Rabu, 21 Agustus 2019

Sehari-hari Bertauhid

Tauhid. Menurut pengertian sehari-hari saya, tauhid itu bukan (sekedar) meng-satu-kan atau meng-esa-kan atau meng-ahad-kan Tuhan. Sebab Tuhan, mau dibagaimanapun tetap ahad. Tetap satu. Satu yang bukan angka, bukan pula kerangka. Satu-Nya "laisa kamitslihi syaiun". Sekalipun seluruh manusia seplanet bumi menyekutukan atau menduakanNya setiap hari, Huwa tetap ahad. Sebagaimana yang ditegaskan oleh "Qul huwa Allahu ahad".

Tauhid (justru) adalah menyatukan Makhluk Tuhan yang selalu punya kecenderungan untuk bercerai berai. Terutama bagi makhluk jin dan manusia. Yang sukanya bikin kelompok-kelompok lalu dengan gampangnya bertengkar, menganggap perbedaan itu bukan rahmat melainkan alat untuk saling menghancurkan. Yang tidak mau mentadabburi bahwa perbedaan itu sengaja Tuhan ciptakan sebagai peluang-peluang untuk saling berkasih sayang dan bermesraan satu sama lain.

Tauhid adalah kesadaran lahir bathin makhluk yang berbeda-beda dalam banyak hal tapi tidak lupa berdzikir bahwa Tuhan tetap satu adaNya. Tauhid islam mengajak untuk membangun kerjasama dan kebersamaan antar makhluk. Juga sebagai kritik universal untuk mereka-mereka yang hobinya bikin geng-geng religius lantas saling mengkafirkan, yang kebiasaannya membanggakan diri, menyombongkan organisasi dan komunitasnya, angkuh karena nasab-keluarga, suku, ras, bangsa, agama, aliran, Mazhab, sekolah-kampus, parpol atau seterusnya. Juga bagi mereka-mereka yang profesional kerjanya adalah merancang perang-perang panjang, mengadakan proyek adu domba, serta menyelengarakan berbagai pesta nuklir dan lautan darah. Maka Tauhid sebagai media kasih sayang dari Tuhan didatangkan untuk menghindarkan dan menghentikan semua kemungkinan dan realitas yang memalukan itu.

Tauhid Islam hadir untuk memberikan wawasan keilahian beupa tawaran "lita'arofu" sebagai metodolgy tahap awalnya. Mempertemukan dan mengenalkan. Mendekatkan mereka yang berjauh-jauhan secara ruhani, untuk bersama-sama menyalakan cahaya perdamaian---meskipun kenyataannya mereka berbeda-beda. sehingga kelak akan ada rasa saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, saling menyati, saling mencintai dan akhirnya mampu untuk saling menyelamatkan (Muslim) dan saling memberi rasa aman satu sama lain (mukmin). Puncaknya adalah "Inna akromakum 'indallah atqokum----menjadi manusia taqwa" yang rahmatan lil'alamiin. Bukan "laknatan Lil'alamiin".

Akan tetapi, tetap saja ini hanyalah tawaran saja, sebab "laa ikroha fiddiin" memang diperuntukkan bagi manusia yang telah difasilitasi teknologi qolbu dalam rangka "yafqohuuna bihaa". Makhluk Tuhan yang paling "ahsani taqwiim", yang diberi potensi kelebihan berfikir, keistimewaan merenung di goa hiranya, bermeditasi, meneliti, mengkaji, mengaji dan mentadabburi ayat-ayatNya. Meskipun demikian, tawaran Tuhan ini kadang-kadang harus dimaknai sebagai ujian bagi manusia yang konon banyak juga menjadi besar kepalanya karena merasa bangga sebagai ciptaan paling lengkap dan sempurna dibanding ciptaan Tuhan yang lain. Sehingga seringkali tidak " yatafaqqahu fiddiin" bahkan banyak yang meremehkan dan merendahkan ciptaan lain. Persis kelakuan dan keakuan iblis. Mari berlindung kepada Tuhan dari trik dan tipuan setan dalam pikiran kita yang terkutuk ini.

Akhirnya, tauhid harus dipahami dengan penuh kerendahan hati. Dan manusia juga harus sadar bahwa tidak semua hal bisa mereka kuasai, tidak setiap masalah bisa mereka selesaikan. Seperti persoalan yang telah-sedang-akan menimpa Indonesia dan umat islam, disitu Tuhan bekerja dengan begitu senyap dan sangat misterius. Maka tidak ada cara lain selain senantiasa memohon pertolongan dan pengasuhanNya yang maha agung. Juga apa saja yang melanda fikiran dan hati, selalu kita sandarkan kepadaNya---Huwa Allahu Ahad. Ditemani oleh cahaya abadi Baginda Muhammad Rasulullah Saw. Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Berkeluarga dan menjaga sakinah-mawadah-warahmahnya adalah cahaya tauhid yang berpendar-pendar. Di dalamnya adalah Penyatuan dua insan yang pasti berbeda karakternya, penyatuan dua keluarga, penyatuan bathin antar individu setiap keluarga. Sehingga lahirlah kebersamaan dan kemesraan karena hadirnya kasih sayang di dalamnya. Peristiwa saling memahami, saling menyempurnakan, juga adanya frekwensi pemaafan, masing-masing mengerti syariat, tentang kewajiban dan haknya, saling mendoakan, bekerja sama saling menempatkan diri pada posisi-perannya, dan sebagainya.

Mulailah dari yang sederhana. Peristiwa tauhid bisa kita saksikan, lakukan dan rasakan di mana saja kapan saja. Tauhid adalah berkumpul, berbagi senyum dan saling menghibur. Tauhid adalah bertemu, bersilaturahmi dan berdiskusi. Tauhid adalah sholat berjamaah, dzikir bersama, menjenguk yang sakit, menolong yang butuh, menyapa yang kesepian, gotong royong, kerja bakti sosial, melestarikan alam, menyayangi binatang, mentraktir teman minum kopi, menikah, main teater dan atau bermain musik. Tauhid adalah memerangi kebodohan dan kedangkalan berfikir, melawan ego diri sendiri, menegakkan yang runtuh, membangkitkan yang jatuh, menerangi yang gelap, memperbaiki yang rusak, membersihkan yang kotor, dan silahkan anda terus kan sendiri.

Tauhid adalah persatuan Indonesia, kemesraan umat manusia seluruh dunia, dan kebersamaan cinta semua makhluk beribadah-mengabdi kepada Allah Swt. Wallohu a'lam

Perihal Pujian


Pujian. Apa sih itu pujian? Coba kita pikirkan dulu sebentar. Saya beri waktu lima menit. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit.

Ah, daripada pusing, mari kita cari tahu bersama-sama.

Pernahkah seseorang mengucap padamu kata-kata yang membuat kamu tersanjung, hatimu menjadi senang tidak karuan, di jiwamu seketika tumbuh bermekaran bunga-bunga yang beraneka warna, hormon tertentu di dalam tubuh mengalirkan sesuatu yang terasa nikmat di otakmu, nafasmu sejuk dan melegakan, lalu tiba-tiba volume kepalamu mungkin sedikit membesar bangga, dan konon kadang ada yang sampai klepek-klepek karenanya?

Nah, kalau kejadian semacam itu terjadi padamu, maka menurut saya, kamu sedang mengalami peristiwa yang sedang kita kaji dan ngaji bersama ini. Orang-orang di bumi bagian indonesia bersepakat menyebutnya sebagai "pujian". Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai peristiwa "Alhamdulillah", lebih lengkapnya peristiwa "Alhamdulillahi robbil 'aalamiin. Ya, saat ada yang memuji kita, maka sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu, mau atau tidak mau, sebenarnya itu adalah semata-mata maha-pujian kepada Allah sang pemilik segala bentuk pujian. Maka saat orang memujimu, berterima kasihlah padanya. Minimal dalam hati kalau kamu gengsi mengatakannya. Bergembiralah. Bersyukurlah. Tapi saat kamu terima pujian itu, jangan disimpan lama-lama. Setelah kegembiraanmu, segeralah kembalikan pujian itu kepada pemilik dan mahasumber dari keseluruhan-menyeluruh pujian itu; Allah. Sebab kalau pujian itu dipeluk erat dan dimasukkan terlalu rapat di dalam hati, bisa jadi ia berevolusi menjadi kebanggaan, dan kelak kebanggaan itu yang akan bertransformasi menjadi kesombongan. Dan kalau manusia sudah sombong, maka tamatlah riwayat kemuliaannya. Be careful!

After All, Pujian adalah ungkapan ketakjuban, untaian kekaguman, bentuk luapan keterpesonaan, wujud penghormatan dan pemuliaan sebagai respon positif atas kebaikan atau keindahan yang kita saksikan. Pujian atau memuji adalah pekerjaan yang mulia. Diperuntukkan untuk orang mulia, dan dilakukan oleh orang yang juga tentu mulia. Maka Berkenaan dengan soal "memuji" ini, saya teringat dengan sabda leluhur; "narEkko mupakalaq bi i padammu rupa tau, alEmu tu mupakalaq bi". Kalau engkau memuji atau memuliakan sesamamu, sungguh hakikatnya engkau sedang memuliakan dirimu sendiri. Ya, engkau sedang memuliakan pribadimu; Identitas dan personalitasmu. Bahkan keluargamu, organisasimu, negaramu, dan agamamu. Kurang lebih begitu terjemahan saya. Kurang lebihnya mohon dimaklum-maafkan.

Otherwise, perlu direnung-fikirkan, saat orang-orang memuji kita, maka berusahalah agar kita memang pantas menerima pujian itu. Saat mereka memuliakan kita, tetaplah berusaha agar kita layak  mendapatkan kemuliaan tersebut. Saat mereka berbuat baik kepada kita, pastikan bahwa kita memang orang baik yang berhak atas kebaikan mereka. Semoga pujian mereka tidak salah alamat, tidak sia-sia dan tidak menjadi semacam ironi buat kita. Sebab, tidak sedikit orang yang dipuji bukan karena mereka pantas dipuji, melainkan karena orang-orang di dekatnya adalah pribadi-pribadi mulia yang tidak kikir memberikan pujian kepada siapa saja. Orang-orang yang berinteraksi dengannya baik di dunia nyata maupun maya adalah jiwa-jiwa suci yang gemar menebar cinta, menyebar kebaikan, dan tidak pernah bosan mengabar kemuliaan.

Wal-akhir, kita jangan cepat merasa mulia ketika dimuliakan. Jangan buru-buru merasa telah menjadi orang baik ketika menerima kebaikan. Jangan merasa menjadi orang terpuji ketika menerima sanjungan. Sebab, kemuliaan, kebaikan, dan sanjungan yang kita terima, bisa jadi muncul bukan dari kualitas kita, melainkan dari kualitas orang-orang hebat di luar kita. Justru merekalah sebenarnya yang mulia, yang terpuji, yang pantas menerima kebaikan itu. Dan toh kalau ditelusuri dengan sabar dan tawakkal--- sebagaimana yang saya ungkap di atas, pujian itu adalah hadiah dan anugrahNya kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita. Orang yang memuji kita hanyalah wasilahnya, perantara saja. Tapi hakikatnya, yang memuji dan dipuji adalah Allah. Sehingga yang sungguh layak dan yang mahapantas menerima pujian itu hanyalah Dia, Tuhan seru-sekalian alam. Demikianlah perihal ini saya sampaikan. Atas perhatiannya diucapkan Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam.

Selasa, 06 Agustus 2019

Sekolah Apa Itu?

Mungkin sudah saatnya kita mengakui secara jujur dan terbuka. Bahwa sekolahan kita yang ada sekarang ini, yang selama ini kita bangga-banggakan keberadaan dan sistemnya, adalah suatu kegagalan. Tentu saja tidak semuanya gagal. Tapi hampir semuanya. Ya, gagal tapi Alhamdulillah tidak dalam keadaan gagal yang paripurna dan total. Maksudnya, masih ada sekian persen unsur keberhasilannya sehingga sangat naif jika kita tuduh ia gagal secara komprehensif. Apalagi ini juga baru sekedar khayalan kritis saya saja. Jadi, apapun yang menjadi pembahasan di sini, anggap saja sebagai kentut ilmiah. Cium baunya lalu lupakan dan biarkan berlalu. Heuheu

Walhasil, meskipun begitu, masih banyak alasan untuk mempertahankan sekolahan yang kita cintai ini. Sungguh masih banyak kemuliaannya. Misalnya, kita masih bisa menyaksikan beberapa pencapaian luar biasa yang dihasilkan oleh para sarjanawan kita. Kepandaiannya menipu, memanipulasi, dan mensiasati kehidupan. Mereka paling tidak, sudah memiliki kemampuan survive di atas normal. Mereka sudah bisa menggunakan otaknya untuk menghasilkan uang. Minimal posisinya sedikit di atas binatang yang tidak mengenal peradaban uang. Dan kita jangan menuntut mereka supaya jadi orang baik atau sholeh di dalam masyarakat. Jangan dipaksa dan dibebani mereka untuk jujur dan sabar saat bekerja. Karena, mohon maaf, saat menempuh pembelajaran dan perkuliahan di dunia sekolahan dan kampus, mereka para ilmuwan itu memang tidak pernah diajari, dididik dan di bimbing untuk menjadi orang baik. Karena hampir keseluruhan sistem dan kurikulum kita memang arahnya bukan kesitu. Mereka memang hanya di tuntun untuk menjadi orang pandai, cerdas atau genius. Puncaknya menjadi buruh atau karyawan di perusahaan tertentu.

Jadi, jangan salahkan mahasiswa yang menghamili pacarnya, jangan marah kepada pegawai yang malas, guru atau dosen yang suka bolos, jangan mencela pejabat yang korupsi, dan kita juga tidak usah shock jika mendapati siswa atau mahasiswa yang tawuran, mengkonsumsi narkoba, atau bahkan durhaka kepada orang tuanya. Kenapa? Ya, karena soal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem yang diterapkan di sekolahan kita. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional kita.

Wal-hasil, apa yang harus dilakukan? Ya, tidak usah melakukan apa-apa. Who cares? Kalau pemerintah saja tidak peduli, buat apa kita ikut-ikutan peduli. Hanya menghabiskan umur saja. Atau kalau Anda serius, coba bikinlah sekolah tandingan, madrasah alternatif, sekolah yang tidak sama dengan sistem sekolahan kita yang sekarang. Tidak sama dalam artian benar-benar beda. Fokusnya mungkin pendidikan ihsan, mengenal diri, Budi pekerti, Akhlakul Karimah, kurikulumnya tasawuf, bimbingan dunia-akhirat, jurusan kehidupan dan kematian, program studi kebaikan, mata kuliah cinta, tolong menolong, bertani, berkarya, mengembangkan bakat-bakat super dan potensi diri, dzikir, silat, kebebasan, kesabaran, keikhlasan dan sebagainya dan seterusnya.

Maksud saya, silah bikin sekolah itu untuk diri masing-masing. Heuheu

Selasa, 30 Juli 2019

Hari Raya Untuk Kekasih

Setiap kebahagiaan, seharusnya diupacarakan. Minimal dengan sesujud syukur atau dengan kopi secangkir. Itulah pernyataan paling puitis dan hormat terbaik kita atas nikmat indahnya kehidupan. Kita jangan sampai cuek dan pelit untuk merayakannya.

Hari ini, kekasihku diwisuda. Setelah berbulan-bulan berjihad, begadang berkelahi dengan thesis sastranya. Usaha keras dan doanya selama ini telah terbalas lunas dengan gelar Master of Art. Dia yang diwisuda tapi saya yang besar kepala, bangga bertubi-tubi atas kesuksesannya.

Saya bahagia. Sangat bahagia! Kebahagiaan seperti ini sungguh istimewa. Saya akan merasa sangat berdosa dan masuk neraka jika sampai tidak merayakannya. Dulu, saat dia pindah ke kontrakan barunya, saya juga diam-diam merayakannya. Saya mengajak kawan-kawan saya ngumpul, saya traktir teh gelas dan bertumpuk-tumpuk kwaci. Pokoknya saat itu kita makan kwaci sampai bodo'. Ya, Perayaan itu kan tidak mesti selalu meriah dan mewah. Sebab yang terpenting adalah ungkapan kegembiraan di dalamnya. Yang utama adalah semangat berbagi kebahagiaan kepada sesama. Itulah nasehat bijak yang selalu kuingat dari semesta. Syukur Alhamdulillah.

Maka, di hari yang indah dan bercahaya, kembali saya mengajak kawan-kawan untuk ngopi. Pokoknya saya yang traktir. Silahkan pesan sepuasnya. Asal jangan lebih dari sepuluh ribu tiap kepala. Kantong saya bisa sobek. Dompet saya bisa bangkrut. Lagipula, tuhan tidak senang dengan yang berlebihan dan melampaui batas. Iya kan? Jadi, mohon pengertian dan makrifatnya. Tapi sekali lagi, silahkan pesan apa saja. Saya yang bayar! Tentu saja, tanpa sepengetahuan kekasih saya. Dia tidak perlu tahu. Cukup tuhan dan kawan-kawan saya yang tahu. Tahu bahwa saya sangat mencintai dan sungguh mengagumi semua tentang dia. Cantik, cerdas, baik hati dan menyenangkan. Nikmat tuhan mana lagi yang saya dustakan?

Selamat dan sukses selalu wahai kekasih!



Parepare, 25 Juli 2019

Selasa, 16 Juli 2019

Renungan Jamban

Apa kabar wahai diriku sendiri?
Jangan terburu-buru menjawabnya wahai diriku.
Ini bukan pertanyaan basa-basi,
seperti saat kau bertemu kawan-kawanmu
Jangan tergesa-gesa meresponnya duhai diriku
Renung-renungkanlah sejenak dulu
Satu dua tiga atau tujuh menit kalau perlu.

Apa kabarmu?
Yang aku tanyakan bukan sekedar kabarmu
Aku tanya apa kabar kesehatanmu?
Apa kabar jasmani dan ruhanimu?
Apa kabar lahir dan bathinmu?
Apa kabar dunia dan akhiratmu?
Apa kabar keluargamu?
Apa kabar tetanggamu?
Apa kabar negaramu?
Apa kabar agamamu?
Apa kabar pekerjaanmu?
Apa kabar syahadatmu?
Apa kabar mereka wahai diriku?

Apa kabar ramadhanmu?
Kau isi dengan apa ramadhanmu?
Dengan kewajiban atau pelanggaran?
Dengan cahaya atau kegelapan?
Dengan rahmat ataukah laknat?
Dengan keyakinan atau kepura-pura-an?
Dengan kesungguhan atau hanya kau anggap sebagai mainan?
Dengan merahasiakan atau mempertontonkan?
Dengan apa wahai diriku?

Apa kabar puasamu, wahai diriku?
Masihkah ia sekedar lapar dan haus belaka?
Masihkah bukamu balas dendam nafsu semata?
Apa kabar semua panca indramu?
Masihkah mata-telinga-hidung-mulut-perut-kaki-tangamu tidak engkau puasakan,
Berpuasa dari segala yang tidak diridhoiNya?

Apa kabar hati dan pikiranmu?
Masihkah ia kotor, kerdil dan pelupa?
Lupa menghubung kepada Tuhan
Apa kabar kebaikanmu?
Masihkah ia engkau ungkit-angkuhkan?
Masihkah ia engkau sebut-sebut-banggakan?
Lalu apa kabar keburukanmu?
Masihkah ia engkau remeh-sepelekan?
Masihkah ia engkau terus-lanjutkan?
Apa kabar dosa-dosamu?
Masihkah ia engkau tidak taubat-nasuha-kan?
Sampai kapan wahai diriku?

Apa kabar ibadah-ibadahmu?
Masihkah pahala dan surga sebagai tujuan utamanya?
Masihkah takut murka dan siksa neraka sebagai alasannya?
Trus kapan Tuhan sebagai niat dan tujuan sejatimu?
Kapan Cahaya Muhammad sebagai penolong abadimu?
Kapan wahai diriku sendiri?

Apa kabar saudara-saudaramu?
Masihkah ia engkau riset kekurangan-kelemahannya?
Masihkah ia engkau gosip-show-kan aib-kesalahannya?
Masihkah ia engkau benci dan jadikan sebagai musuhmu?
Trus kapan engkau meneliti-mengecek cacat dirimu?
Kapan engkau punya waktu bercinta dan bermesraan dengan sesama ciptaanNya?
Kapan wahai diriku?

Apa kabar indonesiamu?
Masihkah engkau mengkritik busuk pemerintahnya?
Masihkah engkau mengutuk bobrok pejabatnya?
Trus kapan engkau memuji perjuangan mereka?
Kapan engkau mendoakan kebaikan mereka?
Kapan wahai diriku?

Apa kabar agamamu?
Masihkah engkau berdebat urusan fiqhinya?
Masihkah engkau menyalahkan mereka yang berbeda?
Masihkah engkau mengkafir-kafir-sesatkan selainmu?
Masihkah engkau trus bertengkar karena agama?
Masihkah engkau trus berperang atas nama Tuhan yang ada di konsep kepala dan duburmu?
Sampai kapan wahai diriku? Sampai kapan?

Apa kabarmu wahai saudaraku?

Kamis, 11 Juli 2019

Diskusi Sok Tahu Tentang Sholat

Lakudu' mengeluhkan ibadah-ibadahnya. "Kok rasa-rasanya semua ibadah saya selama ini tidak nikmat, hambar, nol dan kosong, hanya beban semata, buang waktu saja, sama sekali tidak ada efek dan manfaatnya. Sepertinya selama ini ibadah saya----terutama sholat----ini belum menemukan kelezatannya, saya hanya menegakkan kesia-siaan belaka. Saya rugi besar selama ini. Tidak ada kekhusyukan di dalamnya apalagi di luarnya. Ada apa dengan ibadah saya ini?? Waylun lii.... celakalah saya....!!!

"Bukan ada apa dengan ibadahmu? Tapi ada apa dengan dirimu?" Sindir Labunrekke.
"Memang tidak mudah memperoleh cahaya dalam sholat. Tidak gampang menyambung gelombang komunikasi dalam sujud. Menemukan frekwensi Allah bukanlah perkara yang bisa engkau mudah-gampangkan. Sholat itu tak selebar daun kelor. Tak seperti onde-onde. Sangat-sangat berat menegakkan sholat itu."

"meskipun itu di dalam masjid?"

"Ya, meskipun kamu sholatnya di dalam masjid"

"Walaupun itu di depan ka'bah sekalipun?"

"Sangat ya, bahkan walaupun kamu sholatnya di dalam Ka'bah sekalipun".

"Jadi?"

"Jadi, sebelum menyalahkan ibadahmu, benarkan dulu niatmu, lengkapi dulu syariat sholatmu, bereskan cebok istinja'mu, pelihara wudhumu, sempurnakan mandi besarmu, jangan lupa sikat dosa-dosamu dengan taubat, bersihkan hati dan fikiran dengan dzikrullah, perhatikan halal-haramnya makanan-minuman yang engkau masukkan dalam tubuhmu, siapkan pakaian khusus untuk sholatmu, dan seterusnya---cari sendiri. Setelah itu semua, baru kau angkat takbirmu."

"Waduh, gawat, ribet amat ibadah sholat itu?" Lakudu' memukul-mukul kepalanya.

"Lho, kok ribet? Si amat saja tidak ribet. Itukan bagian dari keseharian manusia, kewajiban yang sudah menjadi rutinitas kita, aktivitas yang seharusnya menjadi kebutuhan kita, dan seterusnya kalau diteruskan insya Allah akan menjadi ketulusan, dan puncaknya kelak adalah keikhlasan. Trus apanya yang ribet? Kok ribet? Ada-ada saja kamu ini...."

"Lha Itukan menurut pengetahuan kamu, belum menurut saya. Kamu sendiri kan tahu kalau saya ini manusia awam, tidak tau apa-apa kecuali yang sekedarnya saja, uneducated Person, Sekolah paling dasar saja tidak pernah, kampungan, cuma lulusan jalanan dan buntu soal begituan. Ilmu sholat saya ini benar-benar apa adanya. Trus kamu bicara panjang kali lebar ini itu blablablablablabla... meneketehe...."

"Wah.... merendahkan hati itu bagus dan mulia tapi kalau kamu merendahkan diri seperti itu tidak baik cappo', bisa-bisa Tuhan mencabut dan mengangkat semua pendaran yang ada di kepalamu, baru tahu rasa kamu, mau?"

"Wah, jangan disumpah begitu dong, saya kan cuma mencoba menutup-nutupi kesaktian saya, hehehehe....., bercanda bro, santai sajalah....."

Tiba-tiba Lacaddo' nongol dari dalam kamar meditasinya, sepertinya ia tidak mau kalah sok tahu tentang ilmu sholat.
"Woe..... ngomong apa kamu berdua? Ilmu kok disimpan di mulut, ilmu itu diamalkan. Langsung dipraktekkan saja. Tidak usah banyak bacot. Ketahuilah bahwa, Seandainya bahkan sekalipun jika quota umur manusia sampai ribuan tahun, belum tentu dia bisa memperoleh manisnya ibadahnya. Belum pasti dia sanggup menemukan hakikat sholatnya. Karena sholat tidak dicapai dengan berkarung-karung teori dan peci, melainkan dilaksanakan dengan penuh cinta dan ketulusan. Biar Tuhan yang sempurnakan. Sholat itu anugrah. Kasih sayang Allah kepada hambaNya. Diberi sayang kok mengeluh. Dikasi cinta kok malah ditolak. Dasar hamba amatiran..."

Datang Lakuttu' turut serta mewarnai pembicaraan mereka
"Inilah kerumitan manusia. Selalu minta ridho Allah, sedang ridho dia ke Allah sangat jarang nyaris tidak pernah. Lihat saja, kalau ada perintah kewajiban, selalu saja maunya dipertanyakan dulu apa hakikatnya, apa rahasianya, apa guna-manfaatnya, apa pahalanya, apa efek medisnya, apa keuntungannya, apa surganya, dan apa saja balasan-balasannya. Kamu mau beribadah apa mau jualan? Manusia selalu memprioritaskan haknya lalu lupa dengan kewajibannya. Pokoknya manusia itu adalah makhluk paling tidak rasional di jagad raya ini sekaligus goblok bin tolol. Kalau kamu disuruh sama Allah, ya dikerjakan saja. Tidak usah bikin penelitian a b c d dan seterusnya. Tidak usah banyak cingcongnya. Kalau kamu sibuk untuk itu, trus kapan sholatnya??? Heheheh.."

"Saya sudah tahu kalau soal itu" Lakudu' mencoba kembali ke laptop.
"Tapi kan kita sebagai hamba harus sering-sering bermuhasabah, liat cermin diri, memeriksa pengabdian kita, agar kelak bisa kita perbaiki yang rusak, supaya nanti bisa kita sempurnakan yang kurang, dan yang sudah baik, alhamdulillah bisa kita syukuri. Dan saya sendiri mendapati bahwa ternyata sholat saya ini belum tanhaa 'anil fahsyaa i wal munkar. Sampai sekarang. Sholat diteruskan tapi kelakuan tetap buruk dan kebiasaan busuk juga tetap saya teruskan. Inikan big problem namanya. Iya to?"

"Ya, iya juga sih. "Labunrekke kembali berkomentar. "Kalo sholat tidak bisa memperbaiki akhlak sama juga bohong namanya. Kalau sholat tidak menghindarkan diri dari perbuatan keji-mungkar sama saja dengan tidak sholat. Itu belum sholat, tapi pura-pura supaya keliatan sholat. Itu bukan sholat namanya, tapi push up. Hahahaha".

"Itu masih mendingan, itu belum seberapa konyolnya" Lakuttu tidak mau kalah
"Lihat saja kalau ada pertandingan bola, terutama kalau yang berlaga itu klub-klub besar seperti Real Madrid versus Barcelona, apalagi kalau itu adalah momentum finalnya piala champion, itu penontonnya khusyuknya mengalahkan khusyuknya orang yang lagi sholat berjamaah di masjid-masjid. Heheheh. Sama halnya kalau orang yang lagi nonton film anu-anuan, itu juga yang nonton fana'nya luar biasa. Hahahah... buktinya semua diam dan sunyi. fokusnya sampai-sampai mengalahkan fokusnya orang yang sedang dzikir khofiy. Hahahha..."

"Itu wawasan apa pengalaman? Heheheh" Labunrekke menyindir Lakuttu dan tentu saja juga dirinya sendiri.

"Ya, ini wawasan dari hasil pengalaman, Hahahaha....."

Lakuttu memang lugu---lucu dan guooblok. Mereka berdiskusi-ria menghabiskan malam, berjam-jam, berbatang-batang rokok, bergelas-gelas kopi, berbusa-busa mulutnya, berton-ton cerita pengalaman ngawur, tertawa merdeka mirip orang "gila".

"Sudah.... sudah.... jangan kentut kalau bicara". Lacaddo' kembali ke inti materinya.
"Tidak usah jauh-jauh ambil contohnya, kalian dari tadi asyik-khusyuk diskusi tentang sholat, sampai-sampai mengalahkan khusyuknya kalian sendiri waktu sholat. Heheheh.... buktinya kalian semua belum sholat isya kan? Ini sudah mau adzan subuh. Hahaha!

"Asuuu....!!!!" [?]

Senin, 08 Juli 2019

Yang Membaca, Goblok!

Tulisan ini ditulis oleh orang tolol dengan kepala terbalik. Ditulis sama sekali tanpa melibatkan otak apalagi nurani, melainkan dengan teknologi dengkul semata. Jadi, saya anjurkan siapa saja untuk tidak membacanya. Sekali lagi, tidak ada manfaat yang Anda dapat dengan membaca tulisan konyol ini. Anda akan rugi besar. Hanya akan buang-buang waktu, buang quota, dan buang umur saja bila meneruskan membacanya. Sumpah! Lebih berguna bila Anda pergi buang sampah atau buang angin daripada membaca tulisan tidak jelas seperti ini. Hanya penyesalan ujung-ujungnya.

Bahkan, sampai di paragraf kedua ini, Anda tidak akan memperoleh hikmah atau pengetahuan apapun. Tidak ada cakrawala apalagi cahaya di dalam tulisan bahlul ini. Maklum, ditulis apa adanya menggunakan metodology "iseng-iseng" dan dibantu dengan aplikasi "main-main", persis Indonesia dengan pemerintahnya. Maka, adalah berpahala bagi siapa saja yang tidak membacanya. Tulisan ini hanyalah sampah. Terbukti, menjelang akhir paragraf kedua Anda tidak menemukan sesuatu kecuali kekecewaan dan kesia-siaan belaka. Tapi, dasar goblok! Anda memang goblok. Sudah tahu tulisan ini tidak bermanfaat, tapi Anda masih ngotot meneruskannya. Sekali lagi, sudahlah. Di paragraf berikutnya sama saja. Hanya berisi rongsokan. Suer!

Ternyata Anda tidak hanya goblok tapi juga kepala batu. Sudah berkali-kali aku nasehati untuk berhenti membaca tulisan najis ini, namun tetap saja anda bernafsu. Kini saya tahu bahwa Anda ternyata juga orang yang rakus dan tidak punya telinga. Hati-hati!! Tulisan ini semakin licin dan terjal. Anak-anak dilarang tegas bermain disini. Jangan sampai terpeleset jatuh dan tersesat aduh. Juga bagi anda penderita jantung dan gangguan jin, saya resepkan untuk sekarang juga berhenti membaca tulisan tolol ini. Please! Berhentilah membaca! Tidak ada gunanya. Ini berbahaya bagi kesehatan iman (palsu) Anda. Stop sampai di sini.

Aduh! Anda masih terus membaca tulisan ini. Anda memang susah diberi ilmu. Ya, sudah. Saya pasrah saja. Apa boleh buat, tai kambing memang bulat. Anda sendiri yang memilih takdir menjadi orang goblok. Jangan protes sama saya. Saya mau tidur dulu. Selamat bergoblok ria. [?]

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab