Sayang, Apakah Kamu Tahu?
Sayang, apakah kamu tahu?
Bencana dalam cinta itu adalah cemburu.
Ya, aku cemburu.
Aku ingin menceritakan hal itu kepadamu.
Sayangku,
Aku selalu ingin menatap wajahmu yang lucu.
Mengawasi aktivitas keseharianmu di balik layar hapeku.
Itulah mengapa aku sangat betah di beranda Facebookmu.
Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan rinduku.
Rindu yang begitu sangat menyiksaku, sebab aku sangat ingin bertemu denganmu.
Sayang,
Aku selalu cemburu kepada ratusan temanmu yang menekan tombol like di bawah foto-fotomu.
Apalagi mereka yang sampai berkomentar mesra kepadamu.
Aku seperti ingin membunuh mereka satu per satu.
Ya, aku benar-benar ingin menghabisi mereka semua.
Tapi, di negara ini tak ada hukum dan undang-undang perihal cemburu.
Tak ada ulama yang mau berfatwa khusus mengenai syariat cemburu.
Tak ada politisi yang berani menjadi negarawan untuk membela kaum pencemburu yang tertindas seperti aku.
Padahal, bagiku, menyebabkan seseorang cemburu adalah bentuk kekerasan yang sudah keterlaluan.
Sakitnya lebih berdarah daripada dilempari cadas batu.
Perihnya bahkan lebih ngeri daripada dihujani ganas peluru.
Aku tahu, orang yang pernah jatuh cinta akan sepakat dengan pernyataan sikapku.
Kecuali mereka yang cintanya cuma pura-pura atau sekadar main-main.
Bagi mereka, cemburu itu biasa-biasa saja dan tak perlu disikapi sedemikian rupa.
Tapi maaf, aku tidak.
Cemburu tidak sesederhana logika dan epistemologimu.
Cemburuku tidak seremeh dan seramah cemburu orang-orang kebanyakan.
Aku berbeda.
Camkan itu!
(Asal kamu tahu...
Aku cemburu begitu karena Tuhanku Maha Pencemburu.
Dialah yang telah mengajariku cinta dan ilmu cemburu.
Dia pernah berwahyu di telingaku yang batu:
"Sesungguhnya Aku bersama hamba-Ku yang pencemburu."
Sejak saat itu... jadilah aku iblis pencemburu.)
Sayang, kamu harus tahu.
Aku selalu cemburu saat melihatmu berdua-duaan di foto dengan lelaki lain.
Aku tidak peduli siapa mereka.
Tetapi setiap kali kulihat kamu bersamanya, dadaku tiba-tiba sesak.
Belukar perasaanku terbakar.
Mataku menyalakan bara, memerah dan memarah.
Seekor anjing dalam diriku mengerang, menggeram, menerkam-nerkam dari dalam.
Ingin sekali rasanya kutarik kerah baju lelaki itu.
Kuludahi dia dengan cacian di batang hidungnya yang belang dan belagu.
Kumuntahi dia dengan sumpah serapah.
Lalu kugamparkan tinjuku tepat ke mukanya yang sangat menjengkelkan itu.
Cih!
Sayang, kamu harus tahu.
Aku juga pasti cemburu saat kamu bercerita tentang deretan kisah mantanmu.
Apalagi setelah kuselidiki dan kutahu ternyata dia lebih alim dan lebih tampan dariku.
Cemburu dan gundahku akan semakin berlipat-lipat menggulana, panasnya mengganda menggada.
Lelaki baik hati yang pernah mencampakkanmu itu...
Ingin sekali rasanya kutaruh kata bangsat dan keparat di belakang namanya.
Ingin kurobek mulutnya yang penuh manis, yang pernah ia gunakan untuk menyatakan cintanya kepadamu.
Ingin sekali kucongkel matanya yang perbawa, yang pernah ia gunakan untuk memandang dan memotret kecantikanmu, namun setelah itu dipakainya untuk mengiris-iris kesetiaanmu.
Ih!
Izinkan aku mencabik-cabiknya.
Aku ingin mencincang-cincang daging perasaannya yang telah masuk dan tega menghancurkan hati serta ketulusanmu.
Akan kucari mereka semua, walau sampai ke negeri Cina.
Walau sampai ke liang neraka.
Akan kucabut kenangan dan seluruh ingatan tentangmu dari tenggorokannya.
Cih!
Sayangku, kamu harus tahu.
Aku selalu cemburu setiap hari.
Terutama kalau seharian kamu tidak membalas pesan-pesan singkatku.
Anak kecil yang bersembunyi di dalam kepalaku selalu berpikir, jangan-jangan kamu sedang dibuat sibuk oleh lelaki lain yang sedang mengincar hatimu.
Pasti kamu sedang digeniti oleh entah siapa itu.
Aku selalu membayangkan ada lelaki yang sedang mendekatimu.
Dia sedang merayumu.
Dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menaklukkanmu.
Menghimpun strategi untuk memilikimu.
Aku membayangkan...
Dia sedang sering-sering meneleponmu.
Mengirimimu rayuan singkat dan emotikon bunga di hapemu.
Atau bisa jadi sekarang dia sedang bertamu ke kosmu.
Mengapelimu.
Membacakan puisi.
Menyanyikan lagu-lagu favoritmu.
Cuh!
Aku juga membayangkan...
Jangan-jangan sekarang dia sedang duduk berdua denganmu tanpa spasi.
Bisa jadi dia sedang berencana mencolek-colekmu.
Atau jangan-jangan dia bahkan sedang memboncengmu keluar dengan motornya.
Oh...
Aku tak tahan membayangkannya.
Aih...
Perih!
Sayang, ketahuilah.
Setiap semua bayangan itu berdatangan dan berdenyut-denyut di pikiranku, aku di sini hancur berantakan.
Aku hanya bisa berpura-pura tidak tahu.
Lalu kuambil jurus menghilang.
Pergi sejauh-jauhnya.
Berpaling dari pemandangan yang sangat mengerikan itu.
Oh...
Menyedihkan.
Aih!
Sayang, kamu harus tahu.
Aku bahkan cemburu dan menaruh dendam kepada puisi-puisiku sendiri.
Mereka sungguh tak tahu diri dan tak punya rasa malu.
Mereka begitu genit dan lancang menggodamu.
Aku sangat membenci mereka.
Karena ternyata mereka lebih intim dan lebih perhatian kepadamu dibanding aku yang culun dan sangat kaku.
Aku ingin melucuti huruf-hurufnya.
Mematah-matahkan kata-katanya.
Mendamprat seluruh rayuan gombalnya.
Lalu kuambil pisau dapur.
Kemudian kubalaskan kesumatku.
Kutikam-tikam puisiku itu tepat di pusat jantungnya.
Sampai mereka memohon ampun kepadaku.
Akan kubikin mereka berdarah-darah.
Sampai mereka semua mampus di tanganku.
Uh!
Sayang, kamu harus tahu.
Aku pun cemburu kepada buku-buku yang jumlahnya ratusan di kamarmu.
Aku iri.
Mereka bisa dengan bebas menemanimu.
Menghiburmu.
Dan selalu leluasa memandang wajahmu.
Ah...
Aku juga cemburu kepada film-film yang kau tonton.
Cemburu kepada lagu-lagu yang kau dengarkan.
Cemburu kepada quotes-quotes yang kau kutip.
Cemburu kepada bakso dan es krim yang kau makan.
Cemburu kepada paper kuliah yang kau kerjakan.
Cemburu kepada dosen yang mengajarmu.
Cemburu kepada setiap jalan yang kau lewati.
Cemburu kepada motor yang kau kendarai.
Cemburu kepada rumah dan kota yang kau tinggali.
Cemburu kepada apa saja dan siapa saja yang berhasil mencuri perhatianmu.
Aku cemburu.
Benar-benar cemburu.
Dan semua itu sangat menyakitkan hatiku.
Aih!
Sayang,
Aku tahu cemburuku sudah sungguh terlalu.
Tetapi dialah saksi cintaku yang betapa liar dan dalam kepadamu.
Aku tidak malu mengatakan semua ini.
Karena seluruhnya datang dan keluar dari dalam ragasukmaku.
Terserah apa katamu.
Beginilah aku.
Dan demikianlah aku.
Pencemburu.
Dan sangat mencintaimu.
(Aku suka caraku mencintaimu.
Mencintaimu dengan cara yang sakit.
Karena cemburu adalah luka yang tak akan usai.
Sakit yang tak akan selesai-selesai.)
— Dirja Wiharja

assalamualaikum senior.
BalasHapustabe senior, bisa sya pinjam kalimat profil ta untuk cetak di baju?
Boleh. Silahkan
BalasHapusiye terimahkasih senior.
BalasHapus