Oleh Dirja Wiharja

Kini giliran La Caddo' yang jadi bahan baku tertawaan kawan-kawannya.

Bagaimanapun hebatnya ia bermain teater dan membaca puisi, sedemikian pun ahlinya dia berakting di atas panggung, ternyata ia kaku dan baper di panggung kehidupan. Ia K.O. di dunia nyata. Ia tidak mampu menyembunyikan kegalauan dan kehancurleburan hatinya.

Ia sakit.

Tapi sakitnya tuh di sini...

—sambil menyentuh dada sebelah kirinya.

Tulang rusuk jiwanya patah. Harapannya pecah. Perasaannya runtuh. Terjadi gempa di bagian kepalanya.

Seperti ada senjata tajam yang menusuk-nusuk dari dalam jantung lathifahnya. Tapi tentu hanya dia seorang yang merasakan perihnya penderitaan itu.

Sedikit lagi air matanya gugur berjatuhan. Namun cepat ia belokkan masuk ke dalam hati terdalamnya.

Air mata hati.

Air mata rahasia yang menyimpan sakit yang sangat.

Luka yang teramat.

La Kudu'—salah seorang kawan akrabnya—curiga ada sesuatu yang tidak beres menimpa La Caddo'. Akhirnya ia datang mendekat, menyapa, dan memulai basa-basinya.

"Kenapako, Caddo'? Sepertinya kamu sedang aneh. Adaga masalahmu, cappo'? Cerita-cerita mokko, bos. Siapa tahu bisaka' kasiko solusi cerdas. Kalau pun tidak, minimal hiburan mo pale' saja'. Heuheu."

"Tidakji," jawab La Caddo' singkat, padat, dan sangat tidak jelas.

"Ah, betulangkojE' E?"

La Kudu' meneruskan interogasi terselubungnya.

"Tidak papa ji."

La Caddo' bertahan dengan jawaban iritnya.

"Awwah, seriuskojE' E?"

La Kudu' mulai menyerang pertahanan emosional La Caddo'.

"Ais, bilangka' tidak papaji."

La Caddo' mengelak dan menangkis serangan tanda tanya La Kudu'.

"Allaa... bilangmako saja jE'. Nakentara orang kalau ada masalahnya. Heuheu..."

La Kudu' kini menghantam psikologi La Caddo' dengan sedikit tawa yang canggih mengejek.

"Ana' sambala'! Bilangka' tidak ada. There is no problem, alias maafii musykilah. Understand?! Justru kau di situ yang bermasalah mukamu... huahahah..."

La Caddo' malah mengembalikan tawa La Kudu' dengan bonus kejujuran yang menyakitkan.

"Bheee... jangan main fisik, bos! Tapi tidak papa ji. Innallaha ma'ash-shabirin. Mau si lagi alihkan pembicaraan ini, he?"

La Kudu' tidak terpancing. Bahkan ia mengangguk-angguk, sepertinya sudah menemukan delapan puluh persen jawaban yang dipenasarankannya.

"Kau juga di situ terlalu kepo. Mau terus campur urusan ta'. Bukan semen Tonasa ini yang dicampuru', ces. Heuheu... ini urusan pribadi...!"

Gawang La Caddo' sedikit lagi jebol. Hampir sedikit lagi. Lagi. Dan akhirnya...

"Gooolll...!!! He... kutaumi masalahmu! Hahahahah..."

La Kudu' tiba-tiba meledakkan ketawa khasnya yang dijamin sangat menjengkelkan.

"Hu... sottak ji ko kamu, Kudu'. Sok tahu. Apa garE' E?"

La Caddo' yang sekarang penasaran dengan temuan La Kudu'—jangan-jangan dia benar-benar telah tahu tempe masalahnya.

"Anu... E... itu... anu..."

La Kudu' sengaja melakukan improvisasi.

"Apa?"

Kini La Caddo' yang dipenasarankan.

"Anu... E... anu... E..."

La Kudu' mulai mendramatisasi suasana.

"Apa? Katakan saja!"

Wajah La Caddo' berubah merah.

"Anu... anu... E... E... ditolak cintamu to? Huaaahahahahahahahah...!!!"

Kini tawa La Kudu' memuncak. Membesar. Menggelegar. Ledakannya sempurna. Menggemparkan. Seperti Big Bang.

Suaranya bergema bergelombang menguasai gendang telinga La Caddo'. Dan itu berlangsung selama tiga menit empat belas detik.

Masya Allah.

Tidak usah dibayangkan.

Toh tidak ada gunanya.

"Sssst... jangko ribut. Natau nanti anggotaE."

La Caddo' benar-benar terbongkar. Persis seperti kucing yang sudah dipukul kepalanya. Ia akhirnya mengaku.

"Siapa memang tolakko? Coba ceritakang padaku."

Kini volume suara La Kudu' mengecil secara otomatis. Seakan-akan ia paham betul bagaimana menetralisir keadaan.

"Anu... itujE' E... anu... mutauji sebenarnya."

Tiba giliran La Caddo' yang ber-anu-anu. Tanda diserang kegugupan.

"Bilangmako saja siapa?! Cantik memang ga?"

La Kudu' kembali bertanya, bertahan dengan keras kepalanya.

"Anu... itu... anujE'... itujE' E... a... a... nu... anu..."

Anu dan gagap La Caddo' semakin bertambah. Kian menjadi-jadi.

"A... a... anu siapa? Bilangmako saja! Langsung sebut saja namanya siapa!"

La Kudu' terus saja bertanya dan terus bertanya siapakah gerangan yang telah menghancurleburkan singgasana perasaan La Caddo'.

"A... a... a............... a..................... a......... h..."

La Caddo' semakin kehilangan kekuatan untuk menyebut kata, mengungkap nama.

Mulutnya komat-kamit. Hati dan lidahnya bergetar. Namun pita suaranya gagal memproduksi sepatah kata pun.

"Siapakah? Kenapa susah sekali disebut? Siapa yang tolak cintamu?!"

"Ini adalah rahasia terbesar dalam hidupku."

La Caddo' kini terperosok. Jatuh. Tenggelam ke dalam lautan dirinya. Tersedot oleh atraksi black hole intuisinya.

Ia benar-benar fana'.

"Aku adalah seorang jomblo.

Aku sungguh rindu ingin dicintai.

Aku sendirian. Tak ada yang menyapaku.

Aku sakit. Tak ada yang menjengukku.

Aku berkeluh kesah. Tak ada telinga yang mendengarku.

Aku memanggil-manggil. Tak ada yang menjawabku.

Aku kelaparan. Tak ada yang memberiku makan.

Aku telanjang. Tak ada yang memberiku pakaian.

Aku kehujanan. Tak ada yang memberiku payung.

Aku gelandangan. Tak ada yang memberiku negeri."

"Katakan kepadaku, kepada siapa aku memohon?

Katakan, kalau bukan Engkau, lalu kepada siapa?

Kepada siapa aku keluhkan rindu yang berdarah-darah ini?

Kepada siapa lagi harus aku katakan cintaku ini?"

"Berkali-kali aku katakan cintaku padamu. Setiap saat. Setiap detik detak jantungmu. Setiap hembus keluar-masuknya napasmu.

Berkali-kali itu juga engkau menolak mentah-mentah cintaku...!"

La Caddo' terus saja berbicara sampai tak lagi menyadari bahwa ternyata kalimat yang terakhir tadi adalah kalimat yang langsung keluar dari lisan lembut Maha Kekasihnya.

La Kudu' roboh.

Tumbang seperti pohon dihantam gempa seketika setelah menyadari kehadiran Tuhan.

Tubuhnya jatuh ke lantai dan pingsan berjam-jam, mirip yang menimpa Musa di puncak Tursina.