Pujian
Apa sih itu pujian?
Coba kita pikirkan dulu sebentar.
Saya beri waktu lima menit.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Empat menit.
Ah, daripada pusing, mari kita cari tahu bersama-sama.
Pernahkah seseorang mengucapkan kepadamu kata-kata yang membuatmu tersanjung? Hatimu menjadi senang tidak karuan. Di jiwamu seketika tumbuh dan bermekaran bunga-bunga yang beraneka warna. Hormon tertentu di dalam tubuhmu mengalirkan sesuatu yang terasa nikmat di otak. Napasmu sejuk dan melegakan. Lalu tiba-tiba volume kepalamu mungkin sedikit membesar karena bangga. Dan konon, kadang ada yang sampai klepek-klepek karenanya.
Nah, kalau kejadian semacam itu terjadi padamu, maka menurut saya, kamu sedang mengalami peristiwa yang sedang kita kaji dan ngaji bersama ini.
Orang-orang di bumi bagian Indonesia bersepakat menyebutnya sebagai "pujian".
Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai peristiwa Alhamdulillah. Lebih lengkapnya: Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
Ya, saat ada yang memuji kita, maka sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu, mau atau tidak mau, sebenarnya itu adalah semata-mata maha-pujian kepada Allah, Sang Pemilik segala bentuk pujian.
Maka saat orang memujimu, berterima kasihlah kepadanya. Minimal dalam hati kalau kamu gengsi mengatakannya.
Bergembiralah.
Bersyukurlah.
Tetapi saat kamu menerima pujian itu, jangan disimpan lama-lama.
Setelah kegembiraanmu, segeralah kembalikan pujian itu kepada Pemilik dan Maha Sumber dari keseluruhan pujian itu: Allah.
Sebab kalau pujian itu dipeluk erat dan dimasukkan terlalu rapat ke dalam hati, bisa jadi ia berevolusi menjadi kebanggaan. Dan kelak kebanggaan itu akan bertransformasi menjadi kesombongan.
Kalau manusia sudah sombong, maka tamatlah riwayat kemuliaannya.
Be careful!
After all, pujian adalah ungkapan ketakjuban, untaian kekaguman, bentuk luapan keterpesonaan, wujud penghormatan, dan pemuliaan sebagai respons positif atas kebaikan atau keindahan yang kita saksikan.
Pujian atau memuji adalah pekerjaan yang mulia.
Diperuntukkan bagi orang mulia.
Dan dilakukan oleh orang yang juga tentu mulia.
Berkenaan dengan soal "memuji" ini, saya teringat sabda leluhur:
"Narékko mupakalaq bi i padammu rupa tau, alému tu mupakalaq bi."
Kalau engkau memuji atau memuliakan sesamamu, sesungguhnya engkau sedang memuliakan dirimu sendiri.
Ya, engkau sedang memuliakan pribadimu.
Identitasmu.
Personalitasmu.
Bahkan keluargamu, organisasimu, negaramu, dan agamamu.
Kurang lebih begitu terjemahan saya.
Kurang lebihnya mohon dimaklumkan dan dimaafkan.
Otherwise, ada hal lain yang perlu direnung-fikirkan.
Saat orang-orang memuji kita, berusahalah agar kita memang pantas menerima pujian itu.
Saat mereka memuliakan kita, tetaplah berusaha agar kita layak mendapatkan kemuliaan tersebut.
Saat mereka berbuat baik kepada kita, pastikan bahwa kita memang orang baik yang berhak atas kebaikan mereka.
Semoga pujian mereka tidak salah alamat.
Tidak sia-sia.
Dan tidak menjadi semacam ironi bagi kita.
Sebab tidak sedikit orang yang dipuji bukan karena mereka pantas dipuji, melainkan karena orang-orang di dekatnya adalah pribadi-pribadi mulia yang tidak kikir memberikan pujian kepada siapa saja.
Orang-orang yang berinteraksi dengannya, baik di dunia nyata maupun maya, adalah jiwa-jiwa suci yang gemar menebar cinta, menyebarkan kebaikan, dan tidak pernah bosan mengabarkan kemuliaan.
Wal-akhir, janganlah kita cepat merasa mulia ketika dimuliakan.
Jangan buru-buru merasa telah menjadi orang baik ketika menerima kebaikan.
Jangan merasa menjadi orang terpuji ketika menerima sanjungan.
Sebab kemuliaan, kebaikan, dan sanjungan yang kita terima bisa jadi muncul bukan dari kualitas kita, melainkan dari kualitas orang-orang hebat di luar diri kita.
Justru merekalah sebenarnya yang mulia.
Yang terpuji.
Yang pantas menerima kebaikan itu.
Dan toh kalau ditelusuri dengan sabar dan tawakal—sebagaimana yang saya ungkap di atas—pujian itu adalah hadiah dan anugerah-Nya kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita.
Orang yang memuji kita hanyalah wasilah.
Perantara saja.
Tetapi hakikatnya, yang memuji dan yang dipuji adalah Allah.
Sehingga yang sungguh layak dan yang maha pantas menerima pujian itu hanyalah Dia, Tuhan seru sekalian alam.
Demikianlah perihal ini saya sampaikan.
Atas perhatiannya, diucapkan:
Alhamdulillah.
Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.