Rabu, 04 Desember 2019

Hakikat Assalamu Alaikum!

Suatu ketika, Rasulullah bercengkrama dengan para sahabat. Beliau yang mulia berkata:

 لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ تحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَم بَيْنَكُم

Wahai sahabatku, kebahagiaan dan keindahan surga di dunia maupun di akhirat tidak bisa dirasakan kalau kita tidak saling memberi rasa aman kepada sesama manusia, terhadap sesama ciptaanNya (beriman). Dan rasa aman itu tidak bisa terwujud sebelum kita saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi satu sama lain (berislam). Dengarkan lah baik-baik, kuberi tahu dan kutunjukkan jalan supaya kalian saling mencintai. Yaitu: Sebarkanlah salam di antara kalian.

Menurut pengetahuan umum, bahwa "sebarkan salam" dalam sabda nabi itu maksudnya, "Ucapkan lah salam". Dan itu benar. Itulah syariat salam dalam islam. Yaitu kepada sesama hendaknya kita mengucapkan "assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuhu". Semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyertaimu sekalian wahai saudaraku, wahai sekalian makhluk sesama ciptaan, semoga senantiasa dalam lindungan serta limpahan kasih sayang Allah dan keberkahan dariNya.

"Salam" bukan hanya ucapan indah melainkan ungkapan doa yang sungguh mulia. Secara syariat, kalau ini benar-benar diaplikasikan, dunia ini akan menjadi taman-taman surga. Sebab memberi salam adalah memberi keselamatan kepada sesama. Dan menjawab salam berarti kita turut serta, ikut bersepakat untuk saling menyelamatkan. Visi dan misi kita di dunia adalah "semoga semua makhluk selamat dan berbahagia".

Maka, salam adalah perjanjian universal kita di hadapan tuhan: Assalamu alaikum! Saya dengan penuh kesadaran berjanji di hadapan tuhan untuk tidak mengganggu, untuk tidak mengambil hak atau harta benda orang lain. Assalamu alaikum! Saya dengan penuh keyakinan berjanji di hadapan tuhan untuk tidak merendahkan martabat orang lain; untuk tidak menghina, mencaci, membenci, memfitnah atau menipu orang lain; untuk tidak melecehkan harga diri orang lain. Assalamualaikum! Saya dengan penuh ketulusan berjanji di hadapan tuhan untuk tidak menyakiti fisik orang lain; tidak melukai perasaan orang lain; apalagi sampai membunuh atau mengambil nyawa orang lain. Itulah hakikat salam. Wallahu a'lam

Oleh karena itu, tagihlah diri kita setiap hari untuk mengamalkan sabda nabi ini. Sebarkan lah salam di antara kalian! Bukan sebarkan lah cacian di antara kalian! Ingat lah itu wahai diriku!

Taparajangekka addampeng yaa Rasulallah!
Allahumma Sholli ala Sayyidina wa habiibina wa syafii'ina wa Mawlana Muhammad 'abdiKa wa nabiyyiKa wa rosuliKa annabiyyil-ummiy wa ala alihi wa Shohbihi wa baarik wa Sallim.

Sabtu, 16 November 2019

Percakapan Dua Jomblo

Kini giliran La Caddo' yang jadi bahan baku tertawaan kawan-kawannya. Bagaimana pun hebatnya ia bermain teater dan baca puisi, sedemikian pun ahlinya dia ber-akting di atas panggung, namun dia ternyata kaku dan baper di panggung kehidupan. Dia K.O di dunia nyata. Ia tidak mampu menyembunyikan kegalauan dan kehancur-leburan hatinya. Ia sakit. Tapi sakitnya tuh disini----sambil menyentuh dada sebelah kirinya. Tulang rusuk jiwanya patah, harapannya pecah, perasaannya runtuh, terjadi gempa di bagian kepalanya.

Seperti kalau ada senjata tajam yang menusuk-nusuk dari dalam jantung lathifahnya----tapi tentu hanya dia seorang yang merasakan perihnya penderitaan itu. Sedikit lagi air matanya gugur berjatuhan, tapi cepat dia belokkan masuk ke dalam hati terdalamnya. Air mata hati. Air mata rahasia yang menyimpan sakit yang sangat. Luka yang teramat. La Kudu'---salah seorang kawan akrabnya-- curiga ada sesuatu yang tidak beres menimpa La Caddo', akhirnya ia datang mendekat, menyapa dan memulai basa-basinya.

"Kenapako Caddo'? Sepertinya kamu sedang aneh, Adaga masalahmu cappo'? Cerita-cerita mokko bos, siapa tahu bisaka' kasiko solusi cerdas. Kalau pun tidak, minimal hiburan mo palE' saja'. Heuheu"

"Tidakji" jawab La Caddo' singkat padat dan sangat tidak jelas.

"Ah betulangkojE' E" ? La Kudu' meneruskan interogasi terselubungnya.

"Tidak papa ji" La Caddo' bertahan dengan jawaban iritnya.

"Awwah, seriuskojE' E"? La Kudu' mulai menyerang pertahanan emosional La Caddo'.

"Ais, bilangka' tidak papaji" LA Caddo' mengelak dan menangkis serangan tanda tanya La Kudu'

"Allaa... bilangmako saja jE', nakentara orang kalo ada masalahnya. Heuheu......" La Kudu' kini menghantam psikologi La Caddo' dengan sedikit tawa yang canggih mengejek.

"Ana' sambala', Bilangka' tidak ada, there is no problem alias maafii musykilah, understand?! Justru kau disitu yang bermasalah mukamu... huahahah... " La Caddo' malah mengembalikan tawa La Kudu' dengan bonus kejujuran yang menyakitkan.

"Bheee... jangan main fisik bos! Tapi tidak papa ji, innallaha ma'asshobiriin, mau si lagi alihkan pembicaraan inihE?" La Kudu' tidak terpancing, bahkan ia mengangguk-angguk sepertinya sudah menemukan 80 persen jawaban yang dipenasarankannya.

"Kau juga di situ terlalu kepo, mau trus campur urusanTa', bukan semen Tonasa ini yang dicampuru' ces, heuheu... ini urusan pribadi...!!!!" Gawang La Caddo' sedikit lagi jebol, hampir sedikit lagi, lagi, dan akhirnya...

"Gooolll.......!!! He..... kutaumi masalahmu, hahahahah......." La Kudu' tiba-tiba meledakkan ketawa khasnya yang dijamin sangat menjengkelkan.

"Hu... sottak ji ko kamu Kudu', sok tau, apa garE' E?" La Caddo' yang sekarang penasaran dengan temuan La Kudu'---jangan-jangan dia benar-benar telah tahu tempe masalahnya.

"Anu... E.....itu....anu" La Kudu' sengaja melakukan improvisasi ..

"Apa?" Kini La Caddo' yang dipenasarankannya.

"Anu.... E..... anu.... E.... .." La Kudu' mulai mendramatisir suasana.

"Apa? Katakan saja!!!" Wajah La Caddo' berubah merah.

"Anu.... anu.... E....E....  ditolak cintamu to? Huaaahahahahahahahah...!!!!." kini tawa La Kudu' memuncak, membesar, menggelegar, ledakannya sempurna, menggemparkan, seperti big bang. Suaranya bergema bergelombang menguasai gendang telinga La Caddo', dan itu berlangsung selama 3 menit 14 detik. Masya Allah, tidak usah dibayangkan. Toh tidak ada gunanya.

"Ssssst.... jangko ribut, natau nanti anggotaE" La Caddo' benar-benar terbongkar---persis seperti kucing yang sudah dipukul kepalanya, ia akhirnya mengaku.

"Siapa memang tolakko? Coba ceritakang padaku" Kini volume suara La Kudu' mengecil secara otomatis--seakan-akan ia paham betul bagaimana menetralisir keadaan.

"Anu... itujE' E... anu ....mutauji sebenarnya" Tiba giliran La Caddo' yang ber-anu-anu---tanda diserang kegugupan.

"Bilangmako saja siapa??!!! Cantik memang ga?" La Kudu' kembali bertanya bertahan dengan keras kepalanya.

"Anu..... itu.... anujE'... itujE' E..... a.... a....nu... anu..........."  Anu dan gagap La Caddo' semakin bertambah, kian menjadi-jadi.

"A..... a..... anu siapa? Bilangmako saja, langsung sebut saja namanya siapa...!!" La Kudu' terus saja bertanya dan terus bertanya siapakah gerangan yang telah menghancur-leburkan singgasana perasaan La Caddo'.

"A..... a....... a...............a.....................a.........h" La Caddo' semakin kehilangan kekuatan untuk menyebut kata, mengungkap nama. Mulutnya komat-kamit, hati dan lidahnya bergetar tapi pita suaranya gagal memproduksi sepatah kata pun.

"Siapakah? Kenapa nasusah sekali disebut? Siapa yang tolak cintamu?!!!

"Ini adalah rahasia terbesar dalam hidupku" La Caddo' kini terperosok, jatuh, tenggelam ke dalam lautan dirinya. Tersedot oleh atraksi black hole intuisinya. Ia benar-benar fana'.

"Aku adalah seorang jomblo.
Aku sungguh rindu ingin dicintai.
Aku sendirian, Tak ada yang menyapaku.
Aku sakit, Tak ada yang menjengukku.
Aku berkeluh-kesah, tak ada telinga yang mendengarku.
Aku memanggil-manggil, Tak ada yang menjawabku.
Aku kelaparan, Tak ada yang memberiku makan.
Aku telanjang, tak ada yang memberiku pakaian.
Aku kehujanan, Tak ada yang memberiku payung.
Aku gelandangan, tak ada yang memberiku negri"

"Katakan kepadaku, kepada siapa aku memohon?
Katakan kalau bukan engkau, lalu kepada siapa?
Kepada siapa aku keluhkan rindu yang berdarah-darah ini?
Kepada siapa lagi harus aku katakan cintaku ini?"

"Berkali-kali aku katakan cintaku padamu, setiap saat, setiap detik detak jantungmu, setiap hembus keluar-masuknya nafasmu, berkali-kali itu juga engkau menolak mentah-mentah cintaku ...!!"

La Caddo' terus saja berbicara sampai tak lagi menyadari bahwa ternyata kalimat yang terakhir tadi adalah kalimat yang langsung keluar dari lisan lembut maha-kekasihnya.

La Kudu' roboh. Tumbang seperti pohon dihantam gempa seketika setelah menyadari kehadiran tuhan. Tubuhnya jatuh ke lantai dan pingsan berjam-jam mirip yang menimpa Musa di puncak Tursina.

Rabu, 06 November 2019

Sedekah Bumi Dan Laut

Sedekah laut dan atau sedekah bumi itu penting dan harus terus dilestarikan. Ini menurut saya. Jangan emosi dulu. Kalau ada yang tidak sependapat, dipersilahkan dengan hormat.

Orang yang melarang, mensyirikkan, membid'ahkan atau bahkan mengkafirkan orang yang melaksanakan ritual sedekah bumi dan laut adalah orang-orang beriman. Mereka sangat waspada dan penuh kehati-hatian dalam beribadah atau melakukan sesuatu. Mereka tidak mau ibadahnya rusak atau batal karena melakukan sesuatu yang tidak ada dalam alquran dan tidak pernah dicontohkan oleh nabi. Mereka sangat wara' dalam beribadah, karena tidak ingin pahalanya berkurang atau hilang karena melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat islam. Semua itu dilakukan demi Allah. Sungguh mulia mereka. Akan tetapi niat baik mereka itu ceroboh karena cara berpikir dan pola sikap mereka yang terlalu tekstual, materialistik dan kadang bertindak kurang ajar kepada sesama.

Sebenarnya saya sendiri bisa memahami dan memaklumi, sebab mereka barangkali bukan manusia rohani (atau belum). Tidak memiliki kepekaan rasa untuk menyadari dan menangkap informasi atau pengetahuan ghaib di balik fenomena di muka bumi.  Mungkin mereka tidak memahami bahwa ada energi yang bekerja yang terlibat dan bahkan selalu berinteraksi dengan manusia, walaupun manusia tidak menyadarinya. Energi itu adalah pancaran dan pendaran cahaya ilahi. Ia dimaknai sebagai rentangan kekuasaan dan sifat-sifat tuhan yang maha bekerja (fa'aal). Laa ta'khudzuhu sinatun wa laa nawm. Ya, energi itu senantiasa bekerja walaupun manusia tidak melihat dan tidak menyadarinya. Leluhur kita yang memiliki bathin yang terupgrade sangat menyadari hal ini.

Analoginya, seperti makanan yang terhidang di piring kita. Untuk sampai di piring kita, tentu banyak orang yang ikut terlibat di situ. Misalnya nasi yang kita makan, untuk mendapatkannya, yang bekerja dan yang terlibat di situ ada banyak pihak. Ada petani, ada yang memanen, ada yang menjemurnya, ada yang mengangkut ke pabrik, ada yang memabrik merubah gabah menjadi beras, ada yang memasukkan dalam karung, ada yang menjual, ada yang memasak berasnya menjadi nasi, kemudian bisa terhidang di piring dan barulah kita memakannya. Belum lagi lauk pauknya seperti ikan atau ayam atau sayur dan lain sebagainya. Ada banyak sekali pihak yang turut bekerja dan terlibat tanpa kita menyadarinya.

Demikianlah hidup ini. Demikianlah alam semesta. Manusia terlalu antroposentris. Padahal manusia tidak sendiri. Manusia bukanlah satu-satunya makhluk di dunia ini yang hidup, yang bergerak, bekerja atau mengabdi kepada Tuhan. Gunung, hutan, sungai, lautan, tumbuhan, hewan, jin, khodam, makhluk Astral, malaikat atau sebutlah energi yang bersifat ghoib dan seterusnya, seluruhnya mengabdi bekerjasama satu sama lain sesuai dengan sistem atau hukum yang telah diciptakan oleh tuhan. Hukum alam atau yang kita sebut sebagai sunnatullah adalah salah satu dari sistem yang telah diciptakanNya untuk merawat, menjaga dan menyeimbangkan alam semesta. Bencana yang sering terjadi pun adalah bentuk dari penjagaanNya. Ketika alam mengalami ketidak seimbangan, atau mendapat perlakuan tidak adil dari makhluk yang menghuninya, maka Alam akan segera merespon dan memberi reaksi. Gerakan alam semesta yang sedang mencari keseimbangan baru itulah yang manusia menyebutnya sebagai bencana. Seperti gunung meletus, banjir, gempa, tsunami dan sebagainya. Singkatnya, alam ini sebenarnya memiliki kemampuan dan keistimewaan untuk memperbaiki diri ketika mengalami kerusakan atau lebih tepatnya jika dirusak oleh tangan-tangan kufur manusia.

Lagi pula, kalau orang bersedekah memang bukan kepada Tuhan, tapi kepada orang lain yang menurut kita membutuhkan. Jadi kalau ada yang melarang sedekah bumi dan laut dengan alasan karena sedekahnya katanya untuk makhluk Astral, atau jin yang menjaganya, apa salahnya? Hanya sekedar bersedekah, berbagi, dan tidak menyembahnya. Kecuali kalau ada yang menuhankan dan menyembahnya, takut hingga minta keselamatan kepadanya, itu jelas persoalan lain. Kita tetap berhati-hati supaya tidak tergelincir. Bersandarlah dan mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Hanya kepadaNya. Singkatnya, menyedekahi jin, bagi saya sama halnya kalau bersedekah ke orang-orang. Sama-sama bersedekah bukan kepada Tuhan. Tapi kepada makhlukNya: manusia dan atau jin. Dan memang, sedekah itu bukan untuk tuhan. Tuhan tidak butuh apa-apa. Lha wong yang kamu sedekahkan itu adalah milikNya, kekayaanNya. Yang tuhan ingin lihat adalah kamu bersedekah dalam rangka apa, hatimu bagaimana, ikhlas apa terpaksa, tulus atau modus, lillahi ta'ala atau li-pahala. Sedekah itu bukan berarti kita sedang memberi kebaikan, tapi justru bermakna kita sedang menerima kebaikanNya. Sebab sedekah bisa membuat kita lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar kita, mengurangi keterikatan kita terhadap materi atau harta benda. Sedekah adalah proses menyembuhkan diri kita dari penyakit cinta dunia yang berlebihan. Tapi, daripada sedekah untuk jin atau demit, lebih baik dan indah kalau bersedekah kepada sesama manusia saja. Masih banyak saudara sesama di sekitar yang lebih membutuhkan bantuan sedekah kita. Biarlah urusan jin diurus sesama jin. Iya kan?

Bijaknya, Kita sebaiknya melakukan tafakkur (akal) dan tadzakkur (intuisi) sebelum menilai atau mengambil keputusan dalam berbudaya dan beragama. Dalam salah satu Qaidah Fiqhiyah, saya mengenal prinsip 'Al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah' (upaya pelestarian nilai-nilai (luhur) yang baik di masa lalu dan melakukan adopsi nilai-nilai baru yang lebih baik). Artinya, ketika ada sebuah budaya atau tradisi di suatu daerah yang baik, maka dalam pemahaman saya, kita tidak serta merta menolaknya mentah-mentah, apalagi sampai bertindak intolerant, hanya karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Sebaliknya, mari kita berendah hati, berlapang dada, menerima dan kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam, supaya budaya dan tradisi itu terus menerus ada dan tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebab kekuatan dan ciri khas bangsa Indonesia ada pada tradisi dan budayanya yang beragam. Jika tidak dirawat, hilanglah semua tergerus dan tertelan zaman yang makin kacau dan edan ini. 

Akan tetapi, saya menyadari, penjelasan semacam ini sulit diterima oleh orang-orang beriman "itu". Sebab aktivitas dan ibadah mereka harus berdasar "hukum" tuhan. Yaitu syariat yang telah tertulis dalam kitab suci dan telah dicontohkan oleh nabi yang kemudian telah dicatat atau direkam dalam kitab-kitab hadits. Selain daripada itu, haram! Wajarlah kalau kemudian muncul jargon "kembali ke alquran dan sunnah". Ini adalah bentuk dakwah dan sindiran mereka kepada orang-orang yang beribadah atau melakukan aktivitas yang menurutnya bid'ah dan mengandung kemusyrikan. Misalnya, sedekah bumi dan sedekah laut, memelihara pusaka leluhur, yasinan, tahlilan, mawlid, isra' mikraj, ziarah kubur dan seterusnya. Amaliyah semacam ini bagi mereka adalah bid'ah. Wakulla bid'atin dholalah, Wakulla dholalatin finnaar. Semua yang bid'ah itu sesat. Dan semua yang sesat masuk neraka. Alhamdulillah, ada orang hebat yang bisa meramal kehidupan akhirat berdasar pendapatnya sendiri.

Saya diam-diam sebenarnya kagum dan ngefans sama orang-orang beriman model ini. Saya curiga, betapa hebatnya mereka. Misalnya, orang ke kuburan divonis musyrik. Alasannya, karena mereka yang datang ke kuburan itu datang untuk meminta kepada orang yang sudah meninggal, bukan kepada Tuhan. Saya curiga, orang-orang yang begitu mudah menghukumi musyrik itu memiliki pandangan mata bathin yang sungguh luar biasa, hebat, sebab bisa menembus dan mengetahui isi hati seseorang. Bisa mengukur dan menyaksikan iman seseorang. Wow! Saya Tiba-tiba mau berguru kepada mereka. Bagaimana caranya kita bisa menilai dan mengetahui iman orang lain. Sakti! Benar-benar unbelievable!
Padahal Setiap hari juga mereka meminta tolong kepada orang lain, bukan kepada Tuhan. Tapi entah kenapa mereka tidak pernah mengatakan bahwa itu musyrik. Heuheu

Kalau mau lebih hemat, begini saja, daripada saya terus memohon, meminta tolong, berdoa, berniat dan menyembah Tuhan yang salah, maka begini saja, Tunjukkan saya tuhan yang asli yang sejati itu. Yang mana? Yang mana?

Allah? Iya, yang mana itu Allah? Jangan sebut namaNya saja, nanti saya malah menyembah nama. Tolong, iman saya masih lemah. Ilmu saya masih awam. Saya tidak makrifat. Mohon, tunjuk langsung, biar saya tidak musyrik. Yang mana? Allah? Allah yang mana itu? Setahu saya, dulu juga ada berhala yang bernama Allah. Jadi, Allah yang mana ini? Saya tidak butuh dalil, argumentasi atau ocehan apapun. Silahkan langsung tunjukkan saja kepada saya. Yang mana?

Bagaimana? Bisa? Heuheu. Syirik itu letaknya di hati dan pikiran manusia. Mana mungkin manusia dihukumi kafir atau musyrik hanya karena penampilan, ucapan atau perbuatannya. Padahal, orang yang sedang sholat juga tetap memiliki potensi musyrik bila saat sholat, pikiran dan hatinya sibuk mengingat dunia atau tertuju kepada yang selain Allah. Itulah kenapa kita diminta melatih hati dan pikiran dengan dzikrullah. Agar kita bisa berdzikir dan tetap terhubung kepada Allah. Sadar-Allah pada setiap aktivitas keseharian kita di dunia. Baik di dalam maupun di luar sholat. Wal-hasil, sedekah laut atau sedekah bumi adalah ekspresi rasa syukur kita atas nikmat yang Tuhan anugerahkan kepada kita semua, yang dengan akal budinya, manusia berkreasi. Adapun perihal vonis kemusyrikannya, mari kita kembalikan kepada Allah. Alaisallahu bi ahsanil haakimiin. Hanya Allah yang punya data lengkap dan akurat mengenai kondisi hati dan iman manusia. Manusia jangan berlagak seperti tuhan. Wal-akhir, ini hanya pendapat saya. Yang tidak setuju, saya persilahkan dengan hormat.

Kamis, 19 September 2019

Sehari-hari Bersikap Dewasa

Dewasa itu mental. Bukan soal umur. Bukan tentang sekolah tinggi-tinggi, punya kerja mapan, sukses atau kaya. Juga bukan mengenai jenis kelamin, warna kulit, model rambut, jumlah gigi, eksistensi duniawi, jumlah gelar akademis maupun pangkat sosialnya. ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan jenis pakaian atau jubah seseorang. Bukan mengenai tampilan fisik dan tingkat intelejensi seseorang, bukan soal religiusitas, walaupun mungkin saja sedikit ada korelasinya dengan spiritualitas seseorang. Tapi sebenarnya ini adalah masalah ilmu hidup.

Jadi jangan kait-kaitkan kasus kedewasaan seseorang dengan urusan tua-muda, laki-perempuan, atasan-bawahan, pemerintah-rakyat, penjual-pembeli, mahasiswa-dosen, supir-penumpang dan seterusnya. Dewasa itu kemantapan sikap. Psikologi kepantasan. Kematangan pola pikir. Ketepatan Aplikasi Khoirul umuuri awsaatuhaa. Pengetahuan ilmu tentang batas. Lagi-lagi bukan masalah seberapa lama dia hidup, tapi seberapa banyak kehidupan yang ia lulusi dengan predikat rhodiyatan mardhiyyah dan rahmatan lil'alamin. Dimensi dimana ia pergi-pulang setiap hari membawa ridho Allah. Dan untuk menggapai "itu" maka yang harus kita lakukan adalah selalu mengkerjasamakan antara kehendak kita dengan kehendak Allah. Bukan kehendak kita semata apalagi dibawah komando nafsu belaka. Adalah kemampuan membedakan dan memposisikan mana keinginan dan mana kebutuhan. Kalau keinginan adalah motor penggeraknya, maka saya pastikan tidak akan ada ujung pangkalnya. Memang tidak ada habis-habisnya.

Memang agak sulit mengetahui kedewasaan seseorang. Ukurannya bukan soal apa dia anak-anak atau sudah bapak-bapak. Karena ternyata ada anak-anak yang sangat kebapak-bapakan----dewasa, dan kadang kita temukan sebaliknya ada bapak-bapak yang sangat kekanak-kanakan. Mau buktinya? Lihat saja di sekitarmu, banyak bapak-bapak yang suka meniru kelakuan anak-anak. Sukanya main-main. Ya, main perempuan. Masih suka jajan. Ya, jajan paha dan susu di kios-kios pelacuran. Dan yang menambah syoknya jiwa kita ternyata setelah ditelusuri, diantara bapak-bapak itu ada yang seorang Mentri, pegawai, atau aparat negara. Kita kadang bingung juga, antara memilih untuk tertawa karena lawakannya atau menjerit sakit karena kerusakan moralnya.

Mereka benar-benar ahli memplagiasi kehidupan anak-anak. Mereka amat total dan bersungguh-sungguh dalam meneladani prilaku dan kebiasaan anak-anak. Sehingga istilah Kenakalan anak-anak itu kini sangat-sangat bisa diupdate menjadi kenakalan bapak-bapak. Kepolosan anak-anak yang biasa merusak barang-barang di rumah, mereka juga sangat suka melakukannya. Hanya saja mereka bapak-bapak itu kepolosannya diatas normal, level wilayahnya lebih luas. Ya, mereka merusak rumah rakyat; negara. Jadi apa itu dewasa?

Walhasil, Saya sepakat saat gusdur menganulir pernyataannya yang mengatakan DPR itu taman kanak-kanak. Sangat tidak pantas jika kesucian anak-anak diamakan dengan kenajisan bapak-bapak yang ada di Dewan itu. Sangat tidak adil jika Kejujuran anak-anak disetarakan dengan kemunafikan bapak-bapak yang itu-itu. Akan sangat absurd bila kemurnian anak-anak disanding-bandingkan dengan kebusukan bapak-bapak tertentu itu. Jadi dewasa itu apa! Tanda tanya itu kini berubah menjadi tanda seru. Ini bukan lagi pertanyaan, tapi sudah meningkat menjadi pernyataan. Dan akan terus meningkat dan meningkat terus, meningkat menjadi sindiran, lalu menjadi peringatan, lalu menjadi kritik, lalu menjadi aksi protes, lalu menjadi status awas, lalu menjadi gerakan revolusi, dan puncaknya akan menjadi acara hiburan di televisi. Hahahahah..... tidak lucu goblok..!!!!

Bagaimana seharusnya epistemologi dari dewasa? Ada orang yang celana dalamnya saja sampai puluhan juta. Ada juga yang ranjang-kasurnya sampai ratusan juta. Mobilnya milyaran. Pesta pernikahannya trilyunan. Busyet.....!!!! Subhanallah...!!! Apakah itu salah? Tentu saja tidak, apalagi jika itu adalah hasil keringatnya sendiri. Itu tidak masalah jika uang yang dipakai membeli semua itu dari hasil usaha-kerjanya sendiri. Itu hak mereka. Mereka bebas menghabiskannya. Mereka merdeka merayakannya.

Namun, kalau dipikir-pikir itu sepertinya tidak dewasa. Tentu Anda boleh tidak sependapat dengan saya. Justru saya senang, karena itu membuka peluang untuk melanjutkan diskusi ini. Dan yang lebih penting lagi adalah saya punya kesempatan untuk menghargai dan menghormati yang lain. Dan itulah tujuan utama saya.

Ada juga orang yang handphonenya saja sampai lima biji. Kemana-mana lima-limanya ditenteng. Apa-apaan itu..!!! Saya tidak bisa membayangkan kalau kelima-limanya bersamaan berdering. Dia kan cuma punya satu mulut dan dua telinga. Hahahah.... Untungnya saya tidak pernah jadi membayangkannya. Ada juga yang setiap hari shopping di mall beli pakaian. Makannya hampir setiap harinya di restoran mewah. Liburannya setiap weekend keluar negri. ada yang setiap bulan pergi meludah di mekah. Dan kalau saya teruskan, bisa-bisa saya dicurigai iri hati sama mereka. Tapi tak mengapa. Saya sudah terbiasa dicurigai dan difitnah, guna menyembunyikan diri sejati saya. Jangan lihat chasing saya, tapi lihatlah setan yang ada di dalamnya. Hehehehe

Jadi dewasa itu adalah dewasa itu sendiri. Kesanggupan diri untuk mengembangkan diri-diri yang lain. Maksud saya, manusia itu terdiri dari berbagai Anasir diri. Ada fisik, ada psikis, ada emosi, ada intelejensi, dan ada juga unsur spiritualnya. Dan manusia harus mampu menumbuh-kembangkan semuanya itu. Jangan fisik tubuhnya saja yang tumbuh tapi emosinya tidak, kepandaiannya tidak, spiritualnya juga tidak. Semua harus ikut tumbuh, ikut belajar, ikut mengerjakan pengalaman, dan ikut serta mengabdi. Harus seimbang dan harmoni. Istilah sederhana adalah kesimbangan zhahir dan bathin. Keduanya harus saling bekerjasama, mengerjakan fungsi-fungsi khalifahnya.

Manusia paling dewasa adalah rasulullah. Beliau ditawari oleh Allah gunung emas dan menjadi nabi yang raja, akan tetapi beliau memilih "sederhana" sebagai nabi yang jelata. Ini kedewasaan yang puncak menurut saya. Nabi sulaiman yang dianugerahi kekayaan yang abadi tidak ada seorangpun yang mampu melebihinya juga ternyata pakaiannya biasa-biasa saja. Itu karena beliau dewasa. Jadi jika anda punya banyak rupiah atau Dollar untuk membeli kasur seharga ratusan juta, dewasalah. Belilah yang seharga ratusan ribu saja, selebihnya kau tabung atau pakai untuk menolong yang membutuhkannya. Insya Allah berkah.

Akhirnya, perihal kedewasaan menjadi diskusi panjang. Nanti kapan-kapan kita lanjutkan!

Rabu, 21 Agustus 2019

Sehari-hari Bertauhid

Tauhid. Menurut pengertian sehari-hari saya, tauhid itu bukan (sekedar) meng-satu-kan atau meng-esa-kan atau meng-ahad-kan Tuhan. Sebab Tuhan, mau dibagaimanapun tetap ahad. Tetap satu. Satu yang bukan angka, bukan pula kerangka. Satu-Nya "laisa kamitslihi syaiun". Sekalipun seluruh manusia seplanet bumi menyekutukan atau menduakanNya setiap hari, Huwa tetap ahad. Sebagaimana yang ditegaskan oleh "Qul huwa Allahu ahad".

Tauhid (justru) adalah menyatukan Makhluk Tuhan yang selalu punya kecenderungan untuk bercerai berai. Terutama bagi makhluk jin dan manusia. Yang sukanya bikin kelompok-kelompok lalu dengan gampangnya bertengkar, menganggap perbedaan itu bukan rahmat melainkan alat untuk saling menghancurkan. Yang tidak mau mentadabburi bahwa perbedaan itu sengaja Tuhan ciptakan sebagai peluang-peluang untuk saling berkasih sayang dan bermesraan satu sama lain.

Tauhid adalah kesadaran lahir bathin makhluk yang berbeda-beda dalam banyak hal tapi tidak lupa berdzikir bahwa Tuhan tetap satu adaNya. Tauhid islam mengajak untuk membangun kerjasama dan kebersamaan antar makhluk. Juga sebagai kritik universal untuk mereka-mereka yang hobinya bikin geng-geng religius lantas saling mengkafirkan, yang kebiasaannya membanggakan diri, menyombongkan organisasi dan komunitasnya, angkuh karena nasab-keluarga, suku, ras, bangsa, agama, aliran, Mazhab, sekolah-kampus, parpol atau seterusnya. Juga bagi mereka-mereka yang profesional kerjanya adalah merancang perang-perang panjang, mengadakan proyek adu domba, serta menyelengarakan berbagai pesta nuklir dan lautan darah. Maka Tauhid sebagai media kasih sayang dari Tuhan didatangkan untuk menghindarkan dan menghentikan semua kemungkinan dan realitas yang memalukan itu.

Tauhid Islam hadir untuk memberikan wawasan keilahian beupa tawaran "lita'arofu" sebagai metodolgy tahap awalnya. Mempertemukan dan mengenalkan. Mendekatkan mereka yang berjauh-jauhan secara ruhani, untuk bersama-sama menyalakan cahaya perdamaian---meskipun kenyataannya mereka berbeda-beda. sehingga kelak akan ada rasa saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, saling menyati, saling mencintai dan akhirnya mampu untuk saling menyelamatkan (Muslim) dan saling memberi rasa aman satu sama lain (mukmin). Puncaknya adalah "Inna akromakum 'indallah atqokum----menjadi manusia taqwa" yang rahmatan lil'alamiin. Bukan "laknatan Lil'alamiin".

Akan tetapi, tetap saja ini hanyalah tawaran saja, sebab "laa ikroha fiddiin" memang diperuntukkan bagi manusia yang telah difasilitasi teknologi qolbu dalam rangka "yafqohuuna bihaa". Makhluk Tuhan yang paling "ahsani taqwiim", yang diberi potensi kelebihan berfikir, keistimewaan merenung di goa hiranya, bermeditasi, meneliti, mengkaji, mengaji dan mentadabburi ayat-ayatNya. Meskipun demikian, tawaran Tuhan ini kadang-kadang harus dimaknai sebagai ujian bagi manusia yang konon banyak juga menjadi besar kepalanya karena merasa bangga sebagai ciptaan paling lengkap dan sempurna dibanding ciptaan Tuhan yang lain. Sehingga seringkali tidak " yatafaqqahu fiddiin" bahkan banyak yang meremehkan dan merendahkan ciptaan lain. Persis kelakuan dan keakuan iblis. Mari berlindung kepada Tuhan dari trik dan tipuan setan dalam pikiran kita yang terkutuk ini.

Akhirnya, tauhid harus dipahami dengan penuh kerendahan hati. Dan manusia juga harus sadar bahwa tidak semua hal bisa mereka kuasai, tidak setiap masalah bisa mereka selesaikan. Seperti persoalan yang telah-sedang-akan menimpa Indonesia dan umat islam, disitu Tuhan bekerja dengan begitu senyap dan sangat misterius. Maka tidak ada cara lain selain senantiasa memohon pertolongan dan pengasuhanNya yang maha agung. Juga apa saja yang melanda fikiran dan hati, selalu kita sandarkan kepadaNya---Huwa Allahu Ahad. Ditemani oleh cahaya abadi Baginda Muhammad Rasulullah Saw. Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Berkeluarga dan menjaga sakinah-mawadah-warahmahnya adalah cahaya tauhid yang berpendar-pendar. Di dalamnya adalah Penyatuan dua insan yang pasti berbeda karakternya, penyatuan dua keluarga, penyatuan bathin antar individu setiap keluarga. Sehingga lahirlah kebersamaan dan kemesraan karena hadirnya kasih sayang di dalamnya. Peristiwa saling memahami, saling menyempurnakan, juga adanya frekwensi pemaafan, masing-masing mengerti syariat, tentang kewajiban dan haknya, saling mendoakan, bekerja sama saling menempatkan diri pada posisi-perannya, dan sebagainya.

Mulailah dari yang sederhana. Peristiwa tauhid bisa kita saksikan, lakukan dan rasakan di mana saja kapan saja. Tauhid adalah berkumpul, berbagi senyum dan saling menghibur. Tauhid adalah bertemu, bersilaturahmi dan berdiskusi. Tauhid adalah sholat berjamaah, dzikir bersama, menjenguk yang sakit, menolong yang butuh, menyapa yang kesepian, gotong royong, kerja bakti sosial, melestarikan alam, menyayangi binatang, mentraktir teman minum kopi, menikah, main teater dan atau bermain musik. Tauhid adalah memerangi kebodohan dan kedangkalan berfikir, melawan ego diri sendiri, menegakkan yang runtuh, membangkitkan yang jatuh, menerangi yang gelap, memperbaiki yang rusak, membersihkan yang kotor, dan silahkan anda terus kan sendiri.

Tauhid adalah persatuan Indonesia, kemesraan umat manusia seluruh dunia, dan kebersamaan cinta semua makhluk beribadah-mengabdi kepada Allah Swt. Wallohu a'lam

Perihal Pujian


Pujian. Apa sih itu pujian? Coba kita pikirkan dulu sebentar. Saya beri waktu lima menit. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit.

Ah, daripada pusing, mari kita cari tahu bersama-sama.

Pernahkah seseorang mengucap padamu kata-kata yang membuat kamu tersanjung, hatimu menjadi senang tidak karuan, di jiwamu seketika tumbuh bermekaran bunga-bunga yang beraneka warna, hormon tertentu di dalam tubuh mengalirkan sesuatu yang terasa nikmat di otakmu, nafasmu sejuk dan melegakan, lalu tiba-tiba volume kepalamu mungkin sedikit membesar bangga, dan konon kadang ada yang sampai klepek-klepek karenanya?

Nah, kalau kejadian semacam itu terjadi padamu, maka menurut saya, kamu sedang mengalami peristiwa yang sedang kita kaji dan ngaji bersama ini. Orang-orang di bumi bagian indonesia bersepakat menyebutnya sebagai "pujian". Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai peristiwa "Alhamdulillah", lebih lengkapnya peristiwa "Alhamdulillahi robbil 'aalamiin. Ya, saat ada yang memuji kita, maka sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu, mau atau tidak mau, sebenarnya itu adalah semata-mata maha-pujian kepada Allah sang pemilik segala bentuk pujian. Maka saat orang memujimu, berterima kasihlah padanya. Minimal dalam hati kalau kamu gengsi mengatakannya. Bergembiralah. Bersyukurlah. Tapi saat kamu terima pujian itu, jangan disimpan lama-lama. Setelah kegembiraanmu, segeralah kembalikan pujian itu kepada pemilik dan mahasumber dari keseluruhan-menyeluruh pujian itu; Allah. Sebab kalau pujian itu dipeluk erat dan dimasukkan terlalu rapat di dalam hati, bisa jadi ia berevolusi menjadi kebanggaan, dan kelak kebanggaan itu yang akan bertransformasi menjadi kesombongan. Dan kalau manusia sudah sombong, maka tamatlah riwayat kemuliaannya. Be careful!

After All, Pujian adalah ungkapan ketakjuban, untaian kekaguman, bentuk luapan keterpesonaan, wujud penghormatan dan pemuliaan sebagai respon positif atas kebaikan atau keindahan yang kita saksikan. Pujian atau memuji adalah pekerjaan yang mulia. Diperuntukkan untuk orang mulia, dan dilakukan oleh orang yang juga tentu mulia. Maka Berkenaan dengan soal "memuji" ini, saya teringat dengan sabda leluhur; "narEkko mupakalaq bi i padammu rupa tau, alEmu tu mupakalaq bi". Kalau engkau memuji atau memuliakan sesamamu, sungguh hakikatnya engkau sedang memuliakan dirimu sendiri. Ya, engkau sedang memuliakan pribadimu; Identitas dan personalitasmu. Bahkan keluargamu, organisasimu, negaramu, dan agamamu. Kurang lebih begitu terjemahan saya. Kurang lebihnya mohon dimaklum-maafkan.

Otherwise, perlu direnung-fikirkan, saat orang-orang memuji kita, maka berusahalah agar kita memang pantas menerima pujian itu. Saat mereka memuliakan kita, tetaplah berusaha agar kita layak  mendapatkan kemuliaan tersebut. Saat mereka berbuat baik kepada kita, pastikan bahwa kita memang orang baik yang berhak atas kebaikan mereka. Semoga pujian mereka tidak salah alamat, tidak sia-sia dan tidak menjadi semacam ironi buat kita. Sebab, tidak sedikit orang yang dipuji bukan karena mereka pantas dipuji, melainkan karena orang-orang di dekatnya adalah pribadi-pribadi mulia yang tidak kikir memberikan pujian kepada siapa saja. Orang-orang yang berinteraksi dengannya baik di dunia nyata maupun maya adalah jiwa-jiwa suci yang gemar menebar cinta, menyebar kebaikan, dan tidak pernah bosan mengabar kemuliaan.

Wal-akhir, kita jangan cepat merasa mulia ketika dimuliakan. Jangan buru-buru merasa telah menjadi orang baik ketika menerima kebaikan. Jangan merasa menjadi orang terpuji ketika menerima sanjungan. Sebab, kemuliaan, kebaikan, dan sanjungan yang kita terima, bisa jadi muncul bukan dari kualitas kita, melainkan dari kualitas orang-orang hebat di luar kita. Justru merekalah sebenarnya yang mulia, yang terpuji, yang pantas menerima kebaikan itu. Dan toh kalau ditelusuri dengan sabar dan tawakkal--- sebagaimana yang saya ungkap di atas, pujian itu adalah hadiah dan anugrahNya kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita. Orang yang memuji kita hanyalah wasilahnya, perantara saja. Tapi hakikatnya, yang memuji dan dipuji adalah Allah. Sehingga yang sungguh layak dan yang mahapantas menerima pujian itu hanyalah Dia, Tuhan seru-sekalian alam. Demikianlah perihal ini saya sampaikan. Atas perhatiannya diucapkan Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam.

Selasa, 06 Agustus 2019

Sekolah Apa Itu?

Mungkin sudah saatnya kita mengakui secara jujur dan terbuka. Bahwa sekolahan kita yang ada sekarang ini, yang selama ini kita bangga-banggakan keberadaan dan sistemnya, adalah suatu kegagalan. Tentu saja tidak semuanya gagal. Tapi hampir semuanya. Ya, gagal tapi Alhamdulillah tidak dalam keadaan gagal yang paripurna dan total. Maksudnya, masih ada sekian persen unsur keberhasilannya sehingga sangat naif jika kita tuduh ia gagal secara komprehensif. Apalagi ini juga baru sekedar khayalan kritis saya saja. Jadi, apapun yang menjadi pembahasan di sini, anggap saja sebagai kentut ilmiah. Cium baunya lalu lupakan dan biarkan berlalu. Heuheu

Walhasil, meskipun begitu, masih banyak alasan untuk mempertahankan sekolahan yang kita cintai ini. Sungguh masih banyak kemuliaannya. Misalnya, kita masih bisa menyaksikan beberapa pencapaian luar biasa yang dihasilkan oleh para sarjanawan kita. Kepandaiannya menipu, memanipulasi, dan mensiasati kehidupan. Mereka paling tidak, sudah memiliki kemampuan survive di atas normal. Mereka sudah bisa menggunakan otaknya untuk menghasilkan uang. Minimal posisinya sedikit di atas binatang yang tidak mengenal peradaban uang. Dan kita jangan menuntut mereka supaya jadi orang baik atau sholeh di dalam masyarakat. Jangan dipaksa dan dibebani mereka untuk jujur dan sabar saat bekerja. Karena, mohon maaf, saat menempuh pembelajaran dan perkuliahan di dunia sekolahan dan kampus, mereka para ilmuwan itu memang tidak pernah diajari, dididik dan di bimbing untuk menjadi orang baik. Karena hampir keseluruhan sistem dan kurikulum kita memang arahnya bukan kesitu. Mereka memang hanya di tuntun untuk menjadi orang pandai, cerdas atau genius. Puncaknya menjadi buruh atau karyawan di perusahaan tertentu.

Jadi, jangan salahkan mahasiswa yang menghamili pacarnya, jangan marah kepada pegawai yang malas, guru atau dosen yang suka bolos, jangan mencela pejabat yang korupsi, dan kita juga tidak usah shock jika mendapati siswa atau mahasiswa yang tawuran, mengkonsumsi narkoba, atau bahkan durhaka kepada orang tuanya. Kenapa? Ya, karena soal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan sistem yang diterapkan di sekolahan kita. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional kita.

Wal-hasil, apa yang harus dilakukan? Ya, tidak usah melakukan apa-apa. Who cares? Kalau pemerintah saja tidak peduli, buat apa kita ikut-ikutan peduli. Hanya menghabiskan umur saja. Atau kalau Anda serius, coba bikinlah sekolah tandingan, madrasah alternatif, sekolah yang tidak sama dengan sistem sekolahan kita yang sekarang. Tidak sama dalam artian benar-benar beda. Fokusnya mungkin pendidikan ihsan, mengenal diri, Budi pekerti, Akhlakul Karimah, kurikulumnya tasawuf, bimbingan dunia-akhirat, jurusan kehidupan dan kematian, program studi kebaikan, mata kuliah cinta, tolong menolong, bertani, berkarya, mengembangkan bakat-bakat super dan potensi diri, dzikir, silat, kebebasan, kesabaran, keikhlasan dan sebagainya dan seterusnya.

Maksud saya, silah bikin sekolah itu untuk diri masing-masing. Heuheu

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab