Yang Terhormat, Kekasihku
Aku tulis surat ini dengan tangan berkeringat cinta dan darah.
Sedang kepalaku yang pecah tergeletak di atas leluhur yang sudah menjadi tanah.
Air mataku yang terluka berceceran di mana-mana.
Sekujur tubuhku terbujur, koyak-koyak sudah.
Rohku masih menyala, namun jiwaku disekap entah oleh siapa.
Aku sudah tak kuat menyimpan dendam yang semakin membuncah.
Nasionalismeku berlumuran perih yang sangat marah.
Aku gerah!
Aku tidak tahu di mana aku. Aku di mana?
Aku tidak tahu bagaimana aku. Aku harus bagaimana?
Mulutku disumpal. Leherku dibekuk. Mataku dilucut. Telingaku ditusuk. Otakku membusuk!
Tak ada yang bisa aku perbuat, kecuali membiarkan hatiku bekerja bakti, berdoa sakti:
Allahummahdii habiibii fainnahum laa ya'lamuun.
(Ya Allah, berikanlah hidayah kepada kekasihku; pemerintah.)
Lindungi kekasihku!
Jaga kekasihku!
Ampuni dosa kekasihku!
Terimalah taubat nasuha kekasihku!
Dia tidak tahu, ya Allah.
Dia sedang lupa, ya Allah.
Dia sedang terperangkap oleh setan dirinya.
Dia sedang terjerat oleh iblis nafsunya.
Dia sedang ditipu habis-habisan oleh dajjal syahwatnya, ya Allah.
Selamatkan kekasihku, ya Allah!
Sayang...
Kekasih macam apa kau ini?
Dulu, kau sendiri yang datang menggodaku.
Kau mondar-mandir tak jelas, menebar pesona ke kiri dan ke kanan di hadapanku.
Kau datang dengan senyum manis, petantang-petenteng dengan gaya klasik buaya daratmu.
Kau tiba-tiba muncul bak jelangkung kesiangan; datang tak diundang, pulang tak diantar.
Kau datang sok imut dengan segala bentuk topeng pencitraan bangsatmu.
Kau datang sok pintar dengan seabrek retorika dan quotes-quotes brengsekmu.
Kau datang sok suci dengan berton-ton gombalan ilmiah dan kata mutiara di mulut keparatmu.
Kau datang sok negarawan dengan berkarung-karung pidato filsafat kebangsaan tailacomu.
Sayang...
Masih ingatkah kau, wahai kekasih?
Kau pasang foto raksasamu yang tampan rupawan di pinggir jalan, di sudut-sudut strategis kota.
Dengan slogan-slogan cinta, nurani, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan sosial, kepedulian, dan pembangunan takhayyulmu.
Semua itu kau lakukan agar aku melirikmu, mau mengenalmu, agar otakku membuat folder khusus untuk menerima kamu di kepalaku. Iya, kan?
Dan karena bagimu itu belum juga cukup, maka kau kampanyekan pula cintamu di mana-mana.
Di jalanan.
Di lapangan.
Di rumah-rumah Tuhan.
Di koran-koran.
Di radio.
Di televisi.
Di media sosial.
Di warung kopi.
Di pohon.
Bahkan di hutan-hutan.
Kekasih, aku masih sangat ingat.
Waktu itu kau mendekatiku, lalu menyapaku.
Kau selalu memujiku.
Kau menyanjungku.
Kau merayuku.
Kau membesar-besarkan kepalaku.
Kau sembah-sembah aku.
Bahkan kau bersumpah demi "Tuhan", hanya agar aku menerima cintamu.
Namun aku menolakmu.
Aku tidak mencintaimu.
Sebab kutahu kelakuan burukmu.
Kutahu semua rencana busuk di kepalamu.
Lebih baik aku menjadi perawan tua daripada harus dinikahi oleh orang seperti kamu.
Namun kau terus saja menggangguku.
Mendatangiku.
Mengajakku.
Mencolek-colek aku.
Melamar-lamar aku sebagai istrimu.
Aku pun luluh.
Aku merasa iba kepadamu.
Akhirnya aku percaya pada kata-katamu.
Aku menerima segenap cintamu dengan tabah dan lugu.
Dan kau membuktikan janji serapahmu dengan memberiku mahar hasil depe-depemu: sarung, kompor, songkok, sejumlah uang ratusan ribu, dan entahlah.
Emangnya gue pikkiriki!
Sayang...
Kekasih macam apa kau ini?
Masih ingatkah kau?
Dulu kau tawarkan aku rumah tinggal yang aman dari pertengkaran iman.
Tentram dari perkelahian ideologi dan aliran-aliran.
Bebas dari ormas dan pelajar-mahasiswa yang suka tawuran.
Merdeka dari perang dan kezaliman si tuan fulan.
Kau tawarkan aku tanah air yang selamat dari aneka ragam pertikaian.
Nyaman dari segala bentuk amuk marah dan kebencian.
Sentosa dari parpol dan geng-geng religius sialan.
Kau sodorkan mimpi tentang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.
Tapi kau sendiri yang kufur dan Fir'aun!
Kau pembohong bermulut jalang!
Sayang...
Pemerintah!
Kekasih macam apa kau ini?
Kau janjikan aku kesejahteraan, tapi kau beri aku kemelaratan.
Kau bilang akan menafkahiku, tapi de' je' mujampangika' setang!
Kau katakan akan mendidik anak-anakku, tapi kau bunuh kreativitas mereka dengan sekolah dan universitas bikinan perusahaan ilmu serta industri-industri pendidikan.
Kau buang-buang waktu mereka dengan acara televisi dan tempat-tempat hiburan.
Kau berpuisi bahwa kau sayang padaku, tetapi nyatanya kau hanya sayang tubuhku saja.
Kau hanya datang bila kau perlu.
Kau hanya ingin menyetubuhiku, membuang sperma Abu Lahabmu ke liang vaginaku, lalu pergi dan menghilang.
Binatang macam apa kau ini!
Kau bersumpah untuk setia sampai mati.
Namun buktinya, kau selingkuhi aku setengah mati.
Selingkuh dengan jabatanmu.
Dengan gajimu.
Dengan kekuasaanmu.
Dengan partaimu.
Dengan wisatawan asing.
Selingkuh dengan semua tetek bengek politik laknatmu.
Kau cium aku sebelum kau menamparku.
Kau usap dan belai rambutku, lalu kau benturkan kepalaku ke batu.
Kau peluk aku dengan mesra, lalu kau tikam-tikam aku dari belakang.
Kau beri aku kasih sayang, lalu kau perhinakan seluruh sisi kemanusiaanku.
Kau kasi' pake bajuka baru, ko telanjangika', asu!
Kekasih macam apa kau ini?
Dan aku yang bodoh ini...
Terus saja memaafkanmu.
Memaafkanmu.
Memaafkanmu.
Dan terus mendoakanmu.
"Kurang asu apalagi cintaku padamu, wahai pemerintah!?"
O Puang maraja pammase
Cau' tongengna' kasi' iyya'
Idi' mani meloki magai
