Setiap melihat kekayaan dan kemewahan hidup orang lain, jiwa miskin saya bergejolak, berteriak-teriak: "Mau dong!", "Kapan ya saya bisa begitu?", "Kapan ya saya bisa punya ini itu juga?", "Kenapa ya saya tidak bisa seperti mereka?", dan berbagai suara lainnya. Dan itu sebenarnya biasa dan alamiah.
Semua keinginan-keinginan itu seperti oksigen yang tersedot saat bernapas, masuk melalui lubang hidung, lalu merayap naik ke kepala, kemudian meresap masuk ke otak, menjadi pikiran, menjadi semacam file .apk, terinstal di alam bawah sadar, menjadi aplikasi beban, dan jadilah masalah: tidak bahagia!
Untungnya, saya bukanlah pikiran. Bahkan saya bukanlah tubuh. Saya adalah aku. Dan akulah diri yang sejati.
Maka cobalah dan belajarlah memisahkan dirimu dari pancaindra dan pikiranmu. Ambillah jarak. Amatilah dengan baik. Kelak kita akan melihat bahwa pikiran hanyalah properti, semacam kepemilikan, atau sesuatu yang kerjanya berlalu-lalang: datang dan pergi.
Yang mana, diri kita merdeka untuk mengambil, menggunakannya atau tidak; menyimpan, mengumpulkannya atau membuangnya. Yang mana, semua itu sebelumnya tidak ada lalu tiba-tiba ada begitu saja.
Lihatlah bagaimana pikiran bereaksi atau memberi respons terhadap sesuatu.
Sadari dan saksikan bahwa keinginan manusia itu bersumber dari pikirannya. Tentu saja dibantu oleh pancaindranya. Namun pikiranlah yang menciptakan keinginan-keinginan dan semua fenomena perasaan yang dialami oleh manusia.
Bahkan ego pun sebenarnya tidak ada. Ego hanyalah ilusi yang juga diciptakan oleh pikiran.
Memang, pikiran manusia adalah teknologi yang ultra-canggih. Akan tetapi, baik-buruknya, benar-salahnya, indah-kejinya, itu semua bergantung pada kualitas hati atau batinnya.
العقل السليم من قلب سليم
Pikiran yang sehat bersumber dari hati yang sehat.
Batin yang sakit dan lemah akan menghasilkan kualitas pikiran yang juga lemah dan rendah. Olehnya, filsafat mengajari bagaimana manusia bersikap bijaksana dalam menggunakan pikirannya. Tasawuf hadir mengajari bagaimana manusia membersihkan hatinya dari sifat-sifat rendah atau tercela.
"Keinginan adalah sumber penderitaan," kata Iwan Fals.
Ya, betul. Tapi keinginan bersumber dari pikiran!
Saya akhirnya berhenti berpikir untuk punya keinginan menjadi kaya atau menjadi seperti orang lain. Saya syukuri dan nikmati apa yang ada maupun apa yang tidak ada.
Dan di saat itulah saya menyadari bahwa ternyata kehidupan ini adalah kekayaan yang tiada duanya. Hidup inilah kekayaan yang sesungguhnya.
Syukur. Sujud. Alhamdulillah.
Orang boleh bekerja keras atau bekerja cerdas. Silakan banting tulang, peras keringat dan pikiran, mengumpulkan uang, menumpuk harta, berlomba dalam kemewahan, membeli dan memiliki apa saja. Namun semua itu tak sanggup memberi kebahagiaan sejati.
Harta benda, jabatan, kekuasaan, popularitas, dan kemewahan hanya memberimu kemudahan dan kenyamanan. Selama hatimu sempit dan kering dari rasa syukur, maka hidupmu akan terus berkekurangan dan tetap saja menderita.
Lagi pula, selain kasih sayang dan amal kebaikan, semua tak berguna dan tiada arti ketika kita mati.
Ketika mati, yang dibawa pergi dari semesta ini bukanlah harta, materi, ataupun prestasi-prestasi duniawi. Melainkan, yang dibawa adalah kualitas ruhani. Adalah ketenangan dan kekayaan jiwa.
Memang, banyak harta itu mulia. Namun itu hanya berlaku di dunia. Semua hanya sementara. Sebab bagi Sang Pencipta jagat raya, semua itu bukanlah apa-apa.
Lebih baik dapat dunia sedikit saja. Hidup sederhana dan bersahaja. Daripada terikat dan diperbudak benda-benda. Jiwa jadi miskin. Batin bangkrut dan menderita.
"Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak dibawa mati," kata Mbah Nun.
Tapi tunggu dulu, kita jangan bodoh dan ceroboh!
Kita tidak boleh anti-dunia atau membenci materi. Sebab itu jelas-jelas adalah kemunafikan. Menolak uang dan kekayaan adalah salah satu dari sekian bentuk keangkuhan spiritual. Tidak demikian para nabi mengajarkan.
Yang tidak diperbolehkan adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga membuat kita takut akan kematian dan tidak rela mati meninggalkan kekayaan. Inilah yang disebut penyakit wahn:
حب الدنيا وكراهية الموت
Lagi pula, ini juga demi kebaikan manusia itu sendiri, agar ketika mati tidak tersiksa. Sebab hati dan pikiran yang sudah terlalu melekat dan penuh dengan materi atau urusan dunia itulah yang kelak menyusahkan manusia.
Mati, tetapi jiwanya masih gentayangan di bumi karena tidak siap meninggalkan semua yang merasa dimilikinya.
Tapi sekali lagi, mohon jangan bodoh dan ceroboh!
Dunia ini tetap penting dan wajib disyukuri. Dunia adalah ladang perjuangan, ruang kebaikan, dan tempat pengabdian. Dunia adalah masjid bagi orang-orang yang bertakwa.
Oleh sebab itu, tetaplah rendah hati dan bersahaja. Sebab mereka yang rendah hati kepada Tuhan dengan segenap jiwa, hati, pikiran, dan tubuhnya adalah orang-orang yang senantiasa diberi rasa khusyuk.
Kata Syaikh Al-Jurjani:
الخاشع هو المتواضع لله بقلبه وجوارحه
Yang paling tidak disenangi iblis adalah orang-orang kaya di dunia, tetapi hati dan perbuatannya tetap khusyuk kepada Allah. Orang-orang yang tangannya dan pikirannya sibuk bekerja di dunia, tetapi hatinya khusyuk berdzikir kepada Allah.
Orang-orang yang hidupnya diabdikan untuk kemanusiaan, untuk kemaslahatan orang banyak. Orang yang hidup di dunia, sekaligus hidup di akhirat.
Dunia adalah akhirat yang disembunyikan. Akhirat itu ya dunia ini. Ya sekarang ini.
Jangan tunggu mati baru masuk atau berpindah ke dimensi akhirat. Akhirat adalah alam batiniyah: diri kita yang terdalam.
Wahai diriku sendiri, bacakanlah dirimu setiap hari:
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Nikmati hidup ini. Jalani dengan kesadaran Innaa lillaahi: bahwa kita bersumber dari Allah, Dzat Yang Maha Ada, Maha Abadi.
لا موجود إلا اللّٰه
Tak ada yang ada kecuali Allah Yang Maha Ada.
Maka hakikatnya kita sebenarnya tidak ada, melainkan hanya diadakan saja. Keberadaan atau eksistensi kita hanya sementara. Jatah kita hanya sebentar. Mungkin 10, 20, 30, 40 hingga 70 tahun. Syukur dan sabar bila diberi lebih lama: 100 tahun atau lebih.
Faktanya, memang ada manusia yang kebal, tetapi tak ada yang kekal.
Maka jangan tunggu mati dulu baru bertobat. Jangan tunggu hancur dulu baru insaf. Semua akan dimintai pertanggungjawabannya!
Jadi, "ilaihi raaji'uun" juga bisa dilakukan sekarang. Jangan tunggu malaikat maut mencabut nyawa dulu baru ilaihi raaji'uun.
Setiap amal perbuatan yang dibarengi dengan niat tulus lillahi ta'ala, yang dikerjakan untuk kebaikan dan kemaslahatan, dilakukan dengan penuh kesadaran bertuhan, maka itulah "ilaihi raaji'uun".
Itulah jalan kebahagiaan sejati. Jalan yang dilalui oleh para nabi, awliya', shiddiqin, shalihin, dan semua kekasih-kekasih Allah.
Waba'du, saya teringat syair Al-Hallaj:
يا كل كلي فكن لي
إن لم تكن فمن لي
Wahai Segala dari segala-ku,
hadirlah, temani aku.
Jika Engkau tak bersamaku,
siapalah aku ini?
Apalah arti hidup ini?
Semoga seluruh makhluk berbahagia!
