Senin, 13 Agustus 2018

Sastra menurut Kakek



Sebelum menghilang
Kakek pernah bilang:
Kalau kamu ingin mengenal Tuhan
Kau harus belajar sastra dulu
Agar tidak tragis seperti Mbah Nietzsche
"Apa itu sastra, kek?
Apakah dia semacam ilmu kebal?
Apakah dia sejenis jurus pedang sakti?"
"Hehe.. bukan cucuku
Dia bukan ilmu seperti itu,
Bukan pula seperti alat yang kau sebut itu"
"Lalu apa gerangan sastra itu, kek?"
"Dia adalah cara hidup, cara duduk, cara berjalan,
cara diam, cara tertawa, cara menangis, cara bernafas,
cara berkawan, cara memasak, cara bertamu,
cara bertetangga, cara bercinta, cara bekerja,
cara berpikir dan lain-lain, Teruskan sendiri!"
"Ah, saya tidak paham, kek
Tolong lebih sederhana lagi"
"Sastra itu adalah cara mengalirkan gelombang listrik di pusat otakmu
Sehingga kamu bisa menyentuh dan memetik logika,
etika dan estetika yang ada dalam Semesta Al-Quran"
"Ah, makin tidak paham, kek"
"Begini saja, sastra itu metodologi alamiah hadiah dari tuhan.
Bukan air yang mengalir di sungai, tapi aliran air di sungai itu.
Dia bukan kretek yang disulut api, tapi tarikan hisapan dan semburan asapnya.
Dia bukan kopi yang kau minum, tapi nikmat seruputnya.
Dia bukan lautan tapi debar-debur ombaknya.
Bukan penari, tapi indah tariannya. Bukan angin, tapi sapuan dan hembusannya.
Sastra membantu kita mengerti kelembutan, membantu memahami ilmu tentang batas,
bagaimana berdisiplin memegang kebenaran,
bukan kebebasan yang tanpa akar dan atau sumber.
Sastra itu ilmu hidup!"
"Jadi, semua manusia butuh sastra, kek?"
"Tentu saja, bukan cuma sastrawan yang butuh sastra.
Ulama, orang beragama, politisi, pemimpin, niagawan, petani,
tukang ojek, guru, suami, ibu rumah tangga, anak, mahasiswa, semua butuhsastra.
Itulah mengapa Tuhan meniupkan sastra dalam diri setiap manusia.
Tanpa itu, mereka hanya akan memandang perjuangan dan
kehidupan ini sebagai ekonomi tok: Materi, benda, uang, dan atau barang.
Manusia yang tidak menggunakan sastra dalam kehidupannya
akan sangat pendek jangkauan mata pandangnya.
Kuda-kuda bathinnya lemah mudah patah atau dirobohkan.
Akalnya akan mengecil dan menjadi kerdil.
Mudah masuk angin, galau, susah move on dan gampang mengamuk.
Jika kamu memandang sesuatu dengan mata sastramu maka disitu
Kamu akan menemukan banyak getaran, menemukan sekian gelombang,
Menemukan macam-macam, menemukan Qur'an, menemukan inti kehidupan,
dan akhirnya kamu akan menemukan Tuhan. Paham?"
"Hehehe.. belum kek"
"Ya sudah, kamu belajar cebok saja dulu! Hehe.."

Merdeka (?)


Mungkin hanya saya yang mengalami dan merasakan. Bahwa, kemerdekaan yang selama ini kita nyanyikan itu semakin maya di depan mata. Meski setiap tahun dipesta-rayakan semegah-megahnya, namun kejadian aslinya di lapangan tidak lebih dari sekedar kumpulan lagu-lagu fiksi dan hanya menjadi dongeng mimpi-mimpi. Kemerdekaan semu. Kesejahteraan palsu. Entah mengapa, setiap mendengar kata "merdeka" saya selalu mau muntah. Mungkin karena sudah berpuluh-puluh tahun telingaku diberaki oleh omong kosong para penguasa. Berkali-kali bongkar pasang pemimpin, namun keadilan sosial bagi "seluruh" rakyat Indonesia tak kunjung dating menyata. Kemerdekaan macam apa ini!!?
Setiap memasuki bulan Agustus, saya selalu lari bersembunyi. Apalagi saat tanggal kalenderku mendekati 17 Agustus, saya harus menghilang sementara dari peredaran bumi, wabilkhusus wilayah NKRI. Saya mesti mengungsi dulu ke planet lain, kadang numpang tidur di alam jin. Itu semua agar saya tidak bertemu dengan 17 Agustus. Semua itu agar saya tidak kepergok oleh 17 Agustus. Pokoknya jangan sampai aku bersua dengan 17 Agustus. Saya memang cinta mati dan sudah lama merindukan 17 Agustus. Rasa kangenku kepadanya sungguh tak terperi. Tapi disaat ia datang, saya akan segera ambil jurus menghilang. Saya tidak mau pertemuan sehariku dengannya akan dikhianati dengan perpisahan panjang. 17 Agustus memang sudah sangat sering menyatakan cintanya padaku, namun saat datang ia hanya memberikan orgasme sesaat. Kenikmatan sejenak. Kebahagiaan sekejap. Selepas itu, ia pergi kembali lagi ke dunia mimpi. Menyisakan airmata yang berdarah-darah di dada.
Setiap sekali setahun, 17 Agustus didandani secantik-cantiknya. Dimake up semeriah-meriahnya. Gunanya agar jutaan orang terpesona dan jatuh cinta padanya. Agar pada hari itu manusia-manusia Indonesia bisa khusyuk dan perhatiannya fokus kepada keelokan 17 Agustus. Kesempurnaan 17 Agustus bisa membius rakyat sampai setahun penuh. Kekuatan narkobanya bisa bertahan sampai menjelang 17 Agustus selanjutnya. Kemuliaan 17 Agustus mampu menghipnotis jutaan kepala untuk terus "merasa" merdeka dan sejahtera. Luar biasa! Salut untuk semua panitianya. Terima kasih kepada semua pihak penyelenggaranya. Semoga segala amal ibadahnya dinilai positif oleh Tuhan dan disegerakan balasan pahalanya. Amin

Menyambut dan melayani kehadiran 17 Agustus adalah sebuah kewajiban. "Yutsaabu 'ala fi'lihi wa yu'aqobu 'ala tarkihi," diberi honor pahala bagi yang mengupacarainya dan diberi hukuman siksa bagi yang meninggalkannya. Minimal bagi rakyat yang tidak turut serta dalam rangkaian perayaannya, akan dihukum berupa vonis "kafir kebangsaan", atau diteriaki sebagai "dajjal Nusantara". Sungguh penting dan berharganya 17 Agustus di mata Bangsa Indonesia. Yang tidak peduli kepada 17 Agustus tidak berhak menerima "sembako kemerdekaan". Yang tidak menghadirinya tidak akan memperoleh berkah "kemanusiaan yang adil dan beradab". Pokoknya bagi siapa saja yang tidak setuju dengan 17 Agustus akan menerima kurungan sosial. Dikucilkan dari kemakmuran dan keselamatan Nasional. Betapa agungnya 17 Agustus ini! Jangan coba berani menyelingkuhinya. Saya tidak sedang main-main!
17 Agustus memang tidak bisa dipisahkan dari kemerdekaan bangsa Indonesia. Meskipun demikian, kita---Manusia Indonesia, jangan pura-pura lupa bahwa di balik 17 Agustus, ada banyak darah yang muncrat ke tanah ibu pertiwi. Ada lautan air mata yang tumpah. Ada penderitaan yang sakitnya maha panjang. Ada luka parah yang tak sembuh-sembuh. Ingat! Di sana ada perjuangan dan pengorbanan yang tak sempat dikitabkan. Ada banyak sekali peristiwa memilukan yang tak dimediakan. Ada amat banyak sejarah bernanah yang tidak engkau temukan. Ada hal yang tidak pernah kau bayang-renungkan. Kenapa? Karena engkau hanya sibuk merayakan, sibuk upacara, sibuk pesta dan pora, sibuk memperingati, sibuk bergerak-jalan, sibuk tertawa dan bersorak-sorak bergembira belaka. Engkau hanya sibuk diri dan pikiranmu untuk bertepuk-tepuk tangan suka-suka.
Akhirnya sebelum saya khatamkan tulisan tidak bermutu ini, saya mengajak. Sejenak bernostalgia, mari kita kembali ke tahun 1945. Tepatnya hari Jum'at tanggal 9 bulan suci Ramadhan 1463 hijriah, 17 Agustus menurut kalender Masehinya. Proklamasi itu disyahadatkan di hari yang penuh Rahmat, hari Jumat. Proklamasi itu diikrar-teguhkan di bulan yang penuh dengan berkah, bulan suci Ramadhan. Proklamasi itu dilaksanakan ketika para bapak bangsa sedang berpuasa. Sementara beberapa hari sebelumnya, sejak tanggal 1 ramadhan, beliau para ulama dan santri-santri yang berada di berbagai wilayah di Nusantara melakukan istighosah, menggelar doa bersama, dan yasinan dalam rangka turut mendoakan kemerdekaan bangsa ini. Ini bukan kebetulan! Ini adalah kebenaran, dimana Allah sendiri yang telah menganugerahi bangsa ini berkah kemerdekaan di hari dan bulan yang dipenuhi dan diliputi cahayaNya. Maka, kemerdekaan adalah sesuatu yang harus disujud-syukurkan, kemerdekaan itu hutang yang harus engkau lunasi dengan mengisinya dengan ibadah dan kebaikan. Jangan disia-siakan. Kalau tidak, Allah akan mencabutnya dari bumi dan hatimu!
Dengan senantiasa memohon ridho Allah ta'ala, syafaat rasulullah, karomah para awliya', barokah para guru dan syeikh, Kepada para leluhur, para pahlawan, para syuhada', kepada seluruh yang telah berjuang dan berkorban demi Indonesia; syaiun lillah lahum "Al-fatihah”.

Jumat, 29 Juni 2018

Almeera Mumtaz Hulwah

Bayi perempuan yang mungil dan cantik. Almeera. Umurnya kurang lebih sebulan. Ia bertanya kepada ibunya:

"Bu, dalam hidup ini, coba ceritakan, beri kisi-kisi sedikit, apa yang paling berat dan yang paling sulit?".

"Adalah amanahNya, anakku, yang dimana gunung, laut, bumi-langit tak sanggup menanggungnya, tak kuat mengembannya"

"Apa itu, bu?"

"Kesetiaan, anakku".

"Kesetiaan?"

"Iya. Kesetiaan. Setia itu konsistensi. Bahasa agamanya Istiqomah. Segala sesuatu membutuhkan kesetiaan. Apa saja memerlukan sikap bathin dan kondisi yang kita sebut dengan kesetiaan itu. Kesetiaan itu kekuatan yang sungguh dahsyat"

"Maksudnya?"

"Kesetiaan itu nyawa dari segala niat dan perbuatan kita di dunia ini. Kesetiaanlah yang menciptakan kehidupan. Kalau matahari berhenti setia untuk terbit, itu kiamat namanya. Kalau kamu tidak setia kepada ibumu, itu durhaka namanya. Kalau kamu tidak setia kepada kejujuran, itu curang alias bohong namanya. Kalau kamu tidak setia kepada proses, itu kegagalan hidup namanya. Kalau kamu tidak setia kepada kekasihmu, itu selingkuh namanya. Kalau kamu tidak setia kepada cinta, itu kebencian namanya. Kalau kamu tidak setia kepada kebaikan, itu kejahatan namanya. Kalau kamu tidak setia kepada kesejatian, itu kepalsuan namanya. Kalau kamu tidak setia kepada Al-quran, itu penistaan namanya. Kalau kamu tidak setia kepada alam, itu bencana namanya. Kalau kamu tidak setia kepada keamanan, itu terorisme namanya. Kalau kamu tidak setia kepada kelembutan, itu Radikalisme namanya. Kalau kamu tidak setia kepada perbedaan, itu diskriminasi dan rasialisme namanya. Kalau kamu tidak setia kepada pendidikan, itu pembodohan namanya. Kalau kamu tidak setia kepada perdamaian, itu namanya kehancuran. Kalau kamu tidak setia kepada oxygen, itu kematian namanya. Kalau kamu tidak setia kepada rakyat, itu kezaliman namanya. Kalau kamu tidak setia kepada waktu, itu tergesa-gesa namanya. Kalau kamu tidak setia kepada ketenangan, itu kekacauan namanya. Kalau kamu tidak setia kepada nikmat, itu kufur namanya. Puncaknya, kalau kamu tidak setia kepada tuhan, itu syirik namanya. Dan itu penghianatan besar, anakku!

"Hmm.. berat Bu, sungguh berat kesetiaan itu"

"Memang. Itulah mengapa kamu menangis saat lahir. Itu pertanda, anakku. Tapi tenang saja. Tuhan maha-baik. Dia selalu bersama kita, memberi kekuatan yang tak pernah kita sangka-sangka. Maka kita wajib ber-ihdinaa shirotal mustaqim kepadaNya setiap saat".

"Ihdinaa shirotal mustaqim? Artinya bu?"

"Tuhan, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa setia!"

"Maksud ibu?"

"Sholat 24 jam, anakku"

"Hmm,
Bu, saya mau menangis dulu"

"Buat apa?
Gara-gara tidak paham?"

"Bukan. Sebagai pertanda, bu. Supaya ibu tahu kalau saya lagi pengen menetek. Lapar.."

Senin, 16 April 2018

Nasib Desa(Ku)

Nasib desaku
Oleh: Dirja Wiharja
Berpuluh tahun silam,
Satu usaha untuk membangun peradaban desa
Orangtua di desa mengirim anak-anaknya ke kota
Menyuruhnya bersekolah, kuliah dan berkenalan dengan barang mewah,
Belajar menjadi orang gagah, kaya dan bergaya
Meniru cara berjalan orang kota, mengikuti cara makan dan berpakaian orang kota
Katanya, agar tidak kolot dan terpencil seperti nenek moyang mereka,
Upaya yang benar-benar serius!
Maka berangkatlah anak-anak desa itu menuju kota.
Maka setiap tahun, orangtua dari berbagai penjuru kampung-kampung
mengekspor anak-anak mereka ke suatu wilayah bernama kota.
Berpuluh tahun kemudian,
Betul! Kota berhasil merubah pola pikir anak-anak mereka,
Mengganti perangkat isi kepala mereka dari mitos ke logos,
Dari cara-cara primitif ke prilaku modern yang kreatif,
Pandai berbicara, berkemeja, bersepatu, dan bermain sandiwara
Kota telah sukses mendidik anak-anak mereka
Berpuluh tahun kemudian,
Para orangtua perlahan menyadari kesalahannya
Dulu, sebelum anak-anak mereka berangkat ke kota
Orangtua hanya membekali mereka dengan semangat saja
Tapi ternyata lupa menasehatkan mereka agama dan adat.
Rupanya orangtua tak tahu
Kalau di kota, agama sudah dilembagakan, tanda-tanda suci sudah lama dipolitikkan
Nasehat-nasehat adat leluhur hanya jadi bahan tertawaan
Ternyata orangtua tak tahu
Kalau di kota, tuhan sudah lama dilupakan
Orangtua mulai menyesal satupersatu
Anak-anaknya tak mau kembali ke desa
Mereka lebih senang tinggal dan meninggal di kota
Beberapa anak memang ada yang kembali ke desa
Tapi itu karena kota tak sudi untuk menampungnya,
Akhirnya mereka terpaksa pulang ke desa membawa arogansi kota;
Tak mau bekerja di sawah,
Malu memikul cangkul, tak mau lagi menggembala kerbau,
dan mencari ikan di laut
Sebab di sekolah mereka diajarkan hal;
Bahwa bertani, berkebun, menggembala itik,
menjadi ibu rumah tangga bukanlah jenis pekerjaan.
Orangtua benar-benar tak menyangka
Orang kota telah menculik jiwa anak-anaknya
menyekap mereka dalam ruangan sempit
sambil mengajari mereka mengeja kejahatan
Di desa, anak-anak diajari hidup sederhana, bersahaja
dan bahagia dengan makna-makna, bukan dengan benda-benda, tapi
Di kota, anak-anak diajari gaya hidup mewah, cara bicara yang sangat lewah,
dan berteman akrab dengan narkoba, wah wah
kota mengajari anak-anak desa untuk bahagia harus dengan uang,
dengan nafsu, dan kekuasaan,
bukan bahagia dengan perasaan-perasaan.
Apalagi bahagia dengan kesadaran bertuhan.
Berpuluh tahun yang akan datang,
Anak-anak desa yang belajar di kota
tak ada yang mau dan tertarik kembali ke desa
Kota telah menyantet dan mencuci otak mereka
Dengan mall, restauran, rumah bernyanyi, hotel dan tempat-tempat hiburan
Kota telah membegal akal pikiran dan hati mereka
Kota pun telah mengajari anak-anak desa dengan pacaran;
Memegang tangan perempuan, masuk kamar berduaan, berciuman,
berpelukan dan main kuda-kudaan.
Kota mengajari anak-anak desa menjadi anak yang kurang ajar
Kota mengubah anak-anak desa menjadi anak yang cepat masuk angin,
gampang ditipu dan diadu domba,
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang sangat mudah marah dan sulit memaafkan,
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang merasa paling pintar dan tak mau disalahkan,
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang membenci perbedaan dan suka memancing perpecahan,
Kota mengajari anak-anak desa menjadi orang
yang tak tahu membedakan mana makanan mana kotoran,
Kota telah berhasil merampok seluruh kemurnian anak-anak desa
Akhirnya,
Anak desa menjadi orang yang “tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti”
Kemana larinya anak-anak desa itu?
Kemana perginya anak-anak yang suci itu?
Kemana mereka?
Wah, ternyata mereka lagi sibuk main hape.

Kamis, 07 September 2017

Sajak buat anak-anakku


Anak-anakku,
Dengarlah, ambo’mu mau curhat
Mungkin saat kau temukan lembaran bathinku ini
Jasadku sudah tak ada,
tubuhku mungkin sudah membusuk dimakan cacing-cacing tanah
sirna ilang kertaning bumi kata orang jawa
atau boleh jadi,
mayatku menghilang di kuburannya,
entahlah

kalian tidak usah kaget begitu
dan tidak perlu kalian cari tahu dimana aku
ambo’mu tidak pernah kemana-kemana
karena aku ada dimana-mana!
Hahahha....
Bercanda anak-anakku, jangan terlalu serius, santailah!

Anak-anakku,
Saat tiba akalmu sudah mulai bisa bekerja,
Sudah mampu melakukan aktivitas pikir dan dzikir
Sudah bisa menangkap gelombang elektromagnetik ilmu di sekitar kepalamu
Sudah bisa memetik pendaran-pendaran hidayah di atas ubun-ubunmu
Saat itu, kalian akan memiliki berton-ton pertanyaan di hatimu
Kala itu, kalian akan mulai mengerti sedikit perihal kehidupan ini
Maka aku pesankan pada kalian,
Tak usah kalian cari materi fisikku
Jangangmako selidiki bentuk rupa biologisku
Tidak perlu kau cari unsur apiku tanahku airku dan udaraku
Sebab, aku sudah mengembalikan kepada pemiliknya
Dan, kalian pun semua akan mengalami peristiwa aneh itu
Peristiwa innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’un
Waspadalah, anakku

Anak-anakku,
Ingatlah baik-baik! Bapakmu ini Cuma orang biasa
Lahirnya biasa, dan dibesarkan dari keluarga yang biasa saja
Maka cara hidupnya dijalani dengan biasa dan sederhana saja
Jadi, makan-minumnya juga biasa, tidak canggih dan bergaya
Makannya bukan hot-dog, bukan spagety, bukan hamburger, atau ayam kentuki fred ciken
Minumnya juga bukan cocacola, bukan pantat, sprite, mijon, apalagi wiski atau topi miring
Bapakmu makanannya makanan desa ji, masakan kampung;
Pule’ lokami kasi, biasato kaledde’ atau sokko
Nanre sipenne, bale rakko ibolo boka wangi, ipasibawa kaju tettu’,
Massadidu mato bali
Sehat-menyehatkan dan energinya bisa dipakai sholat dan bertani

Kau tahu kenapa begitu nikmat, begitu enak dan lezat?
Rahasianya;
Karena yang memasak adalah ibumu; sayangku cintaku manisku rinduku
Dimasaknya dengan metodology cinta, dengan menggunakan teknologi kasih sayang,
sambil menyanyikan sholawat nabi;
“sholaatullah salaamullah, ‘alaa thoha rasulillah
Sholaatullah salaamullah, ‘alaa yaasiin habiibillah”
Wuiss.. marasa tanta!
Ibumu adalah koki terhebat, chef terjago sepanjang sejarah perkokian,
Tentu saja setelah ibuku

Kue-kuenya juga maknyos, ladziid jiddan, fantastik, emezing, dan wow!
Ada namanya burongko, tape, katirisala, bandangbandang, dokodoko,
sanggara’ talemme’, dan becce’ laung, itu yang ada lagunya;
“beppa-beppa, beppa de’ gollana, engkamo kalukunna, becce’ laung asenna”,
Massambora’!!

Anak-anakku,
Bapakmu ini benar-benar orang biasa! Suerr!!
Maka pekerjaannya biasa ji juga, bukan tong yang berdasi atau bersepatu pentopel mengkilap,
Bukan pekerjaan kantoran, bukan di gedung-gedung bertingkat, ber-ac,
bukan pekerjaan yang kemana-mana bawa mobil plat merah: bukanji mobilnya
Bapakmu bukan artis, bukan orang yang terkenal; Cuma orang biasa
Pekerjaanya sederhana; bertani, beternak, berkebun, mengajar dan mappangaji
Semuanya memang biasa-biasa saja, tapi hidup selalu cukup karena Allah yang maha,
maha mengcukupi kita. Hasbunallah ni’mal wakiil!
“jangan takut miskin nak, kita ini hamba dari Tuhan yang maha kaya”.

Anak-anakku,
Karena ambo’mu ini orang biasa
Maka jangan cari biografi dan riwayat hidupnya di buku-buku sejarah
Sejarah tidak mau mencatat nama orang biasa seperti bapakmu
Dan bapakmu juga tidak mau dicatat dalam sejarah yang penuh dengan manipulasi dan kepalsuan ini
Maka, jangan sekali-kali kalian ajari diri kalian untuk besar kepala, sombong,
bangga diri, apalagi sampai merendahkan orang lain.
Janganki nak begitu!
“Jadilah orang biasa di mata manusia,
Jangan lupa buang sampah pada tempatnya”.

Anak-anakku,
Ketahuilah! Di dunia ini di zamanmu nanti,
Banyak orang jahat yang berpenampilan baik
Banyak orang bejat yang mengajakmu bersahabat
Banya orang alim munafik yang memberimu nasehat,
Banyak pejabat yang orasinya hebat-hebat tapi kelakuan bangsat
Banyak orang yang sekolah tinggi-tinggi, mereka meraih gelar-gelar mulia
tapi tabiat mereka rata-rata keparat,

Biarpun orang-orang di sekitarmu semuanya berprilaku asu,
Kalian jangan ikut-ikutan asu, jangan!
Teruslah bekerja dan berdoa, jangan berharap kepada pemerintah
Teruslah mengabdi, mengabdi hanya kepada Allah dan rasulullah,
Bukan kepada pemerintah!

Anak-anakku,
Saat kalian mulai tahu baca tulis abcd atau alif laam miim,
Kalian akan mengerti, bahwa pengetahuan modern itu tolol-tolol
Mereka tidak mampu membedakan apa pemerintah dan apa negara
Mereka tidak mengerti ilmu tata negara, sebab mereka gagal mempelajari ilmu tata buku
dan apalagi ilmu tata iman.
Rakyat itu adalah raja, sang pemilik rumah
Negara itu rumahnya rakyat, dan pemerintah adalah pembantu dan buruhnya rakyat,
Eh, buruh kok malah menjadi raja? Sundala!

Ketahuilah anak-anakku, hati adalah kuil tuhan
Maka di hati jutaan rakyat yang tertindas, yang kelaparan, yang kesepian,
yang kesakitan, yang hidupnya melarat menyedihkan itu
Ada tuhan bersemayam disitu!
Mereka semua tega menghancurkan kuil tuhan itu!
Mereka benar-benar tidak punya perasaan dan iman!
Lihatlah betapa kurang ajarnya mereka!

Dengan suburnya kekerdilan itu, aku tidak heran
Di zamanmu, bisa jadi alam semesta ini sudah dikuasai,
Diambil alih, dijajah oleh birahi dan tirani
Oleh nafsu, oleh monster, oleh bankir-bankir laknat yahudi zionos dajjal
Bisa jadi negri kelahiranku ini sudah tak bernama indonesia lagi
Bisa jadi kampung halaman ibumu sudah menjadi kota,
Sudah menjadi korban mutilasi keserakahan orang-orang kota.
Rumah-rumah leluhur digusur, sawah dan kebun ditanami hotel-hotel,
Hutan-hutan dipaksa menjadi pabrik, diskotik, alfamart, mall,
rumah bernyanyi, restoran dan atau meeting hall
Sungai-sungai yang dulunya mengalirkan surga, tajrii min tahtihal anhaaru,
Kini berubah menjadi mengalirkan sampah-sampah dan kotoran-kotoran zaman
Pantai-pantai dilukai kecantikannya, didandani dengan bedak semen
dengan gincu beton bermerek tomalasa!
Semua di lakukan atas nama kemajuan zaman yang modern.
Modern ndasmu!

Pepohonan dilecehkan, bebatuan dihancurkan, tambang di jarah,
tanah dimanipulasi, air dikapitalisasi, udara segar dipolusisasi,
Negara di bajak tiada habis-habisnya!
Ini bukan peradaban anakku, ini kebiadaban internasional!
“jangan pernah mengatakan menebang pohon sembarangan itu sepele!
Itu kurang ajar!

Anak-anakku,
Bapakmu Cuma orang biasa, dan ia bersyukur penuh akan hal itu
Ia tidak pernah bercita-cita untuk berkuasa dan menginjak makhluk lain
Ia tak pernah bermimpi menajdi raja dan memperbudak alam seisinya
Maka, renung-pikirkanlah anakku,
Jangan pernah merasa lebih tinggi dari tanah, karena sungguh tanah adalah ibumu,
Jika kalian berlaku sombong kepadanya, maka kalian telah mendurhakainya
Cintailah ibumu, karena surga berada di bawah telapak hatinya,
Cuci dan ciumlah kaki ibu pertiwimu dengan tujuh lapis cahaya sujud
Engkau berasal dari perut ibumu, dan engkau akan kembali ke dalam perut beliau;
Rahim bumi pertiwi.

Anak-anakku,
Jika kaudapati alam ini rusak dan sakit-sakitan,
Itu tugasmu untuk memperbaikinya, itu kewajibanmu untuk menyembuhkannya
Jadilah orang baik, walaupun engkau sendirian!

(“Ambo’, boleh bertanya ini,
Trus kapan saya akan lahir?”

“hahaha.. awwah, sabar-sabarmako dulu,
Ini baru mau dicari mama mu e”)

#sastramaya
#dirjawiharja

[Dibacakan pada acara SABDA ALAM  yang diselenggarakan oleh kawan-kawan BUMI LESTARI PAREPARE]

Selasa, 29 Agustus 2017

Lacaddo' mattutu soal ibadah

"Mari kita hancurkan segala ibadah dan kebaikan kita dengan sering-sering menyebutnya, menceritakannya, membanggakannya, dan yang paling penting adalah meng-selfie-selfie-kannya. Jangan lupa diupload, diposting, dishare ke semua akun-akun medsos; Twitter, Facebook, Instagram, path, telegram, bbm, Line dan sebagainya dan seterusnya dan semuanya dan seluruhnya. Jangan ada yang tersisa. Pokoknya, semua aktivitas dan amal kebajikan mari kita umumkan, let's publish all of them, biar dunia tahu bahwa kita adalah orang baik, orang sholeh, orang berbudi luhur, orang yang akan pasti masuk surga. Mari semuanya ayo. Jangan takut dibilang sombong dan riya'. Mereka cuma iri dan sebenarnya dengki kepada kita. Ayo jangan berhenti. Mari kita musnahkan pahala-pahala kita. Kita tidak butuh sama pahala. Yang kita butuhkan hanyalah eksistensi. Pengakuan demi pengakuan. Kebanggaan demi kebanggaan. kehancuran demi kehancuran. Hahahaha....."

"Apa-apaan kamu caddo'??!! Kamu ngomong atau kumur-kumur? Lakudu' merasa perlu angkat bicara. "Maksud kamu apa? Mau menyindir, menyenggol, atau menceramahi saya? Kalau mau ceramah, sana ke masjid, jangan disini..!! Ibadah kok dihancurkan. Ah, ngawur kamu..."

"Hahahahah...." seperti biasa, lacaddo' hanya tertawa.

"Lha, malah ketawa cengengesan. Jangan-jangan kamu sudah majnun alias gila?"

"Huaaahahahahahahahah..." volume tawa lacaddo' semakin meningkat.

"Setiap ibadah kan memang harus dirayakan, setiap kebaikan harus disyukuri, dan setiap orang punya cara atau metodenya masing-masing. Minimal selfie...."

"Huaaahahahahahahahah...." lacaddo' tetap not responding. Istiqomah dengan ketawanya, kini volume treble dan bass-nya yang dinaikkan.

"Sudahlah, kamu jangan usil. Kamu jangan buat statemen-statemen yang semakin membebani rakyat. Jangan ciptakan kalimat-kalimat yang justru bisa bikin pusing masyarakat. Anggap saja selfie-selfie mereka adalah hiburan atas penjajahan yang semakin tidak kentara ini. Biarlah mereka nikmati. Biarkan saja seperti itu. Tidak usah di utak-atik pikiran mereka. Biarkan mereka merdeka dalam keterjajahan, bahagia meski itu hanya pura-pura....." lakudu' terus berceloteh tanpa henti tapi lacaddo' tetap tidak terpancing sama sekali dengan semua argumentasi bualannya.

"Sudahlah, kamu jangan resek. Setiap orang kan punya maqamnya masing-masing. Punya kapasitas, kualitas, integritas, dan tas-tas-nya masing-masing. Terserah mereka mau memproses hidupnya bagaimana, terserah mereka mau mengapakan dunianya, pokoknya terserah-serah mereka mau membagaimanakan keluar masuknya nafasnya. Kalau berbeda, ya dimaklumi dan dimafhumi saja. Kita hargai pendapatnya. Kita hormati cara hidupnya. Jangan kau ganggu dengan membikin sindiran-sindiran yang aneh-aneh. Teruskan pemikiramu dan biarkan mereka melanjutkan hidup mereka. Damai itu indah..."

"Hahahahahahahahah..... berisik kamu...!!!!" Lacaddo' mulai bereaksi.

"Kamu sendiri yang selalu memancing dunia persilatan lidah, ditanya tak menjawab malah ketawa hahahahahah seperti mengejek", lakudu' membantah.

"Begini bro, kamu diam dulu". Lacaddo' akhirnya merespon. "Resleting kan dulu mulutmu. Sterilkan emosimu. Bagaimana saya bisa bicara kalau kamu tidak mau berdemokrasi untuk berhenti bicara. Dan sekedar kamu tahu, tidak semua pertanyaan harus dijawab. Tidak semua pertanyaan ada jawabannya. Karena ada pertanyaan yang hadir atau muncul dalam kehidupan kita yang sebenarnya untuk mengajarkan kesabaran. Nah, kayaknya kamu belum lulus disitu. Heheheheh"

"Wah, kamu sok menggurui. Jawab saja pertanyaan ku, apa maksud dari pernyataan kamu tadi? Ibadah kok dihancurkan???!!!"

"Santai bro, saya tidak suka berdebat. Karena berdebat itu bisa mematikan hati. Juga bisa mengurangi ketampanan. heheheh... Saya juga tidak menggurui. De' je' upagguruko, utambaimi accamu. Saya sama sekali tidak mengajarimu, saya cuma menambah kecerdasanmu. Heheheh...."

"Hahahahahahahahah.... tau acu.. " lakudu' mulai mendingin apinya. Tampaknya sudah mulai sedikit paham maksud lacaddo'.

"Tidak ada yang keliru. Semua yang kau omongkan tadi juga ada benarnya. Adapun ungkapan saya tadi itu sebenarnya hanya sekedar mengekspresikan apa yang ada di kepala saya. tidak ada maksud untuk menyindir apalagi ceramah. saya kan bukan ustadz. hehehehe.......Cuma yang harus di stabilo disini, khusus mengenai ibadah dan aktivitas kebaikan yang kita lakukan adalah jangan sampai kita kehilangan niat dan tujuan utama kita. Artinya energi yang kita gunakan jangan sampai tidak menghasilkan gelombang cahaya. Maksud saya, mari kita hancurkan ibadah demi ibadah yang tidak "ilaihi rojiun". Kita tahu dan paham bahwa kita "innaa lillah" tapi gagal memakrifati "ilaihi rojiun" tadi. Heheheheh.

"Maksudnya? Ah, makin bingung saja" lakudu' mulai mengalami gejala spiritualisme penasaran.

"Coba kau ingat-ingat kembali" lacaddo' melanjutkan. "Coba kau telusuri ibadah dan kebaikanmu. Coba renung-fikirkan setiap amalanmu. periksa kembali apa niat dan tujuan sejatimu. Ingat apa ujung pangkal dari setiap niat beribadah kita. Apa niat sholat? Apa niat puasa, zakat, sedekah, menyumbang, menolong orang, menafkahi keluarga, membangun negara, melestarikan alam semesta, menulis, baca puisi, main teater, mengajar, mencari ilmu, memperbaiki laptop, menyapu halaman, menanam bunga, minum kopi, berorganisasi, main Facebook, upload video, naik gunung, selfie, membaca novel, buka warung, menghadiri undangan, dan aktifitas apa saja yang tidak merusak tatanan perdamaian dunia, tolong ingat niatnya. Ujungnya semua adalah "lillahi ta'ala". Hanya untuk Allah. Kenapa? Karena kita selalu punya kesadaran "innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiuun" itu. Heheheheh....

"Trus apa kait-hubungnya dengan menceritakan, membanggakan, atau men-selfie-kan ibadah-kebaikan kita?" Lakudu' semakin bertambah penasarannya.

"Ya, Tidak masalah ji itu. Tapi ibadah yang baik dan paling dicintai Allah adalah yang disembunyikan. Kebaikan yang sempurna dan disenangi oleh Allah adalah yang dirahasiakan dan dilupakan. Tidak perlu dipertontonkan. Biarlah Allah dan para malaikat-malaikatNya yang menontonnya. Allah sebagai audien sejati kita. Sebab jangan lupa, toh semua ibadah dan kebaikan yang kita lakukan itu pun semuanya berasal dariNya, bersumber dari kasih-sayang Allah. Jangan sampai kebaikan kita bertransformasi menjadi keburukan hanya gara-gara rusaknya niat kita. Akibat beloknya tujuan kita karena adanya gerakan-gerakan tambahan kita. Maka rahasiakanlah kebaikanmu sebagaimana Allah merahasiakan keburukanmu."

"Trus... trus....... " lakudu' kini ketagihan.

"Ya, silahkan teruskan kebaikanmu, lanjutkan ibadahmu. Tapi kalau bisa, berhentilah mengungkit-ungkitnya, tahanlah untuk menceritakannya, puasakanlah untuk membanggakan dan mempublikasikannya. Manusia selalu ingin eksis, padahal hanya Allah yang maha-eksis. Laa mawjuuda illallah. Manusia selalu ingin dipuji, padahal hanya Allah yang pantas dipuji. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Tapi, ya itulah alasannya mengapa kita harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allah yang maha melindungi, dari segala tipu daya setan diri kita sendiri. Audzu billahi min asysyaithonirrojiim. Jangan berhenti berdoa karena Allah tidak pernah beristirahat apalagi tidur. Laa ta'khudzuhu sinatun walaa nawmun. Cukuplah Allah sebagai penolong dan sahabat kesedihan kita. Hasbunallah........"

"Subhaanallah......" lakudu' mengalami ketakjuban jiwa sampai-sampai tidak sadar kalau lacaddo' sudah menghilang dari hadapannya.

"Caddo', o... caddo'..... kegako? Kau dimana?"

"Saya lagi di wc ...... beol ka' dulu ces....heheheheh.." [?]

Minggu, 12 Maret 2017

Biografi Orang Kecil

Kami orang biasa dan memilih hidup yang biasa-biasa saja. Orang-orang yang merasa dirinya besar itu senang sekali memanggil kami dengan sebutan orang kecil. Tak mengapa, kami sangat bersyukur dengan sebutan itu, karena kenyataannya kami memang orang kecil dan tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi orang besar. Karena menurut orang langit, hanya orang kerdil yang butuh dengan kebesaran. Bagi kami, menjadi orang kecil, orang biasa, sudah sangat melebihi cukup dan Alhamdulillah. Hasbunallah.

Jadi sebagai orang kecil sejati, kami tidak pernah sekalipun mencari dan mengejar-ngejar yang namanya kebesaran. Bukan karena kami tidak punya kekuatan atau kesanggupan untuk itu, tapi karena kami memang tidak tertarik dan tidak terpesona oleh kebesaran, tidak tergoda oleh keterkenalan. Memang demikianlah kami orang-orang kecil ini. Dan lagi, kami tidak pernah merasa tersinggung dan marah jika dipanggil dengan istilah-istilah yang lain. Terserah mau memanggil kami dengan sebutan apa, entah itu rakyat jelata, masyarakat bawah, gelandangan nusantara, pengemis nasional, orang miskin, orang desa, orang pinggiran, sapi perah, atau apalah. Saya dan kami tidak masalah dengan semua itu. Asal jangan menyebut kami sebagai budak atau hamba, karena kami hanya menghamba, mengabdi dan melayani Tuhan. Tidak kepada selainNya!

Orang kecil tidak suka mengganggu kemerdekaan orang lain. Tidak senang menyerobot ketika antri. Pantang mengambil atau merampas yang bukan haknya. Malah hak kami yang sering dicopet dan dijambret oleh orang-orang besar itu. Tapi tak mengapa, kami tidak marah dan membenci. Kami memiliki hati yang luas untuk memaafkan siapa saja, kami memiliki jiwa yang semesta untuk menampung apa saja. Kami setia mendoakan kebaikan untuk setiap orang sesama makhluk ciptaan Tuhan. Orang kecil seperti kami bahagia dengan kesederhanaan. Kami hanya makan saat perut kami benar-benar lapar dan segera berhenti makan sebelum kenyang. Kami orang kecil juga tidak suka mengambil jatah nasi dan lauk orang lain. Kami hanya mengambil apa yang ada dipiring kami, hanya memakan apa yang telah kami perjuangkan, hanya menikmati apa yang telah Tuhan anugrahkan.

Orang kecil tidak pernah melatih jurus dan tinju pada tangannya, tidak pernah memberikan kursus tendangan pada kakinya. Karena kami orang kecil tidak pernah berniat untuk memukul, menginjak atau menendang orang lain. Tak pernah terlintas dibenak kami untuk menindas orang lain. Kami tidak pernah bermimpi untuk mendirikan kerajaan di ruang dan waktu ini, apalagi untuk mencaplok bumi raya ini. Kami sama sekali tidak bernafsu untuk menguasai siapapun kecuali belajar terus mendidik diri kami sendiri. Orang kecil seperti kami tidak punya ingin untuk menyakiti orang lain. Kami haramkan diri kami untuk hal-hal hina dina dan najis seperti itu. Kami selalu ingat dan mengamalkan nasehat para nabi. Sami'na wa atho'naa, selebihnya kami serah-kembalikan kepada Tuhan yang maha bijaksana.

Kami orang kecil tidak suka berdebat, adu akal, silat mulut apalagi perang pemikiran. Kami tidak punya hobi merasa paling benar, mudah menyalahkan, mengkafir-kafirkan, membid'ah-bid'ahkan atau menyesat-nyesatkan orang lain. Karena kami yakin bahwa hanya Tuhan yang punya data paling lengkap dan akurat mengenai hakikat kebenaran. Olehnya, yang kami lakukan hanyalah bagaimana setiap bertemu orang lain--meski berbeda-- kita bisa saling menyapa, berkenalan, saling menyelamatkan satu sama lain, saling memberi rasa aman, saling bantu, saling hibur, saling bersama dan bermesraan mempererat silaturahmi dan silaturuhani dihadapan Tuhan dan rasulNya. Sehingga, mata kami yang fakir ini selalu kami bersihkan dari kesia-siaan agar tidak buta dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Berusaha merekrut setiap perbuatan menjadi ibadah. Begitulah kami orang kecil ini.

Akhirnya, kami akan tetap seperti ini. Menjaga kekecilan kami agar tidak menjadi besar dan sombong. Kami orang kecil ini akan terus bekerja, yang penting Tuhan setuju dan meridhoi. Pokoknya, asal Tuhan tidak marah, kami tidak peduli. Kami orang kecil akan terus bertani, berkebun, melaut, mengamen, jadi pemulung, tukang batu, mburuh, ngojek, jualan bakso, jajakan koran, atau apa saja yang halal dan thoyyiban lillahi ta'ala. Kami sudah lama berhenti menggantungkan harapan kami pada pemerintah yang terhormat. Karena sepertinya belum ada tanda-tanda Tuhan hadir dan manunggal dalam diri mereka, itu menurut bodoh kami. Tapi kami dan saya, yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan punya skenario dan cara kerja yang sangat indah--meskipun misterius-- untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan sejati para kekasihNya yang tersebar di sela-sela bumi, wabilkhusus di Indonesia. Tanah air ibu Pertiwi. Bumi para Waliyullah. Wallohu a'lam

Jaahil murokkab

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab