Tauhid.
Menurut pengertian sehari-hari saya, tauhid itu bukan sekadar mengesakan atau mengahadkan Tuhan. Sebab Tuhan, mau dibagaimanapun, tetap Ahad. Tetap satu. Satu yang bukan angka, bukan pula kerangka. Satu-Nya laisa kamitslihi syai'un.
Sekalipun seluruh manusia seplanet bumi menyekutukan atau menduakan-Nya setiap hari, Huwa tetap Ahad. Sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya:
"Qul huwa Allahu Ahad."
Tauhid justru adalah menyatukan makhluk Tuhan yang selalu punya kecenderungan untuk bercerai-berai. Terutama makhluk jin dan manusia. Yang sukanya membuat kelompok-kelompok, lalu dengan gampangnya bertengkar; menganggap perbedaan itu bukan rahmat, melainkan alat untuk saling menghancurkan.
Yang tidak mau mentadabburi bahwa perbedaan itu sengaja Tuhan ciptakan sebagai peluang untuk saling berkasih sayang dan bermesraan satu sama lain.
Tauhid adalah kesadaran lahir dan batin makhluk yang berbeda-beda dalam banyak hal, tetapi tidak lupa berdzikir bahwa Tuhan tetap satu adanya.
Tauhid Islam mengajak untuk membangun kerja sama dan kebersamaan antarmakhluk. Juga sebagai kritik universal bagi mereka yang hobinya membuat geng-geng religius, lalu saling mengkafirkan. Yang kebiasaannya membanggakan diri, menyombongkan organisasi dan komunitasnya, angkuh karena nasab keluarga, suku, ras, bangsa, agama, aliran, mazhab, sekolah, kampus, partai politik, dan seterusnya.
Juga bagi mereka yang secara profesional pekerjaannya merancang perang-perang panjang, mengadakan proyek adu domba, serta menyelenggarakan berbagai pesta nuklir dan lautan darah.
Maka tauhid, sebagai media kasih sayang dari Tuhan, didatangkan untuk menghindarkan dan menghentikan semua kemungkinan dan realitas yang memalukan itu.
Tauhid Islam hadir untuk memberikan wawasan keilahian berupa tawaran lita'arafu sebagai metodologi tahap awalnya: mempertemukan dan mengenalkan.
Mendekatkan mereka yang berjauh-jauhan secara ruhani untuk bersama-sama menyalakan cahaya perdamaian, meskipun kenyataannya mereka berbeda-beda.
Sehingga kelak akan ada rasa saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, saling mencintai, dan akhirnya mampu saling menyelamatkan (muslim) serta saling memberi rasa aman satu sama lain (mukmin).
Puncaknya adalah:
"Inna akramakum 'indallahi atqakum."
Menjadi manusia takwa yang rahmatan lil 'alamin, bukan la'natan lil 'alamin.
Akan tetapi, tetap saja ini hanyalah sebuah tawaran. Sebab la ikraha fid din memang diperuntukkan bagi manusia yang telah difasilitasi teknologi qalbu dalam rangka yafqahuna biha.
Makhluk Tuhan yang paling ahsani taqwim, yang diberi potensi kelebihan berpikir, keistimewaan merenung di gua Hira-nya, bermeditasi, meneliti, mengkaji, mengaji, dan mentadabburi ayat-ayat-Nya.
Meskipun demikian, tawaran Tuhan ini kadang-kadang harus dimaknai sebagai ujian bagi manusia yang konon banyak juga menjadi besar kepala karena merasa bangga sebagai ciptaan paling lengkap dan paling sempurna dibanding ciptaan Tuhan yang lain.
Sehingga sering kali tidak yatafaqqahu fid din, bahkan meremehkan dan merendahkan ciptaan-ciptaan yang lain.
Persis kelakuan dan keakuan iblis.
Mari berlindung kepada Tuhan dari trik dan tipuan setan dalam pikiran kita yang terkutuk ini.
Akhirnya, tauhid harus dipahami dengan penuh kerendahan hati.
Dan manusia juga harus sadar bahwa tidak semua hal bisa mereka kuasai. Tidak setiap masalah bisa mereka selesaikan.
Seperti persoalan yang telah, sedang, dan akan menimpa Indonesia serta umat Islam. Di situ Tuhan bekerja dengan begitu senyap dan sangat misterius.
Maka tidak ada cara lain selain senantiasa memohon pertolongan dan pengasuhan-Nya yang Maha Agung.
Apa pun yang melanda pikiran dan hati kita, selalu sandarkan kepada-Nya:
Huwa Allahu Ahad.
Ditemani oleh cahaya abadi Baginda Muhammad Rasulullah saw.
Mulailah dari diri sendiri dan keluarga.
Berkeluarga dan menjaga sakinah, mawaddah, wa rahmah adalah cahaya tauhid yang berpendar-pendar.
Di dalamnya ada penyatuan dua insan yang pasti berbeda karakternya. Penyatuan dua keluarga. Penyatuan batin antarindividu dalam keluarga.
Sehingga lahirlah kebersamaan dan kemesraan karena hadirnya kasih sayang di dalamnya.
Peristiwa saling memahami, saling menyempurnakan, adanya frekuensi pemaafan, masing-masing mengerti syariat tentang kewajiban dan haknya, saling mendoakan, bekerja sama, saling menempatkan diri pada posisi dan perannya, dan sebagainya.
Mulailah dari yang sederhana.
Peristiwa tauhid bisa kita saksikan, lakukan, dan rasakan di mana saja dan kapan saja.
Tauhid adalah berkumpul, berbagi senyum, dan saling menghibur.
Tauhid adalah bertemu, bersilaturahmi, dan berdiskusi.
Tauhid adalah sholat berjamaah, dzikir bersama, menjenguk yang sakit, menolong yang membutuhkan, menyapa yang kesepian, gotong royong, kerja bakti sosial, melestarikan alam, menyayangi binatang, mentraktir teman minum kopi, menikah, bermain teater, atau bermain musik.
Tauhid adalah memerangi kebodohan dan kedangkalan berpikir. Melawan ego diri sendiri. Menegakkan yang runtuh. Membangkitkan yang jatuh. Menerangi yang gelap. Memperbaiki yang rusak. Membersihkan yang kotor.
Dan silakan Anda teruskan sendiri.
Tauhid adalah persatuan Indonesia, kemesraan umat manusia seluruh dunia, dan kebersamaan cinta semua makhluk dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah Swt.
Wallahu a'lam.