Apabila masjid sudah besar, megah, dan indah, tidak perlu lagi untuk disumbang. Mubazir! Tentu saja ini menurut saya.
Kalau Anda mau menyumbang, silakan cari masjid yang kecil atau masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Atau langsung saja rezeki Anda itu disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Uang Anda langsung saja disedekahkan kepada fakir miskin atau anak-anak yatim. Akan lebih baik bila Anda sendiri yang langsung menyalurkannya.
Berbuat baik juga membutuhkan kecerdasan dan daya kritis, agar Anda tidak mudah dibohongi atau ditipu. Anda harus sadar bahwa banyak maling yang berpeci kebaikan dan berjubah agama di sekitar kita. Siapa sih yang tidak suka uang? Anda jangan terlalu polos, lugu, dan dungu!
Dengan berat hati saya berpendapat bahwa termasuk makruh hukumnya menyumbang masjid yang sudah jadi, masjid yang sudah selesai pembangunannya. Sekali lagi, makruh hukumnya menyumbang masjid yang bangunannya sudah berdiri dengan kokoh, megah, dan indah. Apalagi kalau ternyata kas keuangan masjidnya itu sampai miliaran atau ratusan juta rupiah di bank.
Uang seperti itu sangat berpotensi dimakan setan. Anda tahu, kan? Di mana ada uang, di situ pasti ada setan.
Seandainya pengelolaan keuangan masjid itu jujur, benar, dan tepat, mustahil ada orang atau tetangga yang susah atau miskin di sekitar masjid. Sadarlah, masjid hanya bangunan. Yang paling utama untuk diperhatikan dan disejahterakan adalah jamaahnya, masyarakatnya: manusianya!
Kalau memang masjidnya sudah besar, megah, dan makmur, maka hentikanlah pembangunannya. Selanjutnya adalah memakmurkan jamaahnya, masyarakatnya, dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Itulah yang terpenting.
Dosa besar bagi pengurus masjid jika punya kas keuangan sampai ratusan juta atau bahkan mencapai miliaran rupiah, tetapi ada jamaah atau orang di sekitar masjid yang hidupnya susah, kelaparan, sakit, atau sedang menderita namun tidak dibantu.
Ingat! Masjid memang tempat berjamaah. Namun bukan hanya untuk sholat atau dzikir berjamaah, melainkan juga berjamaah dalam hal menyelesaikan masalah-masalah sosial. Mengatasi persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Terutama soal kemiskinan dan kebodohan!
Masjid yang berhasil dan benar-benar berfungsi sebagai Baitullah—Rumah Tuhan—tidak dilihat atau dinilai dari besar dan megahnya fisik bangunannya. Tidak diukur dari indah dan hebatnya arsitektur bangunannya.
Masjid yang benar-benar masjid adalah yang mampu menciptakan suasana dan lingkungan surga: hidup yang harmoni dan penuh kemesraan. Masyarakat atau jamaahnya senantiasa berjamaah di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Berjamaah dalam arti yang luas dan lebih hakiki: saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, saling memberi rasa aman, saling mengasihi, dan saling mendoakan dalam kebaikan.
Sangat tidak masuk akal bila bangunan masjid berdiri dengan megah dan indah, tetapi terlihat masih ada gelandangan, anak-anak terlantar, atau pengemis di sekitarnya. Pasti ada yang tidak beres!
Mustahil bila sumbangan dari jamaah terus mengalir, bertambah setiap hari sampai kas keuangan masjidnya ratusan juta, tetapi masih ada anak-anak yatim terlantar, orang-orang susah, dan kaum miskin di sekitar masjid. Uang sebanyak itu mau diapakan? Ditumpuk? Atau mau diendapkan di bank agar bunganya bisa Anda petik sendiri?
Celakalah mereka yang membangun masjid! Celakalah mereka yang sholat! Yaitu orang-orang yang sholat tetapi lalai. Rajin sholat dan dzikir di masjid, tetapi lalai. Lalai dan tidak mau membantu serta mengasihi sesamanya. Tidak peka dan tidak peduli terhadap kondisi saudara atau sesamanya.
Semoga kita tidak termasuk orang-orang celaka yang termaktub dalam Surah Al-Ma'un:
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,
وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ
Maka celakalah orang yang sholat,
الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ
(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya,
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ
yang berbuat riya,
وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
dan enggan (memberikan) bantuan.
Waba'du, saya memohon maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung atau bahkan melukai perasaan Anda. Tidak ada maksud lain kecuali sekadar menambah daftar harapan dan sekaligus sebagai penyadaran bersama. Terutama bagi diri saya sendiri.
Bahwa semestinya, masjid-masjid kita yang besar, indah, megah, dan makmur itu adalah simbol yang menandakan bahwa jiwa kita besar, niat dan pikiran kita juga indah, singgasana hati kita megah, dan seluruh masyarakat atau umat juga sudah merasakan keadilan yang makmur dan sejahtera.
Bisakah kita sedikit saja memiliki rasa malu di hadapan Tuhan? Memasuki masjid atau rumah-Nya dengan gagah dan penuh percaya diri untuk beribadah kepada-Nya, tetapi pada saat yang bersamaan kita melupakan kewajiban kita, yaitu membantu dan meringankan beban sesama hamba-Nya di luar sana yang sedang mengalami kesulitan atau diterpa ujian penderitaan?
Bisa?
Suatu ketika, usai sholat Jumat di sebuah masjid megah di Kota P, saya berdoa sangat lama dan khusyuk. Berbicara dan memohon banyak hal kepada-Nya: Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Di sela-sela doa saya yang khidmat, tiba-tiba Tuhan mengetuk-ngetuk pintu lathifahku:
"Wahai yang mulutnya komat-kamit berdoa, meminta pahala dan sibuk meminta surga! Kau datang ke masjid, rumah-Ku. Namun sayangnya, Aku tidak berada di rumah-Ku.
Aku sedang menemani hamba-hamba-Ku yang kesepian. Aku sedang bersama mereka yang sakit, mereka yang lapar, yang kehujanan, yang tertimpa musibah, yang hidupnya susah, yang terlantar, yang tidak dipedulikan, yang terbuang, dan mereka semua yang mengalami ketidakadilan.
Aku sedang menemani kekasih-kekasih-Ku itu. Kalau kau mau bertemu dengan-Ku, datanglah! Keluarlah dari rumah-Ku. Cari dan bantulah mereka. Hadirlah di sisi mereka.
Aku senantiasa bersama mereka. Dan mereka semua selalu bersama-Ku. Demikianlah kebenarannya.
Wahai orang-orang beriman, seharusnya jiwamu lebih besar dan lebih megah daripada bangunan masjidmu!"
(Bersambung)
