Rabu, 08 Juli 2020

Anatomi Al-Fatehah

Bismillahirrahmaanirrahiim:
adalah mahkota kepala kun yang bertabur permata
Sedang titik yang bertahta di bawah huruf ba’
Adalah awal mula bentuk semua huruf fayakun
Yang menjadi pintu gerbang sabda agungNya
Dari huruf itu bersembunyi ahad di balik alif
Bukan lenyap tapi mengkristalnya gerak lathif
Titik adalah sosok kerinduan yang mencari cinta
Mengembara dalam sunyi menemui titik yang lain
Membuat lintasan yang memuat kilatan cahaya
Mewujud huruf dan membentuk tulang rusuk lam
Lalu meleburkan diri mereka satu menjadilah nama
Sampai dihisap kembali maha alif yang bijaksana
Membingkai keseluruhan esensi kasih makna huwa
Hingga tak ada huruf yang berkuasa menjadi kata

Alhamdulillahirobbil’aalamiin:
lantunan penyaksian atas segala yang nampak
Olah diri lahir bathin mahkluk kepada sang khalik
Pemilik tunggal seluruh puja puji pemelihara jagad
Keindahan alif dalam bentuk wujud dzat tak berupa,
Kebenaran lam melahirkan sembilan puluh sembilan sifat,
Kesejatian lam akhir mengabadikan nama kekasih
Kebaikan ha bergerak melingkar cahaya thawaf af’al
Yang darinya berhembus keseluruhan kasih sayang
Menyelimuti mata kaca sampai semua jadilah tiada
Inilah puncak dan ujung pangkal dari keindahan itu

Arrahmaanirrahiim:
Tegaknya itulah menjadi tiang jasad kerajaan cinta
Yang berpusat di dalam bangunan ka’bah istana hati
Di dalamnya bersemayam semesta rahasia penciptaan
Seperti gelas bening yang penuh tumpah setetes airnya
Lalu dari setitik air itu padatan kun fayakun meledak
Karena kesepian ialah luka yang takkan bisa diserupai
Sakit yang rasanya tidak sama dan tak memiliki wajah
Yang hanya mampu sembuh dengan cahaya yang terpuji
Memberai dan mengurai rindu yang merindu dikenali
Dan tak ada suara ataupun kata yang kuasa mengerti
Maka tidurlah mega rahasia itu kepangkuan iradahNya

Maalikiyawmiddiin:
Keakbaran yang tergambar segitu rupa begitu surga
Singgasana Agung sang Maharaja yang merajai Maha
Memuat ketakjuban hati yang akan abadi dalam tanya
Sedangkan bumi seisinya hanyalah debu dalam titiknya
Maka Dia lah maha pemilik kiamat sekaligus penguasanya
Karena akhirat adalah alam hakikat, hijab-hijab tersingkap

Hari dimana kerudung mata yang mentabiri dilepaskan
Sehingga terbangun dan sadarlah semua mahkluk
bahwa yang mereka akukan dan akui di dunia itu semu belaka.

IyyaaKa na’budu wa iyyaaKa nasta’iin:
adalah kerak syahadat fitrah keseluruhan makhluk menyeluruh
dan adalah pembuktian ikrar sunyi itu
keduanya sesungguhnya sujud yang hidup menjalar di bumi,
tumpah ruang angkasa menjadi genangan danau air mata.
Tarian erotis yang memendam mistik dalam putaran roda langit
Mengisi lalu memenuhi samudra takbir Allahu akbar
bumi dan seandainya adalah kolektivitas takut yang mengepul menjadilah ketundukan tanpa batas, kepasrahan yang total,
kepatuhan yang puncak tanpa syarat, kekerdilan yang melata-lata, sedang wajahmu yang raja senantiasa rata dengan air tanah,
telapak tangannya buta memelas menengadah ke gerbang langit
meminta-minta hidangan buka puasa; perjumpaan dengan kekasih
sungguh tak ada yang layak untuk dicari selain Engkau.

Ihdinaa shirothalmustaqiem:
adalah sayap-sayap lupa dan patah kemudian bertanya-tanya,
siapa pencipta lalu siapa yang dicipta?
lihatlah kawanan burung yang bercita-cita terbang ke angkasa
menembus siang dan malam, menghentak kaki-kaki keraguan
sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang buta dan batu itu,
membentangkan pengharapan dan kerinduannya untuk jumpa
bukan sekedar melihat, bukan dengan mata tidak dengan telinga,
maka mereka membalik dunia di tangannya.
Dan berangkatlah mereka, mulai mengembara ke belantara raya.
Mencari jarum hilang di tengah lautan jerami
meniti rambut perjalanan garis lurus yang harus ditapak begitu teliti dengan semangat mesin mujahadah tanpa titik tanpa henti
yang mengalir terus menerus, tiada henti, tak ada putus-putusnya.

Shirotholladziina an’amta alaihim:
ialah arah rumah Tuhan dan peta kehidupan yang sejati,
jalan pengembaraan para nabi, syuhada, para wali dan orang-orang baik hati
yang ditempuh dengan munajat dan tenaga tauhid hakiki
melalui mesin keyakinan qul huwa Allahu ahad!
yang benar-benar tembus ke dalam hati dan ruhani.
Inilah jalan pulang yang asli, jalan yang sampai kini begitu sunyi
jalur cinta yang dilalui para kekasih yang dirindukan ilahi robbi,
Ruh, hati, jiwa, fikiran dan tubuh senantiasa berdoa dan menyapa memohon cinta dan makrifatullah,
maka Allah memberi nikmat-nikmat khusus kepada mereka.

Ghoiril maghdhubi alaihim walaa addholliin:
kecuali yang memelihara nafsu dan akal keledai mereka
lalu menebarkan kebencian kepada sesama,
melempar cacian dan fitnah kepada kekasih Allah,
maka baginya surga dunia sekaligus nyala neraka,
mereka itulah manusia-manusia batu yang dibuta dan ditulikan,
yang menyangka syariat adalah permainan saja,
yang mengira dunia adalah akhir dari segalanya,
yang menganggap harta benda adalah pencarian hakiki,
maka tenggelamlah mereka ke dalam lumpur laut merah dunia.
Musnah dengan penyesalan dalam kesesatan yang abadi.

Apa yang kau cari selama ini, nikmatkah atau laknat?
Adakah yang mengalahkan nikmatnya memeluk pemilik alfatehah?

Dirja Wiharja

Kuburan Indonesia

Indonesia telah mati, konon katanya
Bangsa yang besar itu telah habis riwayat hidupnya
Negara yang raksasa perkasa itu telah tutup usia
Kerajaan garuda itu telah ditelan kuburannya

Namun,
tak ada yang tahu persis kapan dan di mana dia meninggal dunia,
media massa sepertinya tutup mulut serentak,
bungkam dan tumben kompak berpuasa,
tampaknya sama sekali tidak tertarik untuk meliput dan memberitakannya. Kelihatannya wartawan memang sengaja tutup mata tutup telinga tutup hidung demi menghindari kabar dan bau kematiannya.
Akhirnya Indonesia tewas dalam keadaan rahasia yang menggenaskan.

Penyebab kematiannya pun tidak dapat diketahui,
“mungkin karena serangan jantung”, kata seseorang.

“Boleh jadi karena dibunuh oleh perampok di rumahnya”, bisik yang lain.

“Atau bisa juga gara-gara diterjang amuk tsunami, ditikam banjir, ditembak angin puting beliung”, gerutu yang lain.

“Barangkali dikeroyok longsor, ditawur sama anak-anak SMK,
diaborsi oleh ibunya yang masih mahasiswa, ditumbal keluarganya sendiri, dikorban dan diinjak-injak oleh supporter sepak bola”, sahut yang lain.

“atau mungkin ia ditampar erupsi abu vulkanik gunung berapi, dilindas kereta api, ditabrak gara-gara foto selfi, atau dimakan oleh kawanan pejabat yang kanibal”, komentar seseorang dari belakang. Wallohu a’lam

“Tapi ada juga yang bilang kalau matinya itu karena bunuh diri”, sambung yang lainnya.
“Bisa jadi, tapi kalau memang beliau meninggal dunia karena bunuh diri,
terus bunuh dirinya kenapa? Alasannya apa? Apa sebabnya?”, Lanjut yang lainnya.

“Mungkin karena Indonesia stress, depresi,
akhirnya gangguan jiwa lalu memilih gantung diri, minum racun, atau menembakkan peluru ke batok kepalanya. Kan banyak jalan menuju mampus”.

“Ah, kalau menurut indra ke enam saya,
peristiwa yang sebenarnya tidak begitu.
Indonesia itu tidak mati alias masih hidup dan masih bernafas.
Dia itu kan sakti mandraguna, pendekar silat,
bertapanya sekian abad, menguasai semua jenis macam ilmu:
mulai dari ilmu malaikat sampai ilmu iblis semua sudah disarjanai oleh indonesia.
Dia itu professor kebathinan, doktor ilmu ghaib,
bisa komunikasi dengan siluman dan kerabat-kerabatnya,
jin dan tuyul saja bisa disuruh-suruh, makhluk halus dinikahi, setan dilawan tawuran bahkan dijadikan hiburan di layar televisi,
dia juga bisa mengusir dan memanggil hujan, bisa tau angka dadu dan nomor togel, mampu berjalan dia di atas air, punya ilmu menghilang, sampai Tuhan pun bisa ditipu dan dimain-maini. Pokoknya Indonesia itu sangat amat tangguh dan tak mungkin bisa mati dengan mudah apalagi dibunuh begitu saja.”

“Kalau menurut mata bathin saya, jangan-jangan ..
dia itu hanya sedang meraga sukma, lalu orang-orang menyangka dia mati, lantas diinna lillahi, dimandii, dikafani, disholati, terus dikebumi”.

Ya,
mungkin ya mungkin juga tidak ya, siapa yang tahu?

(tiba-tiba seseorang menjerit-jerit,
Meronta-ronta, sepertinya dia kesurupan);
“hmm…. dimana kuburanku?!”

Kalian mau tahu?
Kalian benar-benar mau tahu?
Bersungguh-sungguhkah ingin tahu?

Cari kuburanku di hati rakyat jelata,
Cari kuburanku di hidup orang-orang yang tertindas
Cari kuburanku di sakit orang-orang yang dicuri tanah airnya,
Orang-orang yang ditipu, dimanipulasi, direkayasa,
Disepelekan, direndahkan, diperhinakan, diinjak-injak martabatnya!

Carilah di desa-desa terpencil, di kolong jembatan, di tempat-tempat kumuh,
Dalam tangis orang-orang pinggiran, pada nyanyian pilu para gelandangan,
pada kaki-kaki dan lidah pengemis jalanan,
Jangan cari di istana negara, jangan cari di gedung-gedung mewah, Jangan cari di televisi berwarna, jangan cari aku di mulut koran-koran,

Temukan kuburanku pada airmata ibu pertiwi!
Temukan kuburanku di tumpah darah leluhur yang dilupakan!
Temukan kuburanku di liang lahat orang-orang yang terbuang!
Temukan aku di daftar deretan orang-orang hilang!

“Aku indonesia,
Mayatku ada di situ!”

Dirja Wiharja

Jumat, 21 Februari 2020

Cemburu Itu Luka

Sayang, apakah kamu tahu?
Bencana dalam cinta itu adalah cemburu
Ya, aku cemburu
Aku ingin ceritakan padamu hal itu
Sayangku,
Aku selalu ingin menatap wajahmu yang lucu
Mengawasi aktivitas keseharianmu di balik layar hapeku
Itulah mengapa aku sangat betah di beranda fesbukmu
Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menyembuh rinduku
Rindu yang begitu sangat menyiksaku
Sebab sangat ingin bertemu kamu.
Sayang,
Aku selalu cemburu kepada ratusan temanmu
Yang menekan tombol like di bawah foto-fotomu
Apalagi mereka yang sampai berkomentar mesra kepadamu
Aku seperti ingin membunuh mereka satupersatu
Ya, aku benarbenar ingin menghabisi nyawa mereka semua itu
Tapi, di negara ini, tak ada hukum dan undang-undang perihal cemburu
tak ada ulama yang mau berfatwa khusus mengenai syariat cemburu
Tak ada politisi yang berani menjadi negarawan untuk membela kaum pencemburu yang tertindas seperti aku
Padahal, menyebab cemburu bagiku adalah kekerasan yang sudah
terlalu
Sakitnya lebih berdarah daripada dilempari cadas batu
Perihnya bahkan lebih ngeri daripada dihujani ganas peluru
Aku tahu orang yang pernah jatuh cinta akan sepakat dengan pernyataan sikapku
Kecuali mereka-mereka yang cintanya cuma pura-pura dan atau main-
main itu
Cemburu itu biasa-biasa saja bagi mereka dan tak perlu reaksinya sampai begitu
Tapi maaf, aku tidak! Cemburu tidak sesederhana logika dan epistemologimu
Cemburuku tidak seremeh dan seramah cemburu orang-orang kebanyakan itu
Aku berbeda! camkan itu!
(Asal kamu tahu:
Aku cemburu begitu karena tuhanku maha pencemburu
Dialah yang telah mengajariku cinta dan ilmu cemburu
Dia pernah berwahyu di telingaku yang batu, “sesungguhnya aku bersama hambaku yang pencemburu”
Sejak saat itu, jadi! maka jadilah aku iblis pencemburu)
Sayang, kamu harus tahu:
Aku selalu cemburu saat melihatmu berdua-duaan di foto dengan lelaki lain.
Aku tidak peduli siapa mereka itu. Tapi setiap ku lihat kamu dan dia itu,
Dadaku tiba-tiba sesak, belukar perasaanku terbakar, mataku menyalakan bara memerah memarah. Seekor Anjing dalam diriku mengerang, menggeram, menerkam-nerkam dari dalam. Ingin sekali rasanya kutarik kerah baju lelaki itu, kuludahi dia dengan cacian kata-kata di batang hidungnya yang belang dan belagu, kumuntahi dia dengan sumpah serapah lalu kugamparkan tampar tinjuku tepat ke mukanya yang sangat menjengkelkan itu. Cih!
Sayang, kamu harus tahu:
Aku juga pasti cemburu saat kamu bercerita tentang kisah deretan kasih mantanmu.
Apalagi setelah kuselidiki dan kutahu ternyata dia lebih alim dan tampan dariku.
Cemburu dan gundahku akan semakin berlipat-lipat menggulana, panasnya mengganda menggada.
Lelaki baik hati yang telah mencampakkanmu itu,
ingin sekali rasanya kutaruh kata bangsat dan keparat di belakang namanya.
Ingin kurobek mulutnya yang penuh manis yang pernah ia pakai untuk menyatakan cintanya padamu.
Ingin sekali kucongkel matanya yang perbawa yang ia gunakan untuk
memandang dan memotret kecantikanmu, namun setelah itu ia gunakan untuk mengiris-iris kesetiaanmu. Ih!
Ijinkan aku mencabik-cabiknya,
Aku ingin mencincang-cincang daging perasaanya yang telah masuk dan tega menghancurkan hati dan ketulusanmu. Akan kucari mereka semua walau sampai ke negri cina, walau sampai ke liang neraka, akan kucabut kenangan dan seluruh ingatan tentangmu di tenggorokannya. Cih!
Sayangku, kamu harus tahu:
Aku selalu cemburu setiap hari. Terutama kalau seharian kamu tidak membalas pesan-pesan singkatku. Anak kecil yang bersembunyi dalam kepalaku selalu berpikir kalau-kalau kamu sedang dibikin sibuk oleh lelaki lain yang sedang mengincar hatimu.
Pasti kamu sudah sedang digeniti oleh entah siapa itu.
Aku selalu membayang; ada lelaki yang sedang mendekatimu, dia sedang merayumu, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menaklukkanmu, menghimpun strategi untuk memilikimu,
Aku membayang: dia sedang sering-seringnya menelpon atau
mengirimimu rayuan singkat dan emot bunga di hapemu, atau bisa jadi sekarang dia sedang bertamu di kostmu, mengapelimu, membacakanmu puisi, menyanyikanmu lagu-lagu favoritmu, cuh!
Aku selalu membayang; jangan-jangan sekarang dia sedang duduk berdua denganmu tanpa spasi, bisa jadi sekarang dia sedang berencana mencolek-colekmu, atau jangan-jangan dia bahkan sedang membonceng mesra kamu keluar ke suatu tempat dengan motornya. Oh, aku tak tahan melihatnya! Aih! Perih!
Sayang, ketahuilah:
Setiap itu membayang-membayang, berdenyat-denyut di pikiran, aku disini hancur berantakan.
Aku hanya bisa berpura-pura tak tahu, lalu segera kuambil jurus
menghilang, pergi sejauh-jauhnya, berpaling dari pemandangan yang sangat mengerikan itu. Oh, menyedihkan! Aih!
Sayang, kamu harus tahu:
Aku juga bahkan selalu cemburu dan menaruh dendam kepada puisi- puisiku. Mereka itu sungguh tak tahu diri dan tak punya rasa malu. Mereka begitu genit dan lancang menggodamu.
Aku sangat benci mereka, karena ternyata mereka lebih intim dan
perhatian kepadamu dibanding aku yang culun dan sangat kaku.
Aku ingin melucuti huruf-hurufnya, mematah-matahkan kata-katanya, mendamprat seluruh rayuan gombalnya, lalu kuambil pisau dapur untuk kemudian kubalaskan kesumatku, kutikam-tikam puisiku itu tepat di pusat jantungnya, sampai mereka memohon ampun padaku, akan kubikin mereka berdarah-darah, sampai mereka semua mampus di tanganku. Uh!
Sayang, kamu harus tahu:
Aku pun cemburu kepada buku-buku yang jumlahnya ratusan di kamarmu itu. Aku iri! mereka bisa dengan bebas menemanimu, menghiburmu, dan selalu bisa leluasa memandang wajahmu. Ah!

Aku juga cemburu kepada film-film yang kau tonton, cemburu kepada lagu-lagu yang kau dengarkan, cemburu kepada quotes-quotes yang kau kutip, cemburu kepada bakso dan es krim yang kau makan, cemburu kepada paper kuliah yang kau kerjakan, cemburu kepada dosen yang mengajarmu di perkuliahan, cemburu kepada setiap jalan yang kau lewati, cemburu kepada motor yang kau kendarai, cemburu kepada rumah dan kota yang kau tinggali, cemburu kepada apa saja dan siapa saja yang berhasil mencuri perhatianmu. Aku cemburu! Benar-benar cemburu! Dan semua itu sangat menyakitkan hatiku! Aih!
Sayang, aku tahu cemburuku sudah sungguh terlalu
Tapi dialah saksi cintaku yang betapa liar dan dalam padamu.
Aku tidak malu mengatakan ini itu
Karena seluruhnya datang dan keluar dari dalam ragasukmaku
Terserah apa katamu, beginilah aku, dan demikianlah aku: Pencemburu dan sangat mencintaimu
(Aku suka caraku mencintaimu:
Mencintaimu dengan cara yang sakit, karena cemburu itu luka yang tak akan usai, sakit yang tak akan selesai-selesai)
Dirja Wiharja

Minggu, 16 Februari 2020

Surat Cinta Buat Kekasih: Pemerintah

Yang terhormat, kekasihku
Aku tulis surat ini dengan tangan berkeringat cinta dan darah
Sedang kepalaku yang pecah tergeletak di atas kuburan leluhur yang sudah tanah.
Airmataku yang terluka berceceran dimana-mana
Sekujur tubuhku terbujur, koyak-koyak sudah
Rohku masih menyala, namun jiwaku disekap entah oleh siapa
Aku sudah tak kuat menyimpan dendam yang semakin membuncah
Nasionalismeku berlumuran perih yang sangat marah
Aku gerah!
Aku tidak tahu dimana aku, aku dimana?
Aku tidak tahu bagaimana aku, aku harus bagaimana?
Mulutku disumpal, leherku dibekuk, mataku dilucut, telingaku ditusuk, otakku membusuk!
Tak ada yang bisa aku perbuat kecuali hatiku bekerja bakti,
berdoa sakti;
“Allahummahdii habiibii fainnahum laa ya’lamuun!”
(Allahku, berikanlah hidayah kepada kekasihku; pemerintah)
Lindungi kekasihku!
Jaga kekasihku!
Ampuni dosa kekasihku!
Terimalah taubat nasuha kekasihku!
Dia tidak tahu yaa Allah!
Dia sedang lupa yaa Allah!
Dia sedang terperangkap oleh setan dirinya
Dia sedang terjerat oleh iblis nafsunya
Dia sedang ditipu habis-habisan oleh dajjal syahwatnya yaa Allah!
Selamatkan kekasihku! Ya Allah!
Sayang, kekasih macam apa kau ini!
Dulu, kau sendiri yang datang menggodaku
Kau mondar-mandir tidak jelas tebar pesona kiri-kanan dihadapanku
Kau datang dengan senyum manis, petantang-petenteng dengan gaya klasik buaya daratmu
Kau tiba-tiba muncul bak jelangkung kesiangan, datang tak diundang pulang tak diantar
Kau datang sok imut dengan segala bentuk topeng pencitraan bangsatmu!
Kau datang sok pintar dengan seabrek retorika dan quotes-quotes brengsekmu!
Kau datang sok suci dengan berton-ton gombalan ilmiah kata mutiara di mulut keparatmu!
Kau datang sok negarawan dengan berkarung-karung pidato filsafat kebangsaan tailacomu!
Sayang, masih ingatkah kau wahai kekasih!
Kau pasang foto raksasamu yang tampan rupawan di pinggir jalan, di sudut-sudut strategis kota,
Dengan slogan-slogan cinta, nurani, kemanusiaan, kerakyatan, keadilan sosial, kepedulian, dan pembangunan takhayyulmu!
Semua itu kau lakukan demi agar aku melirikmu, mau mengenalmu, agar otakku membuat folder khusus untuk menerima kamu di kepalaku! Iya kan?
Dan karena bagimu itu tak cukup-cukup juga,
Maka kau kampanyekan pula cintamu itu dimana-mana!
Di jalanan, di lapangan, di rumah-rumah tuhan, di koran-koran, di radio, di televisi, di media sosial, di warung kopi, di pohon dan bahkan di hutan-hutan!
Kekasih, aku masih sangat ingat!
Waktu itu kau mendekatiku, lalu menyapaku. Kau selalu memujiku, kau menyanjungku, kau merayuku, kau membesar-besarkan kepalaku, kau sembah-sembah aku, dan bahkan kau bersumpah demi “tuhan” demi untuk agar aku menerima cintamu!
Namun aku menolakmu! Aku tidak mencintaimu! Sebab kutahu kelakuan burukmu! Ku tahu semua rencana busuk di kepalamu!
Lebih baik aku jadi perawan tua daripada aku harus dinikahi oleh orang seperti kamu!
Tapi kau terus saja menggangguku, mendatangiku, mengajak aku, mencolek-colek aku, melamar-lamar aku sebagai istrimu!
Aku jadi luluh dan merasa iba padamu
Akhirnya aku percaya kata-katamu
Aku terima segenap cintamu dengan tabah dan lugu
Dan kaupun membuktikan janji serapahmu dengan memberiku mahar yang kau depe; sarung, kompor, songkok, sejumlah uang ratusan ribu, dan entahlah!
Emangnya gue pikkiriki!
Sayang, kekasih macam apa kau ini?
Masih ingatkah kau wahai
Dulu kau tawarkan aku rumah tinggal yang aman dari pertengkaran iman
Tentram dari perkelahian ideology dan aliran-aliran
Bebas dari ormas dan pelajar-mahasiswa yang suka tawuran
Merdeka dari perang dan kezaliman si tuan fulan
Kau tawarkan aku tanah air yang selamat dari aneka ragam pertikaian
Nyaman dari segala bentuk amuk marah dan kebencian
Sentausa dari parpol dan geng-geng religius sialan
Kau sodorkan mimpi tentang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur
Tapi kau sendiri yang kufur dan fir’aun!
Kau pembohong bermulut jalang! Sayang
Pemerintah! Kekasih macam apa kau ini?
Kau janjikan aku kesejahteraan, tapi kau beri aku kemelaratan
Kau bilang akan menafkahi aku, tapi de’ je’ mujampangika’ setang!
Kau katakan akan mendidik anak-anakku, tapi kau bunuh kreatifitas mereka dengan sekolah dan universitas bikinan perusahaan ilmu dan industri-industri pendidikan!
Kau buang-buang waktu mereka dengan acara televisi dan tempat-tempat hiburan!
Kau berpuisi bahwa kau sayang padaku, tapi nyatanya kau hanya sayang tubuhku saja!
Kau hanya datang bila kau perlu
Kau hanya ingin menyetubuhiku, membuang sperma abu lahabmu ke liang vaginaku lalu pergi dan menghilang!
Binatang macam apa kau ini!
Kau bersumpah untuk setia sampai mati, tapi buktinya kau selingkuhi aku setengah mati! Selingkuh dengan jabatanmu, dengan gajimu, dengan kekuasaanmu, dengan partaimu, dengan wisatawan asing, selingkuh dengan semua tetek bengek politik laknatmu!
Kau cium aku sebelum kau menamparku
Kau usap dan belai rambutku lalu kau benturkan kepalaku ke batu
Kau peluk aku dengan mesra lalu kau tikam-tikam aku dari belakang
Kau beri aku kasihsayang lalu kau perhinakan seluruh sisi kemanusiaanku
Kau kasi’ pake bajuka baru ko telanjangika’ asu!
Kekasih macam apa kau ini!
Dan aku yang bodoh ini terus saja memaafkanmu
Memaafkanmu, memaafkanmu, dan terus mendoakanmu!
“Kurang asu apalagi cintaku padamu wahai pemerintah!?”
(O Puang maraja pammase
Cau’ tongengna’ kasi’ iyya’
Idi’ mani meloki magai)

Kamis, 02 Januari 2020

Tuhan Tak Ada Di Masjid


Apabila masjid sudah besar, megah dan indah, tidak perlu lagi untuk disumbang. Mubazir! Tentu saja ini menurut saya.

Kalau anda mau menyumbang, silahkan cari masjid yang kecil atau masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Atau langsung saja rejeki anda itu disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan. Uang anda langsung saja disedekahkan kepada fakir miskin atau anak-anak yatim. Akan lebih baik bila anda sendiri yang langsung menyalurkannya. Berbuat baik juga membutuhkan kecerdasan dan daya kritis. Agar anda tidak mudah dibohongi atau ditipu. Anda harus sadar bahwa banyak maling yang berpeci kebaikan dan berjubah agama di sekitar kita. Siapa sih yang tidak suka uang? Anda jangan terlalu polos, lugu dan dungu!

Dengan berat hati saya berpendapat bahwa, termasuk makruh hukumnya menyumbang masjid yang sudah jadi, masjid yang sudah selesai pembangunannya. Sekali lagi makruh hukumnya menyumbang masjid bangunannya sudah berdiri dengan kokoh, megah dan indah. Apalagi kalau ternyata kas keuangan masjidnya itu sampai milyaran atau ratusan juta di bank. Uang seperti itu sangat berpotensi dimakan setan. Anda tahu kan, di mana ada uang, di situ pasti ada setan.

Seandainya, pengelolaan keuangan masjid itu jujur, benar dan tepat, mustahil ada orang/tetangga yang susah atau miskin di sekitar masjid. Sadarlah, masjid hanya bangunan. Yang paling utama untuk diperhatikan dan disejahterakan adalah jamaahnya, masyarakat: manusianya!

Kalau memang masjidnya sudah besar, megah dan makmur, maka hentikan lah pembangunannya. Selanjutnya adalah memakmurkan jamaahnya, masyarakat dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Itulah yang terpenting.

Dosa besar bagi pengurus masjid, jika punya kas keuangan sampai ratusan juta atau bahkan mencapai milyaran rupiah, tapi ada Jamaah atau orang di sekitar masjid yang hidupnya susah, kelaparan, sakit atau sedang menderita tapi tidak dibantu.

Ingat! Masjid memang tempat berjamaah. Tapi bukan hanya untuk sholat atau dzikir Berjamaah. Tapi juga Berjamaah dalam hal menyelesaikan masalah-masalah sosial. Mengatasi persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Terutama, soal kemiskinan dan kebodohan!

Masjid yang berhasil dan benar-benar berfungsi sebagai baitullah: rumah tuhan, tidak dilihat atau dinilai dari besar dan megahnya fisik bangunannya. Tidak diukur dari indah dan hebatnya arsitektur bangunannya. Masjid yang benar-benar masjid adalah yang mampu menciptakan suasana dan lingkungan surga: hidup yang harmoni dan penuh kemesraan. Masyarakat atau jamaahnya senantiasa berjamaah di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Berjamaah dalam arti yang luas dan lebih hakiki. Saling menghargai, saling menghormati, saling bantu, saling memberi rasa aman, saling mengasihi dan saling mendoakan dalam kebaikan.

Sangat tidak masuk akal bila bangunan masjid berdiri dengan megah dan indah, tetapi terlihat masih ada gelandangan, anak-anak terlantar atau pengemis di sekitarnya. Pasti ada yang tidak beres! Mustahil bila sumbangan dari Jamaah terus mengalir, bertambah setiap hari sampai kas keuangan masjidnya ratusan juta, tapi masih ada anak-anak yatim terlantar, orang-orang susah dan miskin di sekitar masjid. Uang sebanyak itu mau diapakan? Ditumpuk? Atau mau diendapkan di bank biar bunganya bisa anda petik sendiri?

Celakalah mereka yang membangun masjid! Celakalah mereka yang sholat! Yaitu orang-orang yang sholat tapi lalai. Rajin sholat dan dzikir di masjid tapi lalai. Lalai dan tidak mau membantu dan mengasihi sesamanya! Tidak peka dan tidak peduli terhadap kondisi saudara atau sesamanya. Semoga kita tidak termasuk orang-orang celaka yang termaktub dalam surah Al-Maa'uun:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ
Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ
dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ
Maka celakalah orang yang sholat,

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ
(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya,

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ
yang berbuat riya,

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
dan enggan (memberikan) bantuan.

Waba'du, saya memohon maaf bila ada kata-kata saya yang menyinggung atau bahkan melukai perasaan anda. Tidak ada maksud lain kecuali untuk sekedar menambah daftar harapan dan sekaligus sebagai penyadaran bersama. Terutama buat saya. Bahwa semestinya, masjid-masjid kita yang besar, indah, megah dan makmur itu adalah simbol yang menandakan bahwa jiwa kita besar, niat dan pikiran kita juga indah, singgasana hati kita megah dan seluruh masyarakat atau umat juga sudah merasakan keadilan yang makmur dan sejahtera. Bisakah kita sedikit saja untuk memiliki rasa malu di hadapan tuhan, memasuki masjid atau rumahNya dengan gagah dan penuh percaya diri untuk beribadah kepadaNya. Tapi di saat yang bersamaan kita melupakan kewajiban kita, yaitu membantu dan meringankan beban sesama hamba-hambaNya di luar sana yang sedang mengalami kesulitan atau di dera ujian penderitaan? Bisa?

***
Suatu ketika, usai sholat jumat
di sebuah masjid megah di kota P, saya berdoa sangat lama dan khusyuk. Berbicara dan memohon banyak hal kepadaNya: Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang.
Di sela-sela doaku yang khidmat, tiba-tiba Tuhan mengetuk-ngetuk pintu lathifahku:

"wahai yang mulutnya komat-kamit berdoa minta pahala dan sibuk minta surga! Kau datang ke masjid, rumahKu, tapi sayangnya Aku tidak berada di rumahKu. Aku sedang menemani hamba-hambaKu yang kesepian. Aku sedang bersama mereka yang sakit, mereka yang lapar, yang kehujanan, yang tertimpa musibah, yang hidupnya susah, yang terlantar, yang tidak dipedulikan, yang terbuang dan mereka semua yang mengalami ketidak-adilan. Aku sedang menemani kekasih-kekasihKu itu. Kalau kau mau bertemu denganKu, datanglah! Keluarlah dari rumahku. Cari dan bantulah mereka. Hadirlah di sisi mereka. Aku senantiasa bersama mereka. Dan mereka semua selalu bersamaKu. Demikianlah kebenarannya.

Wahai orang-orang beriman, seharusnya, jiwamu lebih besar dan megah dari bangunan masjidmu!".

(Bersambung)

Rabu, 11 Desember 2019

Pengaruh Cinta Dunia terhadap Kebangkrutan Ruhani

Setiap melihat kekayaan dan kemewahan hidup orang lain, jiwa miskin saya bergejolak berteriak-teriak, "mau dong!", "kapan ya saya bisa begitu", "kapan ya saya bisa punya ini itu juga", "kenapa ya saya tidak bisa seperti mereka", "bla bla bla". Dan itu sebenarnya biasa dan alamiah.

Semua keinginan-keinginan itu seperti oksigen yang tersedot saat bernafas, masuk melalui lubang hidung, lalu merayap naik ke kepala, kemudian meresap masuk ke otak,  menjadi pikiran, menjadi semacam file .apk, terinstal di alam bawah sadar, menjadi aplikasi beban dan jadilah masalah: tidak bahagia!

Untungnya, saya bukanlah pikiran, bahkan saya bukanlah tubuh. Saya adalah aku. Dan aku itulah diri yang sejati. Maka coba dan belajar lah, pisahkan dirimu dari panca indra dan pikiranmu. Ambillah jarak. Amatilah dengan baik. Kelak, kita melihat kalau pikiran hanyalah properti, semacam kepemilikan, atau sesuatu yang kerjanya berlalu-lalang. Datang dan pergi. Yang mana (diri) kita merdeka mengambil, menggunakannya atau tidak; menyimpan, mengumpulkannya atau membuangnya. Yang mana, semua itu sebelumnya tidak ada lalu tiba-tiba ada begitu saja. Lihatlah bagaimana pikiran bereaksi atau memberi respon terhadap sesuatu.

Sadari dan saksikan, bahwa keinginan manusia itu bersumber dari pikirannya. Tentu saja dibantu oleh panca indranya. Tapi pikiran lah yang menciptakan keinginan-keinginan dan semua fenomena perasaan yang dialami oleh manusia. Bahkan ego pun sebenarnya tidak ada. Ego hanyalah ilusi yang juga diciptakan oleh pikiran. Memang, pikiran manusia adalah teknologi yang ultra-canggih. Akan tetapi, baik-buruknya; benar-salahnya; indah-kejinya, itu semua bergantung pada kualitas hati/bathinnya.
العقل السليم من قلب سليم

Pikiran yang sehat, bersumber dari hati yang sehat. Bathin yang sakit dan lemah, akan menghasilkan kualitas pikiran yang juga lemah dan rendah. Olehnya, filsafat mengajari bagaimana manusia bersikap bijaksana dalam menggunakan pikirannya. Tasawuf hadir mengajari bagaimana manusia membersihkan hatinya dari sifat-sifat rendah atau tercela. "Keinginan adalah sumber penderitaan", kata iwan fals. Ya, betul. Tapi keinginan bersumber dari pikiran!

Saya akhirnya berhenti berpikir punya keinginan untuk kaya atau menjadi seperti orang lain. Saya syukuri dan nikmati apa yang ada dan apa yang tidak ada. Dan di saat itulah saya menyadari bahwa ternyata kehidupan ini adalah kekayaan yang tiada duanya. Hidup inilah kekayaan yang sesungguhnya. Syukur sujud Alhamdulillah.  Orang boleh bekerja keras atau bekerja cerdas, silahkan banting tulang peras keringat dan pikiran, mengumpulkan uang, menumpuk harta, berlomba mewah, membeli dan memiliki apa saja, tapi semua itu tak sanggup memberi kebahagiaan sejati. Harta benda, jabatan, kekuasaan, popularitas, kemewahan hanya memberimu kemudahan dan kenyamanan. Selama hatimu sempit dan kering dari rasa syukur, maka hidupmu akan terus berkekurangan dan tetap saja menderita. Lagi pula, selain kasih sayang dan amal kebaikan, semua tak berguna tiada arti ketika kita mati.

Ketika mati, Yang dibawa pergi dari Semesta ini bukanlah harta, materi ataupun prestasi-prestasi duniawi. Melainkan, yang dibawa adalah kualitas ruhani. Adalah ketenangan dan kekayaan jiwa. Memang, banyak harta itu mulia. Tapi itu hanya berlaku di dunia. Semua hanya sementara. Sebab bagi sang pencipta jagad raya, semua itu bukan lah apa-apa. Lebih baik dapat dunia sedikit saja. Hidup sederhana dan bersahaja. Daripada terikat dan diperbudak benda-benda. Jiwa jadi miskin. Bathin bangkrut dan menderita.

"Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak dibawa mati", kata Mbah Nun.

Tapi tunggu dulu, kita jangan bodoh dan ceroboh! kita tidak boleh anti-dunia atau benci materi. Sebab itu jelas-jelas adalah kemunafikan. Menolak uang dan kekayaan adalah salah satu dari sekian keangkuhan spiritual. Tidak demikian para nabi mengajarkan. Yang tidak diperbolehkan adalah cinta dunia yang berlebihan sehingga membuat kita takut akan kematian dan tidak rela mati meninggalkan kekayaan. Ini yang disebut dengan penyakit wahn:
حب الدنيا وكراهية الموت

Lagi pula, ini juga demi kebaikan manusia itu sendiri, agar ketika mati tidak tersiksa. Sebab hati dan pikiran yang sudah terlalu melekat dan penuh dengan materi atau urusan dunia itulah yang kelak menyusahkan manusia. Mati tapi jiwanya masih gentayangan di bumi, karena tidak siap meninggalkan semua yang (merasa) dimilikinya.

Tapi sekali lagi, mohon jangan bodoh dan ceroboh! dunia ini tetap penting dan wajib disyukuri. Dunia adalah ladang perjuangan, ruang kebaikan, sebagai tempat pengabdian. Dunia adalah masjid bagi orang-orang yang bertakwa.

Oleh sebab itu, tetaplah rendah hati dan bersahaja. Sebab mereka yang rendah hati kepada Tuhan dengan segenap jiwa, hati, pikiran dan tubuhnya adalah orang-orang yang senantiasa diberi rasa khusyuk. Kata syaikh Al-jurjani:

الخاشع هو المتواضع لله بقلبه وجوارحه

Yang paling tidak disenangi iblis adalah orang-orang kaya di dunia tapi hati dan perbuatannya tetap khusyuk kepada Allah. Orang-orang yang tangannya, pikirannya sibuk bekerja di dunia, tapi hatinya khusyuk berdzikir kepada Allah. Orang-orang yang hidupnya diabdikan untuk kemanusiaan, untuk kemaslahatan orang banyak. Orang yang hidup di dunia, sekaligus hidup di akhirat.

Dunia adalah akhirat yang disembunyikan. Akhirat itu ya dunia ini. Ya sekarang ini. Jangan tunggu mati baru masuk atau berpindah ke dimensi akhirat. Akhirat adalah alam bathiniyah: Diri kita yang terdalam.

Wahai diriku sendiri, Bacakan lah dirimu setiap hari: Innaa lillahi wa Innaa ilaihi rojiun. Nikmati hidup ini, jalani dengan kesadaran Innaa lillahi: bahwa kita bersumber dari Allah, dzat yang maha ada, abadi!
لا موجود إلا اللّٰه
Tak ada yang ada kecuali Allah yang maha ada. Maka, hakikatnya kita sebenarnya tidak ada, tapi hanya diadakan saja. Keber-ada-an/eksistensi kita hanya sementara. Jatah kita hanya sebentar. Mungkin 10, 20, 30, 40 hingga 70 tahun. Syukur dan sabar bila diberi lebih lama: 100 atau lebih. Faktanya, memang ada manusia yang kebal, tapi tak ada yang kekal.  Maka, jangan tunggu mati dulu baru taubat. Jangan tunggu hancur dulu baru insaf. Semua akan dimintai pertanggung jawabannya!

Jadi, "Ilaihi rojiun" ya bisa dilakukan sekarang. Jangan tunggu malaikat maut mencabut nyawa dulu baru ilaihi rojiun. Setiap amal perbuatan yang dibarengi dengan niat tulus lillahi ta'ala, yang dikerjakan untuk kebaikan dan kemaslahatan, dilakukan dengan penuh kesadaran bertuhan, maka itulah "ilaihi rojiun". Itulah jalan kebahagiaan sejati. Jalan yang dilalui oleh para nabi, awliya', shiddiqiin, sholihin dan semua kekasih-kekasih Allah.

Waba'du, saya teringat syair Al-Hallaj:

يا كل كلي فكن لي
إن لم تكن فمن لي

Wahai Segala dari Segala ku. Hadir lah, Temani aku. Jika Engkau tak bersamaku. Siapa lah aku ini. Apalah arti hidup ini!

Semoga seluruh makhluk berbahagia!

Kamis, 05 Desember 2019

Bagaimana (saya) Memahami Islam?

Islam bukan hanya tentang syariat dan aqidah. Bahwa memang betul, Islam memiliki perintah atau kewajiban syariat seperti syahadat, sholat, puasa, zakat, sedekah, haji dan seterusnya. Sebagai Media/sarana bagi manusia untuk mensyukuri segala nikmat kehidupan yang dianugrahkanNya. Sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengabdi kepadaNya. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai jalan/suluk untuk meningkatkan kualitas kesadarannya di dunia. Mengupgrade ruhani kita agar kelak tidak bangkrut dan menderita di kehidupan selanjutnya.

Bahwa memang betul, Islam juga mengajarkan teologi atau aqidah yang lurus: Laa ilaaha illallah, Muhammadarrasulullah. Tak ada yang layak dicintai dan dicari RidhoNya kecuali Allah, Tuhan pencipta Alam semesta dan Muhammad adalah utusanNya sebagai kasih-sayang bagi alam semesta. Akan tetapi, Islam bukan hanya soal itu. Bukan itu saja. Islam juga adalah agama persatuan yang sangat memuliakan kemanusiaan. Islam hadir untuk menyatukan umat manusia secara hakikat, bukan secara syariat atau kulit luar. Nama, bentuk, identitas atau tampilan luar boleh berbeda-beda, tapi kesadaran bathinnya sama: Berketuhanan yang maha esa.

Maka, yang diajarkan oleh nabi sebenarnya bukan hanya/sekedar kulit, simbol, ritual atau budaya. Melainkan isi, inti dan substansi dari kebenaran: Nilai-nilai kehidupan bersama yang mesra dan prinsip-prinsip hidup yang damai. Sebab, Nabi sangat menyadari bahwa tiap-tiap manusia dan bangsanya memiliki keistimewaan dan keunikannya. Memiliki kebudayaan dan peradabannya masing-masing. Islam hadir untuk menyirami dan atau mengisinya dengan cahaya kebenaran, kebaikan dan keindahanNya.

Oleh karena itu, menurut saya, Islam (seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang) melampaui agama. Kalau Islam (hanya) dipahami sebagai agama, maka ia akan menjadi kotak menjadi sekat menjadi jurang menjadi institusi atau lembaga yang bersifat eksklusif. Tertutup. Kaku. Islam yang sesungguhnya tak terbatas akan menjadi terbatas dan sempit karena hanya bisa/boleh diakses oleh orang atau kelompok tertentu saja. Dan akhirnya, mereka yang tidak/belum islam akan dianggap sebagai orang lain/kelompok lain. Lahirlah fanatisme agama. Walhasil, itu menceraikan dan memisahkan umat islam dari agama-agama lain. Sedangkan hakikat islam adalah justru untuk menghubungkan dan menyatukan semua agama-agama atau aliran kepercayaan. Islam datang untuk menyapa siapa saja: apapun suku, bangsa, budaya, negara, golongan, kelompok, ormas, mazhab, ideologi, gender, karakter dan latar belakangnya. (Umat) Islam berkenalan, saling kenal-mengenal, lalu saling menghormati, saling menghargai, saling menerima satu sama lain. Islam memberi jaminan keselamatan kepada seluruh ciptaanNya. Sebagaimana yang juga diajarkan oleh agama-agama sesusuannya yang lain.

Waba'du. Mari kita belajar. Coba pandang lah yang jamak itu sebagai satu kesatuan dan keutuhan. Kelihatannya banyak, beragam, berbeda dan bermacam-macam. Tapi realitasnya satu. Itulah tauhid. Makanya Nabi disebut "Ummiy" dan "Rahmatan lil-alamin". Beliau diutus memang sebagai ibu yang menemani dan menyayangi umat yang bermacam-macam. Maka Islam adalah silaturahmi dan diskusi mesra bagi seru sekalian alam semesta. Indah kan?

Sekian dulu khotbah yang singkat ini.
Jaga kesehatan semuanya.
Jangan lupa buang sampah di tempat sampah.
Semoga seluruh makhluk berbahagia!

Rabu, 04 Desember 2019

Hakikat Assalamu Alaikum!

Suatu ketika, Rasulullah bercengkrama dengan para sahabat. Beliau yang mulia berkata:

 لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ تحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَم بَيْنَكُم

Wahai sahabatku, kebahagiaan dan keindahan surga di dunia maupun di akhirat tidak bisa dirasakan kalau kita tidak saling memberi rasa aman kepada sesama manusia, terhadap sesama ciptaanNya (beriman). Dan rasa aman itu tidak bisa terwujud sebelum kita saling mencintai, saling mengasihi dan saling menyayangi satu sama lain (berislam). Dengarkan lah baik-baik, kuberi tahu dan kutunjukkan jalan supaya kalian saling mencintai. Yaitu: Sebarkanlah salam di antara kalian.

Menurut pengetahuan umum, bahwa "sebarkan salam" dalam sabda nabi itu maksudnya, "Ucapkan lah salam". Dan itu benar. Itulah syariat salam dalam islam. Yaitu kepada sesama hendaknya kita mengucapkan "assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuhu". Semoga keselamatan dan kebahagiaan senantiasa menyertaimu sekalian wahai saudaraku, wahai sekalian makhluk sesama ciptaan, semoga senantiasa dalam lindungan serta limpahan kasih sayang Allah dan keberkahan dariNya.

"Salam" bukan hanya ucapan indah melainkan ungkapan doa yang sungguh mulia. Secara syariat, kalau ini benar-benar diaplikasikan, dunia ini akan menjadi taman-taman surga. Sebab memberi salam adalah memberi keselamatan kepada sesama. Dan menjawab salam berarti kita turut serta, ikut bersepakat untuk saling menyelamatkan. Visi dan misi kita di dunia adalah "semoga semua makhluk selamat dan berbahagia".

Maka, salam adalah perjanjian universal kita di hadapan tuhan: Assalamu alaikum! Saya dengan penuh kesadaran berjanji di hadapan tuhan untuk tidak mengganggu, untuk tidak mengambil hak atau harta benda orang lain. Assalamu alaikum! Saya dengan penuh keyakinan berjanji di hadapan tuhan untuk tidak merendahkan martabat orang lain; untuk tidak menghina, mencaci, membenci, memfitnah atau menipu orang lain; untuk tidak melecehkan harga diri orang lain. Assalamualaikum! Saya dengan penuh ketulusan berjanji di hadapan tuhan untuk tidak menyakiti fisik orang lain; tidak melukai perasaan orang lain; apalagi sampai membunuh atau mengambil nyawa orang lain. Itulah hakikat salam. Wallahu a'lam

Oleh karena itu, tagihlah diri kita setiap hari untuk mengamalkan sabda nabi ini. Sebarkan lah salam di antara kalian! Bukan sebarkan lah cacian di antara kalian! Ingat lah itu wahai diriku!

Taparajangekka addampeng yaa Rasulallah!
Allahumma Sholli ala Sayyidina wa habiibina wa syafii'ina wa Mawlana Muhammad 'abdiKa wa nabiyyiKa wa rosuliKa annabiyyil-ummiy wa ala alihi wa Shohbihi wa baarik wa Sallim.

Sabtu, 16 November 2019

Percakapan Dua Jomblo

Kini giliran La Caddo' yang jadi bahan baku tertawaan kawan-kawannya. Bagaimana pun hebatnya ia bermain teater dan baca puisi, sedemikian pun ahlinya dia ber-akting di atas panggung, namun dia ternyata kaku dan baper di panggung kehidupan. Dia K.O di dunia nyata. Ia tidak mampu menyembunyikan kegalauan dan kehancur-leburan hatinya. Ia sakit. Tapi sakitnya tuh disini----sambil menyentuh dada sebelah kirinya. Tulang rusuk jiwanya patah, harapannya pecah, perasaannya runtuh, terjadi gempa di bagian kepalanya.

Seperti kalau ada senjata tajam yang menusuk-nusuk dari dalam jantung lathifahnya----tapi tentu hanya dia seorang yang merasakan perihnya penderitaan itu. Sedikit lagi air matanya gugur berjatuhan, tapi cepat dia belokkan masuk ke dalam hati terdalamnya. Air mata hati. Air mata rahasia yang menyimpan sakit yang sangat. Luka yang teramat. La Kudu'---salah seorang kawan akrabnya-- curiga ada sesuatu yang tidak beres menimpa La Caddo', akhirnya ia datang mendekat, menyapa dan memulai basa-basinya.

"Kenapako Caddo'? Sepertinya kamu sedang aneh, Adaga masalahmu cappo'? Cerita-cerita mokko bos, siapa tahu bisaka' kasiko solusi cerdas. Kalau pun tidak, minimal hiburan mo palE' saja'. Heuheu"

"Tidakji" jawab La Caddo' singkat padat dan sangat tidak jelas.

"Ah betulangkojE' E" ? La Kudu' meneruskan interogasi terselubungnya.

"Tidak papa ji" La Caddo' bertahan dengan jawaban iritnya.

"Awwah, seriuskojE' E"? La Kudu' mulai menyerang pertahanan emosional La Caddo'.

"Ais, bilangka' tidak papaji" LA Caddo' mengelak dan menangkis serangan tanda tanya La Kudu'

"Allaa... bilangmako saja jE', nakentara orang kalo ada masalahnya. Heuheu......" La Kudu' kini menghantam psikologi La Caddo' dengan sedikit tawa yang canggih mengejek.

"Ana' sambala', Bilangka' tidak ada, there is no problem alias maafii musykilah, understand?! Justru kau disitu yang bermasalah mukamu... huahahah... " La Caddo' malah mengembalikan tawa La Kudu' dengan bonus kejujuran yang menyakitkan.

"Bheee... jangan main fisik bos! Tapi tidak papa ji, innallaha ma'asshobiriin, mau si lagi alihkan pembicaraan inihE?" La Kudu' tidak terpancing, bahkan ia mengangguk-angguk sepertinya sudah menemukan 80 persen jawaban yang dipenasarankannya.

"Kau juga di situ terlalu kepo, mau trus campur urusanTa', bukan semen Tonasa ini yang dicampuru' ces, heuheu... ini urusan pribadi...!!!!" Gawang La Caddo' sedikit lagi jebol, hampir sedikit lagi, lagi, dan akhirnya...

"Gooolll.......!!! He..... kutaumi masalahmu, hahahahah......." La Kudu' tiba-tiba meledakkan ketawa khasnya yang dijamin sangat menjengkelkan.

"Hu... sottak ji ko kamu Kudu', sok tau, apa garE' E?" La Caddo' yang sekarang penasaran dengan temuan La Kudu'---jangan-jangan dia benar-benar telah tahu tempe masalahnya.

"Anu... E.....itu....anu" La Kudu' sengaja melakukan improvisasi ..

"Apa?" Kini La Caddo' yang dipenasarankannya.

"Anu.... E..... anu.... E.... .." La Kudu' mulai mendramatisir suasana.

"Apa? Katakan saja!!!" Wajah La Caddo' berubah merah.

"Anu.... anu.... E....E....  ditolak cintamu to? Huaaahahahahahahahah...!!!!." kini tawa La Kudu' memuncak, membesar, menggelegar, ledakannya sempurna, menggemparkan, seperti big bang. Suaranya bergema bergelombang menguasai gendang telinga La Caddo', dan itu berlangsung selama 3 menit 14 detik. Masya Allah, tidak usah dibayangkan. Toh tidak ada gunanya.

"Ssssst.... jangko ribut, natau nanti anggotaE" La Caddo' benar-benar terbongkar---persis seperti kucing yang sudah dipukul kepalanya, ia akhirnya mengaku.

"Siapa memang tolakko? Coba ceritakang padaku" Kini volume suara La Kudu' mengecil secara otomatis--seakan-akan ia paham betul bagaimana menetralisir keadaan.

"Anu... itujE' E... anu ....mutauji sebenarnya" Tiba giliran La Caddo' yang ber-anu-anu---tanda diserang kegugupan.

"Bilangmako saja siapa??!!! Cantik memang ga?" La Kudu' kembali bertanya bertahan dengan keras kepalanya.

"Anu..... itu.... anujE'... itujE' E..... a.... a....nu... anu..........."  Anu dan gagap La Caddo' semakin bertambah, kian menjadi-jadi.

"A..... a..... anu siapa? Bilangmako saja, langsung sebut saja namanya siapa...!!" La Kudu' terus saja bertanya dan terus bertanya siapakah gerangan yang telah menghancur-leburkan singgasana perasaan La Caddo'.

"A..... a....... a...............a.....................a.........h" La Caddo' semakin kehilangan kekuatan untuk menyebut kata, mengungkap nama. Mulutnya komat-kamit, hati dan lidahnya bergetar tapi pita suaranya gagal memproduksi sepatah kata pun.

"Siapakah? Kenapa nasusah sekali disebut? Siapa yang tolak cintamu?!!!

"Ini adalah rahasia terbesar dalam hidupku" La Caddo' kini terperosok, jatuh, tenggelam ke dalam lautan dirinya. Tersedot oleh atraksi black hole intuisinya. Ia benar-benar fana'.

"Aku adalah seorang jomblo.
Aku sungguh rindu ingin dicintai.
Aku sendirian, Tak ada yang menyapaku.
Aku sakit, Tak ada yang menjengukku.
Aku berkeluh-kesah, tak ada telinga yang mendengarku.
Aku memanggil-manggil, Tak ada yang menjawabku.
Aku kelaparan, Tak ada yang memberiku makan.
Aku telanjang, tak ada yang memberiku pakaian.
Aku kehujanan, Tak ada yang memberiku payung.
Aku gelandangan, tak ada yang memberiku negri"

"Katakan kepadaku, kepada siapa aku memohon?
Katakan kalau bukan engkau, lalu kepada siapa?
Kepada siapa aku keluhkan rindu yang berdarah-darah ini?
Kepada siapa lagi harus aku katakan cintaku ini?"

"Berkali-kali aku katakan cintaku padamu, setiap saat, setiap detik detak jantungmu, setiap hembus keluar-masuknya nafasmu, berkali-kali itu juga engkau menolak mentah-mentah cintaku ...!!"

La Caddo' terus saja berbicara sampai tak lagi menyadari bahwa ternyata kalimat yang terakhir tadi adalah kalimat yang langsung keluar dari lisan lembut maha-kekasihnya.

La Kudu' roboh. Tumbang seperti pohon dihantam gempa seketika setelah menyadari kehadiran tuhan. Tubuhnya jatuh ke lantai dan pingsan berjam-jam mirip yang menimpa Musa di puncak Tursina.

Rabu, 06 November 2019

Sedekah Bumi Dan Laut

Sedekah laut dan atau sedekah bumi itu penting dan harus terus dilestarikan. Ini menurut saya. Jangan emosi dulu. Kalau ada yang tidak sependapat, dipersilahkan dengan hormat.

Orang yang melarang, mensyirikkan, membid'ahkan atau bahkan mengkafirkan orang yang melaksanakan ritual sedekah bumi dan laut adalah orang-orang beriman. Mereka sangat waspada dan penuh kehati-hatian dalam beribadah atau melakukan sesuatu. Mereka tidak mau ibadahnya rusak atau batal karena melakukan sesuatu yang tidak ada dalam alquran dan tidak pernah dicontohkan oleh nabi. Mereka sangat wara' dalam beribadah, karena tidak ingin pahalanya berkurang atau hilang karena melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat islam. Semua itu dilakukan demi Allah. Sungguh mulia mereka. Akan tetapi niat baik mereka itu ceroboh karena cara berpikir dan pola sikap mereka yang terlalu tekstual, materialistik dan kadang bertindak kurang ajar kepada sesama.

Sebenarnya saya sendiri bisa memahami dan memaklumi, sebab mereka barangkali bukan manusia rohani (atau belum). Tidak memiliki kepekaan rasa untuk menyadari dan menangkap informasi atau pengetahuan ghaib di balik fenomena di muka bumi.  Mungkin mereka tidak memahami bahwa ada energi yang bekerja yang terlibat dan bahkan selalu berinteraksi dengan manusia, walaupun manusia tidak menyadarinya. Energi itu adalah pancaran dan pendaran cahaya ilahi. Ia dimaknai sebagai rentangan kekuasaan dan sifat-sifat tuhan yang maha bekerja (fa'aal). Laa ta'khudzuhu sinatun wa laa nawm. Ya, energi itu senantiasa bekerja walaupun manusia tidak melihat dan tidak menyadarinya. Leluhur kita yang memiliki bathin yang terupgrade sangat menyadari hal ini.

Analoginya, seperti makanan yang terhidang di piring kita. Untuk sampai di piring kita, tentu banyak orang yang ikut terlibat di situ. Misalnya nasi yang kita makan, untuk mendapatkannya, yang bekerja dan yang terlibat di situ ada banyak pihak. Ada petani, ada yang memanen, ada yang menjemurnya, ada yang mengangkut ke pabrik, ada yang memabrik merubah gabah menjadi beras, ada yang memasukkan dalam karung, ada yang menjual, ada yang memasak berasnya menjadi nasi, kemudian bisa terhidang di piring dan barulah kita memakannya. Belum lagi lauk pauknya seperti ikan atau ayam atau sayur dan lain sebagainya. Ada banyak sekali pihak yang turut bekerja dan terlibat tanpa kita menyadarinya.

Demikianlah hidup ini. Demikianlah alam semesta. Manusia terlalu antroposentris. Padahal manusia tidak sendiri. Manusia bukanlah satu-satunya makhluk di dunia ini yang hidup, yang bergerak, bekerja atau mengabdi kepada Tuhan. Gunung, hutan, sungai, lautan, tumbuhan, hewan, jin, khodam, makhluk Astral, malaikat atau sebutlah energi yang bersifat ghoib dan seterusnya, seluruhnya mengabdi bekerjasama satu sama lain sesuai dengan sistem atau hukum yang telah diciptakan oleh tuhan. Hukum alam atau yang kita sebut sebagai sunnatullah adalah salah satu dari sistem yang telah diciptakanNya untuk merawat, menjaga dan menyeimbangkan alam semesta. Bencana yang sering terjadi pun adalah bentuk dari penjagaanNya. Ketika alam mengalami ketidak seimbangan, atau mendapat perlakuan tidak adil dari makhluk yang menghuninya, maka Alam akan segera merespon dan memberi reaksi. Gerakan alam semesta yang sedang mencari keseimbangan baru itulah yang manusia menyebutnya sebagai bencana. Seperti gunung meletus, banjir, gempa, tsunami dan sebagainya. Singkatnya, alam ini sebenarnya memiliki kemampuan dan keistimewaan untuk memperbaiki diri ketika mengalami kerusakan atau lebih tepatnya jika dirusak oleh tangan-tangan kufur manusia.

Lagi pula, kalau orang bersedekah memang bukan kepada Tuhan, tapi kepada orang lain yang menurut kita membutuhkan. Jadi kalau ada yang melarang sedekah bumi dan laut dengan alasan karena sedekahnya katanya untuk makhluk Astral, atau jin yang menjaganya, apa salahnya? Hanya sekedar bersedekah, berbagi, dan tidak menyembahnya. Kecuali kalau ada yang menuhankan dan menyembahnya, takut hingga minta keselamatan kepadanya, itu jelas persoalan lain. Kita tetap berhati-hati supaya tidak tergelincir. Bersandarlah dan mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Hanya kepadaNya. Singkatnya, menyedekahi jin, bagi saya sama halnya kalau bersedekah ke orang-orang. Sama-sama bersedekah bukan kepada Tuhan. Tapi kepada makhlukNya: manusia dan atau jin. Dan memang, sedekah itu bukan untuk tuhan. Tuhan tidak butuh apa-apa. Lha wong yang kamu sedekahkan itu adalah milikNya, kekayaanNya. Yang tuhan ingin lihat adalah kamu bersedekah dalam rangka apa, hatimu bagaimana, ikhlas apa terpaksa, tulus atau modus, lillahi ta'ala atau li-pahala. Sedekah itu bukan berarti kita sedang memberi kebaikan, tapi justru bermakna kita sedang menerima kebaikanNya. Sebab sedekah bisa membuat kita lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar kita, mengurangi keterikatan kita terhadap materi atau harta benda. Sedekah adalah proses menyembuhkan diri kita dari penyakit cinta dunia yang berlebihan. Tapi, daripada sedekah untuk jin atau demit, lebih baik dan indah kalau bersedekah kepada sesama manusia saja. Masih banyak saudara sesama di sekitar yang lebih membutuhkan bantuan sedekah kita. Biarlah urusan jin diurus sesama jin. Iya kan?

Bijaknya, Kita sebaiknya melakukan tafakkur (akal) dan tadzakkur (intuisi) sebelum menilai atau mengambil keputusan dalam berbudaya dan beragama. Dalam salah satu Qaidah Fiqhiyah, saya mengenal prinsip 'Al muhafadzatu ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah' (upaya pelestarian nilai-nilai (luhur) yang baik di masa lalu dan melakukan adopsi nilai-nilai baru yang lebih baik). Artinya, ketika ada sebuah budaya atau tradisi di suatu daerah yang baik, maka dalam pemahaman saya, kita tidak serta merta menolaknya mentah-mentah, apalagi sampai bertindak intolerant, hanya karena dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Sebaliknya, mari kita berendah hati, berlapang dada, menerima dan kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai Islam, supaya budaya dan tradisi itu terus menerus ada dan tidak bertentangan dengan syariat agama. Sebab kekuatan dan ciri khas bangsa Indonesia ada pada tradisi dan budayanya yang beragam. Jika tidak dirawat, hilanglah semua tergerus dan tertelan zaman yang makin kacau dan edan ini. 

Akan tetapi, saya menyadari, penjelasan semacam ini sulit diterima oleh orang-orang beriman "itu". Sebab aktivitas dan ibadah mereka harus berdasar "hukum" tuhan. Yaitu syariat yang telah tertulis dalam kitab suci dan telah dicontohkan oleh nabi yang kemudian telah dicatat atau direkam dalam kitab-kitab hadits. Selain daripada itu, haram! Wajarlah kalau kemudian muncul jargon "kembali ke alquran dan sunnah". Ini adalah bentuk dakwah dan sindiran mereka kepada orang-orang yang beribadah atau melakukan aktivitas yang menurutnya bid'ah dan mengandung kemusyrikan. Misalnya, sedekah bumi dan sedekah laut, memelihara pusaka leluhur, yasinan, tahlilan, mawlid, isra' mikraj, ziarah kubur dan seterusnya. Amaliyah semacam ini bagi mereka adalah bid'ah. Wakulla bid'atin dholalah, Wakulla dholalatin finnaar. Semua yang bid'ah itu sesat. Dan semua yang sesat masuk neraka. Alhamdulillah, ada orang hebat yang bisa meramal kehidupan akhirat berdasar pendapatnya sendiri.

Saya diam-diam sebenarnya kagum dan ngefans sama orang-orang beriman model ini. Saya curiga, betapa hebatnya mereka. Misalnya, orang ke kuburan divonis musyrik. Alasannya, karena mereka yang datang ke kuburan itu datang untuk meminta kepada orang yang sudah meninggal, bukan kepada Tuhan. Saya curiga, orang-orang yang begitu mudah menghukumi musyrik itu memiliki pandangan mata bathin yang sungguh luar biasa, hebat, sebab bisa menembus dan mengetahui isi hati seseorang. Bisa mengukur dan menyaksikan iman seseorang. Wow! Saya Tiba-tiba mau berguru kepada mereka. Bagaimana caranya kita bisa menilai dan mengetahui iman orang lain. Sakti! Benar-benar unbelievable!
Padahal Setiap hari juga mereka meminta tolong kepada orang lain, bukan kepada Tuhan. Tapi entah kenapa mereka tidak pernah mengatakan bahwa itu musyrik. Heuheu

Kalau mau lebih hemat, begini saja, daripada saya terus memohon, meminta tolong, berdoa, berniat dan menyembah Tuhan yang salah, maka begini saja, Tunjukkan saya tuhan yang asli yang sejati itu. Yang mana? Yang mana?

Allah? Iya, yang mana itu Allah? Jangan sebut namaNya saja, nanti saya malah menyembah nama. Tolong, iman saya masih lemah. Ilmu saya masih awam. Saya tidak makrifat. Mohon, tunjuk langsung, biar saya tidak musyrik. Yang mana? Allah? Allah yang mana itu? Setahu saya, dulu juga ada berhala yang bernama Allah. Jadi, Allah yang mana ini? Saya tidak butuh dalil, argumentasi atau ocehan apapun. Silahkan langsung tunjukkan saja kepada saya. Yang mana?

Bagaimana? Bisa? Heuheu. Syirik itu letaknya di hati dan pikiran manusia. Mana mungkin manusia dihukumi kafir atau musyrik hanya karena penampilan, ucapan atau perbuatannya. Padahal, orang yang sedang sholat juga tetap memiliki potensi musyrik bila saat sholat, pikiran dan hatinya sibuk mengingat dunia atau tertuju kepada yang selain Allah. Itulah kenapa kita diminta melatih hati dan pikiran dengan dzikrullah. Agar kita bisa berdzikir dan tetap terhubung kepada Allah. Sadar-Allah pada setiap aktivitas keseharian kita di dunia. Baik di dalam maupun di luar sholat. Wal-hasil, sedekah laut atau sedekah bumi adalah ekspresi rasa syukur kita atas nikmat yang Tuhan anugerahkan kepada kita semua, yang dengan akal budinya, manusia berkreasi. Adapun perihal vonis kemusyrikannya, mari kita kembalikan kepada Allah. Alaisallahu bi ahsanil haakimiin. Hanya Allah yang punya data lengkap dan akurat mengenai kondisi hati dan iman manusia. Manusia jangan berlagak seperti tuhan. Wal-akhir, ini hanya pendapat saya. Yang tidak setuju, saya persilahkan dengan hormat.

Kamis, 19 September 2019

Sehari-hari Bersikap Dewasa

Dewasa itu mental. Bukan soal umur. Bukan tentang sekolah tinggi-tinggi, punya kerja mapan, sukses atau kaya. Juga bukan mengenai jenis kelamin, warna kulit, model rambut, jumlah gigi, eksistensi duniawi, jumlah gelar akademis maupun pangkat sosialnya. ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan jenis pakaian atau jubah seseorang. Bukan mengenai tampilan fisik dan tingkat intelejensi seseorang, bukan soal religiusitas, walaupun mungkin saja sedikit ada korelasinya dengan spiritualitas seseorang. Tapi sebenarnya ini adalah masalah ilmu hidup.

Jadi jangan kait-kaitkan kasus kedewasaan seseorang dengan urusan tua-muda, laki-perempuan, atasan-bawahan, pemerintah-rakyat, penjual-pembeli, mahasiswa-dosen, supir-penumpang dan seterusnya. Dewasa itu kemantapan sikap. Psikologi kepantasan. Kematangan pola pikir. Ketepatan Aplikasi Khoirul umuuri awsaatuhaa. Pengetahuan ilmu tentang batas. Lagi-lagi bukan masalah seberapa lama dia hidup, tapi seberapa banyak kehidupan yang ia lulusi dengan predikat rhodiyatan mardhiyyah dan rahmatan lil'alamin. Dimensi dimana ia pergi-pulang setiap hari membawa ridho Allah. Dan untuk menggapai "itu" maka yang harus kita lakukan adalah selalu mengkerjasamakan antara kehendak kita dengan kehendak Allah. Bukan kehendak kita semata apalagi dibawah komando nafsu belaka. Adalah kemampuan membedakan dan memposisikan mana keinginan dan mana kebutuhan. Kalau keinginan adalah motor penggeraknya, maka saya pastikan tidak akan ada ujung pangkalnya. Memang tidak ada habis-habisnya.

Memang agak sulit mengetahui kedewasaan seseorang. Ukurannya bukan soal apa dia anak-anak atau sudah bapak-bapak. Karena ternyata ada anak-anak yang sangat kebapak-bapakan----dewasa, dan kadang kita temukan sebaliknya ada bapak-bapak yang sangat kekanak-kanakan. Mau buktinya? Lihat saja di sekitarmu, banyak bapak-bapak yang suka meniru kelakuan anak-anak. Sukanya main-main. Ya, main perempuan. Masih suka jajan. Ya, jajan paha dan susu di kios-kios pelacuran. Dan yang menambah syoknya jiwa kita ternyata setelah ditelusuri, diantara bapak-bapak itu ada yang seorang Mentri, pegawai, atau aparat negara. Kita kadang bingung juga, antara memilih untuk tertawa karena lawakannya atau menjerit sakit karena kerusakan moralnya.

Mereka benar-benar ahli memplagiasi kehidupan anak-anak. Mereka amat total dan bersungguh-sungguh dalam meneladani prilaku dan kebiasaan anak-anak. Sehingga istilah Kenakalan anak-anak itu kini sangat-sangat bisa diupdate menjadi kenakalan bapak-bapak. Kepolosan anak-anak yang biasa merusak barang-barang di rumah, mereka juga sangat suka melakukannya. Hanya saja mereka bapak-bapak itu kepolosannya diatas normal, level wilayahnya lebih luas. Ya, mereka merusak rumah rakyat; negara. Jadi apa itu dewasa?

Walhasil, Saya sepakat saat gusdur menganulir pernyataannya yang mengatakan DPR itu taman kanak-kanak. Sangat tidak pantas jika kesucian anak-anak diamakan dengan kenajisan bapak-bapak yang ada di Dewan itu. Sangat tidak adil jika Kejujuran anak-anak disetarakan dengan kemunafikan bapak-bapak yang itu-itu. Akan sangat absurd bila kemurnian anak-anak disanding-bandingkan dengan kebusukan bapak-bapak tertentu itu. Jadi dewasa itu apa! Tanda tanya itu kini berubah menjadi tanda seru. Ini bukan lagi pertanyaan, tapi sudah meningkat menjadi pernyataan. Dan akan terus meningkat dan meningkat terus, meningkat menjadi sindiran, lalu menjadi peringatan, lalu menjadi kritik, lalu menjadi aksi protes, lalu menjadi status awas, lalu menjadi gerakan revolusi, dan puncaknya akan menjadi acara hiburan di televisi. Hahahahah..... tidak lucu goblok..!!!!

Bagaimana seharusnya epistemologi dari dewasa? Ada orang yang celana dalamnya saja sampai puluhan juta. Ada juga yang ranjang-kasurnya sampai ratusan juta. Mobilnya milyaran. Pesta pernikahannya trilyunan. Busyet.....!!!! Subhanallah...!!! Apakah itu salah? Tentu saja tidak, apalagi jika itu adalah hasil keringatnya sendiri. Itu tidak masalah jika uang yang dipakai membeli semua itu dari hasil usaha-kerjanya sendiri. Itu hak mereka. Mereka bebas menghabiskannya. Mereka merdeka merayakannya.

Namun, kalau dipikir-pikir itu sepertinya tidak dewasa. Tentu Anda boleh tidak sependapat dengan saya. Justru saya senang, karena itu membuka peluang untuk melanjutkan diskusi ini. Dan yang lebih penting lagi adalah saya punya kesempatan untuk menghargai dan menghormati yang lain. Dan itulah tujuan utama saya.

Ada juga orang yang handphonenya saja sampai lima biji. Kemana-mana lima-limanya ditenteng. Apa-apaan itu..!!! Saya tidak bisa membayangkan kalau kelima-limanya bersamaan berdering. Dia kan cuma punya satu mulut dan dua telinga. Hahahah.... Untungnya saya tidak pernah jadi membayangkannya. Ada juga yang setiap hari shopping di mall beli pakaian. Makannya hampir setiap harinya di restoran mewah. Liburannya setiap weekend keluar negri. ada yang setiap bulan pergi meludah di mekah. Dan kalau saya teruskan, bisa-bisa saya dicurigai iri hati sama mereka. Tapi tak mengapa. Saya sudah terbiasa dicurigai dan difitnah, guna menyembunyikan diri sejati saya. Jangan lihat chasing saya, tapi lihatlah setan yang ada di dalamnya. Hehehehe

Jadi dewasa itu adalah dewasa itu sendiri. Kesanggupan diri untuk mengembangkan diri-diri yang lain. Maksud saya, manusia itu terdiri dari berbagai Anasir diri. Ada fisik, ada psikis, ada emosi, ada intelejensi, dan ada juga unsur spiritualnya. Dan manusia harus mampu menumbuh-kembangkan semuanya itu. Jangan fisik tubuhnya saja yang tumbuh tapi emosinya tidak, kepandaiannya tidak, spiritualnya juga tidak. Semua harus ikut tumbuh, ikut belajar, ikut mengerjakan pengalaman, dan ikut serta mengabdi. Harus seimbang dan harmoni. Istilah sederhana adalah kesimbangan zhahir dan bathin. Keduanya harus saling bekerjasama, mengerjakan fungsi-fungsi khalifahnya.

Manusia paling dewasa adalah rasulullah. Beliau ditawari oleh Allah gunung emas dan menjadi nabi yang raja, akan tetapi beliau memilih "sederhana" sebagai nabi yang jelata. Ini kedewasaan yang puncak menurut saya. Nabi sulaiman yang dianugerahi kekayaan yang abadi tidak ada seorangpun yang mampu melebihinya juga ternyata pakaiannya biasa-biasa saja. Itu karena beliau dewasa. Jadi jika anda punya banyak rupiah atau Dollar untuk membeli kasur seharga ratusan juta, dewasalah. Belilah yang seharga ratusan ribu saja, selebihnya kau tabung atau pakai untuk menolong yang membutuhkannya. Insya Allah berkah.

Akhirnya, perihal kedewasaan menjadi diskusi panjang. Nanti kapan-kapan kita lanjutkan!

Rabu, 21 Agustus 2019

Sehari-hari Bertauhid

Tauhid. Menurut pengertian sehari-hari saya, tauhid itu bukan (sekedar) meng-satu-kan atau meng-esa-kan atau meng-ahad-kan Tuhan. Sebab Tuhan, mau dibagaimanapun tetap ahad. Tetap satu. Satu yang bukan angka, bukan pula kerangka. Satu-Nya "laisa kamitslihi syaiun". Sekalipun seluruh manusia seplanet bumi menyekutukan atau menduakanNya setiap hari, Huwa tetap ahad. Sebagaimana yang ditegaskan oleh "Qul huwa Allahu ahad".

Tauhid (justru) adalah menyatukan Makhluk Tuhan yang selalu punya kecenderungan untuk bercerai berai. Terutama bagi makhluk jin dan manusia. Yang sukanya bikin kelompok-kelompok lalu dengan gampangnya bertengkar, menganggap perbedaan itu bukan rahmat melainkan alat untuk saling menghancurkan. Yang tidak mau mentadabburi bahwa perbedaan itu sengaja Tuhan ciptakan sebagai peluang-peluang untuk saling berkasih sayang dan bermesraan satu sama lain.

Tauhid adalah kesadaran lahir bathin makhluk yang berbeda-beda dalam banyak hal tapi tidak lupa berdzikir bahwa Tuhan tetap satu adaNya. Tauhid islam mengajak untuk membangun kerjasama dan kebersamaan antar makhluk. Juga sebagai kritik universal untuk mereka-mereka yang hobinya bikin geng-geng religius lantas saling mengkafirkan, yang kebiasaannya membanggakan diri, menyombongkan organisasi dan komunitasnya, angkuh karena nasab-keluarga, suku, ras, bangsa, agama, aliran, Mazhab, sekolah-kampus, parpol atau seterusnya. Juga bagi mereka-mereka yang profesional kerjanya adalah merancang perang-perang panjang, mengadakan proyek adu domba, serta menyelengarakan berbagai pesta nuklir dan lautan darah. Maka Tauhid sebagai media kasih sayang dari Tuhan didatangkan untuk menghindarkan dan menghentikan semua kemungkinan dan realitas yang memalukan itu.

Tauhid Islam hadir untuk memberikan wawasan keilahian beupa tawaran "lita'arofu" sebagai metodolgy tahap awalnya. Mempertemukan dan mengenalkan. Mendekatkan mereka yang berjauh-jauhan secara ruhani, untuk bersama-sama menyalakan cahaya perdamaian---meskipun kenyataannya mereka berbeda-beda. sehingga kelak akan ada rasa saling pengertian, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi, saling menyati, saling mencintai dan akhirnya mampu untuk saling menyelamatkan (Muslim) dan saling memberi rasa aman satu sama lain (mukmin). Puncaknya adalah "Inna akromakum 'indallah atqokum----menjadi manusia taqwa" yang rahmatan lil'alamiin. Bukan "laknatan Lil'alamiin".

Akan tetapi, tetap saja ini hanyalah tawaran saja, sebab "laa ikroha fiddiin" memang diperuntukkan bagi manusia yang telah difasilitasi teknologi qolbu dalam rangka "yafqohuuna bihaa". Makhluk Tuhan yang paling "ahsani taqwiim", yang diberi potensi kelebihan berfikir, keistimewaan merenung di goa hiranya, bermeditasi, meneliti, mengkaji, mengaji dan mentadabburi ayat-ayatNya. Meskipun demikian, tawaran Tuhan ini kadang-kadang harus dimaknai sebagai ujian bagi manusia yang konon banyak juga menjadi besar kepalanya karena merasa bangga sebagai ciptaan paling lengkap dan sempurna dibanding ciptaan Tuhan yang lain. Sehingga seringkali tidak " yatafaqqahu fiddiin" bahkan banyak yang meremehkan dan merendahkan ciptaan lain. Persis kelakuan dan keakuan iblis. Mari berlindung kepada Tuhan dari trik dan tipuan setan dalam pikiran kita yang terkutuk ini.

Akhirnya, tauhid harus dipahami dengan penuh kerendahan hati. Dan manusia juga harus sadar bahwa tidak semua hal bisa mereka kuasai, tidak setiap masalah bisa mereka selesaikan. Seperti persoalan yang telah-sedang-akan menimpa Indonesia dan umat islam, disitu Tuhan bekerja dengan begitu senyap dan sangat misterius. Maka tidak ada cara lain selain senantiasa memohon pertolongan dan pengasuhanNya yang maha agung. Juga apa saja yang melanda fikiran dan hati, selalu kita sandarkan kepadaNya---Huwa Allahu Ahad. Ditemani oleh cahaya abadi Baginda Muhammad Rasulullah Saw. Mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Berkeluarga dan menjaga sakinah-mawadah-warahmahnya adalah cahaya tauhid yang berpendar-pendar. Di dalamnya adalah Penyatuan dua insan yang pasti berbeda karakternya, penyatuan dua keluarga, penyatuan bathin antar individu setiap keluarga. Sehingga lahirlah kebersamaan dan kemesraan karena hadirnya kasih sayang di dalamnya. Peristiwa saling memahami, saling menyempurnakan, juga adanya frekwensi pemaafan, masing-masing mengerti syariat, tentang kewajiban dan haknya, saling mendoakan, bekerja sama saling menempatkan diri pada posisi-perannya, dan sebagainya.

Mulailah dari yang sederhana. Peristiwa tauhid bisa kita saksikan, lakukan dan rasakan di mana saja kapan saja. Tauhid adalah berkumpul, berbagi senyum dan saling menghibur. Tauhid adalah bertemu, bersilaturahmi dan berdiskusi. Tauhid adalah sholat berjamaah, dzikir bersama, menjenguk yang sakit, menolong yang butuh, menyapa yang kesepian, gotong royong, kerja bakti sosial, melestarikan alam, menyayangi binatang, mentraktir teman minum kopi, menikah, main teater dan atau bermain musik. Tauhid adalah memerangi kebodohan dan kedangkalan berfikir, melawan ego diri sendiri, menegakkan yang runtuh, membangkitkan yang jatuh, menerangi yang gelap, memperbaiki yang rusak, membersihkan yang kotor, dan silahkan anda terus kan sendiri.

Tauhid adalah persatuan Indonesia, kemesraan umat manusia seluruh dunia, dan kebersamaan cinta semua makhluk beribadah-mengabdi kepada Allah Swt. Wallohu a'lam

Perihal Pujian


Pujian. Apa sih itu pujian? Coba kita pikirkan dulu sebentar. Saya beri waktu lima menit. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Empat menit.

Ah, daripada pusing, mari kita cari tahu bersama-sama.

Pernahkah seseorang mengucap padamu kata-kata yang membuat kamu tersanjung, hatimu menjadi senang tidak karuan, di jiwamu seketika tumbuh bermekaran bunga-bunga yang beraneka warna, hormon tertentu di dalam tubuh mengalirkan sesuatu yang terasa nikmat di otakmu, nafasmu sejuk dan melegakan, lalu tiba-tiba volume kepalamu mungkin sedikit membesar bangga, dan konon kadang ada yang sampai klepek-klepek karenanya?

Nah, kalau kejadian semacam itu terjadi padamu, maka menurut saya, kamu sedang mengalami peristiwa yang sedang kita kaji dan ngaji bersama ini. Orang-orang di bumi bagian indonesia bersepakat menyebutnya sebagai "pujian". Saya sendiri lebih senang menyebutnya sebagai peristiwa "Alhamdulillah", lebih lengkapnya peristiwa "Alhamdulillahi robbil 'aalamiin. Ya, saat ada yang memuji kita, maka sadar atau tidak, tahu atau tidak tahu, mau atau tidak mau, sebenarnya itu adalah semata-mata maha-pujian kepada Allah sang pemilik segala bentuk pujian. Maka saat orang memujimu, berterima kasihlah padanya. Minimal dalam hati kalau kamu gengsi mengatakannya. Bergembiralah. Bersyukurlah. Tapi saat kamu terima pujian itu, jangan disimpan lama-lama. Setelah kegembiraanmu, segeralah kembalikan pujian itu kepada pemilik dan mahasumber dari keseluruhan-menyeluruh pujian itu; Allah. Sebab kalau pujian itu dipeluk erat dan dimasukkan terlalu rapat di dalam hati, bisa jadi ia berevolusi menjadi kebanggaan, dan kelak kebanggaan itu yang akan bertransformasi menjadi kesombongan. Dan kalau manusia sudah sombong, maka tamatlah riwayat kemuliaannya. Be careful!

After All, Pujian adalah ungkapan ketakjuban, untaian kekaguman, bentuk luapan keterpesonaan, wujud penghormatan dan pemuliaan sebagai respon positif atas kebaikan atau keindahan yang kita saksikan. Pujian atau memuji adalah pekerjaan yang mulia. Diperuntukkan untuk orang mulia, dan dilakukan oleh orang yang juga tentu mulia. Maka Berkenaan dengan soal "memuji" ini, saya teringat dengan sabda leluhur; "narEkko mupakalaq bi i padammu rupa tau, alEmu tu mupakalaq bi". Kalau engkau memuji atau memuliakan sesamamu, sungguh hakikatnya engkau sedang memuliakan dirimu sendiri. Ya, engkau sedang memuliakan pribadimu; Identitas dan personalitasmu. Bahkan keluargamu, organisasimu, negaramu, dan agamamu. Kurang lebih begitu terjemahan saya. Kurang lebihnya mohon dimaklum-maafkan.

Otherwise, perlu direnung-fikirkan, saat orang-orang memuji kita, maka berusahalah agar kita memang pantas menerima pujian itu. Saat mereka memuliakan kita, tetaplah berusaha agar kita layak  mendapatkan kemuliaan tersebut. Saat mereka berbuat baik kepada kita, pastikan bahwa kita memang orang baik yang berhak atas kebaikan mereka. Semoga pujian mereka tidak salah alamat, tidak sia-sia dan tidak menjadi semacam ironi buat kita. Sebab, tidak sedikit orang yang dipuji bukan karena mereka pantas dipuji, melainkan karena orang-orang di dekatnya adalah pribadi-pribadi mulia yang tidak kikir memberikan pujian kepada siapa saja. Orang-orang yang berinteraksi dengannya baik di dunia nyata maupun maya adalah jiwa-jiwa suci yang gemar menebar cinta, menyebar kebaikan, dan tidak pernah bosan mengabar kemuliaan.

Wal-akhir, kita jangan cepat merasa mulia ketika dimuliakan. Jangan buru-buru merasa telah menjadi orang baik ketika menerima kebaikan. Jangan merasa menjadi orang terpuji ketika menerima sanjungan. Sebab, kemuliaan, kebaikan, dan sanjungan yang kita terima, bisa jadi muncul bukan dari kualitas kita, melainkan dari kualitas orang-orang hebat di luar kita. Justru merekalah sebenarnya yang mulia, yang terpuji, yang pantas menerima kebaikan itu. Dan toh kalau ditelusuri dengan sabar dan tawakkal--- sebagaimana yang saya ungkap di atas, pujian itu adalah hadiah dan anugrahNya kepada kita melalui orang-orang di sekeliling kita. Orang yang memuji kita hanyalah wasilahnya, perantara saja. Tapi hakikatnya, yang memuji dan dipuji adalah Allah. Sehingga yang sungguh layak dan yang mahapantas menerima pujian itu hanyalah Dia, Tuhan seru-sekalian alam. Demikianlah perihal ini saya sampaikan. Atas perhatiannya diucapkan Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Wallohu a'lam.

Cermin

Cermin
 
© Copyright 2035 Jaahil Murokkab