Oleh: Dirja Wiharja


Sedekah laut dan atau sedekah bumi itu penting dan harus terus dilestarikan. Ini menurut saya. Jangan emosi dulu. Kalau ada yang tidak sependapat, dipersilakan dengan hormat.

Orang yang melarang, mensyirikkan, membid'ahkan, atau bahkan mengkafirkan orang yang melaksanakan ritual sedekah bumi dan laut adalah orang-orang beriman. Mereka sangat waspada dan penuh kehati-hatian dalam beribadah atau melakukan sesuatu. Mereka tidak mau ibadahnya rusak atau batal karena melakukan sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur'an dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi.

Mereka sangat wara' dalam beribadah karena tidak ingin pahalanya berkurang atau hilang akibat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam. Semua itu dilakukan demi Allah. Sungguh mulia mereka.

Akan tetapi, niat baik mereka itu kadang menjadi ceroboh karena cara berpikir dan pola sikap yang terlalu tekstual, materialistik, dan terkadang bertindak kurang ajar kepada sesama.

Sebenarnya saya sendiri bisa memahami dan memaklumi. Sebab mereka barangkali bukan manusia rohani (atau belum). Tidak memiliki kepekaan rasa untuk menyadari dan menangkap informasi atau pengetahuan gaib di balik fenomena yang terjadi di muka bumi.

Mungkin mereka tidak memahami bahwa ada energi yang bekerja, yang terlibat, dan bahkan selalu berinteraksi dengan manusia, walaupun manusia tidak menyadarinya. Energi itu adalah pancaran dan pendaran cahaya Ilahi. Ia dimaknai sebagai rentangan kekuasaan dan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Bekerja (Fa''al).

Laa ta'khudzuhu sinatun wa laa nawm.

Ya, energi itu senantiasa bekerja walaupun manusia tidak melihat dan tidak menyadarinya. Leluhur kita yang memiliki batin yang ter-upgrade sangat menyadari hal ini.

Analoginya seperti makanan yang terhidang di piring kita.

Untuk sampai di piring kita, tentu banyak pihak yang ikut terlibat. Misalnya nasi yang kita makan. Untuk mendapatkannya, yang bekerja dan yang terlibat di situ ada banyak sekali. Ada petani, ada yang memanen, ada yang menjemur, ada yang mengangkut ke pabrik, ada yang mengolah gabah menjadi beras, ada yang memasukkannya ke dalam karung, ada yang menjualnya, ada yang memasaknya menjadi nasi, kemudian bisa terhidang di piring dan barulah kita memakannya.

Belum lagi lauk-pauknya seperti ikan, ayam, sayur, dan lain sebagainya.

Ada banyak sekali pihak yang turut bekerja dan terlibat tanpa kita sadari.

Demikianlah hidup ini.

Demikianlah alam semesta.

Manusia terlalu antroposentris. Padahal manusia tidak sendiri. Manusia bukanlah satu-satunya makhluk di dunia ini yang hidup, bergerak, bekerja, atau mengabdi kepada Tuhan.

Gunung, hutan, sungai, lautan, tumbuhan, hewan, jin, khadam, makhluk astral, malaikat, atau sebutlah energi yang bersifat gaib dan seterusnya, seluruhnya mengabdi dan bekerja sama satu sama lain sesuai dengan sistem atau hukum yang telah diciptakan oleh Tuhan.

Hukum alam, atau yang kita sebut sebagai sunnatullah, adalah salah satu sistem yang telah diciptakan-Nya untuk merawat, menjaga, dan menyeimbangkan alam semesta.

Bencana yang sering terjadi pun merupakan salah satu bentuk penjagaan-Nya. Ketika alam mengalami ketidakseimbangan atau mendapat perlakuan tidak adil dari makhluk yang menghuninya, maka alam akan segera merespons dan memberi reaksi.

Gerakan alam semesta yang sedang mencari keseimbangan baru itulah yang manusia sebut sebagai bencana. Seperti gunung meletus, banjir, gempa, tsunami, dan sebagainya.

Singkatnya, alam ini sebenarnya memiliki kemampuan dan keistimewaan untuk memperbaiki diri ketika mengalami kerusakan, atau lebih tepatnya ketika dirusak oleh tangan-tangan kufur manusia.

Lagi pula, kalau orang bersedekah, memang bukan kepada Tuhan, tetapi kepada pihak lain yang menurut kita membutuhkan.

Jadi kalau ada yang melarang sedekah bumi dan laut dengan alasan karena sedekahnya katanya untuk makhluk astral atau jin yang menjaganya, apa salahnya?

Hanya sekadar bersedekah, berbagi, dan tidak menyembahnya.

Kecuali kalau ada yang menuhankan dan menyembahnya, takut kepadanya, hingga meminta keselamatan kepadanya. Itu jelas persoalan lain. Kita tetap harus berhati-hati supaya tidak tergelincir. Bersandarlah dan mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Hanya kepada-Nya.

Singkatnya, menyedekahi jin, bagi saya, sama halnya dengan bersedekah kepada manusia. Sama-sama bersedekah bukan kepada Tuhan, melainkan kepada makhluk-Nya: manusia ataupun jin.

Dan memang, sedekah itu bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak butuh apa-apa.

Lha wong yang kamu sedekahkan itu juga milik-Nya, kekayaan-Nya.

Yang Tuhan ingin lihat adalah: kamu bersedekah dalam rangka apa, bagaimana kondisi hatimu, ikhlas atau terpaksa, tulus atau modus, lillahi ta'ala atau li al-pahala.

Sedekah itu bukan berarti kita sedang memberi kebaikan. Justru kita sedang menerima kebaikan-Nya.

Sebab sedekah dapat membuat kita lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar, mengurangi keterikatan terhadap materi dan harta benda. Sedekah adalah proses menyembuhkan diri dari penyakit cinta dunia yang berlebihan.

Namun daripada bersedekah untuk jin atau demit, lebih baik dan lebih indah kalau bersedekah kepada sesama manusia saja. Masih banyak saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan bantuan.

Biarlah urusan jin diurus sesama jin.

Iya, kan?

Bijaknya, kita sebaiknya melakukan tafakkur (akal) dan tadzakkur (intuisi) sebelum menilai atau mengambil keputusan dalam berbudaya dan beragama.

Dalam salah satu kaidah fikih, saya mengenal prinsip:

Al-muhafazhatu 'ala al-qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.

Yaitu upaya melestarikan nilai-nilai luhur yang baik dari masa lalu sekaligus mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih baik.

Artinya, ketika ada budaya atau tradisi di suatu daerah yang baik, maka dalam pemahaman saya, kita tidak serta-merta menolaknya mentah-mentah, apalagi sampai bertindak intoleran, hanya karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam.

Sebaliknya, mari kita berendah hati, berlapang dada, menerima, lalu menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam agar budaya dan tradisi itu tetap hidup dan tidak bertentangan dengan syariat agama.

Sebab kekuatan dan ciri khas bangsa Indonesia ada pada tradisi dan budayanya yang beragam.

Jika tidak dirawat, semua itu akan hilang, tergerus dan tertelan zaman yang makin kacau dan edan ini.

Akan tetapi, saya menyadari bahwa penjelasan semacam ini sulit diterima oleh orang-orang beriman "itu".

Sebab aktivitas dan ibadah mereka harus berdasar "hukum" Tuhan, yaitu syariat yang telah tertulis dalam kitab suci dan dicontohkan oleh Nabi, lalu dicatat dalam kitab-kitab hadis.

Selain daripada itu: haram!

Wajarlah kalau kemudian muncul jargon "kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah". Ini adalah bentuk dakwah sekaligus sindiran mereka kepada orang-orang yang beribadah atau melakukan aktivitas yang menurut mereka bid'ah dan mengandung kemusyrikan.

Misalnya sedekah bumi, sedekah laut, memelihara pusaka leluhur, yasinan, tahlilan, maulid, Isra Mikraj, ziarah kubur, dan seterusnya.

Amaliah semacam ini bagi mereka adalah bid'ah.

Wa kullu bid'atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin nar.

Semua yang bid'ah itu sesat. Dan semua yang sesat masuk neraka.

Alhamdulillah. Ada orang hebat yang bisa meramal kehidupan akhirat berdasarkan pendapatnya sendiri.

Saya diam-diam sebenarnya kagum dan ngefans kepada orang-orang beriman model ini. Saya curiga, betapa hebatnya mereka.

Misalnya, orang yang pergi ke kuburan divonis musyrik. Alasannya karena mereka datang ke kuburan untuk meminta kepada orang yang sudah meninggal, bukan kepada Tuhan.

Saya curiga, orang-orang yang begitu mudah menghukumi musyrik itu memiliki pandangan mata batin yang sungguh luar biasa hebat. Sebab mereka bisa menembus dan mengetahui isi hati seseorang. Bisa mengukur dan menyaksikan iman seseorang.

Wow!

Saya tiba-tiba ingin berguru kepada mereka.

Bagaimana caranya kita bisa menilai dan mengetahui iman orang lain?

Sakti!

Benar-benar unbelievable!

Padahal setiap hari juga mereka meminta tolong kepada orang lain, bukan kepada Tuhan. Tapi entah kenapa mereka tidak pernah mengatakan bahwa itu musyrik.

Heuheu.

Kalau mau lebih hemat, begini saja.

Daripada saya terus memohon, meminta tolong, berdoa, berniat, dan menyembah Tuhan yang salah, maka begini saja:

Tunjukkan kepada saya Tuhan yang asli, yang sejati itu.

Yang mana?

Yang mana?

Allah?

Iya, yang mana itu Allah?

Jangan sebut nama-Nya saja. Nanti saya malah menyembah nama.

Tolong.

Iman saya masih lemah.

Ilmu saya masih awam.

Saya tidak makrifat.

Mohon, tunjuk langsung, biar saya tidak musyrik.

Yang mana?

Allah?

Allah yang mana itu?

Setahu saya, dulu juga ada berhala yang bernama Allah.

Jadi Allah yang mana ini?

Saya tidak butuh dalil, argumentasi, atau ocehan apa pun.

Silakan langsung tunjukkan saja kepada saya.

Yang mana?

Bagaimana?

Bisa?

Heuheu.

Syirik itu letaknya di hati dan pikiran manusia.

Mana mungkin manusia dihukumi kafir atau musyrik hanya karena penampilan, ucapan, atau perbuatannya?

Padahal orang yang sedang sholat pun tetap memiliki potensi musyrik bila saat sholat, pikiran dan hatinya sibuk mengingat dunia atau tertuju kepada selain Allah.

Itulah mengapa kita diminta melatih hati dan pikiran dengan dzikrullah. Agar kita bisa berdzikir dan tetap terhubung kepada Allah. Sadar Allah dalam setiap aktivitas keseharian kita. Baik di dalam maupun di luar sholat.

Walhasil, sedekah laut ataupun sedekah bumi adalah ekspresi rasa syukur atas nikmat yang Tuhan anugerahkan kepada kita semua, yang kemudian dengan akal budinya manusia mengolah dan merayakannya.

Adapun perihal vonis kemusyrikannya, mari kita kembalikan kepada Allah.

Alaisallahu bi ahkamil hakimin.

Hanya Allah yang memiliki data lengkap dan akurat mengenai kondisi hati dan iman manusia.

Manusia jangan berlagak seperti Tuhan.

Wal akhir, ini hanya pendapat saya.

Yang tidak setuju, saya persilakan dengan hormat.