Indonesia Telah Mati, Konon Katanya

Bangsa yang besar itu telah habis riwayat hidupnya.

Negara yang raksasa perkasa itu telah tutup usia.

Kerajaan Garuda itu telah ditelan kuburannya.


Namun...

Tak ada yang tahu persis kapan dan di mana ia meninggal dunia.

Media massa sepertinya tutup mulut serentak.

Bungkam.

Dan tumben kompak berpuasa.

Tampaknya sama sekali tidak tertarik meliput dan memberitakannya.

Kelihatannya para wartawan memang sengaja menutup mata, menutup telinga, dan menutup hidung demi menghindari kabar serta bau kematiannya.

Akhirnya Indonesia tewas dalam keadaan rahasia yang menggenaskan.


Penyebab kematiannya pun tidak dapat diketahui.

"Mungkin karena serangan jantung," kata seseorang.

"Boleh jadi karena dibunuh oleh perampok di rumahnya," bisik yang lain.

"Atau bisa juga gara-gara diterjang amuk tsunami, ditikam banjir, ditembak angin puting beliung," gerutu yang lain.

"Barangkali dikeroyok longsor, ditawur sama anak-anak SMK, diaborsi oleh ibunya yang masih mahasiswa, ditumbalkan keluarganya sendiri, dikorbankan, lalu diinjak-injak oleh suporter sepak bola," sahut yang lain.

"Atau mungkin ia ditampar erupsi abu vulkanik gunung berapi, dilindas kereta api, ditabrak gara-gara foto swafoto, atau dimakan oleh kawanan pejabat yang kanibal," komentar seseorang dari belakang.

Wallahu a'lam.

"Tapi ada juga yang bilang kalau matinya itu karena bunuh diri," sambung yang lainnya.

"Bisa jadi. Tapi kalau memang beliau meninggal dunia karena bunuh diri, lalu bunuh dirinya kenapa? Alasannya apa? Apa sebabnya?" lanjut yang lain.

"Mungkin karena Indonesia stres, depresi, akhirnya gangguan jiwa, lalu memilih gantung diri, minum racun, atau menembakkan peluru ke batok kepalanya. Kan banyak jalan menuju mampus."


"Ah, kalau menurut indra keenam saya, peristiwa yang sebenarnya tidak begitu.

Indonesia itu tidak mati, alias masih hidup dan masih bernapas.

Dia itu sakti mandraguna.

Pendekar silat.

Bertapa sekian abad.

Menguasai berbagai macam ilmu, mulai dari ilmu malaikat sampai ilmu iblis.

Semua sudah disarjanai oleh Indonesia.

Dia profesor kebatinan.

Doktor ilmu gaib.

Bisa berkomunikasi dengan siluman dan kerabat-kerabatnya.

Jin dan tuyul saja bisa disuruh-suruh.

Makhluk halus dinikahi.

Setan dilawan tawuran, bahkan dijadikan hiburan di layar televisi.

Dia juga bisa mengusir dan memanggil hujan.

Bisa tahu angka dadu dan nomor togel.

Mampu berjalan di atas air.

Punya ilmu menghilang.

Sampai Tuhan pun bisa ditipu dan dipermainkan.

Pokoknya Indonesia itu sangat tangguh dan tak mungkin bisa mati dengan mudah, apalagi dibunuh begitu saja."


"Kalau menurut mata batin saya, jangan-jangan dia itu hanya sedang meraga sukma. Lalu orang-orang menyangka dia mati. Kemudian di-inna lillahi-kan, dimandikan, dikafani, dishalati, lalu dikebumikan."

Ya...

Mungkin.

Ya mungkin juga tidak.

Siapa yang tahu?


Tiba-tiba seseorang menjerit-jerit.

Meronta-ronta.

Sepertinya dia kesurupan.

"Hmm... di mana kuburanku?!"


Kalian mau tahu?

Kalian benar-benar mau tahu?

Bersungguh-sungguhkah ingin tahu?


Cari kuburanku di hati rakyat jelata.

Cari kuburanku di hidup orang-orang yang tertindas.

Cari kuburanku di sakit orang-orang yang dicuri tanah airnya.

Orang-orang yang ditipu.

Dimanipulasi.

Direkayasa.

Disepelekan.

Direndahkan.

Diperhinakan.

Diinjak-injak martabatnya.


Carilah di desa-desa terpencil.

Di kolong jembatan.

Di tempat-tempat kumuh.

Dalam tangis orang-orang pinggiran.

Pada nyanyian pilu para gelandangan.

Pada kaki-kaki dan lidah para pengemis jalanan.

Jangan cari di istana negara.

Jangan cari di gedung-gedung mewah.

Jangan cari di televisi berwarna.

Jangan cari aku di mulut koran-koran.


Temukan kuburanku pada air mata Ibu Pertiwi.

Temukan kuburanku di tumpah darah leluhur yang dilupakan.

Temukan kuburanku di liang lahat orang-orang yang terbuang.

Temukan aku di daftar deretan orang-orang hilang.


"Aku Indonesia.

Mayatku bergelimpangan di situ."