan mengubur semua kebencian. Islam itu kebaikan, kebenaran dan keindahan. Islam itu uswatun hasanah. Islam adalah keteladanan. Islam itu tidak berburuk sangka. Islam itu melayani semua makhluk. Islam itu keindahan. Islam itu menegakkan keadilan, membebaskan yang tertindas, memerdekakan yang terjajah, dan menghapus bentuk-bentuk kezaliman.

Islam itu ketulusan dan keikhlasan. Islam itu kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tidak usah tau. Islam itu menggembirakan. Islam itu menghibur teman yang sedang sedih. Islam itu melestarikan alam semesta. Islam itu tidak boros dan atau mubazir. Islam itu memangku bumi dan langit. Islam itu merangkul dan memeluk semua perbedaan; suku, ras, warna kulit, pendapat, agama, bangsa dan negara. Islam itu Menyatukan yang bercerai-berai. Islam itu persatuan umat manusia. Islam itu kebijaksanaan, tidak menyesatkan, tidak mengkafir-kafirkan orang lain, tidak jumud dan tidak kolot cara berfikirnya. Islam adalah pencerahan.

Islam itu ketenangan, kedamaian lahir bathin, kebahagiaan yang membahagiakan; untuk diri, keluarga, tetangga, masyarakat, dan dunia. Islam itu pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, profesional dan proporsional. Islam itu yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Islam itu bertemu, menyapa, berkenalan, saling mengerti, saling memahami, saling menghargai, dan saling memberi rasa aman. Islam itu suami yang menafkahi anak dan istrinya. Islam itu istri yang melayani dan mengabdi kepada suami dan rumah tangganya. Islam itu anak yang berbakti kepada orang tuanya. Islam itu membantu pengemis, orang-orang lemah, islam itu menyantuni fakir miskin, memelihara anak yatim, gelandangan, orang gila, dan orang-orang terlantar lainnya.

Islam itu memberi manfaat dan menjadi manfaat bagi umat manusia. Islam adalah kasih sayang yang luas dan cinta yang begitu mendalam kepada semua makhluk. Islam adalah kebangkitan. Islam adalah pembersihan. Islam adalah moralitas, akhlak, dan adab. Islam adalah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi semua laranganNya. Islam adalah tuan rumah yang menghormati tamunya. Islam adalah tamu yang menghargai tuan rumah. Islam adalah silaturahmi yang kuat. Islam itu ilmu hidup. Islam adalah jalan lurus. Islam adalah rahmat yang di transformasi menjadi berkah. Islam adalah membagi yang bukan kesia-siaan. Islam itu berjamaah, bersama-sama, bekerjasama membangun peradaban yang thoyyibah wa robbun ghofur. Islam adalah kerukunan antar makhluk diatas bumi ini .....

Sabtu, 09 Januari 2016

Perjalanan Menuju Tuhan

Untuk anda pecinta tantangan dan petualangan. Bagi yang suka mendaki atap-atap dunia, memanjat tebing-tebing terjal nan curam, melintasi arus sungai yang jeram, menelusuri goa yang menakutkan, menerobos rimba belantara yang penuh binatang buas, melompat dari gedung ke gedung, berselancar di atas amukan ombak ganas, dan sebagainya. Jangan sombong dengan pencapaianmu. Itu belum seberapa. Itu bukan apa-apa.

Bagi teman-teman yang merasa punya kesaktian dan kehebatan. Yang punya ilmu kebal, bisa terbang dan menghilang, meremote hujan, memerintah jin, mengendarai angin, menguasai trik sulap dan ilusi, menjadi artis papan atas, menjadi pejabat, menjadi orang nomor satu, perusahaan besar dimana-mana, punya rumah mewah, mobil mewah, pesawat jet pribadi, punya jutaan followers, milyaran likers, bisa keliling dunia, gelar akademik berlapis-lapis, menulis ratusan buku, ribuan rekaman video, berton-ton foto selfie, berkarung-karung pangkat, sanggup membeli pulau, membeli wanita, dan seterusnya. Jangan besar kepala dulu. Itu belum seberapa. Itu bukan apa-apa.

Jika anda ingin mengukur seberapa tangguh dan kuatnya dirimu, menguji nyalimu yang sebenarnya, ingin membuktikan kehebatan yang sesungguhnya, melihat kesaktian yang benar-benar sakti, maka tak ada yang mengalahkan perjalanan menuju Tuhan. Inilah petualangan yang sejati dan tantangan yang paling hakiki. Pendakian tanpa puncak, penelusuran tanpa henti, pencarian tanpa ujung, melintasi batas-batas dunia sampai ke alam-alam tertentu.

Perjalanan menuju Tuhan adalah petualangan yang paling ekstrim. Paling berbahaya. penuh dengan rintangan dan penderitaan, halangan dan kepedihan. Paling menantang dan mengguncang adrenalin. Penuh dengan luka dan air mata cinta. Jangan disamakan dengan perjalanan menuju "wanita"... Heheheheh...

*silahkan dicoba kalau tidak percaya.

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab