Minggu, 12 Maret 2017

Biografi Orang Kecil

Kami orang biasa dan memilih hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang yang merasa dirinya besar itu senang sekali memanggil kami dengan sebutan orang kecil. Tak mengapa, kami sangat bersyukur dengan sebutan itu, karena kenyataannya kami memang orang kecil dan tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi orang besar. Karena menurut orang langit, hanya orang kerdil yang butuh dengan kebesaran. Bagi kami, menjadi orang kecil, orang biasa, sudah sangat melebihi cukup dan Alhamdulillah. Hasbunallah.

Jadi sebagai orang kecil sejati, kami tidak pernah sekalipun mencari dan mengejar-ngejar yang namanya kebesaran. Bukan karena kami tidak punya kekuatan atau kesanggupan untuk itu, tapi karena kami memang tidak tertarik dan tidak terpesona oleh kebesaran, tidak tergoda oleh keterkenalan. Memang demikianlah kami orang-orang kecil ini. Dan lagi, kami tidak pernah merasa tersinggung dan marah jika dipanggil dengan istilah-istilah yang lain. Terserah mau memanggil kami dengan sebutan apa, entah itu rakyat jelata, masyarakat bawah, gelandangan nusantara, pengemis nasional, orang miskin, orang desa, orang pinggiran, sapi perah, atau apalah. Saya dan kami tidak masalah dengan semua itu. Asal jangan menyebut kami sebagai budak atau hamba, karena kami hanya menghamba, mengabdi dan melayani Tuhan. Tidak kepada selainNya!

Orang kecil tidak suka mengganggu kemerdekaan orang lain. Tidak senang menyerobot ketika antri. Pantang mengambil atau merampas yang bukan haknya. Malah hak kami yang sering dicopet dan dijambret oleh orang-orang besar itu. Tapi tak mengapa, kami tidak marah dan membenci. Kami memiliki hati yang luas untuk memaafkan siapa saja, kami memiliki jiwa yang semesta untuk menampung apa saja. Kami setia mendoakan kebaikan untuk setiap orang sesama makhluk ciptaan Tuhan. Orang kecil seperti kami bahagia dengan kesederhanaan. Kami hanya makan saat perut kami benar-benar lapar dan segera berhenti makan sebelum kenyang. Kami orang kecil juga tidak suka mengambil jatah nasi dan lauk orang lain. Kami hanya mengambil apa yang ada dipiring kami, hanya memakan apa yang telah kami perjuangkan, hanya menikmati apa yang telah Tuhan anugrahkan.

Orang kecil tidak pernah melatih jurus dan tinju pada tangannya, tidak pernah memberikan kursus tendangan pada kakinya. Karena kami orang kecil tidak pernah berniat untuk memukul, menginjak atau menendang orang lain. Tak pernah terlintas dibenak kami untuk menindas orang lain. Kami tidak pernah bermimpi untuk mendirikan kerajaan di ruang dan waktu ini, apalagi untuk mencaplok bumi raya ini. Kami sama sekali tidak bernafsu untuk menguasai siapapun kecuali belajar terus mendidik diri kami sendiri. Orang kecil seperti kami tidak punya ingin untuk menyakiti orang lain. Kami haramkan diri kami untuk hal-hal hina dina dan najis seperti itu. Kami selalu ingat dan mengamalkan nasehat para nabi. Sami'na wa atho'naa, selebihnya kami serah-kembalikan kepada Tuhan yang maha bijaksana.

Kami orang kecil tidak suka berdebat, adu akal, silat mulut apalagi perang pemikiran. Kami tidak punya hobi merasa paling benar, mudah menyalahkan, mengkafir-kafirkan, membid'ah-bid'ahkan atau menyesat-nyesatkan orang lain. Karena kami yakin bahwa hanya Tuhan yang punya data paling lengkap dan akurat mengenai hakikat kebenaran. Olehnya, yang kami lakukan hanyalah bagaimana setiap bertemu orang lain--meski berbeda-- kita bisa saling menyapa, berkenalan, saling menyelamatkan satu sama lain, saling memberi rasa aman, saling bantu, saling hibur, saling bersama dan bermesraan mempererat silaturahmi dan silaturuhani dihadapan Tuhan dan rasulNya. Sehingga, mata kami yang fakir ini selalu kami bersihkan dari kesia-siaan agar tidak buta dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Berusaha merekrut setiap perbuatan menjadi ibadah. Begitulah kami orang kecil ini.

Akhirnya, kami akan tetap seperti ini. Menjaga kekecilan kami agar tidak menjadi besar dan sombong. Kami orang kecil ini akan terus bekerja, yang penting Tuhan setuju dan meridhoi. Pokoknya, asal Tuhan tidak marah, kami tidak peduli. Kami orang kecil akan terus bertani, berkebun, melaut, mengamen, jadi pemulung, tukang batu, mburuh, ngojek, jualan bakso, jajakan koran, atau apa saja yang halal dan thoyyiban lillahi ta'ala. Kami sudah lama berhenti menggantungkan harapan kami pada pemerintah yang terhormat. Karena sepertinya belum ada tanda-tanda Tuhan hadir dan manunggal dalam diri mereka, itu menurut bodoh kami. Tapi kami dan saya, yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan punya skenario dan cara kerja yang sangat indah--meskipun misterius-- untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan sejati para kekasihNya yang tersebar di sela-sela bumi, wabilkhusus di Indonesia. Tanah air ibu Pertiwi. Bumi para Waliyullah. Wallohu a'lam

Jaahil murokkab

Jumat, 03 Juni 2016

Lontara Zaman Akhir

Assalamu alaikum..
Usompa maraja sining karesota
Uporennu madeceng yamanenna pappangolota
Naekiya, paja-pajaini kasi’
Lesso’ no je’ pole kaderamu
Lesse’ ko na idi’ si maju
Ammani idi’ si maupe’ ..

Indonesia, kuru’ sumange’ mu mbo’
de siseggagaje’ ...
yamanammo pole ..
labambang, i wati, lajokosi
degaga karu,

Lopi sebbo memeng kasi
Laokosi sebbo' i
Aga bangkani
toba’ tongengnga’ ko mappakkoi e

Muisseng moga makkada ...
boreng manengngi toriolota
massolo’ wae matanna nenena neneta’
materri maneng walli-wallie
mita maneng ampe kedona ana’ eppona’
Ya maneng..
sesa’ pale'..

makkedai to mallinrungnge ..
engka matu’ siddi wettu
ipatokkong paimeng teppe’na rupa taue
naekiya rimunrinna ro
aja’ muasengngi
natongko’ pettang linoe
de’ siseng gaga tajang peddei mata essoe
abala’ loppo melo jaji
maddunu-dunu dongi e
mapeca’ tanae, taggiling sinapatie
konitu matu’ laipulung maneng tau mapaccingnge
itaro madeceng ipasionroang riwanua rahasiana puangnge

mateni.. mate tongenni, ko makkoai e
tabbere-berre atikku mitai indonesia
melo reppa’ ulukku pikkiriki indonesia
rede-rede ininnawakku
tattunu pappineddikku
masolang parengkalingakku
melo mabbettu lanro aleku
Cedde’pi napolo sumange’ku
Ucapu ucampakko nakku ..
Aja’ muterri ... upasusui ambo’mu
Eh, upakuru sumange’ mu

Kasih sayangku kepada indonesia sungguh teramat luas
Cintaku kepada indonesia sangat sangat mendalam
Tak terkira, tak terhitung jumlah prajurit sel dan atomku
Dalam jasadku Yang berani mati demi indonesia ..
hampir pecah kepalaku karena indonesia
otakku remuk oleh praktek negaranya
darahku mendidih oleh sistem penjajahannya yang samar penuh konspirasi
persaanku terbakar oleh korupsinya yang pintar dan tidak kentara
dadaku mau meledak karena rakyat terus dibodohi dibodohi
Trus dibohongi dibohongi lagi, trus tidak ada habis habisnya ..
We ... Ewaika kasi..
Tolong jauhkan jasadku dari indonesia
Tolong rahasiakan ruhku dari indonesia

Pakanjaki sai ko engka melo mupaddupa
Paressa madecengngi jolo’
Naiya ade'e ipasanre ri sara' e
Sara’ e ipattulekkeng ri ade' e
Angkangului sara' e
Attulappeko ri ade' e
Makessinnitu jokkana tinromu ..
Namo makanja lopinna
Namoje’ makanja bokonna
Namoje’ maega pabbisena
Naekiya ko bangngoi pabbisena
Ciaka’ nalureng iyya’ ..

woe.. attabe’ tabe sako bela
aja’ mupoloi olona tauwe
aja’ mukaremoi kalobenna balibolamu
aja muajjulekkai becci’ e
De gagaje kapang sirina ..
we.. siri e mitu rionroang rilino
ko de’ gaga siri’ mu, ingrekko siri
ko ciako, unu banni pale’ alemu
ko ciako, iyya’pa pale’ gajang sumpangmu ...

de’ nalabu essoe ritengngana bittarae
sangadi dewatae teya, tolinoe massampeyang
nappai usalai jancikku ...

aga sije’tu, toli maddareke, mannau-nau
mannoko-noko
sakkada niga nanoko ..
larica ori bempa
Alla iita ale ..
daripada iko, toli mutappi sanru’ mu ...
burane aga iyye. Burane cappa’ loka
lelaki jantung pisang ...
aja’ naguttu bawang degaga bosi ...

e ... cappo’ ..
attongeng tongekkoje’ ....
itaka’ jolo’ ..
engka dua temmassarang
aja’ lalo mupassarangngi dua e
tannia tu ogi ko de’ nakkawali
naia kawalie sellaonai tauwe
salewangeng nyawae ko tiwikki kawali

kegai kawalimmu?
Pada engka manengmuiga tabawa?
o.. cappo’.. kegai mutaro kawalimmu?
Kegae yaseng kawali?

Engkahe yaseng kawali, akkalengmu ....
Parakaiwi kawalimmu ..
Naseng si kapang iyyaro yawa, kawali kunru...
Watsiyaabaka fathohhir
Paccingi wanuanna kawalimmu
Kega wanuawanna kawalimmu?
Iyyanahe wanuwanna, iyyanae yaseng pake-pake ogi; ati macinnong ...
Aja’ lalo mupassarangngi kawalimmu pole riwanuwanna
jangan coba engkau cabut badikmu dari sarungnya
uppanna-uppanna mucabu’ ...
abala’ tu pole, mau tidak mau
melo tokko tea tokko ga ...
ko tennia dara jinco .. makkanreitu laroca’ mangngaru’ labetta
maccallai labattoa .. ..

o.. peddi aja’ muonro
onro mokko katanu’ assaleng aja mumapeddi ...
itako reso, peddi palaoka, uddani palisuka
adadanna oto trek e ...

yaa ayyuhannaas .....
tanra-tanrana narekko meloni kame’ linoe
gilinni bebe’ maneng tau maccae ..

K-U-D-A aga bacana Nyareng ...
Bagus ....

Selangkah lagi manusia dibumi ini menjadi sampah
Cengeng, manja, sakit-sakitan, tidak punya kepercayaan diri
Alay, cabe-cabeang, banta beleng bengngo, dongo tongko
Tidak punya mental, dan hanya menyembah tai

Fastaghfir in lam yughorgir
Sebelum tiba pada peradaban ghorgoroh
Aku mengurai diri tanahku
Tanah-nuthfah-alaqoh-mudghoh-makhluk-
manusia-abdullah-khalifatullah ....
ubun-ubunku galaksi bima sakti
jidatku samudra cahaya energi
rambutku gelombang elektromagnetik frekuensi
Akalku badik
Mataku arung palakka
Telingaku daeng sutte
Tanganku kahar muzakkar
Hatiku syeikh yusuf
Lathifahku syeikh tosora
Rahasiaku imam lapeo
Bombang pitue imam mahdiku
Lapedde apinna cemme junnu’ku
Madrasahku kuburan wali
Nafsuku lagaligo
Lidahku nene’ mallomo
Pungngungku batara guru
Kelaminku sawerigading
Kakiku lamaddukkeleng
Thariqatku islam
Dadaku baitullah
Sempajakku teppettu
Jenne’ ku tellukka
Muhammad Baca-bacaku
tettokku alipu’
Alipu’ riase’na a
Lameng saddu lepa riase’na laa
Ha dapanna hu .......
Allahu ....

Rabu, 20 Januari 2016

Islam adalah .....

Islam itu keselamatan. Islam itu menyelamatkan. Islam itu tidak mengganggu harta benda orang lain. Islam itu tidak mencuri, tidak mengambil yang bukan haknya. Islam itu memuliakan, tidak menghina, tidak merendahkan martabat orang lain, islam itu saling mengangkat tanpa saling menjatuhkan. Islam itu tidak menyakiti hati tetangga, tidak menyinggung perasaan orang lain, islam itu tidak menceritakan aib sesamanya, tidak berbohong, tidak menipu, islam itu saling menjaga dan saling mengasuh. Islam itu tidak melukai fisik orang lain, apalagi sampai membunuh atau mengambil nyawa orang lain.

Islam itu kelembutan. Islam itu menolong orang yang walaupun orang itu membenci kita. Islam itu menjenguk orang sakit, mendoakan kesembuhannya, islam itu memberi makan orang yang lapar, menyapa orang yang kesepian. Islam itu memberi payung orang yang kehujanan. Islam itu memberi pakaian orang yang telanjang. Islam itu memberi tumpangan orang yang sedang jalan kaki. Islam itu kemaslahatan. Islam saling menghargai, saling memanusiakan dan saling menyenangkan hati. Islam itu kalau ada yang kotor dibersihkan, ada sampah dibuang pada tempatnya. Islam itu kalau ada yang rusak diperbaiki. Islam itu kebersamaan. Islam itu tidak sombong kalau dipuji dan tidak marah kalau tidak dipedulikan.

Islam itu rahmatan lil'alamin. Mencintai siapa saja. Menyayangi binatang dan tumbuhan. Islam itu menerima semua makhluk. Islam itu membantu orang yang kesulitan. Islam itu ada duri dijalan di singkirkan. Islam itu wajahnya semua adalah senyuman. Islam itu ucapannya santun, dan sopan perbuatannya bisa di ikuti orang lain. Islam itu menebarkan keindahan dan mengubur semua kebencian. Islam itu kebaikan, kebenaran dan keindahan. Islam itu uswatun hasanah. Islam adalah keteladanan. Islam itu tidak berburuk sangka. Islam itu melayani semua makhluk. Islam itu keindahan. Islam itu menegakkan keadilan, membebaskan yang tertindas, memerdekakan yang terjajah, dan menghapus bentuk-bentuk kezaliman.

Islam itu ketulusan dan keikhlasan. Islam itu kalau tangan kanan memberi, tangan kiri tidak usah tau. Islam itu menggembirakan. Islam itu menghibur teman yang sedang sedih. Islam itu melestarikan alam semesta. Islam itu tidak boros dan atau mubazir. Islam itu memangku bumi dan langit. Islam itu merangkul dan memeluk semua perbedaan; suku, ras, warna kulit, pendapat, agama, bangsa dan negara. Islam itu Menyatukan yang bercerai-berai. Islam itu persatuan umat manusia. Islam itu kebijaksanaan, tidak menyesatkan, tidak mengkafir-kafirkan orang lain, tidak jumud dan tidak kolot cara berfikirnya. Islam adalah pencerahan.

Islam itu ketenangan, kedamaian lahir bathin, kebahagiaan yang membahagiakan; untuk diri, keluarga, tetangga, masyarakat, dan dunia. Islam itu pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya, profesional dan proporsional. Islam itu yang muda menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Islam itu bertemu, menyapa, berkenalan, saling mengerti, saling memahami, saling menghargai, dan saling memberi rasa aman. Islam itu suami yang menafkahi anak dan istrinya. Islam itu istri yang melayani dan mengabdi kepada suami dan rumah tangganya. Islam itu anak yang berbakti kepada orang tuanya. Islam itu membantu pengemis, orang-orang lemah, islam itu menyantuni fakir miskin, memelihara anak yatim, gelandangan, orang gila, dan orang-orang terlantar lainnya.

Islam itu memberi manfaat dan menjadi manfaat bagi umat manusia. Islam adalah kasih sayang yang luas dan cinta yang begitu mendalam kepada semua makhluk. Islam adalah kebangkitan. Islam adalah pembersihan. Islam adalah moralitas, akhlak, dan adab. Islam adalah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi semua laranganNya. Islam adalah tuan rumah yang menghormati tamunya. Islam adalah tamu yang menghargai tuan rumah. Islam adalah silaturahmi yang kuat. Islam itu ilmu hidup. Islam adalah jalan lurus. Islam adalah rahmat yang di transformasi menjadi berkah. Islam adalah membagi yang bukan kesia-siaan. Islam itu berjamaah, bersama-sama, bekerjasama membangun peradaban yang thoyyibah wa robbun ghofur. Islam adalah kerukunan antar makhluk diatas bumi ini .....

Sabtu, 09 Januari 2016

Perjalanan Menuju Tuhan

Untuk anda pecinta tantangan dan petualangan. Bagi yang suka mendaki atap-atap dunia, memanjat tebing-tebing terjal nan curam, melintasi arus sungai yang jeram, menelusuri goa yang menakutkan, menerobos rimba belantara yang penuh binatang buas, melompat dari gedung ke gedung, berselancar di atas amukan ombak ganas, dan sebagainya. Jangan sombong dengan pencapaianmu. Itu belum seberapa. Itu bukan apa-apa.

Bagi teman-teman yang merasa punya kesaktian dan kehebatan. Yang punya ilmu kebal, bisa terbang dan menghilang, meremote hujan, memerintah jin, mengendarai angin, menguasai trik sulap dan ilusi, menjadi artis papan atas, menjadi pejabat, menjadi orang nomor satu, perusahaan besar dimana-mana, punya rumah mewah, mobil mewah, pesawat jet pribadi, punya jutaan followers, milyaran likers, bisa keliling dunia, gelar akademik berlapis-lapis, menulis ratusan buku, ribuan rekaman video, berton-ton foto selfie, berkarung-karung pangkat, sanggup membeli pulau, membeli wanita, dan seterusnya. Jangan besar kepala dulu. Itu belum seberapa. Itu bukan apa-apa.

Jika anda ingin mengukur seberapa tangguh dan kuatnya dirimu, menguji nyalimu yang sebenarnya, ingin membuktikan kehebatan yang sesungguhnya, melihat kesaktian yang benar-benar sakti, maka tak ada yang mengalahkan perjalanan menuju Tuhan. Inilah petualangan yang sejati dan tantangan yang paling hakiki. Pendakian tanpa puncak, penelusuran tanpa henti, pencarian tanpa ujung, melintasi batas-batas dunia sampai ke alam-alam tertentu.

Perjalanan menuju Tuhan adalah petualangan yang paling ekstrim. Paling berbahaya. penuh dengan rintangan dan penderitaan, halangan dan kepedihan. Paling menantang dan mengguncang adrenalin. Penuh dengan luka dan air mata cinta. Jangan disamakan dengan perjalanan menuju "wanita"... Heheheheh...

*silahkan dicoba kalau tidak percaya.

Terus belajar menjadi manusia


Ternyata menjadi manusia jauh lebih sukar dibanding menjadi pejabat, pengusaha, penceramah, pelajar, mahasiswa, dosen, seniman, budayawan, artis, dan seterusnya. Karena manusia memiliki wilayah kosmology yang jauh lebih luas. Mungkin karena untuk lulus menjadi manusia diperlukan kesiapan dan keberanian mental, dibutuhkan kedewasaan emosional, kemantapan intelektual, kesungguhan kultural dan kedalaman spiritual. Kurikulumnya lawhul mahfuzh, metodolgy pembelajarannya keteladanan, dimana calon-manusia harus memenuhi dan melalui banyak syarat-syarat yang berat dan tidak masuk akal. Karena sekolahnya manusia adalah pendidikan yang tidak hanya berfokus pada otak dan otot. Tapi lebih daripada itu. Untuk mendapat gelar manusia, orang harus menyelesaikan pendidikan panca indra dan pelatihan ruhani dulu. Harus melewati pembersihan qolbu. Dan harus mampu menjawab soal-soal ujian kehidupan yang diutus oleh Tuhan. Saksikanlah, karena wilayah itu diremehkan dan disepelekan, akhirnya jadi maka jadilah. Banyak orang berani menjadi ustadz, tapi tidak punya nyali untuk menjadi manusia. Banyak orang yang siap menjadi pengusaha tapi tidak siap jadi manusia. Ada yang Sukses menjadi pejabat tapi gagal jadi manusia. Dimaklumi, karena memang, menjadi manusia itu susahnya minta ampun. Butuh kesabaran yang ekstrim dan radikal untuk mencapainya. Maka beruntunglah bagi anda yang bisa menjadi seorang manusia.

Tentu saja manusia menurut saya disini berbeda dalam pandangan anda. Tidak apa-apa kita  berbeda, karena perbedaan mengajari kita untuk berkenalan dan saling menghargai. Perbedaan jualah yang membimbing kita untuk bersatu dan menyatu dalam bingkai perdamaian, bukan malah bercerai-berai dan menciptakan perpecahan. Manusia yang saya maksud disini adalah manusia yang memiliki kemanusiaan. Bukan manusia-manusia-an. Bukan yang sekedar manusia, atau asal manusia. Tetapi ruh-ruh yang memiliki kesadaran makhluk-hamba-khalifah, yang siap qolu balaa syahidnaa-nya, untuk membawa dan menebar nilai-nilai universal Tuhan; kebaikan, kebenaran dan keindahan. Mereka yang siap secara lahir bathin melakukan perjalananan spiritual- kemanusiaan di muka bumi ini, menjadi rahmatan lil'aalamiin. Menerima semua makhluk Tuhan di dunia. Oleh karena itu, bisa kita simpulkan untuk sementara bahwa yang banyak berkeliaran di planet ini sebenarnya bukanlah manusia tapi adalah makhluk yang mengaku-ngaku sebagai manusia. Atau lebih halusnya, humanisasi, makhluk yang masih sedang berproses menjadi manusia. Belum manusia.

Akhirnya, ada sebuah pertanyaan yang mungkin bisa kita jadikan bahan pemerenungan di kamar meditasi kita masing-masing, di ruang privasi kita. "Apakah kita adalah manusia yang sedang melakukan perjalanan ruhani, atau kita adalah mahkluk ruhani yang sedang melakukan perjalanan kemanusiaan didunia ini?" Memang ini begitu sulit dan rumit, sebab untuk menemukan jawabannya dibutuhkan meditasi yang panjang, memohon pertolongan cahaya hidayah dari Allah, limpahan cahaya ilmu dari baginda muhammad, juga bantuan ruhani dari para mursyid. Perjalanan inilah yang banyak orang enggan dan takut untuk memulainya, bahkan ada juga yang alergi dengan teori dan laku-prakteknya. Tapi itu tidak apa-apa. Sekali lagi setiap orang bebas-merdeka untuk memilih jalannya. Asal jalan yang dipilihnya itu mampu mendekatkannya pada Tuhan, bukan malah menjauhkan. Maka setiap saat sebenarnya kita harus dan terus mempertanyakan kepada diri kita, tentang segala sesuatu yang kita lakukan. Apakah yang saya kerjakan ini dicintai-diridhoi oleh Tuhan atau sebaliknya? Apakah Tuhan tidak marah kalau saya melakukan ini itu? Apakah ini sudah sesuai syariat atau tidak? Apakah saya sudah menjadi manusia atau belum? Mesti ada wawancara eksklusif terhadap diri sejati kita masing-masing. Spiritual self-interview, istilah saya.

Ada yang mengatakan, bahwa semakin banyak kita melakukan aktivitas kemanusiaan maka semakin manusialah diri kita. Aktivitas kemanusiaan disini adalah menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya. Sholat adalah salah satu pelatihan paling efektif untuk menjadi manusia. Inna assholata tanhaa 'anil fahsya' walmunkar. Demikian Puasa, zakat, dzikir, membantu orang, berbakti kepada orang tua, menghormati sesama, melestarikan lingkungan, menghidupi keluarga, menyayangi binatang, menuntut ilmu, kesemuanya adalah bagian atau metodology untuk naik kelas dari makhluk ke level manusia. Kalau tidak, mohon maaf, anda tidak layak disebut sebagai manusia. Anda hanya makhluk yang menyerupai manusia. Sekali lagi ini versi saya, anda boleh mengangguk setuju atau sebaliknya menggelengkan kepala sebagai tanda lagi bingung. Syariat adalah keniscayaan. Manusia dan sholat tidak bisa dipisahkan. Jika ada manusia yang meninggalkan sholat, maka hilanglah kemanusiaannya, dan itu sama saja matahari yang berhenti memancarkan cahayanya ke bumi. Wallohu a'lam

Jumat, 08 Januari 2016

Aja' naguttu bawang, dE' gaga bosi ...

Jangan hanya guntur, tapi tidak ada hujan. Petir tanpa hujan. Terjemahnya kurang lebih seperti itu, tapi ada makna yang mendalam tersembunyi dibalik ekspresi canda ini. Mungkin saja itu sejenis majas yang dibikin orang bugis atau semacam kalimat balaghoh dalam ilmu bahasa arab. Biasanya kalimat diatas diucapkan saat seseorang tidak percaya pada kata-kata atau janji orang lain kepadanya. Seolah-olah ingin mengatakan "tongeng mogajE' tu bellEmu?", atau mana bukti dari omonganmu itu?. Jadi ungkapan "aja' naguttu bawang, dE' gaga bosi" bermaksud menyindir atau mengejek orang-orang yang suka membual. Adalah untuk orang-orang yang ucapannya tidak sehati dengan kenyataan, tidak sesuai perkataan dengan perbuatannya. Sangat jauh dari filosofi "taro ada taro gau'.

Tulisan ini sebenarnya ditujukan kepada penulisnya sendiri, yang suka memuntahkan kata-kata tapi dia (saya) sendiri tidak bisa mengamalkannya. Sangat rajin memproduksi omong besar tapi ternyata aksinya nol, kerjanya nihil dan kosong. Talk more do nothing. Cerutu---cerita campuru' ettu, demikianlah adanya. Bahwa penulis adalah contoh dan bukti dari fenomena yang sedang naik daun ini, ironi yang akhirnya menjadi mainstream dalam masyarakat kita; pandai menyampaikan nasehat tapi dia (saya) sendiri tidak menjalankan nasehatnya. Tulis sana tulis sini, kutip sana kutip sini, copy sini paste sana, jagonya sebatas dimulut, dakwahnya berhasil tapi hanya sampai dibaju kaosnya saja. Tidak tembus ke qolbu dan lathifahnya. Kampanye kebaikannya sukses menjadi gaya dalam peradaban umat manusia. Maka, bersama-sama mari kita lontarkan idiom yang berbunyi "gayanaji", tapi tolong diputar dan diarahkan kepada diri kita masing-masing. Addampengi kasi' atammu, puang.

Memang, kini kita bisa menikmati nasehat bertebaran dimana-mana, kata mutiara berserakan di facebook, kalimat motivasi bertaburan, pesan-pesan moral berseliweran, kemanapun wajah menghadap disitu ada ajaran kebaikan, kadang disertai ayat dan juga hadits (supaya lebih kelihatan alim), tayangan inspiratif meningkat pesat, perbincangan tashawuf menjamur di warkop-warkop, namun fakta yang terjadi dilapangan kesehariannya sangat mengecewakan. Verb ordinary-nya tak seindah postingannya. Tingkah lakunya sangat tidak sama dengan rekaman videonya. Inilah membuat saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh orang bijak di amrik "easier said than done", mengatakan itu selalu lebih mudah daripada melaksanakan. lalu iwan fals lewat lagunya mempertegasnya pula " kalau hanya omong---burung beo pun bisa". Terjadi banjir kata-kata, tapi disaat yang bersamaan--- kemarau moral, kekeringan ruhani, kemunafikan hati juga terjadi ditempat yang sama. Puji Tuhan, indonesia kekurangan manusia teladan.

Ya, aja' naguttu bawang dEgaga bosi. Ceramahnya tentang kesederhanaan, tapi dia sendiri hidup bermewah-mewahan, bajunya bertuliskan "lestarikan alam" tapi dia sendiri buang sampah sembarangan, statusnya kampanye budaya tapi tidak punya pessE (solidaritas) kepada sesama, selalu menganjurkan umat untuk bersedekah tapi dia sendiri pelit bin bakhil, senantiasa mengajak orang lain untuk saling menghargai, bersikap toleran, saling memahami sesama tapi dia sendiri baku bomE' (tidak akur) bahkan suka bertengkar dengan tetangganya. Apaan ini? Mendakwahkan agama yang penuh cinta, dengan nabinya yang sangat santun dan lembut tapi ternyata dia sendiri yang mengobarkan api permusuhan, gampang marah dan mengamuk, menebar cinta dengan penuh kebencian dan kekerasan. Disaat orang tengah berusaha mengislamkan dirinya, menyempurnakan islamnya, justru dia tampil "over-confident" mengkafir-kafirkan dan menyesatkan orang. Alimnya munafik, pandainya pandir, kebaikannya dalam rangka ini itu, senyum dan kasih sayangnya pura-pura, karena selalu ada udang dibalik batunya. Aduh, sekali lagi "peradaban macam apa ini?----peradaban yang dangkal" kata rendra.

Namun demikian, ditengah hamparan kegelapan ini, masih ada ternyata  titik cahaya yang tulus menjadi obor ilahi, masih ada semacam kenduri cinta, orang-orang maiyah, manusia-manusia yang mengasingkan diri secara prinsip dan fikiran, yang fisiknya tetap aktif bekerja, berjuang, tidak berhenti berendah hati untuk belajar, tidak bosan menjadi orang baik, menebar cinta dan mengubur kebencian. Terang dalam kegelapan. Memilih untuk menempuh jalan sunyi yang dianggap oleh orang lain menyimpang karena berbeda dengan orang-orang mainstream. Mengutamakan dakwah dengan perbuatan. Menjadi uswatun hasanah, bukan uswatun khayalan.

Akhirnya, banyak orang yang bisa memberimu nasehat, tapi sangat sulit menemukan orang yang bisa memberimu teladan. Seorang kyai berkata kepada santri-santrinya; " seandainya setiap orang mampu memperbaiki satunya, maka semua orang akan menjadi baik". Pesannya adalah keteladanan. Jadilah contoh yang baik untuk orang-orang disekitarmu. Mulailah dari dirimu sendiri dan keluargamu. Subhanallah, sekali lagi tulisan ini adalah pelajaran untuk saya sendiri sekaligus sebagai respon kepada seorang tua misterius yang berkata "aja' naguttu bawang, dE'gaga bosi". Semoga bermanfaat untuk saya dan non-saya.

" sadda mappabati ada
Ada mappabati gau'
Gau' mappabati tau"

Berwudhu dari najis-najis indonesia


Mungkin. Karena saking lamanya manusia-manusia membarat-baratkankan dirinya, meng-korea-koreakan lingkungannya,  men-sinetronkan hidupnya, men-televisikan cara berfikirnya, mem-facebook-kan masalahnya, meng-artiskan gayanya, meng-setankan tingkah lakunya, pada akhirnya dinding hijab yang seharusnya disingkap malah semakin tebal dan membatu. Manusia semakin jauh dari dirinya yang sejati karena sibuk menjadi diri orang lain. Apa yang dilihat oleh mata dagingnya dan dilakukan oleh orang banyak atau oleh orang yang mereka anggap populer, di ikuti begitu saja tanpa proses ijtihad hati dan fikirannya. Taqlid babi buta. Sehingga tidak ada lagi pertimbangan kepantasan dan kewajaran, pertimbangan moral, kultural, intelektual serta pertimbangan spiritual. Manusia dihipnotis dan disihir secara massal lewat media cetak, tv, internet, buku-buku brain-washing, fashion, teknologi, sekolahan dan lewat apa saja yang mereka anggap mampu meng-ada-kan dirinya, agar dapat diakui dan diterima oleh dunia yang mereka sembah. Apa boleh buat, kini manusia sudah memasuki peradaban besar "najis mughallazah". Puncak dari segala kotoran, lebih kotor dari comberan, lebih busuk dari tinjanya sendiri. Hal-hal yang seharusnya tidak menjadi komsumsi mata dan akal sehat, sekarang sudah terhampar secara gratis dimana-mana. Kita bisa menikmati dan mengaksesnya sesuka hati, baik di dunia maya maupun alam nyata. Subhanallah. Hanya Allah yang maha suci lagi maha mensucikan.

Saksikanlah. Wanita sekarang tak secantik foto profilnya, lelaki tak lagi setulus ijab-qobulnya, pemerintah tak sebaik pencitraannya, ustadz tak seperti isi ceramahnya,  orang diperbudak oleh uang dan nafsu belaka, diremote oleh android ditangannya, dikontrol dan dikuasai oleh the invisible tangan zholim,  tak dapat lagi dibedakan mana roti mana tai, mana pacar mana pelacur, mana pejabat mana pe-bejat, mana setan mana malaikat, mana ustadz dan mana penipu penjual ayat. Kita tak lagi memiliki kesanggupan untuk memahami peristiwa, yang mana baik dan mana yang buruk, mana cahaya mana kegelapan, mana kebangkitan mana kehancuran, mana islam dan mana ngaku islam, benar-salah, indah-jorok, mulia-hina, sejati-semu, isi-bungkus, machine-chasing, halal-haram, perintah-larangan dan seterusnya. Sekali lagi semua kini serba wallahu a'lam. Sayang, wallahu a'lamnya sebatas bibir tidak tembus ke akal dan qalbunya. Teori "iqra'nya" tidak sampai pada bismi robbiKalladzii kholaq. Mungkin memang sudah waktunya manusia membersihkan diri jasadnya (jEnnE' marica'), mensucikan niat, hati dan fikiran (jEnnE' dE' E namarica') dari najis-najis kehidupan. Berwudhu lahir bathin.

Pertanyaanya. apakah manusia siap dan mau membersihkan dirinya? atau maunya manusia dibersihkan oleh Tuhan? Kalau manusia tidak segera bertaubat dan mengambil wudhu, maka ada kemungkinan Tuhan yang akan turun tangan langsung membersihkannya, dengan mengirim utusan-utusan yang menakutkan. seperti yang terjadi pada peristiwa banjir Nuh. Yang konon kurang lebih 950 tahun berdakwah, mengajak manusia dizamannya untuk beriman kepada Allah. Tapi ternyata yang tersentuh hidayah cuma dapat dihitung jari-jari. Akhirnya malaikat memprovokasi nabi nuh agar kaumnya dimusnahkan saja. Maka berdoalah beliau dan akhirnya diberi petunjuk membangun bahtera keselamatan. Perahu yang hanya mampu menampung orang-orang yang ruhaninya bersih dari najis kehidupan. Hanya orang-orang yang telah berwudhulah yang akan diberi hidayah kesanggupan untuk menaiki bahtera iman yang dibikin oleh nabi nuh sehingga disembunyikan dan diselamatkan dari bencana banjir yang di kirim oleh Tuhan. Dan kita tidak usah kaget kalau kejadian itu terulang kembali, meski mungkin nanti bisa jadi peristiwanya dalam bentuk, mekanisme dan setting yang berbeda. Dan anda dipersilahkan untuk membikin perahu yang lebih besar, lebih kuat dan lebih canggih. Tapi ingat satu hal, kalau hatimu kotor, perilakumu buruk, perahu secanggih dan semodern apapun tidak bisa menyelamatkanmu. Hayhaata yaa akhii...!!! Saya bersyukur kepada Tuhan, bencana besar ditunda sementara waktu.

Entah apa yang ada dalam benak manusia masa kini. Mungkin dikiranya Tuhan ini tidak bisa murka, disangkanya Tuhan tidak tau berlaku jahat. "Kalau memang engkau mau menyaksikan kejahatanKu" kataTuhan, maka engkau akan segera menyaksikannnya. Tunggu saja. Tetaplah seperti itu. Tidak usah bertaubat. Teruskan saja perbuatan burukmu itu. Just wait and see..!!! Tunggu saja tanggal mainnya. Tuhan akan membuktikan kejahatannya. Lantas nanti akalmu menyimpulkan, bahwa ternyata Tuhan juga maha jahat? Tukang marah, pendendam, penghukum dan penghancur? Sungguh kalau sekiranya dzikirmu mampu menggapai, menyentuh dan menembus lapisan qolbumu yang terdalam, adalah Sirr dan lathifahmu, maka penglihatanmu akan mengerti. Bahwa yang menghukummu bukanlah Tuhan. Yang membakarmu itu adalah nafsumu sendiri. Yang menyiksamu bukanlah Tuhan, melainkan ucapan dan perilakumu sendiri. Sebagaimana seorang pasien yang tak sembuh-sembuh dari sakitnya, karena menyepelekan dan mengabaikan intruksi dan nasehat dokternya. Tidak meminum obat yang diresepkan sang dokter, melanggar pantangan atau larangan yang telah di sampaikan dokternya. Maka sakitnya yang tak sembuh bahkan bertambah parah itu akibat dari kelalaian dan kebodohannya sendiri. Bukan kesalahan sang dokter. Aku berlindung kepada Allah dari setan diriku, dari keburukan dan kelalaianku sendiri.

Sekarang. Mari kita berwudhu dari najis-najis indonesia, bertaubat dari hadas dunia, dari kotoran-kotoran zaman, dari comberan peradaban, dari sejarah yang dipalsukan, dari teknologi yang menghancurkan, dari fikiran dan hati yang menjerumuskan, dari informasi yang menyesatkan, dari nafsu yang menggelapkan, dari semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat kita lalai dan jauh dari Tuhan. Segeralah, li alla yatarokama dzunub fi qolbihi----li alla yafja-a almawt. Supaya tidak menumpuk dosa dihati kita, sebelum nyawa dicabut dan dipisahkan dari jasad. Segeralah sebelum terlambat. "Jadilah orang baik menurut Allah, bukan menurut manusia" kata syeikh abdul qodir jailani. Semoga bermanfaat..

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab