: Dirja Wiharja


Lakudu' mengeluhkan ibadah-ibadahnya.

"Kok rasa-rasanya semua ibadah saya selama ini tidak nikmat, hambar, nol, dan kosong. Hanya beban semata. Buang waktu saja. Sama sekali tidak ada efek dan manfaatnya.

Sepertinya selama ini ibadah saya—terutama sholat—belum menemukan kelezatannya. Saya hanya menegakkan kesia-siaan belaka. Saya rugi besar selama ini.

Tidak ada kekhusyukan di dalamnya, apalagi di luarnya.

Ada apa dengan ibadah saya ini?

Waylun lii...

Celakalah saya...!"

"Bukan ada apa dengan ibadahmu. Tapi ada apa dengan dirimu?" sindir Labunrekke.

"Memang tidak mudah memperoleh cahaya dalam sholat. Tidak gampang menyambung gelombang komunikasi dalam sujud. Menemukan frekuensi Allah bukanlah perkara yang bisa engkau mudah-gampangkan.

Sholat itu tak selebar daun kelor.

Tak seperti onde-onde.

Sangat-sangat berat menegakkan sholat itu."

"Meskipun itu di dalam masjid?"

"Ya. Meskipun kamu sholatnya di dalam masjid."

"Walaupun itu di depan Ka'bah sekalipun?"

"Sangat ya. Bahkan walaupun kamu sholatnya di dalam Ka'bah sekalipun."

"Jadi?"

"Jadi, sebelum menyalahkan ibadahmu, benarkan dulu niatmu. Lengkapi dulu syariat sholatmu. Bereskan cebok istinja'mu. Pelihara wudhumu. Sempurnakan mandi besarmu. Jangan lupa sikat dosa-dosamu dengan taubat. Bersihkan hati dan pikiran dengan dzikrullah. Perhatikan halal-haram makanan dan minuman yang engkau masukkan ke dalam tubuhmu. Siapkan pakaian khusus untuk sholatmu. Dan seterusnya.

Cari sendiri.

Setelah itu semua, baru kau angkat takbirmu."

"Waduh, gawat. Ribet amat ibadah sholat itu?"

Lakudu' memukul-mukul kepalanya.

"Lho, kok ribet? Si Amat saja tidak ribet.

Itu kan bagian dari keseharian manusia. Kewajiban yang sudah menjadi rutinitas kita. Aktivitas yang seharusnya menjadi kebutuhan kita.

Dan seterusnya, kalau diteruskan, insya Allah akan menjadi ketulusan.

Dan puncaknya kelak adalah keikhlasan.

Terus apanya yang ribet?

Kok ribet?

Ada-ada saja kamu ini...."

"Lha, itu kan menurut pengetahuan kamu. Belum menurut saya.

Kamu sendiri kan tahu kalau saya ini manusia awam. Tidak tahu apa-apa kecuali yang sekadarnya saja. Uneducated person. Sekolah paling dasar saja tidak pernah. Kampungan. Cuma lulusan jalanan dan buntu soal begituan.

Ilmu sholat saya ini benar-benar apa adanya.

Terus kamu bicara panjang kali lebar, ini itu, blablablablablabla...

Meneketehe...."

"Wah....

Merendahkan hati itu bagus dan mulia. Tapi kalau kamu merendahkan diri seperti itu tidak baik, cappo'.

Bisa-bisa Tuhan mencabut dan mengangkat semua pendaran yang ada di kepalamu.

Baru tahu rasa kamu.

Mau?"

"Wah, jangan disumpah begitu dong.

Saya kan cuma mencoba menutup-nutupi kesaktian saya.

Hehehehe....

Bercanda, bro.

Santai sajalah...."

Tiba-tiba Lacaddo' nongol dari dalam kamar meditasinya. Sepertinya ia tidak mau kalah sok tahu tentang ilmu sholat.

"Woe.... ngomong apa kamu berdua?

Ilmu kok disimpan di mulut.

Ilmu itu diamalkan.

Langsung dipraktikkan saja.

Tidak usah banyak bacot.

Ketahuilah bahwa seandainya bahkan sekalipun kuota umur manusia sampai ribuan tahun, belum tentu dia bisa memperoleh manisnya ibadah.

Belum pasti dia sanggup menemukan hakikat sholatnya.

Karena sholat tidak dicapai dengan berkarung-karung teori dan peci, melainkan dilaksanakan dengan penuh cinta dan ketulusan.

Biar Tuhan yang menyempurnakan.

Sholat itu anugerah.

Kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Diberi sayang kok mengeluh.

Dikasih cinta kok malah ditolak.

Dasar hamba amatiran...."

Datang Lakuttu' turut serta mewarnai pembicaraan mereka.

"Inilah kerumitan manusia.

Selalu minta rida Allah, sedangkan rida dia kepada Allah sangat jarang, nyaris tidak pernah.

Lihat saja.

Kalau ada perintah atau kewajiban, selalu saja maunya dipertanyakan dulu.

Apa hakikatnya?

Apa rahasianya?

Apa guna dan manfaatnya?

Apa pahalanya?

Apa efek medisnya?

Apa keuntungannya?

Apa surganya?

Dan apa saja balasan-balasannya?

Kamu mau beribadah atau mau jualan?

Manusia selalu memprioritaskan haknya, lalu lupa dengan kewajibannya.

Pokoknya manusia itu makhluk paling tidak rasional di jagat raya ini sekaligus goblok bin tolol.

Kalau kamu disuruh sama Allah, ya kerjakan saja.

Tidak usah bikin penelitian A, B, C, D, dan seterusnya.

Tidak usah banyak cingcongnya.

Kalau kamu sibuk untuk itu, terus kapan sholatnya?

Heheheh...."

"Saya sudah tahu kalau soal itu," Lakudu' mencoba kembali ke laptop.

"Tapi kan kita sebagai hamba harus sering-sering bermuhasabah. Melihat cermin diri. Memeriksa pengabdian kita.

Agar kelak bisa kita perbaiki yang rusak.

Supaya nanti bisa kita sempurnakan yang kurang.

Dan yang sudah baik, alhamdulillah, bisa kita syukuri.

Dan saya sendiri mendapati bahwa ternyata sholat saya ini belum tanhaa 'anil fahsyaa'i wal munkar.

Sampai sekarang.

Sholat diteruskan, tapi kelakuan tetap buruk.

Dan kebiasaan busuk juga tetap saya teruskan.

Ini kan big problem namanya.

Iya, to?"

"Ya, iya juga sih."

Labunrekke kembali berkomentar.

"Kalau sholat tidak bisa memperbaiki akhlak, sama juga bohong namanya.

Kalau sholat tidak menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, sama saja dengan tidak sholat.

Itu belum sholat, tapi pura-pura supaya kelihatan sholat.

Itu bukan sholat namanya.

Tapi push up.

Hahahaha...."

"Itu masih mendingan. Itu belum seberapa konyolnya."

Lakuttu tidak mau kalah.

"Lihat saja kalau ada pertandingan bola. Terutama kalau yang berlaga itu klub-klub besar seperti Real Madrid versus Barcelona. Apalagi kalau itu momentum final Liga Champions.

Penontonnya khusyuknya mengalahkan khusyuknya orang yang lagi sholat berjamaah di masjid-masjid.

Heheheh....

Sama halnya kalau orang lagi nonton film anu-anuan.

Yang nonton itu fana'-nya luar biasa.

Hahahaha....

Buktinya semua diam dan sunyi.

Fokusnya sampai-sampai mengalahkan fokusnya orang yang sedang dzikir khafiy.

Hahahaha...."

"Itu wawasan atau pengalaman?"

Labunrekke menyindir Lakuttu, dan tentu saja juga dirinya sendiri.

"Heheheh...."

"Ya, ini wawasan dari hasil pengalaman.

Hahahaha....."

Lakuttu memang lugu.

Lucu.

Dan guoblok.

Mereka berdiskusi-ria menghabiskan malam.

Berjam-jam.

Berbatang-batang rokok.

Bergelas-gelas kopi.

Berbusa-busa mulutnya.

Berton-ton cerita pengalaman ngawur.

Tertawa merdeka mirip orang "gila".

"Sudah.... sudah....

Jangan kentut kalau bicara."

Lacaddo' kembali ke inti materinya.

"Tidak usah jauh-jauh ambil contohnya.

Kalian dari tadi asyik dan khusyuk diskusi tentang sholat.

Sampai-sampai mengalahkan khusyuknya kalian sendiri waktu sholat.

Heheheh....

Buktinya kalian semua belum sholat Isya, kan?

Ini sudah mau azan Subuh.

Hahaha!"

"Asuuu....!!!!"